Tampilkan postingan dengan label Kepercayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepercayaan. Tampilkan semua postingan

Falsafah Jawa, Kejawen dan Islam

2 comments

JAWA dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek Kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat), cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan,khususnya di Kerjaan Mataram (Yogya/Solo).

Dalam pertunjukan wayang kulit yang paling dikenal adalah cerita tentangSerat Kalimasada (lembaran yang berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat ini akan menjadi saktimandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini. Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan oleh dalang. Isi serat Kalimasadaberbunyi "Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat.

Dalam pertunjukan wayangpun sang wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton wayang untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudu yang disampaikan secara baik.

Dalam perkembangan selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansa simbolisasi yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu Ilir-Ilir. Memang tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran islam, mengingat diperlukannya suatu keindahan dalam mengarang suatu lagu. Sebagian arti yang kini banyak digali dari lagu ini di antaranya :

Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar : Ini adalah sebuah diskripsi mengenai para pemuda, yang dilanjutkan dengan, Cah angon,cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo seba mengko sore : Cah angon adalah simbolisasi dari manusia sebagai Khalifah Fil Ardh, atau pemelihara alam bumi ini (angon bhumi). Penekno blimbing kuwi ,mengibaratkan buah belimbing yang memiliki lima segi membentuk bintang. Kelima segi itu adalah pengerjaan rukun islam (yang lima) dan Salat lima waktu. Sedang lunyu-lunyu penekno , berarti, tidak mudah untuk dapat mengerjakan keduanya (Rukun islam dan salat lima waktu) ,dan memang jalan menuju ke surga tidak mudah dan mulus. Kanggo sebo mengko sore, untuk bekal di hari esok (kehidupan setelah mati).

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane : Selagi masih banyak waktu selagi muda, dan ketika tenaga masih kuat, maka lakukanlah (untuk beribadah).

Memang masih banyak translasi dari lagu ini, namun substansinya sama, yaitu membumikan agama,menyosialisasikan ibadah dengan tidak lupa tetap menyenangkan kepada pengikutnya yang baru.

Dalam lagu-lagu Jawa, ada gendhing bernama MijilSinom, Maskumambang, kinanthi, asmaradhana,hingga megatruh dan pucung. Ternyata kesemuanya merupakan perjalanan hidup seorang manusia. Ambillah Mijil,yang berarti keluar, dapat diartikan sebagai lahirnya seorang jabang bayi dari rahim ibu.Sinom dapat di artikan sebagai seorang anak muda yang bersemangat untuk belajar. Maskumambang berarti seorang pria dewasa yang cukup umur untuk menikah, sedangkan untuk putrinya dengan gendhingKinanthi. Proses berikutnya adalah pernikahan atau katresnan antar keduanya disimbolkan dengan Asmaradhana. 

Hingga akhirnya Megatruh, atau dapat dipisah Megat-Ruh.Megat berarti bercerai atau terpisah sedangkan ruh adalah Roh atau jiwa seseorang. Ini proses sakaratul maut seorang manusia. Sebagai umat beragama islam tentu dalam prosesi penguburannya ,badan jenazah harus dikafani dengan kain putih, mungkin inilah yang disimbolkan dengan pucung (atau Pocong).

Kesemua jenis gendhing ditata apik dengan syai-syair yang beragam, sehingga mudah dan selalu pas untuk didendangkan pada masanya.

Ada banyaknya filsafat Jawa yang berusaha diterjemahkan oleh para wali, menunjukkan bahwa walisongo dalam mengajarkan agama selalu dilandasi oleh budaya yang kental. Hal ini sangat dimungkinkan, karena masyarakat Jawa yang menganut budaya tinggi, akan sukar untuk meninggalkan budaya lamanya ke ajaran baru walaupun ajaran tesebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih baik,seperti ajaran agama islam . Sistem politik Aja Nabrak Tembok (tidak menentang arus) diterapkan oleh para dunan.

Dalam budaya jawa sebenarnya sangat sarat dengan filsafat hidup (ular-ular). Ada yang disebut Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.

1. Surya (Matahari) memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.

2. Candra (Bulan) , yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.

3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan.

4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampungpendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya.

6. Samudra (Laut/air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.

8. Bhumi (bumi/tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai , agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.

Falsafah sebagai seorang anak buahpun juga ada dalam ajaran Jawa, ini terbentuk agar seorang bawahan dapat kooperatif dengan pimpinan dan tidak mengandalakan egoisme kepribadian, terlebih untuk mempermalukan atasan, seperti digambarkan dengan, Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni,kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan) , boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Intinya seorang anak buah jangan bertindak yang memalukan pimpinan, walau dia mungkin lebih mampu dari sang pimpinan. Sama sekali falsafah ini tidak untuk menghambat karir seseorang dalam bekerja, tapi, inilah kode etik atau norma yang harus di pahami oleh tiap anak buah atau seorang warga negara, demi menjaga citra pimpinan yang berarti citra perusahaan dan bangsa pada umumnya. Penyampaian pendapat tidak harus dengan memalukan,menggurui dan mendemonstrasi (ngrusuhi) pimpinan, namun pasti ada cara diluar itu yang lebih baik. Toh jika kita baik ,tanpa harus mendemonstrasikan secara vulgar kebaikan kita, orang pun akan menilai baik.

Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Di falsafah jawa istilah itu diucapakan dengan Ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana. Artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya). Sehingga tak heran jika seorang yang karena ucapan dan pandai menempatkan dirinya akan dihargai oleh orang lain.

Tidak mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya ini ,sebenarnya mengajarkan suatu sikap yang dinamakan profesionalisme, yang mungkin agak jarang dapat kita jumpai (lagi). Sebagai contoh tidak ada bedanya seorang mahasiswa yang pergi ke kampus dengan yang pergi ke mal , dan itu baru dilihat dari segi busana/bajunya , yang tentu saja baju akan sangat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi seseorang.

Masih banyak filsafat Jawa yang mungkin, tidak dapat diuraikan satu persatu, terlebih keinginan saya bukan untuk banyak membahas hal ini, mengingat ini bukan bidang saya, namun kami hanya ingin memberikan suatu wacana umum kepada pembaca, bahwa, banyak sekali ilmu yang dapat kita gali dari budaya (Jawa) kita saja, sebelum kita menggali budaya luar terlebih hanya meniru (budaya luar)-nya saja.

Bookmark and Share

Satrio Piningit dan Masa Depan Indonesia

1 comments

Siapa Satrio Paningit Ratu Adil dimaksud?
Resume acara Sarasehan Poros Langit Nuswantara
Tgl 31/1/12 di Gd KTNA oleh 30 padepokan
Tema: Menyongsong Kejayaan Nusantara oleh Ki Ageng Jenar Kolondono 

Oleh: Bayu Putra Baru Klinthing

Siapa Satrio Paningit Ratu adil? Semua orang berhak atas Gelar Satrio Paningit, karena di tubuhnya terdapat Sembilan Lubang dan sebagai makhluk sosial. Arti per sub kata: Sat= 6, tri= 3, paningit= menyembunyikan. Sembilan jalur akses ke dunia/Babakan Howo Songo.
  1. Dalam khasanah Jawa kalimat di atas sangat akrab diucapkan orang-orang tua. “Kalau kepingin menjadi manusia yang berbudi luhur, harus bisa Njogo Babakan Howo Songo.” Apa yang dimaksud Lubang Hawa Sembilan itu? Itulah jalan keburukan yang ada pada diri kita. Jalan itu berjumlah sembilan.
  2. Arti secara Meditasi/semedi Babakan Howo Songo  sat=6, tri=3, paningit= menutup, cara membaca dari belakang seperti sandi asmosatrio paningit=MENUTUP 9 pintu/lubang= 2 hidung, 2 telinga,2 mata,2 lubang di bawah, lubang mulut… meditasi fokus di lubang ke sepuluh/antara dua alis mata/netra shiva/mata dewa….menjadi satrio paningit membuka mata ketiga.
  3. Arti secara Lingkungan sosial masyarakat Ratu Adil merupakan adil dan tanggung jawab terhadap keluarga, lingkungan sekitar, desa, kecamatan, kabupaten, dst.
Pengendalian Babakan Howo Songo berarti Keadilan 9 lubang pada tubuh kita yaitu: dua mata, dua telinga,  dua lubang hidung, satu mulut, lubang kelamin dan lubang dubur. Itu adalah lubang jalannya hawa pada tubuh kita. Dari lubang-lubang tersebut kita sering berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Jika kita terlalu memanjakan sembilan lubang tadi, kita akan jauh dari budi luhur. Menjadi manusia yang buruk perangainya.

Ramalan Joyoboyo kedelapan Kembalinya Sabdo Palon. Percepatan Jongko Joyoboyo kira-kira 43 tahun, Ternyata dipicu oleh Keserakahan dan Kapitalisme, ditandai dengan Letusan Merapi 25 Oktober 2010. Letak Percepatan Jongko Joyoboyo Ketika Sabda Palon bilang 500 tahun maka yg dimaksud adalah 500 tahun saka.

