Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kisah Prabu Kian Santang Dan Syaidina Ali R.a

0 comments

GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan maulud.

Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi (Nyi Subang Larang). Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.

Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.

Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.

Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama,harus mujasmedidulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang – Berani, Setra – Bersih/ Suci).

setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.

“Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki- laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”

Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.

Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat.Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.

Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.

Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.

Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.

Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.

Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.

Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.

Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.

Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.

Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.

Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.

Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.

Bookmark and Share

Robot Berawal Karena Ilmuwan Muslim Ini

0 comments

Bicara soal robot, tak ayal kita juga akan mengingat Negara Jepang sebagai pelopor industri robot-robot cerdas dewasa ini. Tetapi siapa orang yang pertama kali menemukan sistem robotika modern?

Ibnu Ismail Al Jazari, lahir di Al Jazira, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat. Nama lengkapnya Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas.

Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik. Di masanya, Al Jazari yang telah mampu menciptakan robot manusia (humanoid) yang bisa diprogram. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Ada pun mesin robot yang diciptakan Al Jazari kala itu berbentuk sebuah perahu terapung di sebuah danau yang ditumpangi empat robot pemain musik; dua penabuh drum, satu pemetik harpa, dan peniup seruling. Robot ini diciptakan untuk menghibur para tamu kerajaan dalam suatu acara jamuan minum.

Sebagai robot pemain musik, tentu saja mereka pun ahli menghasilkan suara musik yang indah. Misalnya saja, robot penabuh drum dapat memainkan beragam irama yang berbeda-beda. Jadi, robot itu pun bermain musik seperti manusia sungguhan!

Penemuan penting lainnya dari Al Jazari adalah pencuci tangan otomatis. Keran tersebut bekerja otomatis bisa mengeluarkan air tanpa harus diputar. Sistem pencuci tangan yang dikembangkan Al Jazari itu juga digunakan saat ini dalam sistem kerja toilet moderen.

Teknologi yang dikembangkan Al Jazari mencapai 50 jenis dan semua ditulis dalam kitab yang berjudul "The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices"

Seorang ahli teknik Inggris, Donal Hill begitu kagum dengan pencapaian Al Jazari. Ia berpendapat, Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin."

Salah satu karya Al Jazari yang membuat Donald Hill kagum adalah jam gajah - diciptakan sekitar tahun 1206. Cara kerjanya dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Replika jam gajah dapat dilihat saat ini di London Science Museum.

Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.

Tahukah kamu bahwa menurut Encylopedia of Britanica, Leonardo Da Vinci mendapat banyak pengaruh ilmu dari Al Jazari.

Bookmark and Share

Kisah Siti Asiah Istri Fir'aun Yang Shalehah dan Masyitoh

0 comments

Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam "Tauhid." "

Alkisah di negeri Mesir, Fir'aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir'aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya.

Fir'aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah. Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah :"Sudikah ananda menikahi Fir'aun ?""Bagaimana saya sudi menikahi Fir'aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?"Haman kembali pada Fir'aun. Alangkah marahnya Fir'aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah."Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biaraku sendiri yang menghukumnya !"

Fir'aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir'aun kemudian membawa Siti Asiah kepenjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir'aun berkata:"He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu."

Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir'aun. Dengan mengajukan beberapa syarat :Fir'aun harus membebaskan orangtuanya. Fir'aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya. Fir'aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya. Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir'aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir'aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Fir'aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir'aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir'aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir'aun. Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir'aun.

Fir'aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada AllahSWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir'aun yang kafir. Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir'aun dengan Hazaqil, disaat Fir'aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir'aun menjadi marah. Fir'aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir'aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa ia pun menyembunyikan ketaatannya dari Fir'aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir'aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata : "Dengan nama Allah binasalah Fir'aun."

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir'aun merasa tersinggung lalu mengancamakan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir'aun. Saat Masyitoh menghadap Fir'aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : "Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?"

"Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya. "jawab Masyitoh dengan berani. Mendengar jawaban Masyitoh, Fir'aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir'aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir'aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, "Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita."

