Tampilkan postingan dengan label Atlantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atlantis. Tampilkan semua postingan

Everything About Atlantis

0 comments

Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus. Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama Solon (639-559 SM). Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali ketika Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda Atlantis.

Garis besar kisah pada buku tersebut Ada sebuah daratan raksasa di atas Samudera Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembanganperadabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. Setelah dilanda gempa dahsyat, tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-orang.

Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan mempunyai kehidupan yang makmur. Tapi kemudian saya mempunyai pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato mempunyai bukti2 kuat dan otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?

Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.

Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih 11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato yaitu Socrates ketika membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.

Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu? Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini, tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?

Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut “segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah itu?



Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang ini disebut Indonesia. Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.


Sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.

Kehidupan yang Dipenuhi Kecerdasan


Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal tersebut. Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.

Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju panjang tembus pandang, menggunakan daun pita emas yang diikat di pinggang belakang setelah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan, mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan. Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang spesifik memiliki fungsi pengobatan.

Berkomunikasi dengan Hewan


Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah, mempunyai undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, setelah malam tiba kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan masyarakat kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat tersebut. Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah berada di tempat itu.

Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya, sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif, pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat. Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi mempunyai pikiran atau maksud jahat, ketika menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.

Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku: “Saat ketika kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.

Lingkungan yang Indah Permai


Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana. Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik dan mengekstrak sari pati kehidupannya.

Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam masyarakat kami. Masyarakat terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.

Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari mereka mempunyai kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia terlahir untuk pekerjaan fisik, hal tersebut telah dibuktikan. Namun, selalu ada pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka. Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini merupakan hal yang paling mendasar.

Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan. Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.

Teknologi yang Tinggi


Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka menggunakan medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek hanya menggunakan katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia mempunyai sebuah mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga menggunakan medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama menggunakan alat angkut besar yang disebut “Subbers.”

Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi menggunakan kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat. Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga dikerjakan melalui hati.

Pengobatan yang Maju


Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang digunakan, semuanya menggunakan kristal, warna, musik, wewangian dan paduan ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.

Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk, sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar tersebut, sang pasien akan berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan pengobatan yang sesuai untuk pasien.

Setelah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien. Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah warna. Selanjutnya, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna” menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung. Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan “medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik dan kejiwaan.

Pendidikan Anak yang Ketat


Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi masyarakat kami waktu itu. Misalnya, memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Kiamat yang Melanda Atlantis


Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah upacara pengikatan. Pengikatan tersebut sama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat, hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun lamanya.

Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada masyarakat kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak matang.

Teknologi Maju yang Lalim


Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan, suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi udara dan air. Terakhir ini menyebabkan kehancuran Atlantis.

Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini telah mengakibatkan kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang tersebut.

Menjelang Hari Kiamat


Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran, Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat tersebut semakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.

Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman. Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, setelah perjalanan segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan di luar Atlantis.

Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir, kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain yang tak terungkap selama beberapa abad.

Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas, gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok, kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, selanjutnya, saya ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut telah menenggelamkan daratan.

Sumber Kehancuran


Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif. Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan, bahkan mempunyai kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan, yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.

Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang sekarang. Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:

“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun masyarakat Atlantis mulai bejat, mereka yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”

Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan: “Pikiran sekilas yang suci murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah, masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”


Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak begitu menakutkan, yang menakutkan adalah ketika sebagian besar orang “mengabaikan kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” selanjutnya diam-diam “menyetujui kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan mengakibatkan kesenjangan sifat manusia, moral masyarakat merosot dahsyat, mendorong peradaban ke jalan buntu.


Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran, merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan, mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang berbuat kesalahan yang sama?


Label : Atlantis

Bookmark and Share

PLATO TIDAK BOHONG ATLANTIS ADA DI ZAMAN PRA-SEJARAH INDONESIA

0 comments

PLATO TIDAK BOHONG ATLANTIS ADA DI ZAMAN PRA-SEJARAH INDONESIA (Analisis Dr. Danny Hilman dan Tim Katastrofi Purba 1)

Membedah Timiaeus – Critias dan Buku Santos “Atlantis: The Lost Continent Finally found” OLEH: DR. Danny Hilman Natawidjaja  dan Tim Katastrofi Purba


Plato adalah filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa  masa 424 s/d 347 Sebelum Masehi.   Dia adalah murid Socrates yang tidak kalah hebatnya.   Dua konsep Plato yang sampai sekarang menjadi acuan dunia adalah konsep negara replubik (dari bukunya yang berjudul “Republic”) dan konsep tentang empat unsur utama pembentuk alam, yaitu: Api, Air, Tanah, dan Udara.  Peninggalan Plato lain yang tidak kalah terkenalnya tapi sangat kontroversial adalah tentang kisah Kerajaan Atlantis yang dituangkan dalam Dialog Timaeus dan Critias.  Untuk memahami Atlantis harus mempelajari sumber aslinya langsung tidak hanya membaca pembahasan Atlantis di berbagai buku, termasuk Karya Santos.  Anda akan terkejut bahwa  hampir semua kontroversi itu jawabannya ada dalam dua Dialog Plato tersebut.

Dalam Dialog Plato dikatakan bahwa Kisah Atlantis berdasarkan fakta bukan fiktif, dan sudah diakui kebenarannya oleh Solon, seorang legislator Yunani yang sangat dihormati dan paling bijak yang hidup 150 tahun lalu sebelum zaman Plato (A-1).    Solon mendapatkan naskah ini ketika berkunjung ke Kota Sais di Mesir dari para pendeta tinggi di sana.  Sumber asli-nya adalah prasasti dalam huruf sangat kuno (“hierroglyphs”?) yang  diterjemahkan ke dalam bahasa Mesir waktu itu oleh para pendeta tersebut (A-2).   Kemudian oleh Solon Naskah itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Yunani dan kemudian diberikan kepada sahabatnya Dropides, kakek buyut Plato (A-2).  Selanjutnya naskah asli terjemahan Solon itu  jatuh ke tangan Critias, kakek Plato, dan kemudian diserahkan ke Plato dan dipelajarinya sejak kecil (A-2,3).

