Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan

Prasasti Waharu IV

0 comments
Prasasti Waharu IV terdiri dari enam lempeng tembaga berukuran 36 cm x 10 cm. Setiap lempeng memuat 7 baris tulisan yang ditulis pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama.

Prasasti yang ditemukan di daerah Gresik, Jawa Timur, merupakan prasasti dari Raja Pu Sindok yang disalin kembali pada masa Majapahit. Kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan nomor E 20 a-f. Prasasti ini telah dialihaksarakan oleh A.B. Cohen Stuart (1875) dalam KO, prasasti nomor 7; serta Boechari dan A.S. Wibowo (1985/1986) dalam Prasasti Koleksi Museum Nasional.

Sumber:
§   Nastiti, Titi Surti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, hal. 138

Bookmark and Share

Prasasti Turyyan

0 comments
Prasasti batu yang masih in situ ditemukan di Dukuh Watugedeg, Desa Tanggung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Prasasti ini berukuran: tinggi 130 cm, lebar 118 cm, dan tebal 21 cm. Bertulisan pada kedua sisinya, sisi depan berjumlah 43 baris dan sisi belakang berjumlah 32 baris.

Prasasti Turyyan telah dialihaksarakan dan dibahas secara ringkas oleh J.G. de Casparis (1988) dalam tulisannya yang berjudul “Where Was Pu Sindok’s Capital Situated?”, Studies in South and Southeast Asian Archaeology No. 2:39-52.

Sumber:
§   Nastiti, Titi Surti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, hal. 144

Bookmark and Share

Prasasti Muncaŋ

0 comments
Prasasti Dinoyo | Batu Gores | Prasasti Muncang

Источник:http://pesonamalangraya.com/?p=1451
 
Prasasti Muncaŋ berangka tahun 866 Saka (944 M). Prasasti pada batu, tadinya disimpan di Kantor Seksi Kebersihan/Asrama Pemadam Kebakaran, Kota Malang, Jawa Timur. Ketika semua arca dan prasasti dipindahkan ke Museum Angkatan Darat Senaputra, prasasti tersebut dipindahkan ke rumah Bapak Agus Suminta (almarhum), mantan Kepala Kantor Seksi Pemadam Kebakaran.

Prasasti Muncaŋ berukuran: tinggi 143 cm, lebar 99 cm, dan tebal 22 cm; ditulis pada keempat sisinya. Sebagian alihaksaranya telah diterbitkan oleh Branders – Krom dalam OJO. Oleh karena prasasti ini belum sempat dibaca ulang, maka alih aksaranya dikutip dari OJO, prasasti nomor 51.

Sumber:
§   Nastiti, Titi Surti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, hal. 150

Bookmark and Share

Prasasti Anjukladang

0 comments

Prasasti Anjukladang berangka tahun 859 Saka atau 937 Masehi. Sayang sekali bahwa prasasti ini belum terbaca seluruhnya karena disebabkan tulisan-tulisan yang terpahat mengalami keausan, terutama pada bagian atas prasasti. Namun dari beberapa tulisan yang tidak mengalami aus dapat kiranya didapatkan keterangan sebagai berikut:

Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan (?) di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada bathara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta, dharma dari Samgat Anjukladang.

Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatera) ke Mataram Kuna yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. Atas jasanya yang besar, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Selain itu, prasasti ini juga berisi tentang adanya sebuah bangunan suci. 

Dalam makalahnya yang berjudul “Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia”, de Casparis mengatakan bahwa dalam prasasti itu juga disebutkan bahwa Raja Pu Sindok mendirikan tugu kemenangan (jayastambha) setelah berhasil menahan serangan raja Malayu, dan pada tahun 937 M, jayastambha tersebut digantikan oleh sebuah candi. Kemungkinan besar bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti ini adalah bangunan Candi Lor yang terbuat dari bata yang terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, di dekat Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Kutipan isi prasasti Anjukladang yang menyebutkan hal itu: A. 14 – 15: …parnnaha nikanaŋ lmah uŋwana saŋ hyaŋ prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniraŋlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu (= di tempat ini [yang telah terpilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan, [di sanalah] pertamakali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya raja dari Malayu).

Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta dengan Nomor Inventaris D.59.

Bookmark and Share

Prasasti Adan-Adan

0 comments

Prasasti Adan-Adan terdiri atas 17 lempeng tembaga berukuran panjang 37,5 cm, lebar 12 cm dan tebal 4mm, sedangkan ukuran hurufnya adalah tinggi 7 mm dan lebar 6 mm. Setiap lempeng memuat 4 baris tulisan yang ditulis dengan huruf Jawa Kuna.

Prasasti yang ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur oleh Pak Mardjuki dengan kedalaman 0,50 meter dari permukaan tanah sekitarnya.

Prasasti Adan-Adan kini disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, Jawa Timur namun replikanya akan dibuat dan ditaruh di Museum Rajekwesi, Bojonegoro, Jawa Timur.

Isi Prasasti:

1.    Pertanggalan: tertulis tahun 1223 Çaka (1301 Masehi), ditulis pada hari Sanaiscara (Sabtu), pasaran Umanis (Legi), tanggal 15 (Pancadasi) bagian bulan gelap (Krsnapaksa) dalam bulan Srwana, wuku Madangkungan, dewanya Pitr (Pitr-dewata), yoganya Siwa (Siwa-yoga).
2.  Nama Raja: nama kecil raja disebut Nararyya Sanggramawijaya, nama setelah dinobatkan Krtarajasa Jayawardhana. Disebut nama gelar: Sri Jayakatyengrajati-ripujaya (penghancur raja Jayatyeng).
3.  Nama Permaisuri Raja: kesemuanya putri raja Kertanegara, di antaranya: Sri Bhuwanaswari (sebagai parameswari), Sri Rajendradewi (sebagai Sri Mahadewi), Prajnyaparamita (sebagai Jayandradewi).
4.    Jabatan: beberapa pejabat tinggi kerajaan, di antaranya: Rakryan Mantri Hino,Rakryan Mantri Sirikan dan Rakryan Mantri Halu.
5.   Penetapan Pembebasan Tanah (Sawah) di Adan-Adan dari kewajiban membayar pajak. Maksudnya Desa Adan-Adan diangkat statusnya menjadi sebuah sima atau daerah perdikan atau daerah swatantra. Daerah ini diberikan kepada seorang Pendeta Raja (Pendeta Kraton) atau seorang Rajarsi. Karena Sang Rajarsi telah berbakti kepada Raja Krtarajasa, mengikuti segala penderitaan raja (walkaladhari/memakai pakaian kulit kayu), bertingkahlaku susila (sila suddhacara) taat menjalankan ibadah agama (dharmacintana).
6.    Batas-batas Desa Adan-Adan sebagai tanah lungguh, yaitu: Desa Tinawun, Kawengan, Jajar, Patambangan, Tambar, Padasan, Punten, Rakameng, Kubwan-agede (Kebo-gede), Paran, Panjer dan Sanda.
7.   Kalimat Kutukan bagi siapa saja yang berani merubah putusan raja akan digigit ular, disambar petir, diterkam harimau, pecah kepalanya, keluar ususnya. 

Bookmark and Share

Prasasti Mulawarman

0 comments

Bukti tertua yang sampai kini ditemukan, tetang kehidupan bernegara bangsa kita berupa tugu-tugu batu, yang sering disebut yupa. Tugu-tugu batu itu ditemukan dekat Muara Kaman di tepi sungai Mahakam di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Tugu-tugu batu tersebut merupakan paiagam yang ditulis dengan huruf Pallawa (India Selatan) dan bahasa yang dipergunakan adalah Sansekerta.

Tulisan-tulisan pada tugu-tugu itu menceritakan, antara lain bahwa kira-kira tahu 400 Masehi di daerah Kutai itu ada sebuah kerajaan. Raja yang mula-mula memerintah Kutai ialah Kudungga. Kemudian pemerintahan atas negara itu diteruskan oleh putranya, bernama Aswawarman. Aswawarman mempunyai putra bernama Mulawarman.