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidihitu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.

Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir'aun dengan kata-katayang pedas. Ia pun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir'aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Fir'aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir'aun kemudian telah menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam"Tauhid." Jalan Setapak Menuju Pulang.

Bookmark and Share

Kronologi Masuknya Jepang ke Indonesia

0 comments

Tanggal 8 Desember 1941 : secara tiba-tiba Jepang menyerbu ke Asia Tenggara dan membom Pearl Harbor, yaitu pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika di Pasifik. Lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbor itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachhouwer menyatakan perang terhadap Jepang.

Pearl Harbour (Pasifik)
Pearl Harbour (Pasifik)
Tanggal 11 Januari 1942 : tentara Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur, dan esok harinya (12 Januari 1942) Komandan Belanda di pulau itu menyerah.

Tanggal 24 Januari 1942 : Balikpapan yang merupakan sumber minyak ke-2 jatuh ke tangan tentara Jepang

Tanggal 29 Januari 1942 : Pontianak berhasil diduduki oleh Jepang

Tanggal 3 Februari 1942 : Samarinda diduduki Jepang

Tanggal 5 Februari 1942 : sesampainya di Kotabangun, tentara Jepang melanjutkan penyerbuannya ke lapangan terbang Samarinda II yang waktu itu masih dikuasai oleh tentara Hindia Belanda (KNIL).

Tanggal 10 Februari 1942 : dengan berhasil direbutnya lapangan terbang itu, maka dengan mudah pula Banjarmasin diduduki oleh tentara Jepang

Tanggal 14 Februari 1942 : diturunkan pasukan paying di Palembang. Dua hari kemudian (16 Februari 1942) Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki.

Dengan jatuhnya Palembang itu sebagai sumber minyak, maka terbukalah Pulau Jawa bagi tentara Jepang. Di dalam menghadapi ofensif Jepang, pernah dibentuk suatu komando gabungan oleh pihak Serikat, yakni yang disebut ABDACOM (American British Dutch Australian Command) yang markas besarnya ada di Lembang, dekat Bandung dengan panglimanya Jenderal H. Ter Poorten diangkat sebagai panglima tentara Hindia Belanda (KNIL). Pada akhir Februari 1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh telah mengungsi ke Bandung disertai oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Pada masa itu Hotel Homman dan Preanger penuh dengan pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda.

Tanggal 1 Maret 1942 : tentara ke-16 Jepang berhasil mendarat di 3 tempat sekaligus yaitu di Teluk Banten, di Eretan Wetan (Jawa Barat), dan di Kragan (Jawa Tengah).

Tanggal 1 Maret 1942 : Jepang telah mendaratkan satu detasemen yang dipimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5000 orang di Eretan, sebelah Barat Cirebon. Pada hari yang sama, Kolonel Shoji telah berhasil menduduki Subang. Momentum itu mereka manfaatkan dengan terus menerobos ke lapangan terbang Kalijati, 40 Km dari Bandung. Setelah pertempuran singkat, pasukan-pasukan Jepang merebut lapangan terbang tersebut.

Tanggal 2 Maret 1942 : tentara Hindia Belanda berusaha merebut Subang kembali, tetapi ternyata mereka tidak berhasil. Serangan balasan kedua atas Subang dicoba pada tanggal 3 Maret 1942 dan sekali lagi, tentara Hindia Belanda berhasil dipukul mundur.

Tanggal 4 Maret 1942 : untuk terakhir kalinya tentara Hindia Belanda mengadakan serangan dalam usaha merebut Kalijati dan mengalami kegagalan.

Tanggal 5 Maret 1942 : ibu kota Batavia (Jakarta) diumumkan sebagai ‘Kota Terbuka’ yang berarti bahwa kota itu tidak akan dipertahankan oleh pihak Belanda.

