Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

KISAH NYATA MUSLIMAH CANTIK MENIKAH DENGAN JIN

2 comments

Ini kisah nyata dialami seorang manusia. Tentu penulis tidak akan menyebutkan namanya (rahasia perusahaan dong!). Sebutlah namanya Ahmad. Ia seorang yang istimewa. Mudah keluar air matanya bila mengingat Allah dan merasakan hal-hal yang menyentuh hatinya, sering basah matanya dalam shalatnya, sudah tidak mencintai dunia (uang, materi dan selera).

Bila pun punya uang, selalu bukan buat dirinya, tapi untuk orang lain yang lebih memerlukannnya. Hatinya bersih. Kuat tidak tidur dan tidak makan berhari-hari.

Tidak takut oleh manusia, siapapun, bila menyangkut kebenaran yang ia bela. Ia orang yang tauhidnya terjaga dan sangat dekat dengan Allah SWT melebihi kaum Muslimin umumnya. Ia seorang mukasyafah sehingga biasa berdialog dengan ruh mursyidnya yang sudah meninggal. Tentu, kemampuannya luar biasa. Ia orang yang sudah sangat spiritual. Dalam cerita ini, semua nama yang saya sebutkan, bukan nama aslinya.

Ahmad sahabat saya ini, sudah hampir setahun, sejak mengalami kasyaf (tersibaknya alam ruhani atau tabir spiritual) biasa berdialog dengan gurunya bernama Syekh Habib Syarwani, yang sudah wafat 10 tahun yang lalu. 

Syekh Habib semasa hidupnya adalah seorang ulama hikmah, dikenal sebagai guru spiritual, seorang mukasyafah, seorang penasehat agama dan kebenaran yang terpercaya. Syekh Habib dipercaya sebagai wali dengan kehebatan karomah-keromahnya. Ia tidak mau meramal-ramal seperti dukun atau ahli hikmah lainnya. Tauhidnya lurus kepada Allah SWT. Semua kalangan dari orang biasa hingga orang-orang pentingnya mengakuinya sebagai guru, penasehat yang tajam, lurus dan menyentuh. Syekh Habib memiliki ilmu hikmah yang luar biasa.

Sejak Ahmad menjadi kasyaf, ruh gurunya terus membimbing hidupnya secara ruhani. Menurut Ahmad, suatu malam, ruh gurunya didampingi beberapa muridnya di alam sana, menawarinya sesuatu: “Ahmad, ini ada Jin Muslim diantara kita, namanya Syekh Maulawi. Ia berumur 400 tahun. Ia mempunyai putri namanya Fatimah, umurnya 200 tahun. Fatimah masih gadis. Syekh Maulawi tertarik padamu, pada keshalehanmu dan kekuatanmu dalam memeluk agama. Kami semua disini menawarkan padamu untuk menikahi Fatimah binti Maulawi. Bagaimana pendapatmu? Silahkan fikirkan dan pertimbangkan.”

Tentu Ahmad kaget luar biasa. “Menikah dengan jin?” Tidak pernah terbayang sedikitpun sebagai murid Syekh Habib Syarwani kemudian akan dinikahkan dengan jin. Ini sangat mengagetkan dan sama sekali baru mengalami tawaran seperti ini. 

Mendengar pun, pernikahan antar manusia dan jin, belum pernah. Mau menolak, ia sangat takzim pada Syekh sebagai gurunya lahir batin sejak hidupnya. Menyatakan mau juga tidak terbayang bagaimana jadinya dan nantinya. Dalam kebingungannya, ia mendesah:
“Menurut Syekh bagaimana?”“Ini hanya tawaran. Bersedia syukur, tidak pun tidak apa-apa.”“Menurut Islam bagaimana? Saya kan manusia.” Tanya Ahmad lagi ingin tahu bagaimana dari sudut hukum agama.“Tidak ada larangan.” Jawab gurunya kalem.

Pikiran Ahmad masih terus diliputi kebingungan. Selama berbulan-bulan sejak ia bisa berdialog dengan gurunya tersebut secara ruhani, Ahmad sudah terbiasa melihat jin. Oleh jin-jin kafir yang buruk rupa, yang wajahnya semrawut, tidak beraturan, sering sekali menggoda perjalanannya agar niatnya menemui dan berguru kepada Syekh Syarwani mundur, batal dan tidak jadi. Ini adalah ujian beratnya. Ia harus mengalahkan godaan-godaan makhlus halus itu. Awalnya, kaget luar biasa dan sangat takut ketika ia mampu melihat sosok jin-jin itu. 

Ada yang menertawakan perjalannya sambil bergelantungan di sebuah pohon di tengah malam, ada yang menghalangi jalan kakinya, ada yang menumpangi motor yang dikendarainya di jok belakang, ada yang menebarkan bau busuk, ada yang menyerupai wanita cantik dan telanjang bulat mengajaknya bersetubuh, ada yang menirukan suara ibunya atau istrinya memanggil-manggilnya ketika sedang berjalan. Semua itu terjadi antara jam 11.30 malam hingga jam 04.00 subuh ketika ia sering berjalan kaki ke sebuah tempat pertemuan dengan gurunya.

Lama-kelamaan matanya jadi biasa dan tidak kaget melihat jin-jin penggoda itu. Mereka selalu muncul setiap malam di tengah perjalanan ketika Ahmad menemui gurunya di tempat tersebut. Mereka menggoda dan menakut-nakutinya. 

Oleh keyakinannya kepada Allah, Ahmad tidak takut bahkan semakin berani mengusirnya dan bahkan sering menantangnya untuk tarung karena kesal. Kebanyakan jin-jin penggoda itu kabur, mangpret, ngacir ketakutan setelah dibacakan ayat-ayat Qur’an seperti ayat kursi. Tetapi, bukan hanya jin kafir yang buruk-buruk rupa itu yang dia lihat. Sering juga jin-jin Muslim menyapanya. Mereka ini sosoknya lain. 

