Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

Benarkah Alien Adalah Dewa Pencipta Manusia?

0 comments

Alien, dan mereka yang disebut para ‘Dewa’ akan mengontrol energi dari seluruh galaksi. Bukan berdasarkan pada molekul karbon, tetapi merupakan kecerdasan Manusia Super, tak terkecuali malaikat.

Peradaban masa lalu tetap menjadi misteri, dan manusia terus berusaha tanpa henti hingga menemukan jawaban sesungguhnya tentang awal terbentuknya peradaban manusia dan Dewa. Bagi ilmuwan, terjemahan alkitab tidak akan pernah mencukupi hasrat mereka untuk menggali lebih dalam tentang pencitaan manusia primitif yang men-Dewa-kan Alien. Artikel saya hari ini akan memberikan sedikit penjelasan yang berkaitan denganAlien dan Dewa Kuno berdasarkan sebuah teori, atau lebih tepatnya hipotesis dari beberapa ilmuwan, salah satunya Michio Kaku.

Alien Dan Sejarah Peradaban Manusia

Sebuah teori muncul di tahun 1968 tentang hipotesis untuk merenungkan kemungkinan makhluk luar angkasa(Alien) ketika mereka turun ke Bumi di masa lalu dan membangun ajaran agama. Penulis Erich von Daniken, sosok yang disebut sebagai ‘Bapak Teori Astronot Kuno‘. Dalam bukunya yang berjudul ‘Chariots Of The Gods‘ mempopulerkan argumen tentang alien kuno yang berinteraksi dengan manusia primitif.

Rev.Barry Downing juga meneliti hubungan antara UFO dan keyakinan agama. Di bukunya yang berjudul ‘The Bible and Flying Saucers‘ adalah buku yang berisi hipotesis perspektif Alkitab tentang fenomena UFO dan alien. Teori Von Daniken mengatakan bahwa nenek moyang kita (manusia primitif) menganggap alien sebagai Dewa dan membuat ‘sistem kepercayaan supranatural’ dalam pertemuan mereka. Downing juga mengatakan bahwa Alien tertentu sebenarnya malaikat Allah atau utusan ilahi yang dikirim ke bumi.

Kedua sudut pandang muncul di ruang lingkup yang bervariasi, mulai dari Anunnaki yang dianggap bangsa Sumeria dan Babilonia sebagai Dewa pencipta manusia. Kemudian insiden UFO Roswell tahun 1947 di New Mexico, dan ada lagi dugaan tentang Wajah di Mars. Teori astronot kuno umumnya beranggapan bahwa alien adalah manusia dengan teknologi canggih yang berevolusi melalui seleksi Teori Darwin melalui sang pencipta. Alkitab UFOlogi manyatakan sebaliknya, bahwa beberapa makhluk langit adalah makhluk abadi yang diciptakan oleh Allah yang mungkin berada pada peperangan di ruang angkasa dengan entitas alien agresif.

Definisinya bahwa Tuhan tidak lain merupakan bagian dari keabadian. Sepanjang sejarah antropologi dinyatakan adanya hewan Dewa yang disebut Dewa Humanoid, Dewa Roh, dan Dewa Totem, dimana mereka dianggap hidup abadi.

Dewa bisa mengalami kematian, sakit, dan nafsu manusia, namun kematian bisa mereka hindari. Tidak semua Dewa yang baik atau peduli kepada umat manusia, Sebuah premis universal Dewa Kuno merupakan ‘Pergeseran Generasi’ atau menjatuhkan kedaulatan dari orangtua kepada anak. Salah satunya adalah ketika manusia bisa menerima pahala, kebaikan dari keabadian dan menjadi Dewa atau menikah dengan mereka.

Hipotesis Singularitas Tentang Peradaban Alien

Ilmuwan Amerika dan gerakan Singularity futuris (Ray Kurzweil) menyatakan bahwa manusia bisa menjadi abadi dalam waktu 20 tahun melalui Nanoteknologi yang mampu menggantikan organ vital manusia. Teknologi Singularity merupakan istilah yang diciptakan oleh penulis fiksi ilmiah, Vinge Vernor. Hal ini mengacu pada penciptaan komputer pintar yang mengembangkan kecerdasan mereka sendiri, Transhumanists yang mendukung peningkatan kapasitas manusia melalui teknologi canggih.