Segera setelah jatuhnya kota Batavia ke tangan mereka, tentara ekspedisi Jepang langsung bergerak ke selatan dan berhasil menduduki Buitenzorg (Bogor). Pada tanggal yang sama, tentara Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung dari arah utara. Mula-mula digempurnya pertahanan di Ciater, sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikan kota tersebut sebagai pertahanan terakhir. Tetapi tempat ini pun tidak berhasil dipertahankan sehingga pada tanggal 7 Maret 1942 dikuasai oleh tentara Jepang.

ROMUSA
Masa sulit pada zaman Jepang di Indonesia - Romusa
Tak lama sesudah berhasil didudukinya posisi tentara KNIL di Lembang, maka pada tanggal 7 Maret 1942, psukan-pasukan Belanda di sekitar Bandung meminta penyerahan lokal dari pihak Belanda ini kepada Jenderal Imamura tetapi tuntutannya adalah penyerahan total daripada semua pasukan Serikat di Jawa (dan bagian Indonesia lainnya). Jika pihak Belanda tidak mengindahkan ultimatum Jepang, maka Kota Bandung akan di bom dari udara Jenderal Imamura pun mengajukan tuntutan lainnya agar Gubernur Jenderal Belanda turut dalam perundingan di Kalijati yang diadakan selambat-lambatnya pada hari berikutnya. 

Jika tuntutan ini dilanggar, pemboman atas Kota Bandung dari udara akan segera dilaksanakan. Akhirnya pihak Belanda memenuhi tuntutan Jepang dan keesokan harinya, baik Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer maupun Panglima Tentara Hindia Belanda serta beebrapa pejabat tinggi militer dan seorang penerjemah pergi ke Kalijati. Di sana mereka kemudian berhadapan dengan Letnan Jenderal Imamura yang dating dari Batavia (Jakarta). Hasil pertemuan antara kedua belah pihak adalah kapitulasi tanpa syarat Angkatan Perang Hindia Belanda kepada Jepang.

Dengan penyerahan tanpa syarat oleh Letnan Jenderal H. Terpoorten, Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda atas nama Angkutan Perang Serikat di Indonesia kepada tentara ekspedisi Jepang di bawah Pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura pada tanggal 8 Maret 1942, berakhirlah peemrintahan Hindia Belanda di Indonesia dan dengan resmi mulailah kekuatan pendudukan Jepang di Indonesia.

Sumber:Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka. Ayu Septiani.

Bookmark and Share

Di Olympus - Bahtera Nuh Berlabuh

1 comments
Ancient Olympus Map
Hingga kini, pencarian sisa-sisa bahtera Nuh msh terus dilakukan. Upaya terakhir yang menggemparkan adalah klaim penemuan bahtera Nuh di pegunungan Ararat oleh team gabungan arkeolog Cina dan Turki April 2010 lalu. Penemu yang dipimpin oleh kelompok evangelis, mengatakan yakin 99% struktur kayu yang ditemukan di sisi gunung itu merupakan bagian dari kapal yang disebutkan dalam kitab suci.

Ramai website membicarakan klaim penemuan ini, namun tak urung banyak peneliti lainnya yang telah menghabiskan beberapa dekade untuk mempelajari daerah tersebut, membantah kebenaran penemuan tersebut. Peter Ian Kuniholm yang fokus dengan Turki selama beberapa dekade bahkan mengatakannya secara lebih langsung laporan penemuan ini adalah tipuan. Zimansky menekankan berdasarkan Kitab Suci, Gunung Urartu (atau Ararat) sebagai tempat mendarat dari kapal tersebut, namun tidak disebutkan secara spesifik. Selama beberapa tahun, Gunung Ararat dengan tinggi 16.946 kaki serta memiliki formasi bebatuan Durupinar yang berbentuk mirip kapal telah menjadi tempat favorit bagi para pencari kapal Nuh ini. Bahkan, laporan penemuan bahtera Nuh ini setidaknya hadir setiap kurun waktu 2 tahun, dan tak pernah berada di lokasi yang sama. Pihak lain mencari bukti kapal itu di wilayah kejadian banjir yaitu Laut Hitam, Turki, atau Iran.