  • Satu tahun saka Jawa= 420 hari, maka 500 tahun saka jawa= 500 x 420 hari dibagi 365 hari (setahun kabisat)= 575.3425 tahun masehi. SIRNA ILANG KERTHANING BHUMI (SIRNA: 0, ILANG: 0, KERTHA: 4, BHUMI: 1 = 1400) Saka adalah 1400 saka. Jadi kembali nya 1400 saka= 1400 +78 (saka ke kabisat)= 1478 Masehi.
  • 500 tahun saka berarti 575 tahun Masehi, jadi 1478 masehi + 575.34 tahun= 2053 Masehi.
  • Kembalinya Sabda Palon 2010 saat meletus Gunung Merapi. Artinya ada percepatan sejarah sebesar 43 tahun yaitu 2053 -2010 = 43.34 tahun.
Kita Sudah masuk Siklus 500 tahunan Salah Satu Tanda-tanda kemunculan Ratu Adil/ Kemakmuran: Banyak anak muda menjadi Pejabat. Dari Jangka Jayabaya, Pethikan Serat Tangan Pangkur:

1. Sedulur ilang kangene, wong lanang ninggal lanange, wong wadhon ilang wirange, saenggon-enggon akeh ratu apung gawane pating belasak, wong nonoman akeh kang dadi mantri Bupati lan punggawane.

(Kelak di kemudian hari, Jawa tinggal separo, belanda tinggal dua, saudara kehilangan rasa rindunya, laki-laki meninggalkan sifat kelelakiannya, perempuan tidak punya rasa malu lagi, di mana-mana banyak ditemukan pemimpin palsu, kerjaannya tidak karuan, anak muda-mudi banyak yang menjadi pejabat.)

2. Sajabane tanah Jawa ana perang gedhe, saenggon-enggon ana pailan, pageblug, rupa-rupa sangsarane, bebaya warna-warna, wong-wong padha mangan watu, mangan wedhi, omben-omben peresan blonthong, wong wadhon akeh kang kolu endhonge dhewe (incest, english), amarga saka rusuhe wong lanang wadon akeh kang ketaman lelara bubrah paribasane jaman edan. 

(Di luar Jawa ada peperangan (konflik) besar, di mana-mana terjadi kejahatan dan pembunuhan, beraneka ragam kesengsaraan dan mara bahaya, orang-orang pada makan batu, makan pasir, minum tirisan busuk, perempuan tega makan rahimnya sendiri, sebab saking rusuhnya laki-laki perempuan banyak terserang penyakit rusak, ibaratnya zaman gila, jika tidak ikut gila maka tidak akan kebagian, tetapi yang seperti itu orang tidak memiliki iman.)

3. Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane, lumebuwa paribasaning wadya balane, ora suwe bakal katon tanda-tandhane rawuhing ratunira ngagem kamulyan gedhe, rawuhe liar kilat kairingake bala “malekat” mayuta-yuta cacahe, ngadeg payunge kuning, tegese bang-bang wetan karepe, wus ndungkap paletheking papadhang. 

(Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan imanmu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” Izrail (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur (gerakan dari wilayah timur nusantara-baladewa), maka terbitlah sinar yang terang. ARTINYA JAWA TIMUR menjadi GEOPOLITIK NUSANTARA, siapa menguasai JAWA TIMUR AKAN MENGUASAI NUSANTARA, seperti dalam Teori Rimlan (Eropa Barat dan Asia Tenggara) akan lebih besar pengaruhnya dalam pencaturan politik dunia. Kedepan EROPA BARAT akan HANCUR, maka tinggal INDONESIA pusat GeoPolitik ASIA TANGGARA. Teori NUSANTARA menjadi mercusuar dunia adalah benar menurut Prof.Nicholas John Spykman (1893–1943) Ahli kebijakan Luar Negeri USA, Brg siapa menguasai Rimland akan menguasai Dunia. Atau yang mendiami Rimland berhak menentukan Nasib Dunia.) Sumber.

Bookmark and Share

SERAT SABDA PALON

0 comments

Merenungi kembali visi dari Sabda Palon mengenai perubahan jaman di tanah Jawa (pada kenyataannya transisi/transformasi ini tak hanya terjadi di tanah Jawa, namun seluruh Bumi) karena visi itu mewujud SAAT INI. Semoga dengan membaca ini, bisa meningkatkan kewaspadaan, kesadaran & spiritualitas kita semua untuk menghadapi perubahan jaman tersebut. Berikut visi yang tersaji dalam syair tersebut:


PUPUH SINOM

1. Padha sira ngelinganaCarita ing nguni-nguniKang kocap ing sêrat BabadBabad nagri MojopahitNalika duk-ing nguniSang-a Brawijaya PrabuPan samya pêpanggihanKaliyan Njêng Sunan KaliSabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua,Akan cerita masa lalu,Yang tercantum didalam Babad ( Sejarah )Babad Negara Majapahit,Ketika saat itu,Sang Prabhu Brawijaya,Tengah bertemu,Dengan Kangjeng Sunan Kalijaga,Ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