Tubuhnya ada yang wangi, bersih, tampan dan cantik, tapi ukurannya tinggi-tinggi dan besar-besar. Umurnya ratusan tahun. Ada yang sedang memegang tasbih berdzikir kepada Allah, ada yang sedang khusyu beribadah dan sebagainya. Melihat mereka, Ahmad sudah biasa. Tetapi, ditawari menikahi dengan jin yang berbeda jasad, beda dunia, beda alam, sama sekali tidak terbayangkan olehnya.

Akhirnya bakti dan hormat pada gurunya mengalahkan keraguan dirinya. Bagi Ahmad, Syekh Habib Syawani di alam ruh, atas izin Allah, masih mengajarkan ilmu dan telah membukakan kasyafnya, yang membuatnya bisa melihat dan berdialog langsung dengannya. Ahmad akhirnya menyatakan siap dengan hati bulat, ikhlas dan pasrah. Singkat cerita, proses pernikahan pun dilangsungkan. 

Disaksikan gurunya dan ruh-ruh yang hadir, dengan suasana sangat khidmat, Ahmad dinikahkan dengan Fatimah binti Maulawi, seorang gadis jin Muslimah, berumur 200 tahun. Mas kawinnya, cukup hanya membaca surat Al-Fatihah. Mertuanya bernama Syekh Maulawi adalah jin yang sangat dihormati di kalangan jin Muslim di alamnya. Resmilah mereka sebagai pasangan suami istri.

Bagaimana gambaran dan kesan Ahmad tentang Fatimah, istrinya di alam jin itu? Ia menceritakannya kepada saya. “Ia memakai kerudung dan masya Allah cantiknya luar biasa. Tubuhnya harum. Tingginya sekitar 4 meter. Setelah nikah, saya memangilnya ummi, dia memanggil abi. Sikapnya tawadhu luar biasa kepada suami, bahasanya santun, sifatnya halus dan kecantikannya belum pernah saya lihat pada manusia. Saya belum pernah melihat wajah secantik itu.”

Beberapa hari dari itu, Ahmad bercerita tentang bulan madunya. Walaupun tinggi Fatimah sekitar 4 meter, tapi ketika berfungsi sebagai istri dan menemui suaminya, ia merubah ukurannya menjadi ukuran manusia biasa, normal. Suatu saat, Ahmad memulai ceritanya, ia diajak Fatimah berjalan-jalan, berkeliling ke alamnya. Alam jin tidak jauh berbeda dengan alam manusia. Ada pengajian, ada sekolah, kampus, masjid dan bangunan-bangunan lain. Sama dengan manusia, mereka memiliki peradaban. Tapi, itu peradaban jin. Bedanya, bentuknya aneh-aneh, berbeda dengan di alam manusia. Ahmad sangat sadar alias bukan mimpi. Selama berkeliling, perasaannya dipenuhi aneh dan aneh, takjub dan takjub, heran dan heran atas apa yang dialaminya di alam yang berbeda. 

Akhirnya ia tiba di sebuah rumah, tentu rumahnya Fatimah. Tinggi, luas, bentuknya aneh, tidak seperti rumah yang ada di alam manusia. Kamar Fatimah harum dan bersih. “Barang-barang” tertata rapih. Di atas tempat tidur, mereka ngobrol dan bercumbu. Selain sangat cantik, tubuh Fatimah tercium harum dan bercahaya. Maklum ia jin yang taat ibadah. Singkatnya, aneh juga, Ahmad merasakan kepuasan persis seperti dengan manusia, bahkan lebih. Kata Ahmad, Fatimah tidak akan pernah hamil. Persenggamaan jin dan manusia tidak akan mengasilkan kehamilan, karena perbedaan zat makhluk. Manusia fisik, jin non fisik alias makhluk ghaib.

Sejak itu, kata Ahmad, Fatimah selalu datang dimana Ahmad memerlukannya. Ngobrol berdua dengan penuh santun dan etika sebagai istri yang shaleh, sun tangan, menunduk dan tidak pernah bersuara keras. Saling mengingatkan beribadah kepada Allah. Saling menasehati untuk sabar dalam menghadapi masalah masing-masing. Tidak ada suasana sedikit pun dari Fatimah mendominasi Ahmad dari istri aslinya yang manusia, yaitu istri pertamanya. 

Bahkan, dalam banyak kesempatan, Fatimah selalu mendorong Ahmad untuk harmonis dengan istrinya dan anak-anaknya, menyayangi dan memperhatikan keluarga. Kehadiran Fatimah, tidak sedikitpun menggangu keberadaan keluarga Ahmad karena tidak ada nafkah yang harus dikeluarkan, tidak ada waktu yang terambil. Nafkahnya paling do’a. Perhatiannya bukan bentuk fisik, tapi ruhani. Kemana Ahmad pergi, Fatimah bisa dipanggil dan datang, atau ia yang datang sendiri. Makanan Fatimah sebagai jin Muslim dan makhluk adalah saripati-saripati makanan. Pernikahan itu kini sudah berumur dua tahun lebih. 

Hingga sekarang tetap saja rukun dan damai. Ahmad merasa sangat bahagia, demikian juga Fatimah. Kepada istri pertamanya, Ahmad tidak pernah menceritakan peristiwa poligaminya ini karena tidak perlu dan tidak akan dimengertinya. Toh keluarga tidak terganggu sedikitpun. Ahmad dan Fatimah hingga saat ini, keduanya adalah murid Syekh Habib yang sampai sekarang sering hadir dalam pengajian yang berisi nasehat-nasehat gurunya tersebut, tentu pengajian secara ruhani, yang orang awam seperti kita tidak bisa melakukannya.

