Kesucian Yesus dan Peranannya


KESUCIAN YESUS DAN PERANANNYA SEBAGAITELADAN KESALEHAN MUSLIM

Secara teologis, dengan memisahkan Yesus dari agama Kristen, Islam dapat mengembangkan pandangannya sendiri secara khas, khususnya secara etis dengan mengambil sosok ‘Isa sebagai salah satu teladan kesalehan Muslim. Lebih-lebih dari perspektif sufi, yang bersamaan dengan penegasan bahwa Muhammad adalah “puncak kenabian”, tanpa keberatan apapun ‘Isa digelari “puncak kesucian”. Dalam konteks inilah, kita membaca narasi-narasi mengenai ‘Isa dalam literatur pesantren, yang dalam beberapa hal juga menggemakan kembali kisah-kisah dalam Injil.Al-Maidah: Mukjizat al-Masih Menurunkan Hidangan dari Langit.

Salah satu contoh, sebuah kisah mengenai mu’jizat ‘Isa mendatangkan makanan dari sorga. Memang, dasar kisah ini juga dijumpai dalam al-Qur’an, bahkan surah kelima dinamakan dengan al-Maidah (Hidangan). Latar belakang injil dari kisah ini adalah Perjamuan Malam, yang juga menjadi sentralitas iman Kristen dan mendasari perayaan ekaristi (Matius 26:26-29; Markus 14:22-25; Lukas 22:15-20). Dalam Islam kisah ini diambil, tetapi makna sakramentalnya yang berpusat pada pengorbanan ‘Isa al-Masih, sudah barang tentu tidak turut diambil alih.

Dalam kitab Duratun Nashihin, karya ‘Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir, memuat pengembangan kisah yang dimuat dalam Q.s. al-Maidah/5:111-115. Dikisahkan bahwa memenuhi permintaan kaumnya, ‘Isa berdoa kepada Allah dan hidangan itu memang benar-benar turun dari langit. Lalu ‘Isa berdoa, sementara hidangan berwarna merah itu turun diantara awan-awan: Allahuma aj’alhun minasy syakirin. Allahuma aj’alha rahmatan lil ‘alamin, wa laa taj/alha matslatan wa ‘uqubatan. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang pandai bersyukur. Ya Allah, jadikanlah hidangan itu sebagai rahmat untuk semesta alam, dan jangan jadikan sebagai bencana dan siksaan”.25

Setelah mengambil air wudhu untuk sembahyang, sambil menangis Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Siapa diantara kamu yang baik amalnya, silahkan tegak membuka hidangan itu, dengan menyebut nama Allah dan memakannya”. Tetapi Simon (Syam’un), salah seorang tokoh dari kaum Hawariyin itu, mengatakan kepada Yesus: “Engkau yang utama membukanya”. Maka ‘Isa pun berdiri untuk sembahyang, ia menangis sambil membentangkan sapu tangan dan membaca kalimat: Bismillahi khair ar-raziqin (Dengan Nama Allah Pemberi rezeki yang paling baik).26 Kisah ini kemudian disambung dengan mu’zijat penggandaan makanan yang dinikmati oleh orang-orang miskin secara merata sampai 40 hari lamanya.

Membaca contoh kisah tersebut, kita diingatkan dengan beberapa penggalan kisah dalam Injil dan disatukan. Doa yang berlatarbelakang liturgi Seder Yahudi mengenai pembebasan dari Mesir, dan oleh Yesus dianggap telah digenapi dalam pengurbanan-Nya sendiri, di sini menjadi sekedar doa ucapan syukur kepada Allah sebagai sebaik-baik pemberi rezeki. Sedangkan pengakuan Petrus bahwa ‘Isa adalah al-Masih, Putra Allah yang hidup (Matius 16:16), yang dalam Injil terjadi dalam konteks lain dimasukkan dalam mukjizat al-Maidah tersebut. Dalam kasus ini, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Yesus ini, sekalipun menggemakan kisah-kisah dalam Injil, tetapi dengan melakukan reinterprestasi khas Islami pandangan teologis Kristen itu tidak membebani lagi untuk mengangkat sosok Yesus secara bebas dan kreatif dalam rangka kesalehan Muslim sendiri.

Sebagai catatan akhir, sang pengarang menutup kisah di atas dengan penekanan moralitas Islam yang berbunyi sebagai berikut:

Ya ayyuhal ikhwan (He para sedulur) sa’ala qauma ‘Isa min ‘Isa ‘alaihissalam thamaman (nyuwun sapa kaume Nabi ‘Isa saking Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ing panganan) faa sa’aluu ‘aqiiba shaumukun (mangka padha nyu-wuna sira kabeh ing dalam sakwuse pasanira kabeh) rahmatullah wa maghfiratuhu (ing rahmat Allah lan pangapurane Allah).27

Terjemahan:“Wahai saudara-saudara, kaum Nabi ‘Isa minta kepada Nabi ‘Isa alaihissalam sekedar makanan, tetapi mintalah kalian semua, yaitu pada penghujung puasa kalian semua rahmat Allah dan pengampunan dari Allah).