2. Sang-a Prabu BrawijayaSabdanira arum manisNuntun dhatêng punakawanSabda Palon paran karsiJênêngsun sapunikiWus ngrasuk agama RasulHeh ta kakang maniraMeluwa agama suciLuwih bêcik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya,Bersabda dengan lemah lembut,Mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya,Tapi Sabdo Palon tetap menolak,Diriku ini sekarang,Sudah memeluk Agama Rasul (Islam),Wahai kalian kakang berdua,Ikutlah memeluk agama suci,Lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda palon matur sugalYen kawula boten arsiNgrasuka agama IslamWit kula puniki yêktiRatuning Dang Hyang JawiMomong marang anak putuSagung kang para NataKang jumênêng ing tanah JawiWus pinasthi sayêkti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras,Hamba tidak mau,Memeluk agama Islam,Sebab hamba ini sesungguhnya,Raja Dahnyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa,Memelihara kelestarian anak cucu ( penghuni tanah Jawa ),(Serta) semua Para Raja,Yang memerintah di tanah Jawa,Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

4. Klawan Paduka sang NataWangsul maring sunya ruriMung kula matur petungnaIng benjang sakpungkur mamiYen wus prapta kang wanciJangkêp gangsal atus taunWit ing dintên punikaKula gantos agamiGama Budi kula sêbar ing tanah Jawa.
Dengan Paduka Wahai Sang Raja,Kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-’isi’; Alam yang tidak ada tapi ada),Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung,Kelak sepeninggal hamba,Apabila sudah datang waktunya,Genap lima ratus tahun,Mulai hari ini,Akan saya ganti agama (di Jawa),Agama Budi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sintên tan purun nganggeyaYêkti kula rusak samiSun sajakkên putu kulaBrêkasakan rupi-rupiDereng lêga kang atiYen durung lêbur atêmpurKula damêl pratandhaPratandha têmbayan mamiHardi Mrapi yen wus njêblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai,Akan saya hancurkan,Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal,Makhluk halus berwarna-warni,Belum puas hati hamba,Apabila belum hancur lebur,Saya akan membuat pertanda,Pertanda sebagai janji serius saya,Gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.


6. Ngidul ngilen purugiraNggada bangêr ingkang warihNggih punika wêkdal kulaWus nyêbar agama BudiMêrapi janji mamiAnggêrêng jagad satuhuKarsanireng JawataSadaya gilir gumantiBotên kenging kalamunta kaowahan.

Kearah selatan barat mengalirnya,Berbau busuk air laharnya,Itulah waktunya,Sudah mulai menyebarkan agama Budi,Merapi janji saya,Menggelegar seluruh jagad,Kehendak Tuhan,(Karena) segalanya (pasti akan) berganti,Tidak mungkin untuk dirubah lagi.

7. Sangêt-sangêting sangsaraKang tuwuh ing tanah JawiSinêngkalan tahuniraLawon Sapta Ngêsthi AjiUpami nyabarang kaliPrapteng têngah-têngahipunKaline banjir bandhangJêrone ngelebna jalmiKathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara,Yang hidup ditanah Jawa,Perlambang tahun kedatangannya,LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978),Seandainya menyeberangi sebuah sungai,Ketika masih berada ditengah-tengah,Banjir bandhang akan datang tiba-tiba,Tingginya air mampu menenggelamkan manusia,Banyak manusia sirna karena mati.

8. Bêbaya ingkang tumêkaWarata sa Tanah JawiGinawe Kang Paring GêsangTan kenging dipun singgahiWit ing donya punikiWontên ing sakwasanipunSadaya pra JawataKinarya amêrtandhaniJagad iki yêkti ana kang akarya.

Bahaya yang datang,Merata diseluruh tanah Jawa,Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup,Tidak bisa untuk ditolak,Sebab didunia ini,Dibawah kekuasaan,Tuhan dan Para Dewa,Sebagai bukti,Jagad ini ada yang menciptakan.

9. Warna-warna kang bêbayaAngrusakên Tanah JawiSagung tiyang nambut karyaPamêdal boten nyêkapiPriyayi keh bêrantiSudagar tuna sadarumWong glidhik ora mingsraWong tani ora nyukupiPamêtune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam mara bahaya,Merusak tanah Jawa,Semua yang bekerja,Hasilnya tidak mencukupi,Pejabat banyak yang lupa daratan,Pedagang mengalami kerugian,Yang berkelakuan jahat semakin banyak,Yag bertani tidak mengahsilkan apa-apa,Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

10. Bumi ilang bêrkatiraAma kathah kang ndhatêngiKayu kathah ingkang ilangCinolong dening sujanmiPan risaknya nglangkungiKarana rêbut rinêbutRisak tataning janmaYen dalu grimis keh malingYen rina-wa kathah têtiyang ambegal.

Bumi hilang berkahnya,Banyak hama mendatangi,Pepohonan banyakyang hilang,Dicuri manusia,Kerusakannya sangat parah,Sebab saling berebut,Rusak tatanan moral,Apabila malam hujan banyak pencuri,pabila siang banyak perampok.