Pada zaman Raja Mulawarman itulah tugu-tugu tersebut didirikan atas perintahnya. Oleh karena itu, prasasti tersbut juga disebut sebagai Prasasti Mulawarman. Ada tujuah buah tiang batu dalam Prasasti Mulawarman. Isinya selain menceritakan silsilah raja di Kerajaan Kutai, juga mengisahkan tentang sikap kedermawanan Raja Mulawarman yang telah menyedekahkan 20.000 ekor lembu untuk para brahmana.

Dalam salah satu petikan dari prasasti ketiga, disebutkan, “… biarlah mereka mendengar tentang hadiahnya (Raja Mulawarman) yang luar biasa, ternak, pohon keajaiban, dan tanah. Karena banyakanya perbuatan saleh, tiang pengurbanan ini didirikan oleh para pendeta.”

Bookmark and Share

Prasasti Tugu

0 comments

Prasasti ini ditemukan di tepi sungai Cakung, daerah Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Informasi sejarah yang terdapat di dalam Prasasti Tugu paling lengkap dan panjang apabila dibandingkan dengan prasasti-prasasti Tarumanegara yang lain.

Petikan prasasti tersebut antara lain menyebutkan sebagai berikut:

Sebelum Candrabhaga (Kali Bekasi) digali oleh raja diraja, sang Guru yang bertangan kuat, setelah sampai di kota terkenal, masuk ke laut. Pada tahun ke-22 tahtanya yang semakin makmur, Purnawarman – yang bersinar karena kemakmuran dan kebaikannya serta yang menjadi panji raja-raja manusia – menggali Sungai Gomati yang indah  dan bersinar dan berisi air bersih, panjang 6.122 tombak digali dalam 21 hari, dimulai pada paruh gelap hari ke-8 bulan Phalguna dan selesai pada paruh terang hari ke-13 bulan Caitra. Sungai itu melintasi tanah kediaman Sang Kakek dan Penasihat Kerajaan, kini mengalir setelah didoakan oleh para pendeta dengan persembahan seribu ekor sapi.”

Bookmark and Share

Prasasti Lebak

0 comments

Prasasti ini ditemukan di Kampung Lebak, di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1947, berisi pujian akan kebesaran dan keberanian Raja Purnawarman. Namun, prasasti yang ditulis dalam bentuk puisi dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta ini hanya terdiri atas dua baris.


Bookmark and Share

Prasasti Kedukan Bukit

0 comments

Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Talang, dekat Kota Palembang pada tahun 1920, berangka tahun 605 Saka atau 683 Masehi.

Isinya antara lain menceritakan sidayatra atau perjalanan suci yang dilakukan Dapunta Hyang. Perjalanan Dapunta diawali dari Minangatamwan menggunakan perahu dengan 200 peti perbekalan. Dalam perjalanannya Dapunta membawa 20.000 tentara dan berhasil menaklukkan beberapa daerah. Perjalanan ini berakhir di mukha-p- dan kemudian mendirikan wanua atau perkampungan yang diberi nama Sriwijaya.

Bookmark and Share

Prasasti Talang Tuo

0 comments

Prasasti Talang Tuo ditemukan di Desa Gandus, sebelah barat Kota Palembang, berangka tahun 606 Saka atau 684 Masehi.

Isinya antara lain menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua penduduk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budhha Mahayana.

Bookmark and Share

Prasasti Kota Kapur

0 comments

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka pada bulan Desember 1892 oleh J.K. van der Meulen.

Prasasti tersebut antara lain berisi upaya penaklukan Sriwijaya terhadap Jawa. Selain itu, berisi pula persumpahan dan ancaman kutukan mati bagi siapa saja yang tidak setia, mencoba memberontak, atau tidak hormat kepada Kedatuan Sriwijaya. Dalam bagian akhir prasasti ini ditulis:

Dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka! Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waishaka, pada saat itulah kutukan ini diucapkan, pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya.” 

Bookmark and Share

Prasasti Canggal

0 comments

Prasasti ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah dan berangka tahun 732 Masehi dengan menggunakan huruf Pallawa serta bahasa Sanskerta.

Dalam prasasti ini diceritakan pembangunan lingga (lambang Syiwa) di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Selain itu, disebutkan pula bahwa yang menjadi raja pertama adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya. Sanjaya disebut sebagai raja yang gagah berani karena mampu menaklukkan musuh-musuhnya.