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa Atlantis hanya ada dalam imajinasi Plato belaka sebagai negeri ideal yang diuraikan dalam buku Republiknya.  Ini sangat gegabah dan tidak berdasar.  Sama saja mengatakan bahwa Plato bohong.  Bagaimana mungkin seorang  Plato bisa berbohong tanpa alasan yang kuat ?  Ini tidak masuk akal.   Negeri Atlantis yang sangat dikagumi Plato dalam Timaeus dan Critias tidak mirip dengan negeri ‘Republik’nya Plato, bahkan merupakan anti-thesisnya.  Negeri Republik-idealnya Plato mungkin lebih mengacu ke ‘Athena purba’ yang dalam Dialog Timaeus dikatakan mempunyai sistem konstitusi yang luarbiasa (A-9). Sebaliknya  Atlantis adalah negeri dengan sistem kerajaan yang diperintah oleh kekuasaan absolut dari para rajanya (A-37).

Timaeus dan Critias tidak semata-mata berkisah tentang Atlantis, tapi mungkin pada awalnya malah ditujukan untuk menceritakan kepahlawanan  pasukan Athena kuno yang menang perang melawan pasukan Atlantis di wilayah Mediteranian (A4,10,12).   Raja Atlantis dan pasukan tempur maritimnya datang menyebrangi Samudra ‘Atlantic’ untuk menaklukan seluruh wilayah Eropa dan Afrika (A10).  Banyak wilayah Eropa dan Afrika yang sudah ditaklukan tapi pasukan gabungan negara-negara Yunani yang dipimpin Athena tetap berperang dengan gigih melawan pasukan Atlantis (Timaeus).  Pada akhirnya pasukan Athena menang (A.10), sehingga wilayah yang tadinya sudah takluk terhadap Atlantis bebas, khususnya Mesir (Timaeus). 

Para pendeta tertinggi Mesir memberikan naskah kuno tersebut kepada Solon sebagai penghargaan terhadap jasa para pahlawan Athena yang dulu pernah membebaskan Mesir dari kekuasaan Atlantis (A1).   Jadi Dialog Plato tidak melulu bercerita tentang Atlantis tapi juga tentang kebesaran Athena purba (A.9).  Perlu digaris-bawahi bahwa yang dimaksud dengan Athena (oleh Plato) bukan Athena yang dikenal masyarakat pada waktu itu tapi peradaban kuno yang menjadi leluhur bangsa Athena dan juga Mesir, yang juga sudah tidak dikenal lagi (A9).

Lebih jauh, Plato menguraikan suatu kearifan yang luarbiasa bahwa sesungguhnya peradaban manusia dulu sudah banyak yang lebih maju tapi selalu dimusnahkan oleh bencana katastrofi yang terjadi berulang-ulang dalam perioda yang sangat panjang  sehingga hilang tidak berbekas (A5,6,7,8).  Misalnya dikatakan Plato bahwa dulu (pada Zaman Atlantis/Athena Purba) orang bisa melintasi Samudra Atlantic, tapi pada zamannya sudah tidak mampu lagi (A-10).  

Alasannya karena para ilmuwan dan teknokrat masa purba yang tinggal diperkotaan mati oleh bencana, yang tersisa biasanya adalah golongan yang berpendidikan rendah, seperti para petani dan peternak yang hidup di desa-desa (A6,7).  Selain itu, tidak banyak catatan tertulis tentang tradisi dan IPTEK yang sudah dicapai pada masa purba sehingga  generasi selanjutnya harus kembali belajar dari nol, tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi di masa dahulu kala (A5,7,8).  Itu pula sebabnya kenapa orang tidak tahu tentang kisah Atlantis dan Athena purba. Plato kemudian mengatakan bahwa generasi dia atau yang akan datangpun bisa mengalami nasib yang sama.

Di mana lokasi Negeri Atlantis?  Yang pasti bukan di sekitar wilayah Laut Tengah (Mediteranian), yaitu: Eropa , Asia (Turki) dan Mesir (Afrika Utara).  Semua kandidat Atlantis yang diajukan dari wilayah Mediteranian ini, termasuk Crete – Minoan, Cyprus, dll tidak ada yang cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato, kecuali sebagian saja.  Selain itu jelas dikatakan bahwa Raja Atlantis dan pasukan tempur-maritimnya datang dari Samudra Atlantic untuk menyerang Eropa dan Asia, bukan berasal dari wilayah ini (A.10).  Jadi, pasukan Maritim Atlantis kemungkinan besar masuk via Selat Gibraltar terus ke Laut tengah (Mediteranian).

Pada Zaman Plato orang Eropa tidak ada yang bisa berlayar menyebrangi Samudra Atlantic  sehingga tidak ada orang yang tahu sampai mana batas Samudra Atlantic dan ada apa di seberang sana.   Apakah mungkin Daratan Atlantis itu berada di Samudra Atlantic menurut pengertian kini?  Ini juga tafsiran yang salah kaprah.  Istilah/nama pada zaman dahulu belum tentu sama dengan arti pada zaman sekarang.   Santos menghabiskan satu bab dalam bukunya untuk menguraikan bahwa yang disebut Samudra Atlantic oleh orang-orang Eropa pada  zaman Plato adalah samudra yang mengelilingi seluruh dunia. 

Selanjutnya Santos menguraikan berbagai peta dan naskah kuno yang memperlihatkan tidak ada pembagian Samudra seperti sekarang (Atlantic, Pasific, Hindia).  Satu kasus menarik dalam sejarah adalah tentang  Christoper Colombus yang mengarungi Samudra Atlantic (dari Eropa/Mediteranian) untuk mencari ‘The East Indies’ (konon “hidden agenda” Colombus adalah mendapat mandat dari Kerajaan Inggris untuk mencari Tanah Surga Atlantis –WallahuAlam).  Namun Colombus terdampar di Benua Amerika.  Ini berarti sampai masa Colombus orang Eropa tidak mengetahui keberadaan Benua Amerika, disangkanya  dengan menyebrang Samudra Atlantic akan sampai ke East Indie tersebut.   