Berbicara mengenai berbagai klaim penemuan bahtera Nuh, sebagian besar lokasinya berkisar di pegunungan Ararat Namun sebagai lokasi favorit penelitian, terdapat beberapa syarat yang nampaknya tidak terpenuhi oleh Ararat ini. Bukan berarti keterangan bible keliru, namun penamaan-penamaan lokasi di kitab suci itu bersifat statis, sehingga apa yang disebut sebagai ararat di bible, bisa jadi bukanlah Ararat yg kita kenal sekarang berada di Turki. Nama Ararat sendiri berasal dari Urartu ( rär`t ), nama sebuah kerajaan Armenia kuno. Demikian pula keterangan quran tentang Gunung Judi, hingga kini masih menjadi pertanyaan, karena Al-Judi bukanlah bahasa arab asli, melainkan bahasa serapan.

Untuk me-reset kembali pemikiran kita tentang permasalahan tersebut, mari kita tengok kembali beberapa petunjuk atau tanda-tanda dari ragam sumber termasuk Bible dan Quran.

Petunjuk 1 : Zaitun

Menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi” (Kitab Kejadian 8:11).

Petunjuknya jelas : negeri yang ditumbuhi pohon zaitun. Dari antara kawasan mediterania tempat tumbuhnya zaitun, tak bisa dipungkiri Yunani mempunyai tradisi budaya paling kental dan paling kuno tentang zaitun. 

Mitologi Yunani sejak ribuan tahun lalu menggambarkan Dewi Athena menumbuhkan pohon zaitun yang kaya manfaat. (sumber :http://www.texasoliveoil.com/history.htm). 

Fakta ini diperkuat dengan tumbuhnya pohon zaitun tertua di dunia di desa Ano Vouves, Yunani, yang berdasarkan penelitian disebut berusia lebih dari 4000 tahun dan sampai kini masih produktif. Ini adalah sebagai sebuah tanda yang dipelihara Tuhan. (sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Olive_tree_of_Vouves).

Jadi, menurut petunjuk Bible, Yunani-lah negeri tempat bahtera Nuh berlabuh.

Olive tree of Vouves (4,000 years old)
Petunjuk 2 : Yunani adalah Pusat Peradaban Eropa Kuno dan Modern

Mengapa hal ini penting sebagai petunjuk? Saat terjadi banjir besar, maka kelompok manusia yang berhasil selamat-lah yang akan mengembangkan kebudayaan di tempat baru, yang akan dikenal sebagai pusat peradaban. Turki tak pernah dikenal sebagai pusat peradaban eropa atau dunia. Telah diakui bahwa peradaban Eropa bersumber pada peradaban Yunani sekaligus menjadi tiang utama perkembangan peradaban Eropa modern.


Petunjuk 3 : Yunani Melahirkan Banyak Filsuf

Pemahaman filsafat dan spiritual 80 orang beriman umat Nuh, akan diwariskan pada keturunannya, demikian ilmu dan kebijaksanaan warisan ini berlangsung turun-temurun ribuan tahun. Oleh karena itu, banyaknya filsuf-filsuf besar yang lahir di Yunani menjadi salah satu tanda yang sangat jelas. Lalu di gunung manakah tempat bahtera Nuh berlabuh?

Petunjuk 4 : Syair Epos Homerus - Odyssey Book VI

Untuk mengetahui dimanakah lokasi berlabuh bahtera Nuh, ada satu hal menarik dan bisa menjadi petunjuk, yaitu apa yang dilukiskan oleh Homerus (http://en.wikipedia.org/wiki/Homer), seorang penulis syair epos terbesar yang dimiliki Yunani, tentang gunung Olympus, dalam bukunya Odyssey Book VI :

Then to the palaces of heaven she sails
(Lalu menuju istana surga dia berlayar)
Incumbent on the wings of wafting gales
(pemilik layar penepis badai)
The seat of gods; the regions mild of peace
(tempat kedudukan dewa-dewa, kawasan lembut kedamaian)
Full of joy, and calm eternity of ease
(penuh keceriaan, dan keabadian tenang atas kemudahan)
There no rude winds presume to shake the skies
(tak ada angin rebut mengguncang langit)
No rains descend, nor did snow fall upon it
(tak ada hujan membasahi, tak ada salju turun di atasnya)
But on immortal thrones the blest repose
(melainkan di atas singgasana abadi yang diberkahi, berlabuh).