Para Dewa kuno tidak digambarkan sebagai manusia super yang seharusnya ditanamkan dalam imajinasi impulsif. Dewa kuno menderita dan mati, tetapi kemudian disatukan kembali bersama-sama atau dibangkitkan sesuai dengan pernyataan Kurzweil bahwa organ-organ vital akan diregenerasi. Jika peradaban alien memang menjadi abadi melalui teknologi canggih, menurut definisi maka mereka adalah Dewa. Hipotesis Von Daniken mengusulkan bahwa alien mengajarkan manusia primitif tentang astronomi, geometri, dan bahkan konstruksi monolit.

Tapi mengapa mereka tidak bisa mengajarkan manusia tentang perbedaan antara ‘Dewa Imajiner’ dan ‘Alien’ yang hidup saat ini? Mungkinkah makhluk abadi ingin diperlakukan sebagai Dewa atau malaikat yang menggambarkan masa depan Manusia Abadi?

Fisikawan Amerika-Jepang dan penulis Michio Kaku menggambarkan pencarian ilmiah tentang kemungkinan peradaban alien melalui pembagian Tipe I, II, III dan IV. Mereka menduga peradaban Type I yang mengarahkan pada sumber daya dari seluruh planet, tapi manusia belum ada di sana. Penyalahgunaan senjata nuklir dan peluncuran roket ruang angkasa memungkinkan prospek yang mengerikan sebagai ancaman disetiap planet yang dekat dengan Bumi. Hal ini memicu respon hipotetis peradaban Tipe II yang mengontrol energi dari seluruh tata surya. Sementara peradaban Tipe III akan mengontrol energi dari seluruh galaksi. Tidak didasarkan pada molekul karbon, hal tersebut merupakan kecerdasan manusia super, tak terkecuali malaikat.

Peradaban Tipe IV akan mengontrol penciptaan alam semesta dari Big Bang. Kecerdasan tak tertandingi yang terkadang disebut sebagai replikator kuantum, astrobiologis Paul Davies pernah menyebutnya sebagai ‘Q-Life‘ yang merupakan Ketuhanan tertinggi dari jiwa manusia dan mendiami sebuah Singularitas Multiverse.

Mereka menyatakan string informasi tentang masa lalu selama miliaran tahun sehingga menetapkan kondisi awal Big bang. Fisikawan Amerika (Ronald Mallett) menggunakan persamaan Albert Einstein untuk menggambarkan pergeseran waktu dengan sinar laser. Dan hasilnya,… sebuah peradaban Tipe IV tidak pernah berhenti menciptakan alam semesta baru.

Penulis Amerika ‘Michael Talbot‘ menyatakan teori realitas yang menunjukkan fisik alam semesta dengan hologram raksasa, setelah dia memeriksa fisikawan David Bohm dan neurofisiologi Karl Pribram dimana keduanya secara independen menggunakan teori holografik dan model alam semesta.

Talbot berpendapat bahwa keberadaan manusia merupakan holografik yang memproyeksikan struktur Big bang itu sendiri. Jika demikian, maka ada Dewa atau peradaban Alien yang akhirnya mungkin akan dihadapi manusia, setidaknya untuk membuktikan holografik dari makhluk abadi, tapi bukan sebagai Zat pencipta alam.

Fallen Angel pernah di bahas di : Grup Indonesian Space Research

Bookmark and Share

Mitos “Ratu Kidul” Wanita Cantik Pesisir Selatan Pantai Pulau Jawa

2 comments
Banyak versi cerita Ratu Kidul
yang belum bisa dibuktikan dengan kondisi
perkembangan zaman, namun mitos keberadaan
Ratu Kidul di zaman ini hanya bisa menjadi
bagian kekayaan budaya Nusantara
yang indah (ilustrasi: kaskus.co.id)
Apakah anda dan kita semua percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari kita mungkin akan berkata, tidak !. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup di masa zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita tersebut.

Sementara itu keberadaan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan tidak bisa dilepaskan dari Kerajaan Mataram. Bahkan saat Mataram terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, mitos penguasa pantai selatan masih tumbuh subur di masyarakat pesisir selatan pulau Jawa.