Itu sebabnya kenapa penduduk asli Amerika disebut sebagai ‘Indian’ oleh Colombus karena ketidaktahuannya.   Jadi mencari Atlantis hanya di Samudra Atlantic sekarang adalah kesalahan besar, apalagi sampai ngotot membuat hipotesa konyol tentang benua hilang di tengah-tengah Samudra Atlantik yang dari sudut pandang ilmu geologi adalah hal mustahil.
Untuk memahami dan mencari lokasi Atlantis yang sebenarnya kita harus mencermati ciri-ciri kondisi alam nya yang diuraikan dengan cukup rinci dalam Dialog Timaeus dan Critias.  Saya membantu merangkumnya, sebagai berikut:
  1. Negeri Atlantis berada di sebuah pulau/daratan di seberang Samudra Atlantic dari Eropa Barat.  Pulau tersebut terletak di muka selat-selat yang disebut sebagai “Pillar Heracles” (A.10).  Luas pulau ini lebih besar dari Libya dan Asia pada waktu itu.  Wilayah di dalam atau diantara selat-selat Heracles itu hanya ada laut dangkal dan pelabuhan dengan akses kanal yang sempit, tapi yang diluar selat adalah benar-benar lautan luas yang diujungnya dibatasi oleh benua tak bertepi.
  2. Bahwa pulau/daratan  yang dimaksud di-poin 1 sebenarnya merupakan semenanjung besar/panjang  yang menjorok  ke arah lautan dari bagian pinggiran sebuah benua.  Semenanjung besar ini dikelilingi oleh lautan dalam (A14).
  3. Di tengah-tengah Pulau Atlantis ada wilayah dataran luas yang terindah di dunia dan tidak ada yang mengalahkan kesuburannya (A16).  Morfologi dataran itu sangat rata, berbentuk persegi panjang dengan ukuran: panjang 555 km dan lebar 370 km (A30).  Tanah datar ini dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan gunung-gunung/bukit-bukit  yang yang berbagai ukuran dan terkenal sangat indah(A31).  Dari wilayah pegunungan ini mengalir banyak sungai-sungai ke arah dataran, kemudian sungai tersebut mengalir meliuk-liuk di wilayah dataran (aluvial).  Semua aliran sungai ini bersatu dan masuk ke wilayah kota metropolis Atlantis yang dibangun di atas wilayah dataran ini, dan kemudian induk sungai itu mengalir ke laut (A33).
  4. Tanah Negeri Atlantis sangat subur, terbaik di dunia,  yang menghasilkan buah-buahan sangat berlimpah dan banyak sekali macamnya (A13);  termasuk jenis buah yang kulit luarnya keras yang bisa diminum airnya, dimakan dagingnya, dan juga dimanfaatkan minyaknya, alias KELAPA  (A20).  Tanah pertaniannya selalu mendapat kecukupan air dengan memanfaatkan air hujan ketika musim hujan dan kanal-kanal irigasi air dari banyak aliran sungai ketika musim kemarau.  Hasilnya dipanen dua kali dalam setahun (A35).
  5. Selain pertanian banyak tumbuh  pohon-pohon besar-tinggi yang menambah keindahan alam (A28), disamping juga menghasilkan berbagai macam kayu untuk bahan mebel dan bangunan (A18).
  6. Tanah Atlantis adalah sumber dari segala wewangian yang berasal dari akar-akaran, tanaman herbal dan berbagai macam kayu, atau konsentrat  minyak wangi yang didestilasi dari buah-buahan dan bunga-bungaan (A20).
  7. Fauna di Negeri Atlantis luar biasa banyak populasi dan ragamnya. Terdapat populasi gajah yang sangat banyak, dan berbagai jenis binatang yang menghuni wilayah danau-danau, rawa-rawa, sungai-sungai, dan juga yang hidup di wilayah pegunungan dan dataran (A19), baik yang liar ataupun yang dipelihara (A18).    Diantara binatang buas ada yang terkenal paling besar dan terganas  sedunia(A19).  Di perairannya terdapat banyak ikan lumba-lumba yang diilustrasikan sangat akrab dengan penduduk Atlantis. Kuda-kuda pun sangat  banyak.  Di wilayah dataran dibangun arena pacuan kuda yang sangat besar, di sepanjang Pulau (ratusan kilometer) dengan lebar arena pacu  ~200 meter (A28).
  8. Tanah Atlantis juga sangat kaya dengan sumber daya mineral dan logam.  Ada banyak macam batu-batuan beraneka warna yang dipakai untuk membangun berbagai bangunan, istana-istana, dan kuil-kuil (candi-candi)  (A24).  Tanah Atlantis juga penghasil banyak sekali emas, perak, tembaga, dan “orichalcum” (logam mulia sejenis campuran emas-tembaga yang bercahaya merah).  Semua bahan logam ini sudah ditambang dan digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk membuat hiasan dan patung-patung, juga untuk melapisi dinding dan lantai bangunan (A24,26).
  9. Selain itu di Negeri Atlantis banyak terdapat sumber-sumber mata air panas dan dingin yang dibuat menjadi pancuran di dalam gedung-gedung untuk tempat bersantai dan mandi-mandi yang dilengkapi dengan berbagai tanaman disekitarnya (A27).
Peradaban Atlantis diilustrasikan sangat maju.  Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah, Atlantis mampu membangun banyak kuil/candi tempat beribadah, istana-istana, dan pelabuhan-pelabuhan (A21).  Keahlian yang sangat menonjol terutama dalam membuat kanal-kanal besar di seluruh wilayah negerinya.   Di sekeliling dataran Atlantis dibangun kanal besar dengan lebar 1 stadia (185m) dan dalamnya 100ft (~35m) membentuk lingkaran konsentris sepanjang  1000 stadia (1850 km).  

Kemudian dibangun juga jaringan kanal-kanal selebar 100 ft dari wilayah hulu sungai (di pegunungan) sampai ke dataran, terus sampai ke kota untuk membawa berbagai hasil hutan/pertanian (kayu dan buah-buahan).  Jarak antara jaringan kanal-kanal adalah 100 stadia (~18.5km)  yang terhubung satu sama lain (A34).  Wilayah hulu-hulu sungai (pegunungan) dihuni oleh para pemilik dan pengolah tanah pertanian dan peternakan yang kaya raya.  Mereka mensuplai berbagai kebutuhan pangan untuk penduduk negeri. (A31)

 Di wilayah dataran ini terdapat Ibu Kota Metropolis Atlantis yang besar, canggih, dan sangat elok (A22-29.   Arsitekturnya kota juga didominasi oleh teknologi kanal dan jembatan.  Di tengah kota terdapat pulau utama yang berdiameter 5 stadia (~1km).  Di tengah pulau tersebut terdapat Istana Poseidon yang sangat megah.  

Pulau utama tersebut dikelilingi oleh selang-seling zona tanah dan air yang konsentris membentuk lingkaran sebanyak 10 lapis.  Zona paling luar selebar 50 stadia (~9.2km) adalah tempat pusat kota Atlantis yang dipinggirannya dibangun  benteng tersusun dari batu yang membatasinya dengan wilayah sekitar.    Di satu sisi benteng yang menuju lautan lepas dibangun kanal utama yang memotong zona paling luar tersebut menuju pelabuhan utama Atlantis.  