Bookmark and Share

Prasasti Dinoyo

0 comments


Prasasti ini ditemukan di Desa Dinoyo (Kota Malang bagian barat laut), berangka tahun 760 Masehi, bertuliskan huruf Kawi dan berbahasa Sansekerta.

Prasasti ini menceritakan, bahwa dalam abad ke-8 itu ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (Desa Kejuron sekarang) dengan raja bernama Dewasimha. Ia berputera Limwa, yang setelah menggantikan ayahnya menjadi raja bernama Gajayana. Ia mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya. Arcanya sendiri yang melukiskan Agastya ini, yang dahulunya dibuat dari kayu cendana, ia ganti dengan arca batu hitam.

Peresmian arca ini dilakukan dalam tahun 760 Masehi itu, dan upacara dilakukan oleh pendeta-pendeta ahli Weda. Pada kesempatan itu sang raja menghadiahkan tanah, lembu, budak-budak dan segala apa yang diperlukan untuk melangsungkan upacara. Pun disuruhnya orang mendirikan bangunan untuk keperluan para brahmana dan para tamu.

Bookmark and Share

Prasasti Mantyasih

0 comments

Prasasti ini ditemukan di Mantyasih, Kedu, berangka tahun 907 Masehi dan ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Prasasti Mantyasih berupa tiga buah prasasti. Sebuah dipahatkan pada batu (D.10) yang kini disimpan di Museum Nasional dengan nomor D 40, yang merupakan bagian awal prasasti.

Sebuah lagi dipahatkan pada satu lempeng tembaga yang kini disimpan di Museum Nasional dengan nomor E 19 yang merupakan bagian tengah dari suatu prasasti, dan sebuah lagi, yang terlengkap disimpan di Museum Radyapustaka, Surakarta, terdiri dari dua lempeng tembaga. Mengenai prasasti yang disimpan di Museum Radyapustaka, seorang arkeolog Titi Surti Nastiti, pernah mengeceknya, tapi ternyata prasasti tersebut sudah tidak ada lagi.

Prasasti tersebut antara lain menyebutkan silsilah raja-raja Mataram. Nama raja yang ditulis antara lain Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Gerung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Ratu Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. 

Bookmark and Share

Prasasti Biluluk

0 comments
Prasasti Biluluk terdiri dari empat lempeng tembaga dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna. Prasasti ini terdiri atas:
  • ·         Biluluk I berangka tahun 1288 Saka (1366 M)
  • ·         Biluluk II berangka tahun 1315 Saka (1383 M)
  • ·         Biluluk III beangka tahun 1317 Saka (1385 M)
  • ·         Biluluk IV tidak berangka tahun
Isi prasasti Biluluk I sampai III sama, yaitu menyebutkan hak-hak yang dimiliki oleh Desa Biluluk dan Tanggulan. Pada prasasti keempat, selain menyebutkan nama Desa Biluluk dan Tanggulan, juga menyebutkan nama satu desa lagi, yakni Desa Papadang.

Selain itu, dari prasasti Biluluk I diketahui adanya keterangan mengenai pembuatan garam di daerah pesisir. Dalam prasasti tersebut, disebutkan adanya sumber air asin di Desa Biluluk, tempat orang-orang membuat garam. Setiap pendatang diperbolehkan membuat garam di tempat itu dengan membayar sejumlah pajak tertentu yang ditarik oleh penguasa Desa Biluluk.

Prasasti Biluluk I ditemukan di Desa Bluluk, Lamongan, Jawa Timur, yang merupakan daerah pesisir. Sampai saat ini di beberapa desa di wilayah Lamongan, penduduknya masih ada yang membuat garam sebagai komoditi perdagangan.