Homerus - Writer of Odyssey Book VI
Petunjuk 5 : Epic of Gilgamesh

Salah sebuah cerita yang termasuk dalam epos ini berkaitan dengan air bah. Beberapa aspek dari mitos air bah Gilgamesh ini tampaknya berkaitan dengan cerita bahtera Nuh di dalamAlkitab. Kisah Air Bah yang dikirim oleh dewa untuk menghancurkan peradaban sebagai suatu tindakan pembalasan ilahi adalah sebuah tema yang tersebar luas dalam mitologi Yunani. Menurut sarjana Yunani Ioannis Kordatos, ada sejumlah besar bait maupun tema atau episode yang paralel yang menunjukkan pengaruh yang cukup besar dari Epos Gilgamesh terhadap karya Homerus - Odyssey. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa syair epos karya Homerus di atas adalah memang benar menggambarkan banjir besar Nuh.

Epic of gilgamesh tablets

Petunjuk 6 : Mount Olympus adalah World’s Biosphere Reserve

Misi Nuh bukan hanya menyelamatkan keberlangsungan keturunan manusia di muka bumi, tapi sekaligus upaya reservasi flora dan fauna di lokasi yang baru. Kenyataan bahwa Mount Olympus dikenal sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan ekosistem, semakin memperkuat dugaan bahwa di gunung inilah bahtera Nuh berlabuh. Mount Olympus tak hanya menjadi taman nasional tapi juga ditetapkan sebagai World’s Biosphere Reserve . Ini adalah sebuah tanda-tanda yang dipelihara oleh Tuhan sebagai petunjuk bagi kita yang hidup ribuan tahun setelahnya. (sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Olympus)

Petunjuk 7 : Dion, Kota Kuno di Kaki Gunung Olympus

Sebuah pemikiran logis biasa, kelompok Nuh ini akan membangun tempat permukiman, tempat ibadah dan segala fasilitas yang diperlukan bagi terciptanya pusat aktivitas, dan tidak akan jauh dari lokasi berlabuh. Dengan demikian, tentulah harus ditemukan sisa-sisa peradaban kuno di kaki gunungnya. 

Dapatlah dipastikan, bahwa bila tidak ditemukan bukti arkeologis kota kuno di sebuah kaki gunung, maka mustahil gunung tersebut adalah tempat berlabuh bahtera Nuh. Dion, adalah kota kuno di kaki gunung Olympus yang hingga kini menjadi obyek wisata arkeologi Yunani terkenal. Nama kota Dion ini adalah juga termasuk dalam salah satu kota yang disebutkan di bible. Bekas-bekas peninggalan masyarakat Nuh dari generasi ke generasi di kota Dion ini dapat dilihat dihttp://www.bibleplaces.com/dion.htm

Disebutkan pula bahwa sebuah mitos yunani tentang pembangunan altar pemujaan Zeus oleh Deucalion di sebuah wilayah yang dinamakan DION, lengkapnya sebagai berikut:

The northern side of Mt. Olympus gently slopes towards the Macedonian plain; according to tradition Deucalion built an altar to Zeus on a site which is named Dion. In the Greek myth Deucalion played the same role as Nuh in the Bible; he built an ark where he went with his wife to escape a flood which Zeus let loose on the earth to wipe out the whole race of man. (sumber: http://romeartlover.tripod.com/Olimpo1.html).

Ancient city of Dion
Ancient city of Dion
Ancient city of Dion
Tentang Deucalion sendiri lengkapnya dapat dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Deucalion.

Ditinjau dari etimology, DION berasal dari kata DIONYSUS, disebutkan dalam wikipedia:
The dio- element has been associated since antiquity with Zeus (genitive Dios). The earliest attested form of the name is Mycenaean Greek di-wo-nu-so (sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Dionysus).