Lebar kanal adalah 300 ft (100m) dengan kedalaman sekitar 100ft (35m) sepanjang 9.2km.  Dua zona tanah dan air di sebelah dalam dari pelabuhan selebar 3 stadia (555m).   Empat zona tanah dan air berikutnya mempunyai lebar 2 stadia   (370m). Kemudian dua zona tanah dan air yang langsung mengitari pulau utama mempunyai lebar masing-masing 1 stadia (185m). 

Semua zona yang melingkar konsentris tersebut dihubungkan dengan jembatan dan kanal.
Ringkasnya, uraian di atas di atas jelas ciri-ciri alam daratan Atlantis menunjukkan ciri-ciri alam tropis yang sangat subur dan mempunyai kekayaan sumber daya alam luarbiasa, termasuk keragaman flora-fauna, pertanian, hasil hutan, dan pertambangan logam.   Daratan tersebut bukan pulau terpisah tapi anjungan besar dari sebuah benua, dimana di tengahnya terdapat dataran rendah yang luas dan landai dikelilingi oleh jalur pegunungan dengan gunung-gunung api aktif.  

Kemudian geografisnya juga  dicirikan oleh dataran besar aluvial landai yang berdimensi 555 x 370 km berada di tengah daratan dan dialiri sungai (sangat besar) yang hulu-hulunya berasal dari pegunungan yang  mengelilinginya.  Sumber daya alam yang luarbiasa tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk membangun sebuah negeri maritim yang besar dan elok dan sangat tinggi peradabannya.  Kekuasaan Atlantis meliputi pulau besar yang diuraikan di atas ditambah pulau-pulau lainnya dan juga sebagian wilayah benua (A10).   

Jadi bukan hal aneh apabila sisa-sisa peradaban Atlantis ini ditemukan hampir diseluruh dunia, termasuk wilayah di benua Amerika, Asia, dan Afrika.  Pada zaman Atlantis, sebelum 11.600 tahun lalu, ketika  dunia masih berada dalam zaman es, dikatakan bahwa negeri di wilayah tropis ini jauh lebih subur dan nyaman dibanding sekarang (Zaman Solon-Plato) karena iklimnya berbeda, temperaturnya beberapa derajat lebih dingin.  Pada zaman es wilayah ini merupakan yang terkaya, terindah dan ternyaman di muka bumi, seperti yang diilustrasikan oleh Dialog Plato, namun sudah mengalami  degradasi akibat erosi, sedimentasi dsb. (A-15).

Kemudian diceritakan bahwa pada masa kejayaan,  penduduk negeri Atlantis sangat patuh pada aturan, taat beribadat, sangat menjunjung tinggi budi pekerti yang luhur, dan tidak kemaruk oleh keduniawian walaupun berlimpah harta dan emas-permata.  Namun akhirnya mereka lupa diri, kemudian berambisi ingin menaklukan siapa saja di seluruh dunia.  

Sampai akhirnya tidak lama setelah kalah perang melawan Athena Purba, sekitar 11.600 tahun lalu (BP),  Negeri Atlantis musnah oleh bencana katastrofi.  Peristiwa ini dimulai dengan  hujan yang sangat lebat mengguyur Negeri Atlantis selama satu malam. Setelah itu datanglah bencana gempabumi yang sangat dahsyat yang diikuti oleh banjir besar (=tsunami)  yang hempasan gelombangnya menginundasi daratan sampai jauh ke dalam (A-11,37) memusnahkan Negeri Atlantis hanya dalam sehari-semalam.  Dikatakan bahwa Negeri Atlantis (seperti) hilang tenggelam di bawah laut, dan setelah itu laut di sekitar Pulau Atlantis yang ‘tenggelam’ jadi sukar untuk dilayari karena banyak  tumpukan lumpur (A-37).

Perlu dikaji bahwa ekspresi ‘Pulau Atlantis tenggelam dalam sehari-semalam’ tidak harus diinterpretasikan secara literal.  Ingat bahwa setelah bencana tsunami di Aceh tahun 2004.  Orang sering mengekspresikan bahwa ‘Kota Banda Aceh tenggelam’ oleh tsunami.  Memang benar Banda Aceh tenggelam seketika di-inundasi gelombang tsunami, tapi air laut surut lagi.  Namun, tanah Banda Aceh  turun sampai setengah meter akibat tektonik (“tectonic subsidence”) sehingga bagian pantainya tetap di bawah air.  Banda Aceh juga dipenuhi oleh lumpur beserta berbagai sampah yang dibawa oleh air.  Jadi deskripsi kondisi Banda Aceh setelah tsunami ada kemiripan dengan  deskripsi kondisi Atlantis setelah ‘gempa dan banjir’ tersebut, yaitu dikatakan tenggelam dan penuh lumpur, yang dalam hal ini yang dimaksud adalah bagian dataran rendahnya saja di mana Kota Metropolis Atlantis berada.

Pada masa Solon (600 M) Pulau Atlantis memang sudah benar-benar tenggelam di bawah laut, tapi tenggelamnya daratan Atlantis di bawah laut tidak terjadi dalam sehari-semalam karena bencana banjir besar yang terjadi pada 11.600 tahun lalu tersebut,  melainkan melalui proses alam yang perlahan dan sangat lama.  Hal ini diilustrasikan dalam Dialog Plato dengan mengilustrasikan terjadinya proses erosi dan  sedimentasi secara perlahan-lahan selama ribuan tahun sehingga terjadi akumulasi tebal (yang menutupi apapun yang di bawahnya) dan berbarengan dengan itu air laut terus naik (atau bisa juga diekspresikan dengan ‘tanahnya yang terus turun’), sehingga akhirnya pulau besar Atlantis seperti  hilang dari pandangan, tapi masih menyisakan tulang-tulang daratan (wilayah pegunungan) yang masih terlihat di atas muka laut berupa pulau-pulau yang lebih kecil (A-15).  Nah, dengan pengetahuan ini pencarian daratan Atlantis menjadi lebih mudah lagi, bukan?