Penutup

Demikianlah, menikah dengan jin bisa terjadi, tapi bukan syari’at dan tidak dianjurkan oleh agama. Tidak perlu dicontoh, apalagi menikahnya dengan tujuan-tujuan sesat seperti dilakukan sebagian orang yang menginginkan kekayaan, kesaktian, kekebalan dll. Ahmad maupun Fatimah dalam peristiwa di atas, keduanya tidak menginginkan, merencanakan dan membayangkannya sama sekali. Ahmad bersedia karena ditawari gurunya, Fatimah karena tawaran Bapaknya, Syekh Habib Maulawi. Pernikahan mereka dilandasi agama dan tauhid kepada Allah SWT. Tidak ada kemusyrikan didalamnya, tidak atas dasar lain-lain. Itu takdir saja dari Allah SWT. Tanpa izin-Nya, segala sesuatu tidak akan terjadi.

Bookmark and Share

Falsafah Jawa, Kejawen dan Islam

2 comments

JAWA dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek Kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat), cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan,khususnya di Kerjaan Mataram (Yogya/Solo).

Dalam pertunjukan wayang kulit yang paling dikenal adalah cerita tentangSerat Kalimasada (lembaran yang berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat ini akan menjadi saktimandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini. Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan oleh dalang. Isi serat Kalimasadaberbunyi "Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat.

Dalam pertunjukan wayangpun sang wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton wayang untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudu yang disampaikan secara baik.

Dalam perkembangan selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansa simbolisasi yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu Ilir-Ilir. Memang tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran islam, mengingat diperlukannya suatu keindahan dalam mengarang suatu lagu. Sebagian arti yang kini banyak digali dari lagu ini di antaranya :

Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar : Ini adalah sebuah diskripsi mengenai para pemuda, yang dilanjutkan dengan, Cah angon,cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo seba mengko sore : Cah angon adalah simbolisasi dari manusia sebagai Khalifah Fil Ardh, atau pemelihara alam bumi ini (angon bhumi). Penekno blimbing kuwi ,mengibaratkan buah belimbing yang memiliki lima segi membentuk bintang. Kelima segi itu adalah pengerjaan rukun islam (yang lima) dan Salat lima waktu. Sedang lunyu-lunyu penekno , berarti, tidak mudah untuk dapat mengerjakan keduanya (Rukun islam dan salat lima waktu) ,dan memang jalan menuju ke surga tidak mudah dan mulus. Kanggo sebo mengko sore, untuk bekal di hari esok (kehidupan setelah mati).

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane : Selagi masih banyak waktu selagi muda, dan ketika tenaga masih kuat, maka lakukanlah (untuk beribadah).

Memang masih banyak translasi dari lagu ini, namun substansinya sama, yaitu membumikan agama,menyosialisasikan ibadah dengan tidak lupa tetap menyenangkan kepada pengikutnya yang baru.

Dalam lagu-lagu Jawa, ada gendhing bernama Mijil, Sinom, Maskumambang, kinanthi, asmaradhana,hingga megatruh dan pucung. Ternyata kesemuanya merupakan perjalanan hidup seorang manusia. Ambillah Mijil,yang berarti keluar, dapat diartikan sebagai lahirnya seorang jabang bayi dari rahim ibu.Sinom dapat di artikan sebagai seorang anak muda yang bersemangat untuk belajar. Maskumambang berarti seorang pria dewasa yang cukup umur untuk menikah, sedangkan untuk putrinya dengan gendhingKinanthi. Proses berikutnya adalah pernikahan atau katresnan antar keduanya disimbolkan dengan Asmaradhana. 

Hingga akhirnya Megatruh, atau dapat dipisah Megat-Ruh.Megat berarti bercerai atau terpisah sedangkan ruh adalah Roh atau jiwa seseorang. Ini proses sakaratul maut seorang manusia. Sebagai umat beragama islam tentu dalam prosesi penguburannya ,badan jenazah harus dikafani dengan kain putih, mungkin inilah yang disimbolkan dengan pucung (atau Pocong).

Kesemua jenis gendhing ditata apik dengan syai-syair yang beragam, sehingga mudah dan selalu pas untuk didendangkan pada masanya.

Ada banyaknya filsafat Jawa yang berusaha diterjemahkan oleh para wali, menunjukkan bahwa walisongo dalam mengajarkan agama selalu dilandasi oleh budaya yang kental. Hal ini sangat dimungkinkan, karena masyarakat Jawa yang menganut budaya tinggi, akan sukar untuk meninggalkan budaya lamanya ke ajaran baru walaupun ajaran tesebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih baik,seperti ajaran agama islam . Sistem politik Aja Nabrak Tembok (tidak menentang arus) diterapkan oleh para dunan.

Dalam budaya jawa sebenarnya sangat sarat dengan filsafat hidup (ular-ular). Ada yang disebut Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.

1. Surya (Matahari) memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.

2. Candra (Bulan) , yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.

3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan.

4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampungpendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya.

6. Samudra (Laut/air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.

8. Bhumi (bumi/tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai , agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.

Falsafah sebagai seorang anak buahpun juga ada dalam ajaran Jawa, ini terbentuk agar seorang bawahan dapat kooperatif dengan pimpinan dan tidak mengandalakan egoisme kepribadian, terlebih untuk mempermalukan atasan, seperti digambarkan dengan, Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni,kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan) , boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Intinya seorang anak buah jangan bertindak yang memalukan pimpinan, walau dia mungkin lebih mampu dari sang pimpinan. Sama sekali falsafah ini tidak untuk menghambat karir seseorang dalam bekerja, tapi, inilah kode etik atau norma yang harus di pahami oleh tiap anak buah atau seorang warga negara, demi menjaga citra pimpinan yang berarti citra perusahaan dan bangsa pada umumnya. Penyampaian pendapat tidak harus dengan memalukan,menggurui dan mendemonstrasi (ngrusuhi) pimpinan, namun pasti ada cara diluar itu yang lebih baik. Toh jika kita baik ,tanpa harus mendemonstrasikan secara vulgar kebaikan kita, orang pun akan menilai baik.

Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Di falsafah jawa istilah itu diucapakan dengan Ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana. Artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya). Sehingga tak heran jika seorang yang karena ucapan dan pandai menempatkan dirinya akan dihargai oleh orang lain.

Tidak mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya ini ,sebenarnya mengajarkan suatu sikap yang dinamakan profesionalisme, yang mungkin agak jarang dapat kita jumpai (lagi). Sebagai contoh tidak ada bedanya seorang mahasiswa yang pergi ke kampus dengan yang pergi ke mal , dan itu baru dilihat dari segi busana/bajunya , yang tentu saja baju akan sangat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi seseorang.

Masih banyak filsafat Jawa yang mungkin, tidak dapat diuraikan satu persatu, terlebih keinginan saya bukan untuk banyak membahas hal ini, mengingat ini bukan bidang saya, namun kami hanya ingin memberikan suatu wacana umum kepada pembaca, bahwa, banyak sekali ilmu yang dapat kita gali dari budaya (Jawa) kita saja, sebelum kita menggali budaya luar terlebih hanya meniru (budaya luar)-nya saja.

Bookmark and Share

Umur Umat Islam

0 comments

Menentukan umur umat Islam juga bukan dalam arti meramalkan kapan terjadinya kiamat karena sebenarnya hari kehancuran tersebut adalah rahasia Allah SWT, akan tetapi yang dimaksud adalah perkiraan-perkiraan global yang bersandarkan kepada keterangan Rasulullah dalam hadits-hadits yang shahih saja dan juga keterangan-keterangan ulama-ulama besar yang menerangkan hadits-hadits tersebut.

 Pendahuluan
Umur umat Islam adalah semenjak diutusnya Nabi Muhammad SAW sampai terjadinya hari kiamat. Atau tepatnya sampai datangnya angin lembut dari arah Yaman Selatan, hingga dicabutnya nyawa setiap orang mukmin, dan hal itu terjadi setelah meninggalnya Isa bin Maryam. Kemudian tidak tersisa lagi di bumi ini seorang mukmin satu pun, dan tinggallah makhluk-makhluk yang paling durhaka, ingkar, dan jahat, atas mereka terjadilah hari kiamat.

Sedangkan umur umat Yahudi adalah semenjak Allah mengutus Nabi Musa AS sampai diutus pula Nabi Isa AS. Ada pun umur umat Nasrani adalah semenjak diutusnya Nabi Isa sampai diutus Nabi Muhammad SAW.

Pembahasan umur umat Islam tidak bermaksud mempercepat roda vitalitas kehidupan dunia atau kehancuran alam. Rasulullah bersabda, “Jika kiamat telah mulai terjadi, sedang di tangan salah seorang kalian ada sebiji (bibit tanaman), maka jika ia sempat menanamnya menjelang kiamat itu, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Bukhary dan Ahmad). Sehingga pembahasan tentang umur umat Islam tidak berarti bahwa kita akan berlaku lemah dan meninggalkan kerja, meninggalkan menuntut ilmu atau dakwah. Akan tetapi sebaliknya kita harus bersiap-siap menghadapi huru-hara dan peperangan akhir zaman tersebut dengan iman, ilmu, amal, dan takwa.

Menentukan umur umat Islam juga bukan dalam arti meramalkan kapan terjadinya kiamat karena sebenarnya hari kehancuran tersebut adalah rahasia Allah SWT, akan tetapi yang dimaksud adalah perkiraan-perkiraan global yang bersandarkan kepada keterangan Rasulullah dalam hadits-hadits yang shahih saja dan juga keterangan-keterangan ulama-ulama besar yang menerangkan hadits-hadits tersebut.

Hadits-Hadits Rasulullah tentang Umur Suatu Umat

Diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abdullah bin Umar RA bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya masa menetapmu dibandingkan dengan umat-umat sebelum kamu adalah seperti waktu antara shalat Asar sampai terbenamnya matahari. Ahli Taurat (Yahudi) telah diberikan kepada mereka kitab Taurat, kemudian mereka mengamalkan kitab tersebut, sehingga apabila telah sampai waktu tengah hari, maka mereka pun lemah untuk mengamalkannya. Lalu mereka diberi pahala oleh Allah SWT masing-masing satu qirath. Kemudian diberikan pula kepada ahli Injil (Nasrani), lalu mereka mengamalkan kitab Injil sampai waktu shalat Asar. Dan setelah itu mereka lemah untuk mengamalkannya. Maka mereka pun diberi pahala oleh Allah SWT masing-masing satu qirath. Kemudian diberikan pula kepada kita kitab Al-Quran, dan kita mengamalkannya sampai matahari terbenam. Maka Allah SWT memberi ganjaran kepada kita masing-masing dua qirath. Berkatalah ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), ‘Wahai Rabb kami, mengapa engkau beri ganjaran kepada mereka (Muslim) dua qirath dan engkau memberi ganjaran kepada kami satu qirath, sedangkan amalan kami lebih banyak dari mereka’”. Berkata Rasulullah, “Allah SWT menjawab (sambil bertanya), ‘Apakah aku berlaku zalim dalam memberi ganjaran dari amal kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Allah SWT berkata, ‘Itu adala karunia yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki.’” (HR. Bukhary)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Musa RA, Rasulullah bersabda, “Pemisalan antara kaum Muslimin dan Kaum Yahudi serta kaum Nasrani adalah seperti laki-laki kaya yang mengupah suatu kaum untuk melakukan sebuah pekerjaan untuknya sampai malam. Akan tetapi kaum tersebut hanya bekerja sampai tengah hari. Dan mereka berkata kepada laki-laki tersebut, ‘Kami tidak memerlukan gaji yang kamu berikan.’ Kemudian laki-laki itu mengupah suatu kaum yang lain seraya berkata, ‘Sempurnakanlah pekerjaan ini sampai selesai hari ini juga, dan kamu akan mendapatkan gaji seperti yang aku syaratkan. Kemudian kaum tersebut hanya bekerja sampai waktu shalat Asar dan berkata, ‘Ambillah olehmu apa-apa yang kami kerjakan.’ Kemudian laki-laki tersebut mengupah suatu kaum yang lain,dan mereka pun bekerja sampai penuh hari tersebut, sehingga terbenam matahari. Dan mereka mendapatkan gaji atas dua kaum sebelum mereka.” (HR. Bukhary)