11. Heru hara sakeh janmaRêbutan ngupaya kasilPan rusak anggêring prajaTan tahan pêrihing atiKatungka praptanekiPagêblug ingkang linangkungLêlara ngambra-ambaraWaradin sak-tanah JawiEnjing sakit sorenya sampun pralaya.

Huru hara seluruh manusia,Berebut mencari hidupRusak tatanan negara,Tidak tahan perdihnya hati,Disusul datangnya,Wabah yang sangat mengerikan,Penyakit berjangkit kemana-mana,Merata seluruh tanah Jawa,Pagi sakit sorenya mati.

12. Kêsandhung wohing pralayaKaselak banjir ngêmasiUdan barat salah mangsaAngin gung anggêgirisiKayu gung brastha samiTinêmpuhing angin agungKathah rêbah amblasahLepen-lepen samya banjirLamun tinon pan kados samodra bena.

Belum selesai wabah kematian,Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi,Hujan besar salah waktu,Angin besar mengerikan,Pohon-poho besar bertumbangan,Disapu angin yang besar,Banyak yang roboh berserakan,Sungai-sungai banyak yang banjir,Apabila dilihat bagaikan lautan.

13. Alun minggah ing daratanKarya rusak têpis wiringKang dumunung kering kananKajêng akeh ingkang keliKang tumuwuh apinggirSamya kentir trusing lautSela gêng sami brasthaKabalêbêg katut keliGumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan,Membuat rusak pesisir pantai,Yang berada dikiri kanannya,Pohon banyak yang hanyut,Yang tumbuh dipesisir,Hanyut ketengah lautan,Bebatuan besar hancur berantakan,Tersapu ikut hanyut,Bergemuruh nyaring suaranya.

14. Hardi agung-agung samyaHuru-hara nggêgirisiGumalêgêr swaraniraLahar wutah kanan keringAmbleber angêlêbiNrajang wana lan desagungManungsanya keh brasthaKêbo sapi samya gusisSirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Gunung berapi semua,Huru hara mengerikan, Menggelegar suaranya, Lahar tumpah kekanan dan kekirinya, Menenggelamkan, Menerejang hutan dan perkotaan, Manusia banyak yang tewas, Kerbau dan Sapi habis, Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

15. Lindhu ping pitu sadinaKarya sisahing sujanmiSitinipun samya nêlaBrêkasakan kang ngêlêsiAnyeret sagung janmiManungsa pating galuruhKathah kang nandhang rogaWarna-warna ingkang sakitAwis waras akeh kang prapteng pralaya.

Gempa bumi sehari tujuh kali, Membuat ketakutan manusia, Tanah banyak yang retak-retak, Makhluk halus yang ikut membantu amarah alam, menyeret semua manusia, Manusia menjerit-jerit, Banyak yang terkena penyakit, Bermacam-macam sakitnya, Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16. Sabda Palon nulya mukswaSakêdhap botên kaeksiWangsul ing jaman limunanLangkung ngungun Sri BupatiNjêgrêg tan bisa anglingIng manah langkung gêgêtunKêdhuwung lêpatiraMupus karsaning DewadiKodrat iku sayêkti tan kêna owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang,Sekejap mata tidak terlihat sudah,Kembali ke alam misteri,Sangat keheranan Sang Prabhu,Terpaku tidak bisa bergerak,Dalam hati merasa menyesal,Merasa telah berbuat salah,Akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan,Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.


Bookmark and Share

Lightbeings

1 comments

PERBEDAAN MANUSIA DIMENSI 3 (BUMI) DENGAN MAHLUK DIMENSI LEBIH TINGGI (LIGHTBEINGS)

Perbedaan antara manusia dimensi 3 (Bumi) dengan mahluk dimensi yang lebih tinggi. Mahluk dimensi lebih tinggi yang dimaksud disini bukanlah astral (mahluk dimensi 4), tapi lightbeings. Apa itu lightbeings? Lightbeings adalah mahluk dimensi 5 ke atas yang hidup di jalan cahaya, hidup sesuai kehendak Tuhan. Yang termasuk lightbeings adalah spiritual extraterrestrial (et) juga malaikat. Baiklah, mari kita bahas satu persatu perbedaannya.

Perbedaan yang paling mendasar antara manusia Bumi dengan lightbeings adalah dari sisi SPIRITUALITAS. Lightbeings hidup SPIRITUAL, sementara manusia Bumi hidup relijius. SPIRITUAL berbeda dengan relijius. Di artikel yang sebelumnya, sudah saya jelaskan apa perbedaan SPIRITUAL dengan relijius. Lightbeings mengerti apa itu SPIRITUALITAS sesungguhnya. Mereka sadar bahwa agama seharusnya jadi jalan untuk lebih memahami hakikat keTuhanan, hakikat kehidupan. 