Jadi, “to the point” saja, di mana Atlantis? Ah, tidak perlu jenius untuk menjawab hal ini.  Silahkan membuka peta dunia dan mencari sendiri wilayah mana yang memenuhi kriteria Tanah Atlantis di wilayah Tropis, tidak banyak pilihannya.  Ya, benar,  tidak ada pilihan lain kecuali “Sundaland”,  daratan yang dulu lebih luas dari ‘Lybia’ (Afrika Utara)+ ‘Asia’(=Turki)  tapi sudah tenggelam sehingga hanya kelihatan ‘tulangnya’ saja, yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.   Daratan besar lain yang berada di zona Tropis adalah di bagian tengah dari Benua Afrika (Kongo, Tanzania, Kenya, Uganda, dll) dan Bagian Selatan Benua Amerika (Brasil, Peru, Equador, Kolombia, Venezuella). 

Tapi dua lokasi daratan ini tidak tenggelam dan tidak pernah tenggelam sejak 20.000 tahun lalu, juga ciri-ciri geografisnya tidak memenuhi deskripsi Plato.  Sundaland 100% cocok dengan semua deskripsi tentang Pulau/Daratan Atlantis yang diuraikan dalam Timaeus dan Critias.  Sundaland pada masa 11.600 tahun lalu adalah daratan yang notabene merupakan semenanjung besar yang menjorok dari Benua Asia.  Semua ciri-ciri alam, termasuk jenis flora-faunanya dan sumber daya mineral-logam (emas, perak, tembaga) yang disebutkan dalam Critias dipunyai oleh Sundaland.   

Ditambah lagi uraian tentang adanya dataran aluvial besar di tengah-tengah tanah Atlantis yang hulu-hulu sungainya dari pegunungan di sekitarnya sangat pas dengan keberadaan Sungai Sunda purba di perairan Laut Jawa dan Selat Malaka yang anak-anak sungainya bermuara di punggungan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang mengelilinginya.   Jadi kalau dikatakan sungai purba di Sundaland bukan bukti adanya peradaban Atlantis memang bukan bukti langsung atau yang berdiri sendiri melainkan salah satu faktor utama untuk memenuhi kriteria Atlantisnya Plato.  Lebih lanjut lagi, dimensi tanah landai dimana terdapat Kota Metropolis Atlantis, yaitu 555 x 370 km, pas juga dengan dimensi Laut Jawa, bekas dataran aluvial landai yang sudah tenggelam; silahkan diukur sendiri supaya yakin.

Atlantis = Sundaland, itu juga yang diteriakkan oleh Santos dalam bukunya : “ATLANTIS  the Lost Continent Finaly found”.  Uraiannya cukup ruwet dan berliku-liku dan terkadang seperti tidak masuk akal, tapi ide utama yang dikemukakan sebetulnya simpel dan brilian.  Sebelumnya sudah banyak berbagai kandidat Atlantis yang diajukan tapi tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat dan anehnya tidak ada satupun yang melirik Sundaland.  Apakah memang tidak ada orang yang serius membaca Timaeus dan Critias, atau barangkali disengaja untuk mengecoh orang  dengan membuat banyak “decoy-decoy” yang tidak masuk akal apapun tujuannya, Wallahualam.  Santos punya kesalahan cukup fatal  karena menafsirkan Pulau Atlantis benar-benar tenggelam dalam sehari-semalam, seperti banyak ditafsirkan oleh banyak orang.  

Oleh karena itu dia mengajukan hipotesa yang seolah-olah sudah benar-benar dia yakini bahwa yang menghancurkan dan menenggelamkan Pulau Atlantis adalah letusan gunung api Krakatau Purba yang kemudian memicu massa es di bumi mencair seketika sehingga menaikkan air laut sampai puluhan meter hanya dalam sehari-semalam.  Alasan ini  tentu tidak bisa diterima oleh ilmu geologi  karena letusan katastrofi tidak membuat es mencair, tapi sebaliknya malah menurunkan temperatur  bumi  seperti halnya letusan Toba yang menurunkan temperatur bumi beberapa derajat selama 6 tahun.  Disamping itu dalam Timaeus-Critias tidak menyinggung fenomena bencana letusan gunung api. 

Walau bagaimanapun, karya Santos sangat berjasa dalam membukakan ide tentang lokasi Atlantis yang lebih masuk akal ini.  Selain itu dia terutama sudah bekerja keras mengumpulkan banyak mitos, tradisi, peta dan catatan kuno, serta berbagai literatur untuk memperkuat bukti bahwa bukan hanya Plato yang mengatakan tentang adanya  ‘Tanah Surga Purba – Pusat Peradaban Dunia’ tapi juga diceritakan oleh banyak sumber yang meskipun nama sebutannya  berbeda-beda tapi deskripsinya banyak kemiripan dengan deskripsi Atlantis-nya Pluto.  Misalnya adalah cerita dari ahli sejarah Yunani terkenal yang hidup pada Abad satu sebelum Masehi, yaitu Diodorus Sicculus, tentang “Islands of Heliads” atau Negeri Matahari jauh di selatan di wilayah lautan di Selatan India; atau tentang Negeri “PUNT”orang Mesir yang dikatakan sebagai negeri pertama para leluhurnya yang terletak jauh di timur.

Nama pusat peradaban kuno yang cukup terkenal selain Atlantis adalah LEMURIA atau Tanah Mu (“The Land of Mu”).  Kisah Mu pertamakali dikemukakan oleh Le Ploengon (1825-1907) setelah dia kembali dari perjalanannya melihat sisa-sisa reruntuhan peradaban Maya di Yucatan, Mexico.  Dari berbagai relief bangunan,artefak,  simbol-simbol, dan tulisan hieroglpyhs yang ditemukan di sana Le Ploengon berkesimpulan bahwa peradaban (leluhur) bangsa Maya lebih tua dari peradaban Mesir dan Yunani, bahkan lebih jauh lagi menginduk ke peradaban sangat kuno dari satu daratan yang dulu tenggelam karena bencana.  Salah satu leluhur dari daratan tenggelam itu adalah ‘Ratu Moo’ yang membangun peradaban di Mesir dan Yunani. 

Le Ploengon kemudian menginterpretasikan bahwa daratan yang dimaksud bangsa Maya adalah sama dengan tanah Atlantis di dalam Timaeus dan Critias yang menurut keyakinannya ada di tengah Samudra Atlantic .  Le Ploengon adalah juga seorang pioneer dalam penggunaan kamera foto (termasuk teknik foto 3-D) untuk mendokumentasikan reruntuhan Maya tersebut.   Dokumen foto-foto nya menjadi data yang sangat berharga karena sekarang banyak sisa-sisa reruntuhan Maya yang sudah rusak atau dimusnahkan (oleh Spanyol).  Koleksi Foto-foto, catatan harian dan berbagai catatan-analisa Le Ploengon yang asli sekarang tersimpan di Museum Getty, Los Angeles.

