Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Tarian Mistik Bedhaya Ketawang

0 comments

Di dalam istana Sultan Jawa (keraton Jogjakarta dan kraton Solo) secara periodik diadakan sebuah tarian sakral yang bernama tarian bedoyo ketawang atau disebut juga tarian langit, yaitu suatu upacara yang berupa tarian dengan tujuan pemujaan dan persembahan kepada Sang Pencipta Allah SWT.

Pada awal mulanya tari Bedhaya Ketawang di Keraton Surakarta cuma diperagakan oleh tujuh wanita saja. Namun dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang penari.

dari kesembilan penari tersebut 8 penari diperankan oleh putri-putri yang masih ada hubungan darah dan kekerabatan dari keraton dan seorang penari gaib yag dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul

Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan).

Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya.

Tentang siapa pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih rancu.

Bedoyo Ketawang misalnya menurut Sinuhun Paku Buwono X menggambarkan lambang cinta birahi Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati, segala gerak melambangkan bujuk rayu dan cumbu birahi, walaupun dapat dielakkan Sinuhun, Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samodera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana ( Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan) dan terjadilah Perjanjian/Sumpah Sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Pertama tanah Jawa, yang tidak dapat dilanggar oleh Raja-Raja Jawa yang Turun Temurun atau Raja-Raja Penerus.

Satu sumber menyebutkan bahwa tari ini diciptakan oleh Penembahan Sanapati-Raja Mataram pertama-sewaktu bersemadi di Pantai Selatan. Ceritanya, dalam semadinya Penembahan Senapati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Ratu Kidul) yang sedang menari. Selanjutnya, penguasa laut Selatan ini mengajarkannya pada penguasa Mataram ini.


Sumber lainnya menyebutkan bahwa tari Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung Anyakrakusuma (cucu Panembahan Senapati). Menurut Kitab Wedhapradangga yang dianggap pencipta tarian ini adalah Sultan Agung (1613-1645), raja terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut Selatan. Ceritanya, ketika Sultan Agung sedang bersemadi, tiba-tiba mendengar alunan sebuah gending. Kemudian Sultan Agung berinisatif menciptakan gerakan-gerakan tari yang disesuaikan dengan alunan gending yang pernah didengar dalam alam semadinya itu. Akhirnya, gerakan-gerakan tari itu bisa dihasilkan dengan sempurna dan kemudian dinamakan tari Bedhaya Ketawang.

sebelum dilaksanakan tarian ini ada beberapa laku atau aturan atu yang disebut juga upacara ritus yang harus dipenuhi oleh kreton dan para penari tersebut yaitu:

Untuk Keraton harus melakukan upacara atau ritus Labuhan atau Larungan (persembahan korban) yang berupa sesaji di 4 titik ujung/titik mata angin disekitar keraton. Disini keraton diibaratkan sebagai pusat dari Kosmis dari dunia dan keempat titik penjuru melambangkan alam semesta,letak geografis dan mitologis keempat titik tersebut adalah:

1. Di Bagian Utara terdapat Gunung Merapi dengan penguasa Kanjeng ratu Sekar

2. Di Daerah Selatan terdapat Segoro Kidul atau laut kidul dengan penguasa Nyi Rara Kidul

3. Bagian Barat terdapat Tawang Sari kahyangan ndlpih dengan penguasa Sang Hyang Pramori (Durga di hutan Krendowahono)

4. Dibagian Timur terdapat Taawang Mangu dengan Argodalem Tirtomoyo sebagai penguasa dan Gunung Lawu dengan Kyai Sunan lawu sebagai penguasanya.

selain itu putri-putri yang ikut menari diwajibkan masih Perawan dan menjalankan pusa tertentu sebelum melakukan tarian.

Pada malam hari anggara kasih yaitu ke 9 penari termasuk nyai rara kidul yang diyakini memasuki sitihinggil dengan arah Pradaksina disekitar sultan/raja,mereka itu perlambang cakrawala dan membuat formasi nawagraha, perbintangan kartika : 2 + 5 + 2. atas irama gamelan para penari melambangkan peredaran tata tertip kosmis azali yang teratur : kemudian bagaimana tata tertip tersebut menjadi kacau dan kemudian dipuluhkan lagi. Tembang yang dinyanyikan melambangkan Re-integrasi tata dunia dalam tata asli transendia dan lama tarian yang dimainkan sekitar 5,5 jam kadang sampai jam 01:00 malam. Hadirin yang terpilih untuk melihat atau menyaksikan tarian ini harus dalam keadaan khusuk,semedi,hening dan heneng dalam artian hadirin selama tarian berlangsung tidak boleh berbicara, makan dan hanya boleh diam dan menyaksikan gerakan demi gerakan sang penari.