Kuatnya keyakinan masyarakat bahwa pendiri kerajaan Mataram, yakni Panembahan Senapati, memiliki hubungan khusus dengan Nyi Roro Kidul membuat aura dan kewibawaan kerajaan ini senantiasa diliputi dimensi gaib. Tak hanya Panembahan Senopati, bahkan hubungan ‘istimewa’ ini terus berlanjut sampai ke keturunannya yang menjadi raja di Yogyakarta.


Mitos keberadaan Ratu Kidul atau
Ratu Pantai Selatan Pulau Jawa
hingga sampai sekarang baru hanya sebatas mitos dan
kajian kepercayaan masyarakat Jawa
yang kiat mengental kuat jauh dari syariat agama
yang sebenarnya (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Dan kepercayaan terhadap adanya Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Kita pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ konon dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Selanjutnya tentang kepercayaan keberadaan Ratu Kidul tersebut diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahunSri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semangyang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh Sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.


Mitos masyarakat pesisir selatan pulau Jawa,
Ratu Kidul adalah penguasa laut selatan pulau Jawa
yang memiliki paras cantik dan bercahaya indah,
menurut mitos Ratu Kidul selalu
memilih suami-suaminya berbangsa manusia yang
memiliki ketampanan, kekuasaan, dan memiliki banyak
pengaruh di dunia (ilustrasi: Syaifud Adidharta)

Menguatnya mitos Kanjeng Ratu Kidul menjadikan sebagian besar masyarakat pesisir laut selatan pulau Jawa yang masih tradisional,  mengangap laut selatan pulau Jawa adalah tempat menggantungkan hidup yang membawa kemakmuran bagi masyarakat pesisir selatan tersebut. Dari laut mereka mendapatkan makan dan menghidupi keluarga. Laut pun kemudian diperlakukan tidak sembarangan dan mereka percaya bahwa ada kekuatan besar yang berada di dasar laut.

Kekuatan tak kasat mata tersebut tidak sekadar menentukan besar sedikitnya hasil laut mereka, tetapi juga keselamatan. Kekuatan gaib tersebut kemudian diwujudkan dalam sosok Nyi Roro Kidul, sang penguasa pantai selatan.

Alhasil, mereka pun menyakini akan kekuatan dan keberadaan ratu pantai selatan. Inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk melegitimasi kekuasaan raja-raja Mataram.

Kisah Nyi Roro Kidul memang banyak ditulis para pujangga terdahulu, bahkan di Babad Tanah Jawi juga disinggung mengenai keberadaan putri yang selalu mengenakan baju hijau itu.

Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi secara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senapati bahwa akan menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Hal inilah yang membuat kepercayaan masyarakat di pesisir pantai selatan semakin kuat terhadap sosok Nyi Roro Kidul.

Sedangkan sampai sekarang asal-usul Nyi Roro Kidul hingga kini juga masih banyak versi dan diperdebatkan. Ada yang berpendapat bahwa Nyi Roro Kidul aslinya bernama Putri Kadita, Ratna Suwida, dan Dewi Nawang Wulan, tetapi kisahnya tidak jauh berbeda, yaitu seseorang putri raja yang mempunyai paras wajah cantik yang terkena penyakit guna-guna oleh saudara tirinya yang menginginkan tahta ayahnya. Pada akhirnya, dia dibuang oleh ayahnya lantaran penyakit yang dimiliki meresahkan dan menular.

Sedangkan menurut versi lain menyebut bahwa Nyi Roro Kidul adalah jelmaan dari salah satu tujuh bidadari. Tetapi, menurut tradisi yang dipegang kuat Mataram, Nyi Roro Kidul adalah seorang putri dari Kerajaan Padjajaran yang telah diusir dari istana karena dia menolak suatu perkawinan yang diatur oleh ayahnya. Raja Padjajaran lalu mengutuk putrinya, sehingga akhirnya dia dijadikan ratu kaum roh halus dengan istananya di bawah perairan Samudera Hindia.