Dari kedua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu yang dimiliki oleh kaum Yahudi adalah sama dengan waktu yang dimiliki kaum Nasrani dan diteruskan (ditambah) waktu yang dimiliki oleh Muslim. Karena kaum Yahudi bekerja setengah hari sedangkan kaum Nasrani bersama kaum Muslimin bekerja setengah hari pula.
Ketika ahli kitab protes dengan mengatakan ini dan itu maka Allah menerangkan kepada mereka bahwa Dia tidaklah menzalimi mereka, karena ganjaran yang diberikan kepada mereka adalah banyak dan tidak dikurangi sedikit pun. Namun yang dipermasalahkan oleh mereka (ahli kitab) adalah karena Allah memberikan keutamaan dan karunia kepada umat Muhammad SAW dengan menambah pemberian.

Kemudian jika dibandingkan antara kedua ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan kaum Muslimin:

1. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan tentang binatang sapi, ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa,’ dengan orang-orang Muslim yang mengatakan ‘Tiada Ilah selain Allah?’ Tentu tidak sama!

2. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Uzair anak Allah’ dan orang-orang Nasrani yang mengatakan ‘Isa al-Masih anak Allah,’ dengan kaum Muslimin yang mengatakan ‘Katakanlah Allah itu Esa, Allah tempat seluruh makhluk bergantung, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada satu pun yang sebanding dengan Dia?’ Tentu tidak sama!

3. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Sesungguhnya Allah adalah miskin dan kami adalah orang-orang kaya,’ dengan orang-orang Nasrani yang mengatakan ‘Apakah Tuhanmu dapat menurunkan hidangan kepada kami dari langit,’ dengan orang-orang Muslim yang engatakan ‘Engkaulah yang kaya wahai Allah dan kamilah yang miskin serta perlu kepada-Mu?’ Tentu tidak sama!

4. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Kami dengar dan kami ingkari,’ dengan orang-orang Muslim yang mengatakan ‘Kami dengar dan kami taat?’ Tentu tidak sama!

5. Apakah sama antara orang-orang Yahudi yang mengatakan ‘Pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan duduk di sini saja,’ dengan orang-orang Muslim yang berkata ‘Pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan ikut berperang bersamamu?’ Tentu tidak sama!

Para sejarawan bersepakat bahwa masa kaum Yahudi dan kaum Nasrani adalah kira-kira 2000 tahun. Ada pun masa (umur) umat Nasrani adalah 600 tahun sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhary dari Salman al-Faritsi RA bahwa Rasulullah bersabda, “Masa antara Isa dan Muhammad adalah selama 600 tahun.” (HR. Bukhary)

Dengan demikian umur umat Yahudi adalah sekitar 1400 tahun lebih sedikit dimana ahli sejarah sepakat bahwa kelebihannya berkisar 100 tahun, sehingga tepatnya umur umat Yahudi adalah 1500 tahun. Dan bahwa umur umat Islam adalah sama dengan umur umat Yahudi dikurangi umur umat Nasrani, sehingga umur umat Islam adalah sekitar 900 tahun ditambah 500 tahun sama dengan 1400 tahun. Tambahan yang 500 ini didasarkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari Saad bin Abi Waqqash, dimana telah bersabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku berharap, bahwa umatku tidak akan lemah di hadapan Rabb mereka dengan mengundurkan umur mereka selama setengah hari.” Kemudian Saad ditanya, “Berapakah lamanya setengah hari itu?” Ia menjawab, “Lima ratus tahun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim)
Imam as-Sayuthi dalam kitab beliau yang berjudul al-Kasysyaf, ketika menerangkan tentang keluarnya Imam Mahdi, berkata, “Hadits-hadits hanya menunjukkan bahwa umur umat ini (Islam) lebih dari 1000 tahun dan tambahannya sama sekali tidak lebih dari 500 tahun.”

Sesuai dengan penghitungan-penghitungan yang ikut kepada keterangan ulama-ulama besar kita yang berdasarkan kepada Sunnah-sunnah yang shahih. Maka saat ini kita berada dan hidup pada periode terakhir sebelum masa penghabisan dan masa-masa persiapan untuk menghadapi huru-hara dan peperangan-peperangan besar, atau penghabisan yang mendahului munculnya tanda-tanda besar kiamat.

Pembahasan/penghitungan umur umat Islam yang telah dijelaskan di atas senada dan diperkuat oleh perkataan para ahli kitab, bahwa masa berakhirnya dunia sudah semakin dekat. Sehingga bagian keterangan para ahli kitab ini sengaja tidak diringkas oleh peringkas.