Sumber:
  • Titi Surti Nastiti, 2003, Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII – XI Masehi, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. Hal. 89

Bookmark and Share

Prasasti Wukajana

0 comments
Prasasti Wukajana tidak berangka tahun. Dalam prasasti ini dituliskan beberapa barang niaga:

II.A (9) … tamwaga prakara kawah 1 dyun 1 daŋ 1 buri panliwêttan 1 tarai 1 papañnjutan (10) 1 saragi inuman 3 wsi-wsi prakara waduŋ 1 patuk patuk 1 twak 1 tampilan 1 kris 1 lukai 1 kampi (11) t 1 tatah 1 jara 1 gurumbhagi 1 pamajha 1 nakhaccheda 1 gulumi 1 siku siku 1 lingis 4 landuk 1 (= barang-barang dari tembaga [berupa] 1 cerek, 1 periuk, 1 dandaŋ, 1 buri (bejana), 1 panliwêttan, 1 talam, 1 pelita, seperangkat cepuk. Barang-barang dari perunggu (berupa) seperangkat gamelan, 1 baki, 3 perangkat tempat minuman. Barang-barang dari besi [berupa] 1 kapak, 1 beliung, 1 pedang, 1 tampilan, 1 keris, 1 sabit, 1 kampit, 1 tatah, 1 bor, 1 pisau, 1 ketam, 1 alat pemotong kuku, 1 sekop kecil, 1 siku-siku, 4 linggis, 1 parang).

Sekarang prasasti Wukajana disimpan di Museum Tropen, Amsterdam. Prasasti ini tidak ada angka tahunnya, akan tetapi menyebut Sri Maharaja Rakai Watukura.

Bookmark and Share

Prasasti Tangga Djamban

0 comments

Awalnya prasasti ini dianggap sebagai batu nisan biasa, karena memang kalau dilihat sepintas memang seperti batu nisan yang biasa bisa dijumpai di kompleks pemakaman orang Cina (bong). Prasasti ini berangka tahun 1873 dan bertuliskan aksara Mandarin.

Isi Prasasti:

Ini adalah lisjt dari sekoempoelan itoe orang-orang boediman berdjoemlah 81 orang jang soedah boleh melakoekan soeatoe perboewatan moelia oentoek mendoekoeng itoe oesaha dari sarikat Boen Tek Bio mengoempoelkan oeang sebesar 18.156 Toen (ringgit Belanda) oentoek melakoekan pemboeatan 30 (tiga poeloeh) boeah djalan dan joega bikin peraoe dan laennja. Batoe parengatan ini ditoeliskan pada taon kesebelas sewaktoe pemerentahan Kaisar Thong Tjie (masehi 1873). 

Bookmark and Share

Prasasti Sarangan

0 comments

Prasasti Sarangan berangka tahun 851 Saka (929 M) yang beraksara huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti yang terbuat dari batu ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.14.

Prasasti ini ditemukan di daerah Mojokerto, Jawa Timur, yang isinya menceriterakan tentang Desa Sarangan sebagi sima oleh Raja Rakai Hino Pu Sindok pada thun 851 Saka.

Bookmark and Share

Prasasti Jeru-Jeru

0 comments

Prasasti Jeru-Jeru berangka tahun 852 Saka (930 M). Prasasti batu yang ditemukan di daerah Singasari, Jawa Timur ini merupakan koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.70.

Prasasti ini mengisahkan bahwa pada tahun 852 Saka, Rakryan Hujung Pu Madhura memohon kepada Raja Isanawikramadharmottunggadewa agar daerah Jeru-Jeru dijadikan daerah sima

Bookmark and Share

Prasasti Taji Gunung

0 comments

Prasasti Taji Gunung berangka tahun 910 M dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti batu yang ditemukan di Taji, Jawa Tengah ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.6.

Prasasti ini menceritakan tentang peresmian Desa Taji Gunung menjadi sima oleh Sang Rakryan Mahamantri pada tahun 194 Sanjayawarsa.

Dari analisa seorang arkeolog, Boechari, dalam Rakryan Mahamantri I Hino Çri Sanggramawijaya Dharmaprasadattunggadewi (1965), Prasasti Taji Gunung dapatlah diperkirakan bahwa pergantian dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung kepada Rakai Hino Pu Daksa tidak berjalan dengan wajar. Apalagi jika dilihat bahwa di dalam Prasasti Taji Gunung itu Rakryan Mahamantri i Hino Pu Daksa menetapkan Desa Taji Gunung menjadi sima bersama Desa Gurunwangi. 

Bookmark and Share