Tarian Bedhoyo Ketawang besar hanya di lakukan setiap 8 tahun sekali atau sewindu sekali sedangkan tarian bedhaya ketawang kecil dilakukan pada saat Penobatan raja atau sultan, pernikahan salah satu anggota keraton yang ditambah simbol-simbol yang sesuai dengan maksud dan tujuan Bedhaya ketawang di lakukan. 



Bookmark and Share

Patung Borobudur Dengan Tema “Kama Sutra”

2 comments

Sebuah ukiran patung yang maha indah telah tercipta ratusan tahun yang lalu di sebuah situs terkenal dunia - Borobudur, warisan leluhur yang mengajarkan apa itu ‘kama sutra’ dan detailnya’, bukan pornografi, tapi ini murni seni. Sumber.

Bookmark and Share

Sejarah Masjid Agung Demak

0 comments

Setelah masuknya pengaruh kebudayaan islam ke wilayah Nusantara, banyak bermunculan kerajaan Islam di wilayah Nusantara. Begitu juga di pulau Jawa banyak kerajaan–kerajaan islam seperti Demak, Banten, Mataram baru, dll. Salah satu kerajaan Islam tertua di Jawa adalah kerajaan Demak yang berada di Demak , Jawa Tengah. Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1475 di dirikan oleh Raden Patah . Kerajaan Demak meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah yang masih dapat kita lihat sampai sekarang terutama adalah masjid demak , yang berdiri pada tahun 1477 dan di bangun oleh Wali Songo secara bersama–sama yang mitosnya di bangun hannya pada satu malam.

Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta - pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Ibu Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika Majapahit melemah dan terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. Berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.

SEJARAH MASJID DEMAK

Menurut legenda, masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama-sama dalam tempo satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”, sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479. Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.

Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat antakusuma, yaitu sebuah bungkusan yang konon berisi baju “hadiah” dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu. Memasuki pertengahan abad XVII, ketika kerajaan Mataram berdiri, pemberontakan pun juga mewarnai perjalanan sejarah kekuasaan raja Mataram waktu itu.

Sejarah yang sama juga melanda kerajaan Demak. Kekuasaan baru yang berasal dari masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam disekitar tahun 1500 bernama Raden Patah dan berkedudukan di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain yang telah Islam (seperti Gresik, Tuban dan Jepara), ia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Demak. Namun keberadaan kerajaan Demak tak pernah sepi dari rongrongan pemberontakan. Dimasa pemerintahan raja Trenggono, walau berhasil menaklukkan Mataram dan Singasari. Tapi perlawanan perang dan pemberontakan tetap terjadi di beberapa daerah yang memiliki basis kuat keyakinan Hindu. Sehingga daerah Pasuruan serta Panarukan dapat bertahan dan Blambangan tetap menjadi bagian dari Bali yang tetap Hindu. Di tahun 1548, raja Trenggono wafat akibat perang dengan Pasuruan.

Kematian Trenggono menimbulkan perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya bernama pangeran Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549). Sang adik berjuluk pangeran Seda Lepen terbunuh di tepi sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang. Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai orang, sehingga timbul pemberontakan dan kekacauan yang datangnya dari kadipaten-kadipaten. Apalagi ketika adipati Japara yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari adipati Japara berjuluk Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya melakukan pemberontakan dalam bentuk gerakan melawan Arya Panangsang. Salah satu dari adipati yang memberontak itu bernama Hadiwijoyo berjuluk Jaka Tingkir, yaitu putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono yang masih ada hubungan darah dengan sang raja. Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil membunuh Arya Penangsang. Dan oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja pertama di Pajang. Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak.

KEISTIMEWAAN MASJID AGUNG DEMAK

Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro. 

Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika Raden Patah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di sebelah barat daya.

Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.

Masjid ini memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna, yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar-Nya.