Bookmark and Share

Kesucian Yesus dan Peranannya

0 comments

KESUCIAN YESUS DAN PERANANNYA SEBAGAITELADAN KESALEHAN MUSLIM

Secara teologis, dengan memisahkan Yesus dari agama Kristen, Islam dapat mengembangkan pandangannya sendiri secara khas, khususnya secara etis dengan mengambil sosok ‘Isa sebagai salah satu teladan kesalehan Muslim. Lebih-lebih dari perspektif sufi, yang bersamaan dengan penegasan bahwa Muhammad adalah “puncak kenabian”, tanpa keberatan apapun ‘Isa digelari “puncak kesucian”. Dalam konteks inilah, kita membaca narasi-narasi mengenai ‘Isa dalam literatur pesantren, yang dalam beberapa hal juga menggemakan kembali kisah-kisah dalam Injil.Al-Maidah: Mukjizat al-Masih Menurunkan Hidangan dari Langit.

Salah satu contoh, sebuah kisah mengenai mu’jizat ‘Isa mendatangkan makanan dari sorga. Memang, dasar kisah ini juga dijumpai dalam al-Qur’an, bahkan surah kelima dinamakan dengan al-Maidah (Hidangan). Latar belakang injil dari kisah ini adalah Perjamuan Malam, yang juga menjadi sentralitas iman Kristen dan mendasari perayaan ekaristi (Matius 26:26-29; Markus 14:22-25; Lukas 22:15-20). Dalam Islam kisah ini diambil, tetapi makna sakramentalnya yang berpusat pada pengorbanan ‘Isa al-Masih, sudah barang tentu tidak turut diambil alih.

Dalam kitab Duratun Nashihin, karya ‘Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir, memuat pengembangan kisah yang dimuat dalam Q.s. al-Maidah/5:111-115. Dikisahkan bahwa memenuhi permintaan kaumnya, ‘Isa berdoa kepada Allah dan hidangan itu memang benar-benar turun dari langit. Lalu ‘Isa berdoa, sementara hidangan berwarna merah itu turun diantara awan-awan: Allahuma aj’alhun minasy syakirin. Allahuma aj’alha rahmatan lil ‘alamin, wa laa taj/alha matslatan wa ‘uqubatan. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang pandai bersyukur. Ya Allah, jadikanlah hidangan itu sebagai rahmat untuk semesta alam, dan jangan jadikan sebagai bencana dan siksaan”.25

Setelah mengambil air wudhu untuk sembahyang, sambil menangis Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Siapa diantara kamu yang baik amalnya, silahkan tegak membuka hidangan itu, dengan menyebut nama Allah dan memakannya”. Tetapi Simon (Syam’un), salah seorang tokoh dari kaum Hawariyin itu, mengatakan kepada Yesus: “Engkau yang utama membukanya”. Maka ‘Isa pun berdiri untuk sembahyang, ia menangis sambil membentangkan sapu tangan dan membaca kalimat: Bismillahi khair ar-raziqin (Dengan Nama Allah Pemberi rezeki yang paling baik).26 Kisah ini kemudian disambung dengan mu’zijat penggandaan makanan yang dinikmati oleh orang-orang miskin secara merata sampai 40 hari lamanya.

Membaca contoh kisah tersebut, kita diingatkan dengan beberapa penggalan kisah dalam Injil dan disatukan. Doa yang berlatarbelakang liturgi Seder Yahudi mengenai pembebasan dari Mesir, dan oleh Yesus dianggap telah digenapi dalam pengurbanan-Nya sendiri, di sini menjadi sekedar doa ucapan syukur kepada Allah sebagai sebaik-baik pemberi rezeki. Sedangkan pengakuan Petrus bahwa ‘Isa adalah al-Masih, Putra Allah yang hidup (Matius 16:16), yang dalam Injil terjadi dalam konteks lain dimasukkan dalam mukjizat al-Maidah tersebut. Dalam kasus ini, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Yesus ini, sekalipun menggemakan kisah-kisah dalam Injil, tetapi dengan melakukan reinterprestasi khas Islami pandangan teologis Kristen itu tidak membebani lagi untuk mengangkat sosok Yesus secara bebas dan kreatif dalam rangka kesalehan Muslim sendiri.

Sebagai catatan akhir, sang pengarang menutup kisah di atas dengan penekanan moralitas Islam yang berbunyi sebagai berikut:

Ya ayyuhal ikhwan (He para sedulur) sa’ala qauma ‘Isa min ‘Isa ‘alaihissalam thamaman (nyuwun sapa kaume Nabi ‘Isa saking Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ing panganan) faa sa’aluu ‘aqiiba shaumukun (mangka padha nyu-wuna sira kabeh ing dalam sakwuse pasanira kabeh) rahmatullah wa maghfiratuhu (ing rahmat Allah lan pangapurane Allah).27

Terjemahan:“Wahai saudara-saudara, kaum Nabi ‘Isa minta kepada Nabi ‘Isa alaihissalam sekedar makanan, tetapi mintalah kalian semua, yaitu pada penghujung puasa kalian semua rahmat Allah dan pengampunan dari Allah).

Sabda-sabda Yesus dalam Kitab Kuning

Sejumlah amsal yang dihubungkan dengan ‘Isa al-Masih juga bertebaran di sejumlah kitab kuning, yang sebagian menggemakan ayat-ayat Injil. Misalnya, dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali menulis bahwa Yesus melarang seorang meletakkan ilmu hikmat kepada yang bukan ahlinya. Sebaliknya, kita tidak boleh menghalangi seorang yang memang berkompeten untuk hal itu untuk mengajarkannya. Pada akhir sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip dengan Matius 9:12; Markus 15:38 dan Lukas 5:31. Sabda Yesus itu dalam kitab Ihya’ Ulumuddin berbunyi sebagai berikut:

Kalthabibi (kaya dokter) al-rrafiqi (kang tumindak alus) yadda’u al-ddawa’a (nyelehake sapa tabib ing tamba) fi mudhi’I al-dda’I (ing dalem panggonane penyakit)28

Terjemahan:Hendaklah kamu bertindak seperti seorang tabib yang penuh kehalusan (kasih sayang) meletakkan obat pada tempat yang sakit.