Benarkah ada makhluk bernama Nyi Roro Kidul sang penguasa laut pantai selatan? Atau hal tersebut hanya sebatas cerita yang dikarang untuk melegitimasi kekuasaan Panembahan Senapati dan keturunannya?

Namun akan tetapi sampai sekarang di masa modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud Sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan. Sumber.

Bookmark and Share

Inilah Hubungan Magis Merapi-Keraton-Laut Kidul

0 comments

Gunung Merapi berada di jalur kosmologis penting dalam kultur Jawa. Gunung api aktif itu berada dalam satu poros Utara-Selatan Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan atau Samudera Hindia. 

Hubungan magis dan historis Gunung Merapi dengan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah bergabung dengan Republik Indonesia itu diwakili dengan kehadiran Mbah Maridjan. 

Pria 83 tahun yang ditemukan wafat dalam posisi sujud di dapur kediamannya pada Rabu (27/10) sekitar pukul 05.00 itu menjadi juru kunci Gunung Merapi. Posisinya itu didapatkan berdasarkan amanah yang dia terima dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ayahanda Sultan Hamengkubuwono X yang kini memegang tampuk Keraton Yogyakarta dan DIY. Diapun mendapat gelar Mas Penewu Surakso Hargo.

Gunung Merapi dipercaya sebagai pusatnya kerajaan mahluk ghaib di Tanah Jawa. Penempatan Juru Kunci itu dipercaya sebagai perutusan untuk menjaga harmoni hubungan antara kerajaan ghaib dan kerajaan manusia (Jawa). Antara manusia dan alam semesta. 

Secara periodik, sang juru kunci memimpin upacara adat atau ritual tradisional di puncak atau lereng Merapi. Ritual itu biasanya diadakan bersamaan dengan peringatan pengukuhan Sultan Yogyakarta. 

Bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa kuno, Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton Yogyakarta mengandung pemahaman kosmologi tersendiri. Dalam kosmologi Jawa, kehidupan di dunia merupakan sebuah harmoni antara mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede). 

Keharmonisan itu harus dijaga satu sama lain, tidak boleh terjadi ketimpangan. Gunung Merapi dan Laut Selatan dipercaya sebagai pusat kedudukan mikrokosmos itu. Sedangkan Keraton merupakan pusat makrokosmos. 

Merapi di utara dipercaya sebagai pusat raja jin dan Samudra Indonesia di selatan diyakini sebagai pusat tahta Ratu Kidul. Itulah mengapa penghuni Keraton selalu melakukan upacara labuhan di Merapi dan Laut Selatan. Di sinilah peran Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi memegang peranan penting. 

Bagi Keraton Yogyakarta, Merapi menjadi simbol kosmologis yang membentuk poros sakral Utara-Selatan. Puncak Merapi sebagai poros Utara yang kemudian ke Laut Selatan melintasi Monumen Tugu di dekat Stasiun Kereta Api terus sepanjang Jalan Malioboro. 



Dari Jalan yang kesohor itu, garis kosmik Poros Utara-Selatan itu membentang ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul sebelum akhirnya menuju Laut Selatan yang dalam masyarakat Jawa diyakini di bawah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Konon, penguasa Laut Kidul itu menjadi selir setiap Sultan Yogyakarta. Sumber.

Bookmark and Share

‘TRINITAS’ MERAPI – KERATON YOGYA – LAUT SELATAN

0 comments

Dalam literatur Jawa, terdapat kepercayaan tentang ‘trinitas’ antara Gunung Merapi, Keraton Yogya dan Laut Pantai Selatan. Banyak kepercayaan yang beredar bahwa hubungan ketiga hal tersebut adalah terkait dengan kekuatan sang penguasa Jin di daerah tersebut.

Benarkah demikian?

Biarlah hal tersebut menjadi mitos yang dapat menjaga budaya seperti apa adanya. Saya akan menulis kaitan ketiga hal tersebut dari sisi filosofi yang bisa dimaknai, sehingga berguna bagi kehidupan saat ini.

Posisi dan letak keraton Yogyakarta mempunyai arti filosofis yang sangat dalam, dengan diletakkannya keraton Yogya pada poros tengah antara laut selatan dan gunung merapi.