Kemudian, James Churchward (1851–1936) lebih mempopulerkan lagi ide-nya Le Ploengon tersebut dalam satu seri buku-nya yaitu: Lost Continent of Mu, the Motherland of Man (1926), kemudian di-edit lagi menjadi The Lost Continent Mu (1931), dan seterusnya ditulis dalam buku populer berjudul  The Children of Mu (1931) dan The Sacred Symbols of Mu (1933).  Churhward meng-klaim bahwa urain didalam buku-bukunya tersebut adalah dari transkrip huruf kuno pada dua buah tablet tanah yang diperlihatkan oleh pendeta tinggi di India (ketika dia sedang berdinas sebagai militer di sana) dan juga dari 2500 tablet batu bertulis dari reruntuhan Maya di Meksiko yang dikumpulkan oleh William Niven. 

Tapi, konon, 2500 tablet batu itu sayangnya raib ketika sedang dikirim dari Meksiko ke USA.  Singkatnya Churchward menguraikan bahwa di Tanah Mu atau Le-MU-ria  ada peradaban tinggi bangsa “Naacal” yang berkembang sejak 50.000 tahun lalu sampai 12.000 tahun lalu, yaitu saat musnah karena bencana alam.  Ketika terjadi benjana besar tersebut populasi bangsa  Mu sudah mencapai  64 juta penduduk dan meninggalkan banyak kota-kota besar dan koloni-nya diberbagai tempat di dunia.  Salah satu ciri khusus dari peninggalan bangsa Mu atau Naacal ini adalah simbol (Dewa) Matahari dan (manusia) burung yang terukir diberbagai artefak dan peninggalan megalitik di banyak tempat di dunia, termasuk patung-patung batu besar (Moai) di Pulau Easter, Polinesia.   Namun, berbeda dengan interpretasi Le Ploengon, Churhward percaya bahwa daratan besar yang tenggelam dari leluhur bangsa Maya (dan juga bangsa-bangsa lainnya, termasuk Mesir dan Yunani) adalah di tengah-tengah Samudra Pasific, bukan di Samudra Atlantic.

Baik karya Le Ploengon ataupun Churchward dua-duanya banyak dicemoohkan oleh kalangan ilmiah.  Yang Menarik, alasan utama kenapa karya mereka ‘dibuang’ adalah karena berhipotesa tentang benua yang tenggelam di tengah samudra , yang satu bilang di Atlantic lainnya di Pasific, karena ini adalah hal yang mustahil untuk dunia ilmiah, khususnya menurut ilmu geologi.  Gara-gara interpretasi yang sembrono inilah maka kerja keras mereka yang sesungguhnya menjadi ikut dianggap sampah, sama seperti halnya Santos yang membuat hipotesa konyol tentang letusan gunung berapi yang mencairkan es.  Aneh juga kalau dipikir sepintas lalu bahwa mengajukan benua (khayalan) yang tenggelam di tengah Samudra sepertinya dianggap lebih masuk akal dibandingkan mengusulkan daratan yang benar-benar pernah ada, yaitu Sundaland.  Tapi harus diingat bahwa ketika zaman Le Ploengon dan Churchward, perihal geologi dari Sundaland belum banyak diketahui dan dipahami orang.

Cerita daratan besar tenggelam lain yang tidak kalah menariknya adalah “Kumari Kandam” yang disebut dalam literatur kuno Sangam-Tamil (tertulis pada awal Masehi), India (http://en.wikipedia.org/wiki/Kumari_Kandam) .  Diceritakan bahwa dulu ada Kerajaan kuno Pandiyanyang berada di dataran antara Sungai Besar Pahruli dan Kumari dengan wilayah pegunungan disekitarnya.  Kemudian ‘laut yang kejam’ mengambil (=menenggelamkan) dataran dan sungai besar itu sehingga sang raja Pandiyan  menaklukan tanah raja Chola dan Chera (di India) sebagai penggantinya.  Menarik untuk dicatat bahwa sungai purba besar di Sundaland pun ada dua, yang satu berada di Selat Karimata sekarang dan bermuara ke Laut Cina Selatan, dan satu lagi berada di Laut Jawa sekarang dan bermuara ke timur, yaitu di selatan Selat Makasar.  

Lokasi dari Tanah Pandiyan itu dideskripsikan berada di ‘selatan’ semenanjung India yang kemudian oleh kongres nasionalis Tamil, Kumari Kandam ini tidak lain adalah LEMURIA, pusat peradaban dunia, dan letaknya di tengah Samudra Hindia.  R. Mathivanan, kepala editor “Etymological Dictionary Project dari Pemerintahan Tamil Nadu, meng-klaim bahwa dia bisa memecahkan transkrip kuno dalam artefak Indus yang isinya antara lain menginformasikan bahwa peradaban Kumari Kandam (sebagai leluhur bangsa Tamil) mulai berkembang sejak 50 ribu tahun lalu sampai tenggelamnya karena banjir besar (sejak) 16 ribu tahun lalu; kemudian 6 ribu SM Raja Pandiya  dari Kumari Kandam mulai mendirikan kerajaan kedua di tanah barunya, yaitu di wilayah India sekarang, dsb.dst.  Yang sangat janggal, kongres tamil ini bersepakat bahwa lokasi Kumari Kandam itu di tengah-tengah Samudra Hindia yang jelas-jelas tidak bisa diterima oleh sejarah geologi karena di situ tidak pernah ada tanah tenggelam ribuan-puluhan ribu tahun lalu. 

Yang benar, sejarah tektonik mengatakan bahwa pulau India itu 90 JUTA tahun lalu lokasinya memang berada di Samudra Hindia sekarang, kemudian karena proses tektonik lempeng daratan ini melaju ke utara dengan kecepatan sampai 20 centimeter/tahun sampai akhirnya mulai menabrak Benua Asia sekitar 50-45 JUTA tahun lalu yang karenanya pegunungan Himalaya sekarang ada.  Jadi kalau dikaitkan dengan geologi maka kisah daratan Kumari Kandam di Samudra Hindia waktu kejadiannya kekurangan tiga angka NOL.  Apakah Kongres Tamil waktu itu tidak terpikir untuk melirik ke daratan tenggelam yang lebih masuk akal yaitu Sundaland? Boleh jadi bersikap nehi-nehi terhadap kemungkinan itu karena sampai saat ini Bangsa India dikenal sebagai pembina peradaban Indonesia,  masa iya harus mengakui sebaliknya,  Wallahualam.

Sampai saat ini bencana katastrofi yang menghancurkan Atlantis, dari sudut pandang ilmiah, tetap masih merupakan misteri yang harus diteliti serius.  Timaeus dan Critias hanya mengatakan bahwa bencana itu dimulai dengan satu malam diguyur hujan yang sangat lebat kemudian datanglah bencana gempa dan banjir atau tsunami, diikuti oleh gejala penurunan tanah. 

Apakah maksudnya gempa tektonik?  Di Sundaland gempa dan tsunami besar hanya bisa dihasilkan oleh zona subduksi, atau disebut juga sebagai “megathrust”, seperti halnya yang menyebabkan tsunami Aceh tahun 2004, Pangandaran tahun 2006 dan tsunami di Pagai, Mentawai tahun 2010.  Apabila Kota Metropolis  Atlantis itu berada di dekat Selat Sunda, maka sumber gempa mautnya kemungkinan besar adalah megathrust  dengan skala sangat besar di wilayah Selat Sunda, katakanlah sampai 9.5 SR atau lebih, sehingga memecahkan batas lempeng dari mulai barat Sumatra – Selat Sunda – sampai ke Selatan Jawa.  Apakah goyangan dari gempa  seperti ini cukup untuk merontokkan Atlantis dan membangkitkan tsunami yang menenggelamkan Kota Metropolisnya?   Mungkin saja, tapi taksiran saya mungkin harus dibarengi dengan longsoran besar di bawah laut di dekat  Selat Sunda untuk  bisa membangkitkan tsunami sampai lebih dari seratus meter. 

Dan boleh jadi juga keberadaan kanal-kanal air di wilayah dataran Atlantis ini menjadi jalan bagi gelombang tsunami untuk merambat jauh ke daratan.  Perlu ada  pemodelan tsunaminya untuk bisa lebih kuantitatif dan pasti.  Gempa Megathrust di zona Subduksi Sumatra-Selat Sunda-Jawa juga dapat menyebabkan penurunan tanah atau “tectonic subsidence” di wilayah Selat Sunda ke timur.  Jadi hipotesa ini kelihatannya cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato.  

Kalau benar ada gempa raksasa yang pernah terjadi di wilayah Selat Sunda, maka hal ini cukup menakutkan karena segmen megathrust di wilayah Selat Sunda statusnya “seismic gap” (tidak pernah mengeluarkan gempa besar) dalam perioda yang sangat panjang,  alias dicurigai sudah mengumpulkan energi yang sangat besar sehingga siap memuntahkan energinya seperti pada masa purba untuk menghancurkan wilayah Kota Metropolis saat ini, yaitu Jakarta.

Walaupun demikian hipotesa bencana letusan gunung api tetap tidak bisa sama sekali diabaikan.  Dengan asumsi bahwa keterangan dalam Dialog Plato tidak lengkap sehingga tidak menyinggung ada fenomena ini, atau barangkali saja ada dalam Dialog Plato yang terputus atau hilang.  Selain itu gempa tektonik bisa juga memicu letusan gunung api. 

Gunung api serta bumbungan letusannya ke angkasa banyak diasosiasikan oleh orang dengan istilah “Pillars of Heracles”.  Dari jejak kaldera yang terlihat sekarang bisa disimpulkan bahwa Krakatau Purba dulu lebih besar dari Krakatau yang meletus dahsyat tahun 1883.  Bahkan, ada yang menduga diameternya sampai 50 km melewati Gunung Sibesi – Rajabasa, Pulau Sangiang – Anyer – Komplek Krakatau yang aktif sekarang.  Letusan yang menghasilkan kaldera sebesar ini tentu benar benar katastropik, tidak hanya memusnahkan Atlantis tapi merupakan bencana global seperti halnya Letusan Toba sekitar 70.000 tahun lalu.  Namun, sejarah geologi letusan Krakatau pada masa purbakala masih gelap, sehingga saat ini kita hanya bisa berandai-andai saja.

Selain gunung api, orang bisa juga berhipotesa bahwa gempa yang dimaksud dalam Dialog Plato bukan gempa tektonik ataupun vulkanik, tapi karena ada tumbukan meteor besar.  Kalau ini yang terjadi, tsunami yang dibangkitkan bisa sangat besar, sampai ratusan meter.  Tumbukan meteor juga menimbulkan dampak iklim global yang mematikan, seperti halnya yang pernah terjadi 60juta tahun lalu yang memusnahkan hampir semua mahluk hidup di dunia termasuk dinosaurus.  Singkatnya, bencana yang pernah menghancurkan Atlantis di masa Pra-Sejarah adalah hal yang masih harus diteliti dan dicari fakta-faktanya.

Selanjutnya, kronologi kejadian tenggelamnya Atlantis pada 11.600 tahun lalu yang dikatakan dalam Dialog Plato sangat menarik karena pada masa itu pengetahuan geologi tentang adanya Zaman Es dan kenaikkan muka airlaut dari  20.000 tahun BP sampai 8000 tahun BP belum ada. 

Jadi bagaimana orang bisa ‘berkhayal dengan cerdik’ dengan menempatkan waktu musnahnya peradaban Atlantis pada perioda terjadinya kenaikkan muka airlaut global tersebut?  Ada tiga kali pulsa perioda kenaikkan air laut yang relatif sangat cepat, yaitu yang disebut sebagai Melt Water Pulse (MWP) 1a, 1b, 1c pada sekitar 15.000-14.000 BP, 13.000-12.000 BP dan 11.000-8.000 BP. Timing 11.600 tahun lalu kira-kira ada diantara MWP 1b dan 1c.  Data detail tentang sejarah geologi kenaikkan muka airlaut sejak 20.000 tahun lalu di Sundaland masih sangat minim sehingga resolusinya masih rendah.  Denga kata lain seberapa cepat air laut bisa naik karena es meleleh, atau keberadaan naik air laut yang tiba-tiba pada MWP 1a,b,c masih harus diteliti lebih lanjut. 

Apalagi kalau misalnya ada kenaikan air laut tiba-tiba yang sangat besar tapi hanya “spike” alias banjir besar dalam perioda yang singkat (karena surut lagi), maka hal ini tidak akan terekam dalam sejarah geologi kecuali kita punya rekaman data alam yang resolusinya tinggi, misalnya harian, mingguan, bulanan, atau juga tahunan.  Rekonstruksi yang ada sekarang adalah kenaikkan muka air laut yang resolusinya rendah, dan bukan berasal dari data di Laut Jawa.
Jadi apa kesalahan hipotesis Sundaland adalah Atlantis?  Tidak ada cela bahwa Sundaland memenuhi semua kriteria yang diberikan Plato, meskipun tentu saja semua itu harus diteliti dan dicari fakta-fakta di lapangannya. 