Demikian pula dalam kitab Bidayat al-Hidayah Imam al-Ghazali juga mencatat sabda Yesus yang sekilas membayangkan pergumulan-Nya saat kematian pada waktu mengadakan perjamuan malam dan di taman Getsemani:

Allahuma (Huwa Allah) la tusymitni aduwwi (ampun ngantos bungahaken Tuwan sebab kula ing musuh kula), wa la tasu’ni fi shadiqi (lan ampun nyusahken Tuwan sebab kula ing kanca kula) wa la taj’al musibati fi dini (lan ampun ndadosken Tuwan ing musibah kula ing dalem agama kula).29

Terjemahan:Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan musuhku bergembira melihat penderitaanku, dan jangan pula Engkau membiarkan temanku bersedih melihat penderitaanku. Janganlah Engkau menimpakan musibah kepada iman atau agamaku.

Ungkapan pertama kiranya khas seperti doa-doa dalam Mazmur (Mazmur 25:2-3;Lukas 23:33-42). Sedangkan doa berikutnya yang menyebut identitas agama, agaknya merupakan formulasi Islam atas doa Yesus yang mengutip Mazmur: Eloi, eloi lamma sabakhtani. Ya Ilahi, ya Ilahi, Mengapa Engkau meninggalkan aku (Mazmur 22:2;Markus 15:34). Tetapi kemiripan-kemiripan itu sama sekali tidak terlalu berarti secara teologis, karena pada dasarnya Islam menyangkal jalan salib Yesus. Karena itu, doa-doa semacam ini dipindahkan sebagai sebuah ungkapan pergumulan manusiawi secara umum, tidak harus merujuk kepada penyaliban.

Selanjutnya, dalam Ihya ‘Ulumuddin kita juga membaca ungkapan Yesus, yang sepintas membayangkan kisah simbolis Injil mengenai pohon ara yang tidak berbuah (Matius 21:18-22) sebagai berikut:

Qala ‘Isa ‘alaihi salam: Maa aktsaran al-syajara wa laisa kulluha bimutsrin, wa maa atsaran al-tsamara wa laisa kulluha bithaybin, wa maa atsaran al-muluma wa laisa kulluha nafi’.

Terjemahan:Sabda ‘Isa alaihissalam: “Alangkah banyaknya pohon dan tidak semua berbuah, alangkah banyaknya buah-buahan dan tidak semua boleh dimakan, dan alangkah banyaknya ilmu pengetahuan dan tidak semua berguna.30

Masih banyak kisah-kisah kesalehan Muslim dalam Ihya ‘Ulumuddin yang secara tidak langsung menggemakan kembali kisah-kisah Injil mengenai pelayanan Yesus. Misalnya, al-Ghazali mengisahkan mukjizat Yesus menyembuhkan penyakit kusta. Dikisahkan bahwa ‘Isa alaihissalam melihat seorang penderita kusta berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang telah menimpa orang lain”. “Engkau bebas dari kesengsaraan apa?”, tanya ‘Isa kepadanya. “Roh Allah”, jawab penderita kusta itu, “Saya lebih beruntung ketimbang mereka yang tidak mengenal Allah”. “Engkau berkata benar”, kata ‘Isa lagi, “ulurkanlah tanganmu”. Orang itu mengulurkan tangannya dan seketika sembuh atas rahmat Allah.31

Dalam rangka teladan kehidupan zuhud, khususnya di kalangan kaum sufi, sosok Yesus mengambil peranan cukup penting, ketimbang yang terbaca dalam tulisan polemik akhir-akhir ini, yang sering menutup-nutupi keagungan Yesus hanya karena khawatir akan dijadikan dalil untuk mendukung Kekristenan. Dalam al-Qur’an sendiri, ‘Isa dan ibunya Maryam memang terlindung dari jamahan setan (s.Ali Imran/3:36). Dalam penjelasannya atas ayat ini, Tafsir Jalalain mengutip Hadits Riwayat Syaukan: Ma min mauludi yuladu ila massahu asy-syaithan haina yuladu fayastahilla sharikhan ila maryam wa ibnaha. “Tidak ada seorang pun yang ketika lahirnya tidak disentuh oleh setan sehingga bayi itu menangis, kecuali Maryam dan anaknya”.32

Ide ini sebenarnya mengingatkan sifat imaculata (cf.Liturgi Kristen Arab: bi-ghayr al-fasad wulidtu Kalimat Allah,”ketidakbernodaan Maryam ketika melahirkan Firman Allah”),supaya Yesus yang secara fisik disebut “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42) benar-benar terjaga kesucian-Nya.

Bookmark and Share

Fakta tentang Natal yang Sedikit Diketahui Orang

0 comments

Kapan tepatnya Yesus Kristus lahir?
Berlawanan dengan kepercayaan populer, Alkitab tidak benar-benar menyebutkan tanggal tertentu untuk kelahiran Yesus. Berikut fakta tentang Hari Natal yang tak semua orang tahu, seperti dimuat di majalah Time versi online:

Lahir di Musim Semi
Pada kenyataannya, sebagian besar sejarawan percaya bahwa Yesus mungkin lahir pada musim semi, berdasar penjelasan Alkitab tentang gembala menggiring hewan ternak. Namun pada abad ke-4, ketika Gereja Katolik memutuskan untuk mengakui kelahiran Yesus sebagai hari libur resmi, Paus Julius I memilih 25 Desember untuk Pesta Kelahiran Yesus. Bahwa tanggal itu ditetapkan bertepatan dengan festival pagan yang dikenal sebagai Saturnalia murni kebetulan.