Dalam mitos diceritakan bahwa sejak dari Panembahan Senopati sampai turunan raja-raja Yogya, telah memperistri Ratu Pantai Selatan dan mempersembahkan sesajian kepada penguasa Gunung Merapi sebagai legalitas otentik kerajaannya.

Apa yang akan disampaikan oleh ilmuwan kerajaan Mataram saat itu tentang simbolik tersebut?

Sebagai seorang Raja, memperistri seorang Ratu adalah melebur menjadi satu dalam kedua kekuasaan, dan jelas bahwa kekuasaan Raja lebih tinggi dari Ratunya. Perkawinan tersebut bukanlah perkawinan real, namun perkawinan imajiner atau simbolik yang akan menyampaikan makna bahwa sebuah kekuasaan harus melingkupi hubungan ke bawah dengan simbolis ‘air’.

Diawali dari Panembahan Senopati, seorang Raja juga mempersembahkan sesaji kepada penguasa Gunung Merapi. Hal inipun bukan merupakan sesaji real, namun juga merupakan gerakan ‘imajiner’ atau simbolik yang akan menyampaikan pesan bahwa sebuah kekuasaan juga akan bertumpu kepada sesuatu yang lebih tinggi yang digambarkan dengan simbolis ‘gunung’.

Posisi Merapi bagi Yogyakarta mempunyai peranan penting yang disakralkan.

Hal tersebut bisa kita uraikan dari sumbu imajiner yang tercipta berawal dari Pantai Selatan. ‘Trinitas’ antara Merapi – Keraton Yogya – Laut Selatan, merupakan proses sebuah kehidupan manusia yang berjalan dari awal hidupnya menuju sebuah kesempurnaan hidup.

Berawal dari Laut Selatan yang dikuasai oleh seorang ratu dimana kerajaan Laut Selatan digambarkan sangat kaya, maka ini merupakan sebuah symbol bahwa kehidupan awal manusia penuh dengan godaan dari Harta, tahta, dan wanita.

Perjalanan ini menempuh sumbu imajiner menuju ke pusat atau inti kehidupan dengan letak dari keraton Yogyakarta. Setelah melewati masa godaan di kehidupan awal, maka proses kehidupan digambarkan mencari kenyamanan hidup dengan adanya sebuah pasar besar yang bernama ‘Bringharjo’.

Proses kehidupan tersebut kemudian berlanjut menuju sesuatu yang lebih tinggi, yaitu dengan symbol sebuah gunung.

Poros sumbu imajiner antara ‘Merapi – Keraton Yogya – Laut Selatan’, tentu saja dengan sengaja diciptakan sebagai bahan refleksi bagi rakyat Yogyakarta. Seorang Raja Yogya digambarkan sebagai seseorang yang telah menguasai Laut Selatan dan Gunung Merapi, yang mempunyai arti bahwa Raja telah menjadi panutan untuk melampaui semua proses kehidupan tersebut.

Penguasaan dari Laut Selatan adalah penguasaan dari kesadaran rendah manusia yang berisi ambisi, ketamakan, egoisme, dan segala gerakan badaniah manusia. Sedangkan penguasaan dari gunung Merapi, adalah penguasaan dari kesadaran tinggi yang selau harus hening dan wening. Sumber.
Bookmark and Share

7 Dewa Kematian Dari Berbagai Kepercayan Kuno Di Dunia

0 comments


Dewa memiliki bermacam-macam wujud, biasanya berwujud manusia atau binatang. Mereka hidup abadi. Mereka memiliki kepribadian masing-masing. Mereka memiliki emosi, kecerdasan, seperti layaknya manusia.

Beberapa fenomena alam seperti petir, hujan, banjir, badai, dan sebagainya, termasuk keajaiban adalah ciri khas mereka sebagai pengatur alam. Mereka dapat pula memberi hukuman kepada makhluk yang lebih rendah darinya. Berikut 7 dewa kematian dari berbagai kepercayaan yang ada di dunia.

1. Osiris


Osiris ialah dewa maut Mesir Kuno, dalam beberapa literatur mesir kuno, ia disebut juga dengan Asar, Asari, Aser, Ausar, Ausir, Wesir, Usir, Usire or Ausare. Kerajaannya terdapat di barat, ia menghakimi jiwa manusia menurut pahala yang mereka kumpulkan.