Tidak seperti manusia Bumi, dimana yang diagungkan adalah agama & tokohnya, bukan Tuhan, sehingga yang terjadi adalah peperangan. Ketika jiwa sudah mengerti apa itu hakikat keTuhanan, hakikat kehidupan, SPIRITUALITAS sesungguhnya, maka agama sudah tak diperlukan lagi. Karena agama hanya konsep 3D di planet ini saja. Di planet/bintang lain, di dimensi lebih tinggi, tak ada agama. Mahluknya hidup SPIRITUAL, harmonis dengan seluruh mahluk di alam semesta.

Perbedaan yang selanjutnya adalah pada sisi EGO. Lightbeings hidup tanpa menonjolkan ego masing-masing. Mereka hidup dengan CINTA KASIH. Mereka sangat memahami apa itu CINTA. CINTA mereka tak sebatas kepada lawan jenis, namun bersifat universal, kepada semua mahluk di seluruh alam semesta. Sementara manusia Bumi masih hidup dengan menonjolkan ego masing-masing. Kebencian, keserakahan, kecemburuan, iri-dengki, kesombongan, agresif, kebohongan, kompetisi. Kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, peperangan, polusi. Semua hal negatif begitu pekat menyelimuti planet ini. Konsep CINTA mayoritas manusia Bumi hanya sebatas kepada lawan jenis.


Kemudian dari sisi CARA HIDUP. Lightbeings hidup saling memberi, BEKERJA SAMA. Karena itu mereka hidup damai, harmonis, tanpa peperangan. Sangat berbeda dengan manusia Bumi, dimana kompetisi sudah jadi bagian hidup sehari-hari. Kompetisi dalam belajar, mencari pekerjaan, berkarier, berbisnis, berpolitik, olahraga, mencari pasangan, kompetisi, kompetisi, kompetisi…. semuanya penuh dengan persaingan. Bagi mayoritas manusia Bumi yang terpenting adalah “Aku menang dan kau kalah”. Oleh karena itu gap diantara masing-masing individu sangat besar, terutama di daerah perkotaan. Berbeda dengan lightbeings, dimana mereka berpedoman pada konsep “Win-win solution”. Bagaimana caranya supaya semua pihak diuntungkan, supaya semua menang. Ini karena lightbeings menguasai apa itu konsep ONENESS, bahwa KITA SEMUA ADALAH SATU.

Dalam kehidupan sehari-hari lightbeings saling BERKONTRIBUSI, sementara manusia Bumi bekerja. Apa bedanya BERKONTRIBUSI dengan bekerja? Kita bisa membedakannya dari 2 aspek, pertama tujuan, kedua reward (imbalan). BERKONTRIBUSI bertujuan untuk melayani sesama. Yap, itulah kuncinya, PELAYANAN. 

Lightbeings hidup dengan melayani sesama. Kita tak akan pernah mengerti apa itu CINTA KASIH sebelum kita MELAYANI sesama. Dalam KONTRIBUSI tak ada atasan atau bawahan, melainkan pemimpin dan yang dipimpin. Apakah sodara/iku melihat perbedaannya? Sementara bekerja dalam istilah Bumi adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. “Kamu bekerja, kamu dibayar, kamu hidup”, seperti itulah sederhananya. Sudah lama sekali penghuni planet ini hidup dengan cara demikian. Hidup hanya untuk bertahan hidup. 

Oleh karena itu, bervibrasi pada tingkat yang sangat rendah. Dalam bekerja, selalu ada atasan & bawahan. Sudah berapa kali kita mendengar atasan yang sok memerintah bawahanlah, semena-menalah, mendiskriminasilah, bla… bla.. bla… Jadi jelaslah bahwa BERKONTRIBUSI untuk melayani sesama, sementara bekerja untuk melayani diri sendiri. Dari aspek reward (imbalan) lightbeings yang saling BERKONTRIBUSI membagi pendapatannya dengan adil, sesuai besarnya kontribusi setiap individu pada masyarakat. Sementara dalam bekerja sudah seberapa sering kita mendengar orang mengeluh, bahwa apa yang mereka dapat tak setara dengan hasil pekerjaan mereka. 

Atau justru itu kita alami sendiri? Di satu sisi ada orang yang bekerja ringan sementara dia dibayar lebih banyak. Sementara di sisi lain ada yang bekerja membanting tulang tapi bayarannya lebih sedikit. Ini sungguh timpang bukan… Tapi mau bagaimana lagi, itulah bekerja, itu sudah menjadi hal yang lumrah. Sebagai catatan, para lightbeings di dimensi lebih tinggi sudah tidak memakai uang lagi. Perekonomian mereka mengacu pada sistem barter. Konsep ini lebih adil. Ini sangat berbeda dengan di Bumi. Uang beresiko tinggi untuk ditimbun/ditumpuk, dimanipulasi.