Lagu Natal Awali Gencatan Senjata
Lima bulan ke dalam Perang Dunia I, pasukan di garis depan beristirahat untuk merayakan Natal dan mulai menyanyikan lagu-lagu satu sama lain di medan perang. Keesokan harinya, tentara Jerman muncul dari parit dan mulai mendekati pasukan Sekutu sambil menyanyikan "Merry Christmas" dalam bahasa Inggris. Untungnya, itu bukan trik, puluhan pejuang Inggris keluar untuk menyambut mereka dan berjabat tangan, beberapa rokok bahkan dipertukarkan sebagai hadiah. Kejadian ini kemudian dijuluki sebagai Gencatan Senjata Natal tahun 1914.

Semula Dianggap Tak Penting di AS
Dari 1659-1681, menampilkan semangat Natal di Boston bisa didenda sebanyak lima shilling. Merayakan Natal dianggap ilegal. Natal begitu tidak penting di Amerika setelah Perang Revolusi. Kongres tidak perlu repot-repot mengambil hari libur untuk merayakan Natal, memutuskan sebaliknya untuk mengadakan sidang pertama pada Hari Natal, 1789. Butuh waktu hampir satu abad bagi Kongres untuk menyatakan Natal sebagai hari libur federal.

Sinterklas Baru Populer Tahun 1819
Penulis Horseman Headless, Washington Irving, lah yang menciptakan citra ikonik dari Santa terbang bersama kawanan rusa. Pada tahun 1819 seri cerita pendek The Sketch Book of Geoffrey Crayon menggambarkan sebuah mimpi di mana St Nicholas melambung di langit dalam gerobak ringan. Cerita-cerita itu menjadi begitu populer, menghasilkan kebangkitan Natal ala Amerika, dan bahkan Charles Dickens dikatakan terinspirasi karya Irving untuk melahirkan dongeng klasiknya, A Christmas Carol.

Natal di Angkasa
Pada tahun 1965 dua astronot dalam perjalanan mereka kembali ke orbit, mereka berada dalam satu spot di angkasa yang tidak bisa diidentifikasi. Kepanikan mereka disuarakan melalui radio Mission Control. Setelah beberapa menit keheningan yang tegang, insinyur di Cape Canaveral mulai mendengar suara samar lonceng giring diikuti dengan lagu "Jingle Bells" melalui harmonika, yang dimainkan oleh dua astronot yang panik. Misi berhasil dan selamat mendarat, mereka kemudian menyumbangkan harmonika dan lonceng ke National Museum of Space & Aeronautics di Washington, yang masih terpajang hingga kini.

Pohon Natal Pertama Populer di Jerman
Bahkan sebelum kedatangan agama Kristen, orang Jerman biasa menghiasi pohon cemara untuk mencerahkan hari-hari gelap yang suram selama musim dingin yang panjang. Di AS, pohon Natal pertama muncul di Strasbourg pada abad ke-17 dan menyebar ke Pennsylvania tahun 1820-an, berbarengan dengan kedatangan imigran Jerman. Ketika Ratu Victoria menikahi Pangeran Albert dari Jerman pada tahun 1840, ia membawa tradisi itu ke Inggris. Delapan tahun kemudian, surat kabar Amerika pertama memuat gambar pohon Natal kerajaan, dan Amerika di luar Pennsylvania dengan cepat mengikutinya.

Tradisi Natal Berbeda di Tiap Negara
Tradisi Natal bervariasi dari budaya ke budaya. Warga Finlandia biasanya mengunjungi sauna pada malam Natal, sementara warga Portugis mengadakan pesta pada hari Natal untuk mereka yang hidup dan yang mati. Di Yunani, tradisi bertukar hadiah berlangsung sampai 1 Januari, Hari St Basil. Sebagian besar warga Australia dan Selandia Baru menikmati Natal di pantai atau sambil menggelar pesta barbekyu. Di Spanyol, Natal juga menandai dibukanya undian lotere terbesar di dunia. Sumber.


Bookmark and Share

Kisah Siti Asiah Istri Fir'aun Yang Shalehah dan Masyitoh

0 comments

Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam "Tauhid." "

Alkisah di negeri Mesir, Fir'aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir'aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya.

Fir'aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah. Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah :"Sudikah ananda menikahi Fir'aun ?""Bagaimana saya sudi menikahi Fir'aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?"Haman kembali pada Fir'aun. Alangkah marahnya Fir'aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah."Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biaraku sendiri yang menghukumnya !"

Fir'aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir'aun kemudian membawa Siti Asiah kepenjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir'aun berkata:"He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu."

Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir'aun. Dengan mengajukan beberapa syarat :Fir'aun harus membebaskan orangtuanya. Fir'aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya. Fir'aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya. Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir'aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir'aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Fir'aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir'aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir'aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir'aun. Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir'aun.

Fir'aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada AllahSWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir'aun yang kafir. Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir'aun dengan Hazaqil, disaat Fir'aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir'aun menjadi marah. Fir'aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir'aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa ia pun menyembunyikan ketaatannya dari Fir'aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir'aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata : "Dengan nama Allah binasalah Fir'aun."

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir'aun merasa tersinggung lalu mengancamakan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir'aun. Saat Masyitoh menghadap Fir'aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : "Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?"

"Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya. "jawab Masyitoh dengan berani. Mendengar jawaban Masyitoh, Fir'aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir'aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir'aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, "Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita."

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidihitu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.

Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir'aun dengan kata-katayang pedas. Ia pun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir'aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Fir'aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir'aun kemudian telah menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam"Tauhid." Jalan Setapak Menuju Pulang.

Bookmark and Share