Apakah di-wo-nu-so ini Jiwo Nuso atau Dwi Nuso?

Sumber lainnya dari Wikipedia menyebutkan bahwa Nuh meninggalkan Bahtera pada tanggal 10 Muharram, dan ia bersama keluarganya dan teman-temannya membangun sebuah kota di kaki Gunung Judi. Sem. Yaqut al-Hamawi (1179-1229) menyebutkan tentang sebuah masjid yang dibangun oleh Nuh di kaki gunung ini. Disebutkan bahwa : “Zeus was honored at the ancient city of Dion located at the foot of Mount Olympus” (sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Dion,_Pieria). Inilah yang disebut sebagai masjid oleh Sem.Yaqut al-Hamawi.

Petunjuk 8 : Gunung Judi Berasal dari Bahasa Yunani Gordyae
QS 11.44. Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. 

George Salein, seorang orientalis berkebangsaan Inggris menyebutkan dalam terjemahan Quran yang terbit tahun 1734, menyampaikan bahwa kemungkinan istilah Judi berasal dari bahasa Yunani Gordyae, yaitu nama sebutan untuk penghuni wilayah tersebut.

“This mountain [al-Judi] is one of those that divide Armenia on the south, fromMesopotamia, and that part of Assyria which is inhabited by the Curds, from whom the mountains took the name Cardu, or Gardu, by the Greeks turned into Gordyae, and other names. … Mount Al-Judi, which seems to be a corruption, though it be constantly so written by the Arabs, for Jordi, or Giordi. (sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Judi).

Bahasa arab aslinya memang tidak mengenal beberapa vocal dan konsonan sebagaimana yang kita kenal dalam huruf latin, misalnya huruf G dan vocal E, sehingga opini George Salein ini cukup logis dan bisa dipertanggungjawabkan, karena Al-Judi adalah kata serapan, bukan asli bahasa arab. Menurut pendapat penulis, kata Gordyae ini justru berasal dari kata Gede. Karena sudah tidak ada lagi manusia pribumi yang hidup di lokasi berlabuh untuk ditanyai nama lokasi ini, Nuh lalu menamai daerah baru yang tak dikenalnya sama sekali ini dengan nama yang persis sama dengan nama gunung tempat bertolak, yaitu Gunung Geude (sunda), yang diserap ke dalam bahasa Yunani menjadi Gordyae, lalu diserap lagi menjadi Judi di Quran, karena Quran merubah bunyi “Geu” menjadi “Ju” dan “de” menjadi “diy”. 

Betapa akuratnya Quran memberi petunjuk lokasi sesuai ayat QS 11.44 : AL-JUDI

GEDE (jawa) >>>> GORDYAE (greek) >>>> JUDI (arab)

Petunjuk 9 : Burung Gagak Nuh adalah Elang Jawa

Sebuah Tulisan Abdullah bin ‘Umar al-Baidawi abad ke-13 menyebutkan bahwa Nuh berada di bahtera selama lima atau enam bulan, dan pada akhirnya ia mengeluarkan seekor burung gagak. Namun gagak itu berhenti untuk berpesta memakan daging-daging bangkai, dan karena itu Nuh mengutuknya dan mengeluarkan burung merpati, yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai sahabat manusia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahtera_Nuh).

Burung Gagak yang dimaksud disini adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang dibawa Nuh dari Gunung Gede, tempat bahtera berasal. (Baca tulisan sebelumnya :http://sejarah.kompasiana.com/2012/12/08/alun-alun-suryakencana-lokasi-galangan-kapal-nuh-515121.html).