Mungkin yang bisa dianggap kekurangan Sundaland  sebagai Atlantis adalah karena ‘fakta’ bahwa sejarah Nusantara baru diketahui mulai sekitar Abad 4 Masehi.  Zaman sebelum itu oleh para arkeolog dianggap masih primitif.  Meskipun nyatanya banyak tinggalan megalitikum yang hebat-hebat dari zaman pra-sejarah di Indonesia yang masih misterius asal-usul dan umurnya, termasuk  tinggalan megalitik yang sangat berlimpah di wilayah Pagar Alam, atau batu-batu Menhir besar yang menakjubkan di Lembah Bada, Sulawesi Tengah.  

Itu baru yang terlihat di permukaan, belum yang masih tertimbun dibawah tanah.  Dengan kata lain belum ada data (yang cukup) tentang peradaban di zaman pra-sejarah tidak bisa diartikan menjadi tidak ada peradaban di zaman pra-sejarah.  Hal sama juga menyangkut keberadaan peradaban Athena purba  dalam Dialog Plato karena dari pengetahuan arkeologi yang diyakini “mainstream”, tidak ada peradaban di Yunani 11.600 tahun lalu, bahkan di Eropa atau di seluruh dunia.  Jadi ini masalah dunia.  Meneliti keberadaan peradaban tinggi pada zaman pra-sejarah Indonesia adalah satu tahap yang sangat penting.

Pendapat umum kalangan arkeologi di Indonesia meyakini bahwa populasi manusia dan peradaban Nusantara berasal dari daratan besar Cina yang dibawa oleh imigran via Taiwan ke selatan sekitar 6000-5000 tahun lalu.  Namun, Teori “Out of Taiwan” yang  dipelopori oleh Peter Bellwood ini sekarang sudah mulai banyak dianggap tidak cocok dengan berbagai hasil penelitian dan temuan baru sehingga mulai dikembangkan teori tandingannya yaitu “Out of Sundaland” yang sebaliknya mengatakan bahwa asal mula peradaban dari bangsa-bangsa didaratan Asia (dan juga dunia) adalah dari Asia Tenggara atau Sundaland.  

Salah satu yang terkenal mendukung “Out of Sundaland” ini adalah Stephen Oppenheimer dengan berbagai makalah ilmiah dan juga buku populernya “Eden in The East”.  Awalnya Oppenheimer tergerak untuk meneliti ini karena dia melihat Asia Tenggara adalah wilayah yang mempunyai keragaman dan kekayaan budaya yang tiada duanya di dunia, sehingga kenapa selama ini para ahli memandangnya sebelah mata dan sepert percaya buta begitu saja  dengan Out of Taiwannya Bellwood yang memposisikan budaya Asia tenggara hanya sebagai cabang sekunder dari peradaban daratan Asia.

Penelitian Oppenheimer yang keahlian dasarnya adalah seorang dokter dan ahli biomolekuler  menunjukkan bahwa nenek moyang dari kebanyakan bangsa Indonesia yang hidup sekarang sudah tinggal di sini sejak 50.000 tahun lalu.  Kemudian dari penelusuran arkeologi, anthropologi, linguistik, dan bahkan sampai berbagai tradisi dan mitos-mitos, Oppenheimer berkesimpulan bahwa  Sundaland atau Asia Tenggara sekarang adalah pusat budaya Austronesia dan polinesia.  

Teknologi peternakan dan pertanian sudah ada di Sundaland jauh sebelum orang-orang dari Taiwan datang ke Nusantara, 6000-5000 tahun lalu.  Bahkan teknologi pelayaran itu pertama dikembangkan di Bumi Nusantara antara 16.000 – 8.000 tahun lalu.  Dia berpendapat bahwa kemampuan berlayar ini ‘terpaksa’dikembangkan untuk menghadapi tiga episoda banjir besar. 

Pendapat ini ditunjang oleh hasil pemetaaan DNA yang mengindikasikan ada penyebaran populasi di wilayah Sundaland ketika tiga kali episoda banjir tersebut.  Ekspansi populasi dan peradaban dari Sundaland akibat iklim global dan kenaikkan muka airlaut ini juga sejalan dengantemuan-temuan penelitian lintas disiplin keilmuan dari Universitas Leeds, Belanda yang dipimpin oleh Martin Richards, professor pertama di bidang “archeo-genetics”.   

Jadi singkatnya, Oppenheimer dan sejumlah pendukung Teori “Out of Sundaland” memang tidak langsung mengkaitkan temuannya  dengan isyu Atlantis atau LEMURIA dan untuk pembahasan ilmiah memang tidak perlu dikait-kaitkan; namun opsi Sundaland sebagai pusat peradaban yang lebih tua dari peradaban yang dibawa oleh “Out of Taiwan” ini akan membuka pintu lebih lebar untuk menguak tabir misteri Atlantis.

Pembuktian langsung bahwa ada peradaban (tinggi) di zaman pra-sejarah adalah apabila ditemukan monumen besar dan hebat dari zaman pra-sejarah, seperti dikatakan Plato bahwa sebagai bukti dari Atlantis maka disuruh mencari “sacred monument” yang biasanya didirikan di dekat mata-mata air di wilayah pegunungan (A-38).  Siapa tahu Situs Megalitik Gunung Padang adalah salah satu kuncinya.  Akhir kata, menarik untuk menyimak kata-kata mutiara dari Dr. J. Robert  Oppenheimer, Direktur Project Manhattan – Bom Nuklir USA di bawah ini terasa mengena untuk mendorong pemikiran-pemikiran baru dalam sains dan penelitian, termasuk yang kontroversial atau bahkan yang terlihat tidak masuk akal sekalipun:



“There must be no barriers to freedom of inquiry.  There is no place for dogma in science. The scientist is free, and must be free to ask any question, to doubt any assertion, to seek for any evidence, to correct any errors. Where science has been used in the past to erect a new dogmatism, that dogmatism has found itself incompatible with the progress of science; and in the end, the dogma has yielded, or science and freedom have perished together”. (J.R. Oppenheimer, 1949). Sumber.


Bookmark and Share