Bentuk bangunan masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah. Dan ada satu keistimewahan satu buah tiang yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal). Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreatifitas masyarakat pada saat itu. 

Di samping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu, seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.

Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung dan alun-alun.

LETAK DAN STRUKTUR BANGUNAN MASJID AGUNG DEMAK

Masjid Agung Demaki terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa. Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah. Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan “Condro Sengkolo”, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.


Bookmark and Share

Inilah Hubungan Magis Merapi-Keraton-Laut Kidul

0 comments

Gunung Merapi berada di jalur kosmologis penting dalam kultur Jawa. Gunung api aktif itu berada dalam satu poros Utara-Selatan Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan atau Samudera Hindia. 

Hubungan magis dan historis Gunung Merapi dengan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah bergabung dengan Republik Indonesia itu diwakili dengan kehadiran Mbah Maridjan. 

Pria 83 tahun yang ditemukan wafat dalam posisi sujud di dapur kediamannya pada Rabu (27/10) sekitar pukul 05.00 itu menjadi juru kunci Gunung Merapi. Posisinya itu didapatkan berdasarkan amanah yang dia terima dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ayahanda Sultan Hamengkubuwono X yang kini memegang tampuk Keraton Yogyakarta dan DIY. Diapun mendapat gelar Mas Penewu Surakso Hargo.

Gunung Merapi dipercaya sebagai pusatnya kerajaan mahluk ghaib di Tanah Jawa. Penempatan Juru Kunci itu dipercaya sebagai perutusan untuk menjaga harmoni hubungan antara kerajaan ghaib dan kerajaan manusia (Jawa). Antara manusia dan alam semesta. 

Secara periodik, sang juru kunci memimpin upacara adat atau ritual tradisional di puncak atau lereng Merapi. Ritual itu biasanya diadakan bersamaan dengan peringatan pengukuhan Sultan Yogyakarta. 

Bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa kuno, Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton Yogyakarta mengandung pemahaman kosmologi tersendiri. Dalam kosmologi Jawa, kehidupan di dunia merupakan sebuah harmoni antara mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede). 

Keharmonisan itu harus dijaga satu sama lain, tidak boleh terjadi ketimpangan. Gunung Merapi dan Laut Selatan dipercaya sebagai pusat kedudukan mikrokosmos itu. Sedangkan Keraton merupakan pusat makrokosmos. 

Merapi di utara dipercaya sebagai pusat raja jin dan Samudra Indonesia di selatan diyakini sebagai pusat tahta Ratu Kidul. Itulah mengapa penghuni Keraton selalu melakukan upacara labuhan di Merapi dan Laut Selatan. Di sinilah peran Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi memegang peranan penting. 

Bagi Keraton Yogyakarta, Merapi menjadi simbol kosmologis yang membentuk poros sakral Utara-Selatan. Puncak Merapi sebagai poros Utara yang kemudian ke Laut Selatan melintasi Monumen Tugu di dekat Stasiun Kereta Api terus sepanjang Jalan Malioboro. 



Dari Jalan yang kesohor itu, garis kosmik Poros Utara-Selatan itu membentang ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul sebelum akhirnya menuju Laut Selatan yang dalam masyarakat Jawa diyakini di bawah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Konon, penguasa Laut Kidul itu menjadi selir setiap Sultan Yogyakarta. Sumber.

Bookmark and Share

‘TRINITAS’ MERAPI – KERATON YOGYA – LAUT SELATAN

0 comments

Dalam literatur Jawa, terdapat kepercayaan tentang ‘trinitas’ antara Gunung Merapi, Keraton Yogya dan Laut Pantai Selatan. Banyak kepercayaan yang beredar bahwa hubungan ketiga hal tersebut adalah terkait dengan kekuatan sang penguasa Jin di daerah tersebut.

Benarkah demikian?

Biarlah hal tersebut menjadi mitos yang dapat menjaga budaya seperti apa adanya. Saya akan menulis kaitan ketiga hal tersebut dari sisi filosofi yang bisa dimaknai, sehingga berguna bagi kehidupan saat ini.

Posisi dan letak keraton Yogyakarta mempunyai arti filosofis yang sangat dalam, dengan diletakkannya keraton Yogya pada poros tengah antara laut selatan dan gunung merapi.