2. Anubis


Anubis dalam kepercayaan Mesir Kuno dianggap sebagai dewa kematian dengan wujud kepala anjing dan badan manusia. Anubis adalah nama Mesir untuk dewa berkepala anjing yang berhubungan dengan mumi dan kehidupan setelah kematian pada mitologi Mesir.

Pada bahasa Mesir Kuno, Anubis dikenal sebagai Inpu. Penemuan yang tertua menyebut Anubis pada teks piramid kerajaan tertua, di sana ia dihubungkan dengan kekerasan seorang raja pada saat itu.

3. Odin


Dalam Mitologi Nordik, Odin adalah pemimpin para Dewa. Namanya konon berasal dari kata  Odhr, yang berarti "perangsang", "kemarahan", dan "puisi". Sebagai pemimpin para Dewa, ia memiliki banyak peran: Dewa kebijaksanaan, Dewa perang, Dewa pertempuran, dan Dewa kematian.

4. Thanatos


Thanatos adalah dewa kematian dalam mitologi Yunani. Dia membawa kematian yang tenang dan damai, berkebalikan dengan salah satu saudaranya, Ker, pembawa kematian yang menyakitkan.

Thanatos adalah anak dari Niks dan Erebos dan memiliki saudara kembar Hipnos. Saudaranya yang lain yaitu: Geras (dewa masa tua), Oizis (dewa penderitaan), Moros (dewa ajal), Apate (dewi penipuan), Momos (dewa ejekan), Eris (dewi perselisihan), Nemesis (dewi pembalasan) dan Kharon. Thanatos sering digambarkan sebagai pria tua bersayap.

5. Yama


Yama adalah dewa akhirat dalam agama Hindu. Menurut kepercayaan umat Hindu, dialah dewa yang pertama kali dijumpai oleh roh orang mati saat berangkat menuju wilayah surgawi, sehingga dia juga bergelar dewa kematian.

Tugasnya yang utama adalah mengadili roh orang mati, dengan didampingi oleh asistennya yang disebut Citragupta, pencatat karma manusia. Karena keadilannya, ia disebut pula Dharmaraja.

Yama memiliki wahana berupa seekor kerbau betina. Ia bersenjata gada atau danda dan membawa jerat. Dia memiliki dua anjing mengerikan bermata empat yang bertugas menjaga jalan yang dilewati roh orang mati menuju alam Yama.

6. Ker


Ker adalah dewi kematian dalam mitologi Yunani. Para Ker adalah dewi yang membawa kematian yang kejam, termasuk kematian dalam pertempuran, kecelakaan, pembunuhan atau penyakit.

Kebalikan dari Thanatos yang memberi kematian yang damai. Para Ker digambarkan sebagai makhluk gelap dengan cakar dan gigi bergemeretak dan haus darah.

Para Ker adalah makhluk yang haus darah dan secara kejam merobek jiwa dari tubuh yang sekarat lalu mengirimnya ke dunia bawah. Ribuan Ker berterbangan di atas area pertempuran, dan jika ada manusia yang mati, maka para Ker akan saling berebut seperti burung pemakan bangkai.

Para Ker sebenarnya tidak berkuasa atas hidup dan mati manusia namun sifat haus darah mereka menjadikan para Ker berusaha membuat orang-orang mati. Zeus dan dewa-dewa lainnya bisa menghentikan atau mempercepat para Ker.

Para dewa Olimpus sering berdiri di dekat pasukan yang mereka dukung untuk mencegah datangnya para Ker pada pasukan mereka. Para Ker juga menghantui daerah yang terkena wabah untuk mencari orang yang mati lalu mengambil jiwanya.

7. Moros


Moros adalah dewa ajal dan malapetaka dalam mitologi Yunani. Dia adalah dewa yang membawa manusia menuju ajalnya. Dia adalah putra dari Erebus dan Niks, dan saudara dari Moirai, para pelayannya.

Saudara kembar Moros, Thanatos dan Ker mewakili aspek fisik dari kematian. Ker adalah pembawakematian yang menyakitkan, sementara Thanatos mewakili kematian yang damai. 

Bookmark and Share