Lightbeings sudah tak terikat oleh kebutuhan fisik seperti manusia Bumi, misalnya: makan, minum, sex. Ingatlah, lightbeings adalah mahluk dimensi lebih tinggi, mereka tak sepadat kita yang ada di dimensi 3. Oleh karena itu mereka sudah tak terikat lagi dengan kebutuhan ragawi. Lalu apakah lightbeings tidak makan & minum? Mereka masih melakukannya, tapi berbeda dengan kita yang melakukannya untuk menghilangkan rasa lapar & haus, mereka melakukannya semata-mata hanya untuk tahu sensasi rasanya. 


Oleh karena itu para lightbeings tak pernah mengenal penyakit busung lapar, obesitas, diare, sembelit. Jadi, para lightbeings juga tidak melakukan sex? Jawabannya adalah ya, mereka sudah tak melakukannya lagi. Lalu bagaimana para et bereproduksi? Sekali lagi ingat bahwa mereka punya bentuk yang tidak sepadat kita di dimensi 3. Mereka bereproduksi bukan dengan sex, tapi lebih ke menanam benih energi. Antar pasangan juga masih ada proses bercinta, tapi sekali lagi bukan dengan sex yang bersifat ragawi, yang ditonjolkan adalah emosi, emosi CINTA KASIH. Karena itu, para lightbeings juga tak mengenal penyakit kelamin, HIV/AIDS, impotensi.

Ini adalah saatnya Ibu Bumi untuk bertransisi/bertransformasi/berevolusi menuju dimensi lebih tinggi, energi lebih tinggi, vibrasi lebih tinggi. Dan semua penghuninya harus bisa selaras dengan vibrasinya jika masih ingin tetap hidup diatasnya. Setelah evolusi, Bumi tak akan sepadat ini, begitu juga isinya. Para penghuninya tak akan menjadi mahluk padat lagi, tapi menjadi eterik, seperti para lightbeings. 


Nah… pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita sudah siap berubah? Apakah kita sudah cukup SPIRITUAL? Sudahkah kita mengesampingkan ego dan hidup dengan CINTA KASIH? Sudahkah kita menghilangkan kompetisi dan saling BEKERJA SAMA? Sudahkah kita hidup untuk MELAYANI sesama? Sudah mampukah kita mengontrol diri dari hal-hal yang bersifat ragawi? Jika kita sudah bisa menjawab semua pertanyaan ini dengan YA, THEN WE ARE READY TO ASCEND WITH GAIA.


Bookmark and Share

Lightworker

0 comments

LIGHTWORKER, SANG AVANT GARDE DI MASA TRANSISI BUMI

Jadi siapa itu lightworker? Lightworker atau pekerja cahaya adalah jiwa-jiwa yang datang ke Bumi untuk membantu proses transisi/transformasi/evolusinya. Mereka adalah sukarelawan yang datang dari dimensi lebih tinggi. Mereka adalah para starseed juga incarnated angel. Tak seperti manusia lain, mereka kesini bukan untuk belajar, tetapi untuk menjalankan tugas, sebuah tugas mulia.

Para avatar, spiritual master seperti Jesus, Budha, Krishna, Kwan Yin dan lainnya, mereka adalah lightworker. Di saat Bumi carut-marut, porak poranda karena ulah manusia tak bertanggung jawab, banyak orang berdoa pada Tuhan untuk mengirimkan pembimbing, penuntun, supaya Bumi menjadi baik kembali. Karena itulah para lightworker datang membantu. Kini, disaat Bumi ada diambang kehancuran, Tuhan sudah memutuskan Bumi harus bertransisi/bertransformasi/berevolusi dengan meningkatkan vibrasinya. Oleh karena itu lebih banyak lightworker yang turun ke Bumi untuk membantu proses tersebut, namun kali ini jumlahnya tak sebatas hitungan jari, melainkan RIBUAN.

Lightworker yang sesungguhnya tak mengedepankan egonya dan mendidikasikan hidupnya untuk melayani Bumi juga umat manusia pada masa transisinya. Setiap lightworker terhubung dengan Federasi Cahaya Galaktik/Komando Ashtar. Lightworker sesungguhnya TAK TERMASUK GOLONGAN/KAUM MANAPUN di Bumi. Mereka bekerja, bertugas, murni untuk kepentingan Tuhan.