Dalam mitos diceritakan bahwa sejak dari Panembahan Senopati sampai turunan raja-raja Yogya, telah memperistri Ratu Pantai Selatan dan mempersembahkan sesajian kepada penguasa Gunung Merapi sebagai legalitas otentik kerajaannya.

Apa yang akan disampaikan oleh ilmuwan kerajaan Mataram saat itu tentang simbolik tersebut?

Sebagai seorang Raja, memperistri seorang Ratu adalah melebur menjadi satu dalam kedua kekuasaan, dan jelas bahwa kekuasaan Raja lebih tinggi dari Ratunya. Perkawinan tersebut bukanlah perkawinan real, namun perkawinan imajiner atau simbolik yang akan menyampaikan makna bahwa sebuah kekuasaan harus melingkupi hubungan ke bawah dengan simbolis ‘air’.

Diawali dari Panembahan Senopati, seorang Raja juga mempersembahkan sesaji kepada penguasa Gunung Merapi. Hal inipun bukan merupakan sesaji real, namun juga merupakan gerakan ‘imajiner’ atau simbolik yang akan menyampaikan pesan bahwa sebuah kekuasaan juga akan bertumpu kepada sesuatu yang lebih tinggi yang digambarkan dengan simbolis ‘gunung’.

Posisi Merapi bagi Yogyakarta mempunyai peranan penting yang disakralkan.

Hal tersebut bisa kita uraikan dari sumbu imajiner yang tercipta berawal dari Pantai Selatan. ‘Trinitas’ antara MerapiKeraton YogyaLaut Selatan, merupakan proses sebuah kehidupan manusia yang berjalan dari awal hidupnya menuju sebuah kesempurnaan hidup.

Berawal dari Laut Selatan yang dikuasai oleh seorang ratu dimana kerajaan Laut Selatan digambarkan sangat kaya, maka ini merupakan sebuah symbol bahwa kehidupan awal manusia penuh dengan godaan dari Harta, tahta, dan wanita.

Perjalanan ini menempuh sumbu imajiner menuju ke pusat atau inti kehidupan dengan letak dari keraton Yogyakarta. Setelah melewati masa godaan di kehidupan awal, maka proses kehidupan digambarkan mencari kenyamanan hidup dengan adanya sebuah pasar besar yang bernama ‘Bringharjo’.

Proses kehidupan tersebut kemudian berlanjut menuju sesuatu yang lebih tinggi, yaitu dengan symbol sebuah gunung.

Poros sumbu imajiner antara MerapiKeraton YogyaLaut Selatan, tentu saja dengan sengaja diciptakan sebagai bahan refleksi bagi rakyat Yogyakarta. Seorang Raja Yogya digambarkan sebagai seseorang yang telah menguasai Laut Selatan dan Gunung Merapi, yang mempunyai arti bahwa Raja telah menjadi panutan untuk melampaui semua proses kehidupan tersebut.

Penguasaan dari Laut Selatan adalah penguasaan dari kesadaran rendah manusia yang berisi ambisi, ketamakan, egoisme, dan segala gerakan badaniah manusia. Sedangkan penguasaan dari gunung Merapi, adalah penguasaan dari kesadaran tinggi yang selau harus hening dan wening. Sumber.
Bookmark and Share

Kraton Jogja

0 comments

Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat tinggal raja, namun juga menjadi penjaga nyala kebudayaan Jawa. Di tempat ini Anda dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya tetap dilestarikan di tengah laju perkembangan dunia.

KRATON YOGYAKARTA - Museum Hidup Kebudayaan Jawa dan Tempat Tinggal Raja Jogja

Lonceng Kyai Brajanala berdentang beberapa kali, suaranya tidak hanya memenuhi Regol Keben namun terdengar hingga Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta. Sedangkan di Sri Manganti terdengar lantunan tembang dalam Bahasa Jawa Kuna yang didendangkan oleh seorang abdi dalem. Sebuah kitab tua, sesaji, lentera, dan gamelan terhampar di depannya. Beberapa wisatawan mancanegara tampak khusyuk mendengarkan tembang macapat, sesekali mereka terlihat menekan tombol shutter untuk mengambil gambar. Meski tidak tahu arti tembang tersebut, saya turut duduk di deretan depan. Suara tembang jawa yang mengalun pelan bercampur dengan wangi bunga dan asap dupa, menciptakan suasana magi yang melenakan. Di sisi kanan nampak 4 orang abdi dalem lain yang bersiap untuk bergantian nembang. Di luar pendopo, burung-burung berkicau dengan riuh sambil terbang dari pucuk pohon sawo kecik yang banyak tumbuh di kompleks Kraton Yogyakarta kemudian hinggap di atas rerumputan.