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
Petunjuk 10 : Fenomena Bumi Kembar

Tuhan menciptakan segala sesuatu di bumi ini sepasang-sepasang, mengutip teori bumi kembar Fahmi Basya, dapat ditemukenali beberapa kesamaan antara lokasi asal bahtera bertolak (Gunung Gede, Indonesia) dan tempat bahtera berlabuh (Mount Olympus, Yunani), sebagai berikut :
  1. Tinggi Gunung Gede (2,958 m) sama dengan tinggi Mount Olympus (2,917 m), lebih kurang beda 40m saja.
  2. Yunani dan Indonesia adalah sama-sama negara kepulauan (archipelago). Yunani memiliki 6.000 pulau, dan Indonesia 17.000 pulau,
  3. Kehidupan mitos tumbuh demikian subur di setiap ceruk daerah di Indonesia dan Yunani.
  4. Persamaan revolusi. Kita tahu, kedua negara ini lahir dari proses panjang dan berdarah-darah untuk keluar dari belenggu kolonialisme. Sekian lama Yunani disekap oleh Kekaisaran Ottoman di Turki. Dengan bantuan Inggris, Prancis, dan Rusia, mereka bisa meneriakkan pekik kemerdekaan pada Februari 1830. Kita pun demikian. Silih berganti negara-negara Atas Angin datang untuk memeras kekayaan dan merayah martabat manusia Nusantara. Setelah Portugis, datang Spanyol, lalu Belanda, dan puncaknya Jepang. Barulah setelah itu kita bisa merdeka pada Agustus 1945. Kelelahan kedua negara itu berhadapan dengan kolonialisme menjadi titik temu yang mengesankan. Pengalaman itu memberi tekanan memori yang kuat tentang rasa percaya diri dan pencarian identitas nasionalisme kedua negara yang tentu saja jauh dari persoalan kedekatan geografis. (sumber :http://akubuku.blogspot.com/2012/06/cultural-olympiad-yunani-dan-indonesia.html)

Petunjuk 11 : Rumpun Bahasa

Bahasa Yunani termasuk dalam Rumpun bahasa Indo-Eropa atau Rumpun bahasa India-Eropa, adalah kelompok bahasa-bahasa berkerabat dengan banyak penutur terbesar di seluruh dunia. Sejumlah bahasa Indo-Eropa telah menyumbang banyak kosa kata ke dalam bahasa Indonesia, seperti bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Portugis, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Yunani-Armenia)

Petunjuk 12 : Karaghiozis

Yunani adalah satu-satunya negara di kawasan Eropa yang mempunyai kesenian wayang kulit (shadow puppet), yang disebut karaghiozis.yang begitu populer di masyarakatnya, dan dengan cara-cara yang sama persis dengan pertunjukan wayang kulit di Indonesia. Disebutkan kesenian ini berasal dari Indonesia (http://en.wikipedia.org/wiki/Karagiozis), sebagai berikut:
Karaghiozis (Modern Greek: Καραγκιόζης, Turkish; Karagöz) is a shadow puppet andfictional character of Greek and Turkish folklore. He is the main character of the tales narrated in the Turkish and Greek shadow-puppet theatre. Shadow theatre, with a single puppeteer creating voices for a dialogue, narrating a story, and possibly even singing while manipulating puppets, appears to come ultimately from the Indonesian wayang kulit or Chinese pi ying xi Shadow play.

Wayang Kulit Yunani - Karaghiozis
Karaghiozis, Shadow Puppet of Greece
Pertunjukan Karaghiozis dapat kita lihat di youtube.http://www.youtube.com/watch?feature=endscreen&v=aKNNpHb7mVE&NR=1Mengenai asal-usul wayang kulit dari Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi, UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai shadow puppet show asli dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).  http://id.wikipedia.org/wiki/WayangDengan demikian, sekaligus dapat disimpulkan pula bahwa kesenian wayang kulit ini sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh. (4000-5000 tahun yang lalu).

Penutup

Dari mana peradaban berasal, disitulah peradaban akan berakhir. Dari Indonesia, negeri yang diberkahi, Nuh membawa peradaban ke Yunani yang kemudian berkembang mmenjadi pusat peradaban Eropa dan Dunia, menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Semoga titik puncak peradaban akan kembali lagi ke negeri tercinta ini.
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96).

Artikel terkait : Benarkah Bahtera Nuh Berasal dari Mars ? - Kerajaan Setelah Banjir Nabi Nuh

Bookmark and Share