Namun sayang, pada kenyataannya tak semua lightworker sadar akan siapa dirinya juga tugasnya di Bumi. Beberapa bahkan ada yang membelot dan memihak kelompok gelap. Mereka sudah terperangkap pada kehidupan dunia fana ini, sehingga melupakan misi sucinya di Bumi. Karena ini semua menyangkut pilihan, kehendak bebas setiap mahluk.
Selanjutnya saya akan jelaskan tugas-tugas lightworker. 3 tugas utama lightworker di Bumi diantaranya adalah:
  • Sebelum pemurnian Bumi: Mereka bertugas meningkatkan vibrasi manusia Bumi supaya bisa selaras dengan vibrasi Ibu Bumi yang terus naik. Karena semakin banyak manusia yang vibrasinya selaras dengan Ibu Bumi, maka pemurnian akan semakin lancar. Ini dilakukan dengan terus menyadarkan manusia akan inti SPIRITUALITAS yang sesungguhnya.
  • Saat pemurnian Bumi: Mereka membantu membersihkan seluruh bentuk polusi di Bumi, pada tanah, air, udara, juga tingkat ether yang disebabkan oleh pikiran & emosi negatif manusianya. Mereka juga membantu mengembalikan kondisi grid Bumi yang rusak supaya baik kembali.
  • Setelah pemurnian Bumi: Mereka bertugas merekonstruksi Bumi untuk membangun peradaban baru, yang harmonis dengan seluruh mahluk, yang jauh lebih baik.
Seorang lightworker dapat memiliki satu, dua atau bahkan ketiga tugas sekaligus.


Lightworker dapat diibaratkan seperti seorang bidan yang membantu persalinan Ibu Bumi. Untuk menghasilkan dunia baru, manusia baru, juga peradaban yang baru. Mereka membantu sekuat tenaga supaya persalinan sang Ibu bisa selancar mungkin. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin supaya Ibu Bumi juga kandungannya bisa selamat saat proses persalinan.

Para lightworker adalah seorang guru. Mereka membantu manusia Bumi mengajarkan esensi SPIRITUALITAS sesungguhnya. Mereka menyebarkan pengetahuan, kebijaksanaan serta kasihnya pada dunia. Dengan sabar mereka menuntun, membimbing, sekaligus memberi contoh bagaimana hidup harmonis dengan seluruh mahluk. Bagaimana hidup sesuai jalan cahaya, jalan Tuhan.

Lightworker juga seperti para artisan/seniman. Seperti pemahat, mereka membantu membentuk Bumi ini menjadi lebih indah. Bagaikan pelukis, mereka menorehkan karya-karya mereka, dari visi mereka, kedalam dunia dengan warna-warni yang cantik. Layaknya composer, yang merangkai nada-nada indah, mereka membantu mengembalikan irama kehidupan di Bumi ini menjadi harmonis lagi.

Para lightworker adalah prajurit Tuhan yang membela cahaya. Mereka memerangi kegelapan yang sudah lama sekali menyelimuti Bumi dengan cahaya, informasi dan KASIH. Mereka adalah pasukan gagah berani yang akan selalu ada di garis depan melawan kelompok gelap.

Para lightworker adalah pemimpin. Mereka adalah kekuatan utama dalam pergeseran Bumi. Mereka yang akan memimpin manusia Bumi menjalani evolusinya.

Bookmark and Share

Puasa ala Jawa

0 comments
Sejatinya puasa adalah hal yang penting untuk meningkatan spiritual seseorang. Di semua ajaran agama, biasanya disebutkan tentang puasa ini dengan berbagai versi yang berbeda. Menurut sudut pandang spiritual metafisik, puasa mempunyai efek yang sangat baik dan besar terhadap tubuh dan fikiran.

Oleh masyarakat Jawa, bulan puasa juga diyakini sebagai bulan penuh berkah dan memiliki keistimewaan tersendiri. Filosofi Jawa menyatakan, puasa sebagai sarana menggembleng jiwa, raga, mempertajam rasa batin, olahrasa-pangrasa, serta menyucikan hati dan pikiran.

Para penghayat kejawen telah menemukan metode-metode untuk membangkitkan spirit agar menjadi manusia yang kuat jiwanya dan luas alam pemikirannya, salah satunya yaitu dengan menemukan puasa-puasa dengan tradisi kejawen. Dalam peradaban spiritual kejawen, seorang penghayat kejawen biasa melakukan puasa dengan hitungan hari tertentu untuk menaikkan kemampuan spiritual metafisik mereka.


Macam-macam puasa berdasarkan tradisi jawa adalah sebagai berikut:

1. Mutih
Ketika melakukan puasa mutih, seseorang tidak dibolehkan memakan apa-apa kecuali nasi putih dan air putih saja. Ketika dikonsumsi, nasi putihnya pun tidak boleh ditambah bahan apapun termasuk gula dan garam. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra tertentu.

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran/buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur, dan sebagainya.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Pati geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya).

5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja. Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

13. Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam

14. Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

15. Kungkum
Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Ada beberapa tatacara tapa kungkum yang harus dipatuhi dan biasanya dilakukan semala 7 malam.

16. Ngalong
Tapa ini juga begitu unik karena dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.

17. Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. 

Bookmark and Share