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Di tempat ini wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa terus hidup serta dilestarikan. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak akibat gempa besar pada tahun 1867, bangunan Kraton Yogyakarta tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik.

Mengunjungi Kraton Yogyakarta akan memberikan pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Kraton yang menjadi pusat dari garis imajiner yang menghubungakn Pantai Parangtritis dan Gunung Merapi ini memiliki 2 loket masuk, yang pertama di Tepas Keprajuritan (depan Alun-alun Utara) dan di Tepas Pariwisata (Regol Keben). Jika masuk dari Tepas Keprajuritan maka wisatawan hanya bisa memasuki Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil serta melihat koleksi beberapa kereta kraton sedangkan jika masuk dari Tepas Pariwisata maka Anda bisa memasuki Kompleks Sri Manganti dan Kedhaton di mana terdapat Bangsal Kencono yang menjadi balairung utama kerajaan. Jarak antara pintu loket pertama dan kedua tidaklah jauh, wisatawan cukup menyusuri Jalan Rotowijayan dengan jalan kaki atau naik becak.

Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari wayang orang, macapat, wayang golek, wayang kulit, dan tari-tarian. Untuk menikmati pertunjukkan seni wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Jika datang pada hari selasa wage, Anda bisa menyaksikan lomba jemparingan atau panahan gaya Mataraman di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam rangka tinggalan dalem Sri Sultan HB X. Keunikan dari jemparingan ini adalah setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan memanah dengan posisi duduk.

Usai menikmati pertunjukan macapat, YogYES pun beranjak mengitari kompleks kraton dan masuk ke Museum Batik yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Koleksi museum ini cukup beragam mulai dari aneka kain batik hingga peralatan membatik dari masa HB VIII hingga HB X. Selain itu di museum ini juga disimpan beberapa koleksi hadiah dari sejumlah pengusaha batik di Jogja maupun daerah lain. Saat sedang menikmati koleksi museum, pandangan YogYES tertuju pada salah satu sumur tua yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Di atas sumur yang telah ditutup menggunakan kasa alumunium tersebut terdapat tulisan yang melarang pengunjung memasukkan uang. Penasaran dengan maksud kalimat tersebut YogYES pun mendekat dan melihat ke dalam sumur, ternyata di dasar sumur terdapat kepingan uang logam dan uang kertas yang berhamburan.

Puas berjalan mengitari Kraton Yogyakarta, YogYES pun melangkahkan kaki keluar regol dengan hati riang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, terlihat sebuah papan nama yang menawarkan kelas belajar nembang / macapat, menulis dan membaca huruf jawa, menari klasik, serta belajar mendalang. Rupanya di Kompleks Kraton Yogyakarta ada beberapa tempat kursus atau tempat belajar budaya serta kesenian Jawa. YogYES pun berjanji dalam hati, suatu saat akan kembali untuk belajar mengeja dan menulis huruf hanacaraka maupun belajar menari.

Jam Buka: 08.00 - 14.00 WIB

Tiket masuk:
  • Tepas Kaprajuritan: Rp. 3.000
  • Tepas Pariwisata: Rp. 5.000
Ijin kamera/video: Rp. 1.000

Jadwal pertunjukan harian di kraton
  • Senin - Selasa: Musik gamelan (mulai jam 10.00 WIB)
  • Rabu: Wayang golek menak (mulai jam 10.00 WIB)
  • Kamis: Pertunjukan tari (mulai jam 10.00 WIB)
  • Jumat: Macapat (mulai jam 09.00 WIB)
  • Sabtu: Wayang kulit (mulai jam 09.30 WIB)
  • Minggu: Wayang orang & pertunjukan tari (mulai jam 09.30 WIB)

Bookmark and Share

Misteri Gunung Merapi

0 comments

GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.

Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.

Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. 

Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.

Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah. Sumber : harian pos metro balikpapan.


Bookmark and Share

Misteri Benang Merah Kerajaan Mataram dan Gunung Merapi

0 comments

Sutawijaya adalah putra sulung pasangan Ki Ageng Pamanahan dan Nyai Sabinah, Sutawijaya juga diambil anak angkat oleh Hadiwijaya bupati Pajang sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijaya dan istrinya belum dikaruniai anak oleh yang kuasa ( di Jawa jika seorang suami istri belum dkaruniai anak ada kepercayaan jika mengasuh anak orang akan segera dikaruniai anak juga ( umpan).

Pada tahun 1549 Hadiwijaya mengadakan sayembara untuk menumpas AryaPenangsang. Arya Penangsang adalah Bupati Jipang panolan yang membunuh Sunan Prawoto raja terahir kesultanan Demak.

Sutawijaya di ajak ayah kandungnya berperang melawan Arya Penangsang padahal waktu itu usia Sutawijaya masih belasan tahun, sebenarnya mengajak Sutawijaya ikut berperang tak lain supaya ayah angkat dari Sutawijaya yakni Hadiwijaya supaya kasihan dan mengirimkan sebagian pasukan pajang untuk membatu bertempur melawan Arya Penangsang.

Strategi Ki Ageng pamanahan pun berhasil membuat Hadiwijaya mengirimkan bantuan dalam pertempuran melawan Arya Penangsang, dan akhirnya Arya Penangsang berhasil dibunuh oleh Sutawijaya, akan tetapi laporan tewasnya Arya Penangsang sedikit di palsukan yakni Arya Penangsang berhasil dibunuh dengan cara dikeroyok oleh Ki Ageng Pamanahan dan Ki Panjawi, karena dihawatirkan jika Sultan Hadiwijaya mengetahui kisah sebenarnya ( bahwa yang membunuh bupati Jipang panolan adalah anak angkatnya sendiri) dihawatirkan ia akan lupa memberikan hadiah dari sayembara yang di adakan.

Sebagai hadiah dari sayembara tersebut Ki Panjawi mendapat tanah pati dan menjadi bupati disana sejak 1549, sedangkan Ki Ageng Pamanahan baru mendapatkan tanah Mataram tahun 1556, sepeninggalan Ki Ageng pamanahan tahun 1575, Sutawijaya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin Mataram yg bergelar Senapati Ingalaga yang artinya panglima medan perang.

Sejarah Buku vs Cerita Mistik Rakyat

Setelah sutawijaya memimpin mataram dia ingin memerdekakan Mataram dari Pajang,  akan tetapi pada saat mendirikan benteng-benteng banyak para prajuritnya yang tewas secara tidak wajar. Melihat kejadian yang janggal ini  Sutawijaya akhirnya bertapa disebuah gua di dekat laut kidul (pantai selatan). Tirakat yang sungguh-sungguh dari Sutawijaya ini pun dilihat oleh Ratu Pantai Selatan dan berniat untuk menguji Sutawijaya dengan mengirim para panglima kerajaan pantai selatan, namun semuanya kembali dengan nihil,  niat Sutawijaya tidak tergoyahkan kemudian Sang Ratu Pantai Selatan pun turun tangan sendiri untuk menguji Sutawijaya.

Pertama Ratu Pantai Selatan datang dengan berwujud naga api menyembur menghampiri Sutawijaya akan tetapi Sutawijya tidak takut sama sekali kemudian sang ratu menghampiri Sutawijaya dengan berwujud gadis cantik tanpa mengenakan sehelai pakaianpun. Melihat gadis cantik tanpa busana yang melekat pada tubuhnya membuat iman Sutawijaya sedikit goyah namun akhirnya dia kembali fokus dan meng acuhkan sang ratu tersebut, akhirnya Ratu Laut Selatan kembali kewujud aslinya dan menanyakan apa keinginan Sutawijaya.

Sutawijaya pun menceritakan prihal pertapanya tersebut dan ratu kidul/selatan pun menyanggupi untuk mengusir penunggu tanah kerajaan Sutawijaya ( yang merupakan anak buah ratu kidul sendiri), tapi dengan syarat kamu (Sutowijoyo) dan 7 anak temurun yang menjadi raja Mataram harus menikah denganku (Ratu Pantai Selatan) maka aku akan menjaga kerajaan mataram sampai 7 turunan Sutawijaya pun menyetujui syarat dari Ratu Pantai Selatan tersebut Kemudian Sutawijaya bertanya kepada Ratu Pantai Selatan ” kemanakah perginya penunggu itu? ”Ratu Pantai Selatan menjawab ” kegunung sekitar Jogjakarta”

Maka Sutawijya menyuruh bawahannya untuk bertugas sebagai Kunci di gunung sekitar Yogyakarta. Jadi tugas juru kunci gunung di sekitar Yogjakarta adalah sebagai pengawas anak buahnya Ratu Kidul agar mengetahui jika terjadi masalah di Gunung Merapi.

Bookmark and Share

Indahnya Lautan Bunga di Daratan Gersang Afrika

0 comments

Cape Town – Benua Afrika rupanya tidak identik dengan tanah kering kerontang. Di Afrika Selatan, daerah gersang bisa berubah menjadi lautan bunga yang menawan. Penasaran?Namaqualand membentang sepanjang 970 km di pesisir barat Cape Town, dan memiliki luas area sekitar 440.000 km2. Selama musim panas, dataran tersebut terlihat sangat kering dangersang.

Namun saat musim semi datang, padang yang tandus ini terlihat sangat cantik dan menawan dengan warna-warni beragam bunga.Sulit memang untuk wisatawan membayangkan, bagaimana mungkin di tanah gersang seperti Namaqualand bisa ada gurun bunga yang cantik. Mengutip situs resmi Namaqualand, Jumat (12/10/2012), setelah hujan musim dingin, warna-warni bunga menghiasi dataran yang tandus ini.







Bunga-bunga yang tumbuh liar ini pun menjadi panorama lain yang mengagumkan di Namaqualand.Ingin melihat cantiknya lautan bunga di daratan Afrika Selatan yang gersang ini? Sebaiknya, wisatawan datang ke destinasi ini pada bulan Juli hingga Oktober setiap tahunnya. Sekitar 4.000 jenis bunga bermekaran di wilayah tersebut. Keindahan alam yang unik ini pun tersohor hingga ke luar Afrika Selatan.

Musim dimana bunga-bunga liar ini bermekaran dikenal dengan sebutan musim bunga aster Namaqualand.Menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam dari Cape Town. Traveler sudah bisa melihat hamparan bunga liar yang cantik mulai dari West Coast National Park di Langebaan. Akan tetapi, panorama sesungguhnya bisa wisatawan lihat saat memasuki Kota Garies, Springbok, Kamieskroon, dan Port Nolloth. Tidak hanya itu, Richtersveld National Park, Goegap Nature Reserve, Skilpad Wild Flower Reserve juga menjadi bagian yang sangat menarik dan ‘wajib’ dilihat.

Ya, traveler bisa melihat lautan bunga di seluruh area Namaqualand, pesisir barat Cape Town, Olifants River Valley, dan kota-kota seperti Citrusdal, Clanwilliam, Lamberts Bay, Nieuwoudtville serta Vredendal. Masukan beberapa nama destinasi ini dan Anda bisa melihat bunga-bunga yang sangat cantik. Dijamin, perjalanan Anda di Afrika Selatan tidak akan mengecewakan.

Bunga aster oranye putih serta ratusan bunga lainnya, tumbuh dan bermekaran di lahan yang sebelumnya sangat tandus dan gersang ini. Namun, keragaman jenis serta cerahnya warna bunga-bunga ini tergantung pada debit hujan yang turun selama musim penghujan.Berhenti dan mampir di pusat informasi pariwisata sangat diajurkan dalam perjalanan Anda di Namaqualand.

Hal ini bertujuan agar Anda dan traveler lainnya benar-benar bisa melihat panorama tercantik dari lautan bunga ini.Ketika sampai di Namaqualand, banyak cara yang bisa traveler lakukan untuk menikmati keindahan gurun bunga ini. Tidak melulu harus menggunakan mobil, pelancong juga bisa melakukan hiking atau bersepeda melewati rute yang sudah disediakan.Serunya lagi wisatawan juga bisa bermalam di area ini. Wisatawan bisa memilih Goegap Nature Reserve yang menyediakan lokasi piknik dan fasilitas untuk bermalam. Jangan berpikir, hanya bisa melihat padang savana atau dataran yang tandus saja. Afrika juga punya padang bunga yang mempesona!

Bookmark and Share