Sabda-sabda Yesus dalam Kitab Kuning

Sejumlah amsal yang dihubungkan dengan ‘Isa al-Masih juga bertebaran di sejumlah kitab kuning, yang sebagian menggemakan ayat-ayat Injil. Misalnya, dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali menulis bahwa Yesus melarang seorang meletakkan ilmu hikmat kepada yang bukan ahlinya. Sebaliknya, kita tidak boleh menghalangi seorang yang memang berkompeten untuk hal itu untuk mengajarkannya. Pada akhir sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip dengan Matius 9:12; Markus 15:38 dan Lukas 5:31. Sabda Yesus itu dalam kitab Ihya’ Ulumuddin berbunyi sebagai berikut:

Kalthabibi (kaya dokter) al-rrafiqi (kang tumindak alus) yadda’u al-ddawa’a (nyelehake sapa tabib ing tamba) fi mudhi’I al-dda’I (ing dalem panggonane penyakit)28

Terjemahan:Hendaklah kamu bertindak seperti seorang tabib yang penuh kehalusan (kasih sayang) meletakkan obat pada tempat yang sakit.

Demikian pula dalam kitab Bidayat al-Hidayah Imam al-Ghazali juga mencatat sabda Yesus yang sekilas membayangkan pergumulan-Nya saat kematian pada waktu mengadakan perjamuan malam dan di taman Getsemani:

Allahuma (Huwa Allah) la tusymitni aduwwi (ampun ngantos bungahaken Tuwan sebab kula ing musuh kula), wa la tasu’ni fi shadiqi (lan ampun nyusahken Tuwan sebab kula ing kanca kula) wa la taj’al musibati fi dini (lan ampun ndadosken Tuwan ing musibah kula ing dalem agama kula).29

Terjemahan:Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan musuhku bergembira melihat penderitaanku, dan jangan pula Engkau membiarkan temanku bersedih melihat penderitaanku. Janganlah Engkau menimpakan musibah kepada iman atau agamaku.

Ungkapan pertama kiranya khas seperti doa-doa dalam Mazmur (Mazmur 25:2-3;Lukas 23:33-42). Sedangkan doa berikutnya yang menyebut identitas agama, agaknya merupakan formulasi Islam atas doa Yesus yang mengutip Mazmur: Eloi, eloi lamma sabakhtani. Ya Ilahi, ya Ilahi, Mengapa Engkau meninggalkan aku (Mazmur 22:2;Markus 15:34). Tetapi kemiripan-kemiripan itu sama sekali tidak terlalu berarti secara teologis, karena pada dasarnya Islam menyangkal jalan salib Yesus. Karena itu, doa-doa semacam ini dipindahkan sebagai sebuah ungkapan pergumulan manusiawi secara umum, tidak harus merujuk kepada penyaliban.

Selanjutnya, dalam Ihya ‘Ulumuddin kita juga membaca ungkapan Yesus, yang sepintas membayangkan kisah simbolis Injil mengenai pohon ara yang tidak berbuah (Matius 21:18-22) sebagai berikut:

Qala ‘Isa ‘alaihi salam: Maa aktsaran al-syajara wa laisa kulluha bimutsrin, wa maa atsaran al-tsamara wa laisa kulluha bithaybin, wa maa atsaran al-muluma wa laisa kulluha nafi’.

Terjemahan:Sabda ‘Isa alaihissalam: “Alangkah banyaknya pohon dan tidak semua berbuah, alangkah banyaknya buah-buahan dan tidak semua boleh dimakan, dan alangkah banyaknya ilmu pengetahuan dan tidak semua berguna.30

Masih banyak kisah-kisah kesalehan Muslim dalam Ihya ‘Ulumuddin yang secara tidak langsung menggemakan kembali kisah-kisah Injil mengenai pelayanan Yesus. Misalnya, al-Ghazali mengisahkan mukjizat Yesus menyembuhkan penyakit kusta. Dikisahkan bahwa ‘Isa alaihissalam melihat seorang penderita kusta berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang telah menimpa orang lain”. “Engkau bebas dari kesengsaraan apa?”, tanya ‘Isa kepadanya. “Roh Allah”, jawab penderita kusta itu, “Saya lebih beruntung ketimbang mereka yang tidak mengenal Allah”. “Engkau berkata benar”, kata ‘Isa lagi, “ulurkanlah tanganmu”. Orang itu mengulurkan tangannya dan seketika sembuh atas rahmat Allah.31

Dalam rangka teladan kehidupan zuhud, khususnya di kalangan kaum sufi, sosok Yesus mengambil peranan cukup penting, ketimbang yang terbaca dalam tulisan polemik akhir-akhir ini, yang sering menutup-nutupi keagungan Yesus hanya karena khawatir akan dijadikan dalil untuk mendukung Kekristenan. Dalam al-Qur’an sendiri, ‘Isa dan ibunya Maryam memang terlindung dari jamahan setan (s.Ali Imran/3:36). Dalam penjelasannya atas ayat ini, Tafsir Jalalain mengutip Hadits Riwayat Syaukan: Ma min mauludi yuladu ila massahu asy-syaithan haina yuladu fayastahilla sharikhan ila maryam wa ibnaha. “Tidak ada seorang pun yang ketika lahirnya tidak disentuh oleh setan sehingga bayi itu menangis, kecuali Maryam dan anaknya”.32

Ide ini sebenarnya mengingatkan sifat imaculata (cf.Liturgi Kristen Arab: bi-ghayr al-fasad wulidtu Kalimat Allah,”ketidakbernodaan Maryam ketika melahirkan Firman Allah”),supaya Yesus yang secara fisik disebut “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42) benar-benar terjaga kesucian-Nya.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar