Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kesucian Yesus dan Peranannya

0 comments

KESUCIAN YESUS DAN PERANANNYA SEBAGAITELADAN KESALEHAN MUSLIM

Secara teologis, dengan memisahkan Yesus dari agama Kristen, Islam dapat mengembangkan pandangannya sendiri secara khas, khususnya secara etis dengan mengambil sosok ‘Isa sebagai salah satu teladan kesalehan Muslim. Lebih-lebih dari perspektif sufi, yang bersamaan dengan penegasan bahwa Muhammad adalah “puncak kenabian”, tanpa keberatan apapun ‘Isa digelari “puncak kesucian”. Dalam konteks inilah, kita membaca narasi-narasi mengenai ‘Isa dalam literatur pesantren, yang dalam beberapa hal juga menggemakan kembali kisah-kisah dalam Injil.Al-Maidah: Mukjizat al-Masih Menurunkan Hidangan dari Langit.

Salah satu contoh, sebuah kisah mengenai mu’jizat ‘Isa mendatangkan makanan dari sorga. Memang, dasar kisah ini juga dijumpai dalam al-Qur’an, bahkan surah kelima dinamakan dengan al-Maidah (Hidangan). Latar belakang injil dari kisah ini adalah Perjamuan Malam, yang juga menjadi sentralitas iman Kristen dan mendasari perayaan ekaristi (Matius 26:26-29; Markus 14:22-25; Lukas 22:15-20). Dalam Islam kisah ini diambil, tetapi makna sakramentalnya yang berpusat pada pengorbanan ‘Isa al-Masih, sudah barang tentu tidak turut diambil alih.

Dalam kitab Duratun Nashihin, karya ‘Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir, memuat pengembangan kisah yang dimuat dalam Q.s. al-Maidah/5:111-115. Dikisahkan bahwa memenuhi permintaan kaumnya, ‘Isa berdoa kepada Allah dan hidangan itu memang benar-benar turun dari langit. Lalu ‘Isa berdoa, sementara hidangan berwarna merah itu turun diantara awan-awan: Allahuma aj’alhun minasy syakirin. Allahuma aj’alha rahmatan lil ‘alamin, wa laa taj/alha matslatan wa ‘uqubatan. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang pandai bersyukur. Ya Allah, jadikanlah hidangan itu sebagai rahmat untuk semesta alam, dan jangan jadikan sebagai bencana dan siksaan”.25

Setelah mengambil air wudhu untuk sembahyang, sambil menangis Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Siapa diantara kamu yang baik amalnya, silahkan tegak membuka hidangan itu, dengan menyebut nama Allah dan memakannya”. Tetapi Simon (Syam’un), salah seorang tokoh dari kaum Hawariyin itu, mengatakan kepada Yesus: “Engkau yang utama membukanya”. Maka ‘Isa pun berdiri untuk sembahyang, ia menangis sambil membentangkan sapu tangan dan membaca kalimat: Bismillahi khair ar-raziqin (Dengan Nama Allah Pemberi rezeki yang paling baik).26 Kisah ini kemudian disambung dengan mu’zijat penggandaan makanan yang dinikmati oleh orang-orang miskin secara merata sampai 40 hari lamanya.

Membaca contoh kisah tersebut, kita diingatkan dengan beberapa penggalan kisah dalam Injil dan disatukan. Doa yang berlatarbelakang liturgi Seder Yahudi mengenai pembebasan dari Mesir, dan oleh Yesus dianggap telah digenapi dalam pengurbanan-Nya sendiri, di sini menjadi sekedar doa ucapan syukur kepada Allah sebagai sebaik-baik pemberi rezeki. Sedangkan pengakuan Petrus bahwa ‘Isa adalah al-Masih, Putra Allah yang hidup (Matius 16:16), yang dalam Injil terjadi dalam konteks lain dimasukkan dalam mukjizat al-Maidah tersebut. Dalam kasus ini, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Yesus ini, sekalipun menggemakan kisah-kisah dalam Injil, tetapi dengan melakukan reinterprestasi khas Islami pandangan teologis Kristen itu tidak membebani lagi untuk mengangkat sosok Yesus secara bebas dan kreatif dalam rangka kesalehan Muslim sendiri.

Sebagai catatan akhir, sang pengarang menutup kisah di atas dengan penekanan moralitas Islam yang berbunyi sebagai berikut:

Ya ayyuhal ikhwan (He para sedulur) sa’ala qauma ‘Isa min ‘Isa ‘alaihissalam thamaman (nyuwun sapa kaume Nabi ‘Isa saking Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ing panganan) faa sa’aluu ‘aqiiba shaumukun (mangka padha nyu-wuna sira kabeh ing dalam sakwuse pasanira kabeh) rahmatullah wa maghfiratuhu (ing rahmat Allah lan pangapurane Allah).27

Terjemahan:“Wahai saudara-saudara, kaum Nabi ‘Isa minta kepada Nabi ‘Isa alaihissalam sekedar makanan, tetapi mintalah kalian semua, yaitu pada penghujung puasa kalian semua rahmat Allah dan pengampunan dari Allah).

Sabda-sabda Yesus dalam Kitab Kuning

Sejumlah amsal yang dihubungkan dengan ‘Isa al-Masih juga bertebaran di sejumlah kitab kuning, yang sebagian menggemakan ayat-ayat Injil. Misalnya, dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali menulis bahwa Yesus melarang seorang meletakkan ilmu hikmat kepada yang bukan ahlinya. Sebaliknya, kita tidak boleh menghalangi seorang yang memang berkompeten untuk hal itu untuk mengajarkannya. Pada akhir sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip sabda Yesus tersebut, kita membaca ungkapan yang mirip dengan Matius 9:12; Markus 15:38 dan Lukas 5:31. Sabda Yesus itu dalam kitab Ihya’ Ulumuddin berbunyi sebagai berikut:

Kalthabibi (kaya dokter) al-rrafiqi (kang tumindak alus) yadda’u al-ddawa’a (nyelehake sapa tabib ing tamba) fi mudhi’I al-dda’I (ing dalem panggonane penyakit)28

Terjemahan:Hendaklah kamu bertindak seperti seorang tabib yang penuh kehalusan (kasih sayang) meletakkan obat pada tempat yang sakit.

Demikian pula dalam kitab Bidayat al-Hidayah Imam al-Ghazali juga mencatat sabda Yesus yang sekilas membayangkan pergumulan-Nya saat kematian pada waktu mengadakan perjamuan malam dan di taman Getsemani:

Allahuma (Huwa Allah) la tusymitni aduwwi (ampun ngantos bungahaken Tuwan sebab kula ing musuh kula), wa la tasu’ni fi shadiqi (lan ampun nyusahken Tuwan sebab kula ing kanca kula) wa la taj’al musibati fi dini (lan ampun ndadosken Tuwan ing musibah kula ing dalem agama kula).29

Terjemahan:Ya Allah, janganlah Engkau membiarkan musuhku bergembira melihat penderitaanku, dan jangan pula Engkau membiarkan temanku bersedih melihat penderitaanku. Janganlah Engkau menimpakan musibah kepada iman atau agamaku.

Ungkapan pertama kiranya khas seperti doa-doa dalam Mazmur (Mazmur 25:2-3;Lukas 23:33-42). Sedangkan doa berikutnya yang menyebut identitas agama, agaknya merupakan formulasi Islam atas doa Yesus yang mengutip Mazmur: Eloi, eloi lamma sabakhtani. Ya Ilahi, ya Ilahi, Mengapa Engkau meninggalkan aku (Mazmur 22:2;Markus 15:34). Tetapi kemiripan-kemiripan itu sama sekali tidak terlalu berarti secara teologis, karena pada dasarnya Islam menyangkal jalan salib Yesus. Karena itu, doa-doa semacam ini dipindahkan sebagai sebuah ungkapan pergumulan manusiawi secara umum, tidak harus merujuk kepada penyaliban.

Selanjutnya, dalam Ihya ‘Ulumuddin kita juga membaca ungkapan Yesus, yang sepintas membayangkan kisah simbolis Injil mengenai pohon ara yang tidak berbuah (Matius 21:18-22) sebagai berikut:

Qala ‘Isa ‘alaihi salam: Maa aktsaran al-syajara wa laisa kulluha bimutsrin, wa maa atsaran al-tsamara wa laisa kulluha bithaybin, wa maa atsaran al-muluma wa laisa kulluha nafi’.

Terjemahan:Sabda ‘Isa alaihissalam: “Alangkah banyaknya pohon dan tidak semua berbuah, alangkah banyaknya buah-buahan dan tidak semua boleh dimakan, dan alangkah banyaknya ilmu pengetahuan dan tidak semua berguna.30

Masih banyak kisah-kisah kesalehan Muslim dalam Ihya ‘Ulumuddin yang secara tidak langsung menggemakan kembali kisah-kisah Injil mengenai pelayanan Yesus. Misalnya, al-Ghazali mengisahkan mukjizat Yesus menyembuhkan penyakit kusta. Dikisahkan bahwa ‘Isa alaihissalam melihat seorang penderita kusta berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang telah menimpa orang lain”. “Engkau bebas dari kesengsaraan apa?”, tanya ‘Isa kepadanya. “Roh Allah”, jawab penderita kusta itu, “Saya lebih beruntung ketimbang mereka yang tidak mengenal Allah”. “Engkau berkata benar”, kata ‘Isa lagi, “ulurkanlah tanganmu”. Orang itu mengulurkan tangannya dan seketika sembuh atas rahmat Allah.31

Dalam rangka teladan kehidupan zuhud, khususnya di kalangan kaum sufi, sosok Yesus mengambil peranan cukup penting, ketimbang yang terbaca dalam tulisan polemik akhir-akhir ini, yang sering menutup-nutupi keagungan Yesus hanya karena khawatir akan dijadikan dalil untuk mendukung Kekristenan. Dalam al-Qur’an sendiri, ‘Isa dan ibunya Maryam memang terlindung dari jamahan setan (s.Ali Imran/3:36). Dalam penjelasannya atas ayat ini, Tafsir Jalalain mengutip Hadits Riwayat Syaukan: Ma min mauludi yuladu ila massahu asy-syaithan haina yuladu fayastahilla sharikhan ila maryam wa ibnaha. “Tidak ada seorang pun yang ketika lahirnya tidak disentuh oleh setan sehingga bayi itu menangis, kecuali Maryam dan anaknya”.32

Ide ini sebenarnya mengingatkan sifat imaculata (cf.Liturgi Kristen Arab: bi-ghayr al-fasad wulidtu Kalimat Allah,”ketidakbernodaan Maryam ketika melahirkan Firman Allah”),supaya Yesus yang secara fisik disebut “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42) benar-benar terjaga kesucian-Nya.

Bookmark and Share

Benarkah Neil Armstrong masuk Islam?

0 comments
Neil Armstrong satu dari tiga manusia pertama - Buzz Aldrin dan Michael Collins - mendarat di Bulan, masih menyisakan misteri. Apakah benar lelaki yang mengembuskan napas terakhir di usia 82 tahun ini sudah memeluk Islam?Apalagi sepanjang hidupnya, selepas misi pendaratan di Bulan 43 tahun lalu, dia tidak pernah mau terbuka terhadap media. Armstrong semakin dikenal sebagai muslim lantaran berbagai forum memuat mengenai perjalanan dia ke Mesir. 


Berbagai sumber mengungkapkan dalam liburannya ke Negeri Piramida itu pada 1970, Armstrong mendengar suara azan. Ketika itu, dia sedang makan di restoran di Ibu Kota Kairo. Kepada pelayan, dia mengaku mendengar panggilan salat wajib itu waktu di Bulan. Setelah itu, dia masuk Islam. 

Namun ayah tiga anak ini tidak pernah mengumumkan secara terbuka soal keislamannya itu. Dia pun tidak pernah membenarkan atau menyanggah kalau ada yang menanyakan soal keyakinan barunya itu. 

Sejumlah media, seperti Jurnal Arabia, answering-islam.org, dan wiki-islam menulis berita kontroversi Armstrong masuk Islam adalah cerita bohong. Mereka menuding kabar itu merupakan cara Barat buat membodohi umat muslim. 

Hingga tujuh tahun lalu Armstrong membuka mulut soal kontroversi itu saat berbincang dengan astronot Malaysia, Zaid Zahari. Seperti dikutip thestar.com, dia membantah mendengar suara azan di Bulan. Dia juga menolak telah disebut menjadi mualaf. "Satu-satunya hal yang sulit dalam misi Apollo adalah berupaya membantah kebenarannya," kata Armstrong kepada Zahari. 

Sayangnya, banyak kaum muslim terlanjur percaya dengan cerita Armstrong mendengar suara azan di Bulan dan dia sudah berpindah agama. eil Armstrong satu dari tiga manusia pertama - Buzz Aldrin dan Michael Collins - mendarat di Bulan, masih menyisakan misteri. Apakah benar lelaki yang mengembuskan napas terakhir di usia 82 tahun ini sudah memeluk Islam?Apalagi sepanjang hidupnya, selepas misi pendaratan di Bulan 43 tahun lalu, dia tidak pernah mau terbuka terhadap media. Armstrong semakin dikenal sebagai muslim lantaran berbagai forum memuat mengenai perjalanan dia ke Mesir. 

Berbagai sumber mengungkapkan dalam liburannya ke Negeri Piramida itu pada 1970, Armstrong mendengar suara azan. Ketika itu, dia sedang makan di restoran di Ibu Kota Kairo. Kepada pelayan, dia mengaku mendengar panggilan salat wajib itu waktu di Bulan. Setelah itu, dia masuk Islam. 

Namun ayah tiga anak ini tidak pernah mengumumkan secara terbuka soal keislamannya itu. Dia pun tidak pernah membenarkan atau menyanggah kalau ada yang menanyakan soal keyakinan barunya itu. 

Sejumlah media, seperti Jurnal Arabia, answering-islam.org, dan wiki-islam menulis berita kontroversi Armstrong masuk Islam adalah cerita bohong. Mereka menuding kabar itu merupakan cara Barat buat membodohi umat muslim. 

Hingga tujuh tahun lalu Armstrong membuka mulut soal kontroversi itu saat berbincang dengan astronot Malaysia, Zaid Zahari. Seperti dikutip thestar.com, dia membantah mendengar suara azan di Bulan. Dia juga menolak telah disebut menjadi mualaf. "Satu-satunya hal yang sulit dalam misi Apollo adalah berupaya membantah kebenarannya," kata Armstrong kepada Zahari. 

Sayangnya, banyak kaum muslim terlanjur percaya dengan cerita Armstrong mendengar suara azan di Bulan dan dia sudah berpindah agama. 

Bookmark and Share

Kisah Prabu Kian Santang Dan Syaidina Ali R.a

0 comments

GODOG adalah sebuah daerah pedesaan yang indah dan nyaman, berjarak 10 km kearah timur dari puseur dayeuh Garut. Tepatnya di Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Disana terdapat makam Prabu Kiansantang atau yang dikenal dengan sebutan Makam Godog Syeh Sunan Rohmat Suci. Hampir setiap saat banyak masyarakat yang ziarah, terlebih di bulan-bulan maulud.

Prabu Kiansantang atau Syeh Sunan Rohmat Suci adalah salah seorang putra keturunan raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dari prameswarinya yang bernama Dewi Kumala Wangi (Nyi Subang Larang). Kian Santang lahir tahun 1315 Masehi di Pajajaran, mempunyai dua saudara, bernama Dewi Rara Santang dan Walang Sungsang.

Pada usia 22 tahun, tepatnya tahun 1337 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi dalem Bogor kedua yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor. Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa, khususnya Jawa Barat.

Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa. Konon tak ada yang bisa mengalahkannya. Sejak kecil sampai dewasa, yaitu berusia 33 tahun, tepatnya tahun 1348 Masehi, Kiansantang belum pernah tahu seperti apa darahnya. Dalam arti, belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya. Sering kali dia merenung seorang diri, memikirkan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya. Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya.

Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya. Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara gaib dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Kuasa. Lalu , orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang: “Kalau memang kau mau bertemu dengan Sayyidina Ali, kau harus melaksanakan dua syarat: Pertama,harus mujasmedidulu di ujung kulon. Kedua, namamu harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang – Berani, Setra – Bersih/ Suci).

setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah pada tahun 1348 Masehi. Setiba di tanah Mekah, ia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu.

“Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?” tentu laki- laki itu menjawab dengan jujur, mengiyakannya, bahkan ia bersedia mengantar Kian Santang. Sebelum berangkat, laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, “Wahai Galantrang Setra, tongkatku ketinggalan di tempat tadi, tolong ambilkan dulu!”

Semula Galantrang Setra tidak mau. Namun Sayyidina Ali mengatakan jika tidak mau, tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali. Terpaksalah Galantrang Setra kembali ketempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, bahkan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi, Kian santang berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi tongkat tetap tertancap di tanah dengan kokoh, sebaliknya kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluarlah darah dari tubuh Galantrang Setra.

Sayyidina Ali mengetahui kejadian itu, maka beliaupun datang. Setelah Sayyidina Ali tiba, tongkat itu langsung dicabut sambil mengucapkan Bismillah dan dua kalimat syahadat.Tongkatpun terangkat dan bersamaan dengan itu hilang pulalah darah dari tubuh Galantrang Setra. Galantrang Setra merasa heran, kenapa darah yang keluar dari tubuh itu tiba-tiba menghilang dan kembali tubuhnya sehat. Dalam hatinya ia bertanya. “Apakah kejadian itu karena kalimah yang diucapkan oleh orang tua itu tadi?”. Kalaulah benar, kebetulan, akan kuminta ilmu kalimah itu. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab. Alasannya, karena Galantrang Setra belum masuk Islam.

Kemudian mereka berdua berangkat menuju Mekah. Setelah tiba di Mekah, di tengah perjalanan ada yang bertanya kepada laki-laki itu dengan sebutan Sayyidina Ali. Galantrang Setra kaget mendengar panggilan ”Ali” tersebut. Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi tiada lain adalah Sayyidina Ali.

Setelah Kiansantang meninggalkan Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Pajajaran), ia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan. Maka ia berpikir untuk kembali ke Mekah lagi dengan niat bulat akan menemui Sayyidina Ali, sekaligus bermaksud memeluk agama Islam. Pada tahun 1348 Masehi, Kiansantang masuk Islam. Ia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya.

Setibanya di Pajajaran, ia bertemu dengan ayahnya. Kian Santang menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya, ia memberitahukan bahwa dirinya telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk memeluk agama Islam. Prabu Siliwangi kaget sewaktu mendengar cerita anaknya, terlebih ketika anaknya mengajak masuk agama Islam. Sang ayah tidak percaya, dan ajakannya ditolak.

Tahun 1355 Masehi, Kiansantang berangkat kembali ke tanah Mekah. Jabatan kedaleman, untuk sementara diserahkan ke Galuh Pakuan yang pada waktu itu dalemnya dipegang oleh Prabu Anggalang. Prabu Kiansantang bermukim di tanah Mekah selama tujuh tahun dan mempelajari ajaran agama Islam secara khusu. Merasa sudah cukup menekuni ajaran agama Islam, kemudian ia kembali ke Pajajaran tahun 1362 M. Ia berniat menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kembali ke Pajajaran pun disertai saudagar Arab yang punya niat berniaga di Pajajaran sambil membantu Kiansantang mensyi’arkan agama Islam.

Setiba di Pajajaran, Kiansantang langsung menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat, karena ajaran Islam dalam fitrohnya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Kemudian Prabu Kiansantang bermaksud menyebarkan ajaran agama Islam di lingkungan Keraton Pajajaran.

Setelah Prabu Siliwangi mendapat berita bahwa anaknya sudah kembali ke Pajajaran dan akan menghadap kepadanya. Prabu Siliwangi yang mempunyai martabat raja mempunyai pikiran. “Dari pada masuk agama Islam lebih baik aku muninggalkan keraton Pajajaran”. Sebelum berangkat meninggalkan keraton, Prabu Siliwangi merubah Keraton Pajajaran yang indah menjadi hutan belantara.

Melihat gelagat demikian, Kiansantang mengejar ayahnya. Beberapa kali Prabu Siliwangi terkejar dan berhadapan dengan Kiansantang yang langsung mendesak agar sang ayah dan para pengikutnya masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi tetap menolak, malah beliau lari ke daerah Garut Selatan. Kiansantang menghadangnya di laut Kidul Garut, tetapi Prabu Siliwangi tetap tidak mau masuk agama Islam. Dengan rasa menyesal, Kiansantang terpaksa membendung jalan larinya sang ayah. Prabu Siliwangi masuk ke dalam gua yang sekarang disebut gua sancang Pameungpeuk.

Prabu Kiansantang sudah berusaha mengislamkan ayahnya, tetapi Alloh tidak memberi hidayah kepada Prabu Siliwangi. Kiansantang kembali ke Pajajaran, kemudian membangun kembali kerajaan sambil menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok, dibantu oleh saudagar Arab sambil berdagang. Namun istana kerajaan yang diciptakan oleh Prabu Siliwangi tidak dirubah, dengan maksud pada akhir nanti anak cucu atau generasi muda akan tahu bahwa itu adalah peninggalan sejarah nenek moyangnya. Sekarang lokasi istana itu disebut Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1372 Masehi, Kiansantang menyebarkan agama Islam di Galuh Pakuan dan dia sendiri yang mengkhitan laki-laki yang masuk agama Islam. Tahun 1400 Masehi, Kiansantang diangkat menjadi Raja Pajajaran, menggantikan Prabu Munding Kawati atau Prabu Anapakem I. Namun Kiansantang tidak lama menjadi raja, karena mendapat ilham harus uzlah, pindah dari tempat yang ramai ketempat yang sepi. Dalam uzlah itu, ia diminta agar bertafakur untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam rangka mencapai kema’ripatan. Kepada beliau dimintakan untuk memilih tempat tafakur dari ke 3 tempat, yaitu Gunung Ceremai, Gunung Tasikmalaya, atau Gunung Suci Garut.

Waktu uzlah harus dibawa peti yang berisikan tanah pusaka. Peti itu untuk dijadikan tanda atau petunjuk tempat bertafakur nanti, apabila tiba disatu tempat peti itu godeg/ berubah, maka disanalah tempat dia tafakur, dan kemudian nama Kiansantang harus diganti dengan Sunan Rohmat. Sebelum uzlah, Kiansantang menyerahkan tahta kerajaan kepada Prabu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.

Setelah selesai serah-terima tahta kerajaan dengan Prabu Panatayuda, maka berangkatlah Prabu Kiansantang meninggalkan Pajajaran. Tempat yang dituju pertama kali adalah Gunung Ceremai. Setibanya disana, peti diletakan di atas tanah, tetapi peti itu tidak godeg alias berubah. Kiansantang kemudian berangkat lagi ke gunung Tasikmalaya, disana juga peti tidak berubah. Akhirnya Kiansantang memutuskan untuk berangkat ke gunung Suci Garut. Setibanya di gunung Suci Garut, peti itu disimpan diatas tanah, secara tiba-tiba berubahlah peti itu. Dengan godegnya peti tersebut, berarti petunjuk kepada Kiansantang bahwa ditempat itulah beliau harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tempat itu kini diberi nama Makam Godog.

Prabu Kiansantang bertafakur selama 19 tahun. Sempat mendirikan Mesjid yang disebut Masjid Pusaka Karamat Godog yang berjarak dari makam godog sekitar kurang lebih 1 Km. Prabu Kiansantang namanya diganti menjadi Syeh Sunan Rohmat Suci dan tempatnya menjadi Godog Karamat. Beliau wafat pada tahun 1419 M atau tahun 849 Hijriah. Syeh Sunan Rohmat Suci wafat di tempat itu yang sampai sekarang dinamakan Makam Sunan Rohmat Suci atau Makam Karamat Godog.

Bookmark and Share

Dikatakan Jayabaya 855 Tahun Yang Lalu

0 comments

VISI JAYABAYA MENGENAI TRANSFORMASI BUMI

Terkait dengan visi Sabda Palon soal transisi/transformasi Bumi, saya akan share juga soal visi Raja Jayabaya dari Kediri soal alih jaman, karena keduanya berhubungan. Dalam visi Jayabaya, masa transisi tersebut dipaparkan lebih detil. Berikut adalah visi Jayabaya yang tersaji dalam bait-bait terakhir syairnya:

140.
polahe wong Jawa kaya gabah diinteriendi sing bener endi sing sejatipara tapa padha ora wanipadha wedi ngajarake piwulang adisalah-salah anemani pati

tingkah laku orang Jawa seperti gabah ditampimana yang benar mana yang aslipara pertapa semua tak beranitakut menyampaikan ajaran benarsalah-salah dapat menemui ajal

141.
banjir bandang ana ngendi-endigunung njeblug tan anjarwani, tan angimpenigehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati genimarga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

banjir bandang dimana-managunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulusangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidurkarena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya

142.
pancen wolak-waliking jamanamenangi jaman edanora edan ora kumanansing waras padha nggagaswong tani padha ditaleniwong dora padha ura-urabeja-bejane sing lali,isih beja kang eling lan waspadha

sungguh zaman gonjang-ganjingmenyaksikan zaman gilatidak ikut gila tidak dapat bagianyang sehat pada olah pikirpara petani dibelenggupara pembohong bersuka riaberuntunglah bagi yang lupa,masih beruntung yang ingat dan waspada

143.
ratu ora netepi janjimusna kuwasa lan prabawaneakeh omah ndhuwur kudawong padha mangan wongkayu gligan lan wesi hiya padha doyandirasa enak kaya roti boluyen wengi padha ora bisa turu

raja tidak menepati janjikehilangan kekuasaan dan kewibawaannyabanyak rumah di atas kudaorang makan sesamanyakayu gelondongan dan besi juga dimakankatanya enak serasa kue bolumalam hari semua tak bisa tidur

144.
sing edan padha bisa dandansing ambangkang padha bisanggalang omah gedong magrong-magrong

yang gila dapat berdandanyang membangkang semua dapatmembangun rumah, gedung-gedung megah

145.
wong dagang barang sangsaya laris, bandhane ludesakeh wong mati kaliren gisining pangananakeh wong nyekel bendha ning uriping sengsara

orang berdagang barang makin laris tapi hartanya makin habisbanyak orang mati kelaparan di samping makananbanyak orang berharta namun hidupnya sengsara

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencilsing ora abisa maling digethingising pinter duraka dadi kancawong bener sangsaya thenger-thengerwong salah sangsaya bungahakeh bandha musna tan karuan larineakeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucilyang tidak dapat mencuri dibenciyang pintar curang jadi temanorang jujur semakin tak berkutikorang salah makin pongahbanyak harta musnah tak jelas larinyabanyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

147.
bumi sangsaya suwe sangsaya mengkeretsakilan bumi dipajekiwong wadon nganggo panganggo lanangiku pertandhane yen bakal nemoniwolak-walike zaman

bumi semakin lama semakin sempitsejengkal tanah kena pajakwanita memakai pakaian laki-lakiitu pertanda bakal terjadinyazaman gonjang-ganjing

148.
akeh wong janji ora ditepatiakeh wong nglanggar sumpahe dhewemanungsa padha seneng ngalap,tan anindakake hukuming Allahbarang jahat diangkat-angkatbarang suci dibenci

banyak orang berjanji diingkaribanyak orang melanggar sumpahnya sendirimanusia senang meniputidak melaksanakan hukum Allahbarang jahat dipuja-pujabarang suci dibenci

149.
akeh wong ngutamakake royallali kamanungsane, lali kebecikanelali sanak lali kadangakeh bapa lali anakakeh anak mundhung biyungsedulur padha cidrakeluarga padha curigakanca dadi mungsuhmanungsa lali asale

banyak orang hamburkan uanglupa kemanusiaan, lupa kebaikanlupa sanak saudarabanyak ayah lupa anaknyabanyak anak mengusir ibunyaantar saudara saling berbohongantar keluarga saling mencurigaikawan menjadi musuhmanusia lupa akan asal-usulnya

150. 
ukuman ratu ora adilakeh pangkat jahat jahilkelakuan padha ganjilsing apik padha kepencilakarya apik manungsa isinluwih utama ngapusi

hukuman raja tidak adilbanyak yang berpangkat, jahat dan jahiltingkah lakunya semua ganjilyang baik terkucilberbuat baik manusia malah malulebih mengutamakan menipu

151.
wanita nglamar priaisih bayi padha mbayising pria padha ngasorake drajate dhewe

wanita melamar priamasih muda sudah beranakkaum pria merendahkan derajatnya sendiri

Bait 152 sampai dengan 156 tidak ada (hilang dan rusak)

157.
wong golek pangan pindha gabah den interising kebat kliwat, sing kasep keplesetsing gedhe rame, gawe sing cilik kecekliksing anggak ketenggak, sing wedi padha matinanging sing ngawur padha makmursing ngati-ati padha sambat kepati-pati

tingkah laku orang mencari makan seperti gabah ditampiyang cepat mendapatkan, yang lambat terpelesetyang besar beramai-ramai membuat yang kecil terjepityang angkuh menengadah, yang takut malah matinamun yang ngawur malah makmuryang berhati-hati mengeluh setengah mati

158.
cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendringmelu Jawa sing padha elingsing tan eling miling-milingmlayu-mlayu kaya maling kena tudingeling mulih padha manjingakeh wong injir, akeh centhilsing eman ora kedumansing keduman ora eman
cina berlindung karena dilempari lari terbirit-biritikut orang Jawa yang sadaryang tidak sadar was-wasberlari-lari bak pencuri yang kena tuduhyang tetap tinggal dibencibanyak orang malas, banyak yang genityang sayang tidak kebagianyang dapat bagian tidak sayang

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahunsinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratubakal ana dewa ngejawantahapengawak manungsaapasurya padha bethara Kresnaawatak Baladewaagegaman trisula wedhajinejer wolak-waliking zamanwong nyilih mbalekake,wong utang mbayarutang nyawa bayar nyawautang wirang nyaur wirang

selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)akan ada dewa tampilberbadan manusiaberparas seperti Batara Kresnaberwatak seperti Baladewabersenjata trisula wedhatanda datangnya perubahan zamanorang pinjam mengembalikan,orang berhutang membayarhutang nyawa bayar nyawahutang malu dibayar malu

160.sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawangalu-ngalu tumanja ana kidul wetan benerlawase pitung bengi,parak esuk bener ilangebethara surya njumedhulbebarengan sing wis mungkur prihatine manungsa kelantur-lanturiku tandane putra Bethara Indra wus katontumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa

sebelumnya ada pertanda bintang paripanjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timurlamanya tujuh malamhilangnya menjelang pagi sekalibersama munculnya Batara Suryabebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larutitulah tanda putra Batara Indra sudah nampakdatang di bumi untuk membantu orang Jawa

161.dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetanwetane bengawan banyuandhedukuh pindha Raden Gatotkacaarupa pagupon dara tundha tigakaya manungsa angleledha
asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timursebelah timurnya bengawanberumah seperti Raden Gatotkacaberupa rumah merpati susun tigaseperti manusia yang menggoda

162.
akeh wong dicakot lemut matiakeh wong dicakot semut sirnaakeh swara aneh tanpa rupabala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garistan kasat mata, tan arupasing madhegani putrane Bethara Indraagegaman trisula wedhamomongane padha dadi nayaka perangperange tanpa balasakti mandraguna tanpa aji-aji

banyak orang digigit nyamuk,mati banyak orang digigit semut, matibanyak suara aneh tanpa rupapasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benartak kelihatan, tak berbentukyang memimpin adalah putra Batara Indra,bersenjatakan trisula wedhapara asuhannya menjadi perwira perangjika berperang tanpa pasukansakti mandraguna tanpa azimat

163.
apeparap pangeraning prangtan pokro anggoning nyandhangning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirangsing padha nyembah reca ndhaplang,cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang

bergelar pangeran perangkelihatan berpakaian kurang pantasnamun dapat mengatasi keruwetan orang banyakyang menyembah arca terlentangcina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan

164.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawuhiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumuktimumpuni sakabehing lakunugel tanah Jawa kaping pindhongerahake jin setankumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyokinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula wedalandhepe triniji sucibener, jejeg, jujurkadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong

putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawuyaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumuktimenguasai seluruh ajaran (ngelmu)memotong tanah Jawa kedua kalimengerahkan jin dan setanseluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padumembantu manusia Jawa berpedoman pada trisula wedatajamnya tritunggal nan sucibenar, lurus, jujurdidampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

165.
pendhak Sura nguntapa kumarakang wus katon nembus dosanekadhepake ngarsaning sang kuasaisih timur kaceluk wong tuwaparingane Gatotkaca sayuta

tiap bulan Sura sambutlah kumarayang sudah tampak menebus dosadihadapan sang Maha Kuasamasih muda sudah dipanggil orang tuawarisannya Gatotkaca sejuta

166.idune idu genisabdane malatising mbregendhul mesti matiora tuwo, enom padha dene bayiwong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembadagaris sabda ora gentalan dina,beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdaniratan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawananging inung pilih-pilih sapa

ludahnya ludah apisabdanya sakti (terbukti)yang membantah pasti matiorang tua, muda maupun bayiorang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhigaris sabdanya tidak akan lamaberuntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanyatidak mau dihormati orang se tanah Jawatetapi hanya memilih beberapa saja

167.
waskita pindha dewabisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahirapindha lahir bareng sadinaora bisa diapusi marga bisa maca atiwasis, wegig, waskita,ngerti sakdurunge winarahbisa pirsa mbah-mbahiraangawuningani jantraning zaman Jawangerti garise siji-sijining umatTan kewran sasuruping zaman

pandai meramal seperti dewadapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah andaseolah-olah lahir di waktu yang samatidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hatibijak, cermat dan saktimengerti sebelum sesuatu terjadimengetahui leluhur andamemahami putaran roda zaman Jawamengerti garis hidup setiap umattidak khawatir tertelan zaman

168.
mula den upadinen sinatriya ikuwus tan abapa, tan bibi, lolaawus aputus weda Jawamung angandelake trisulalandheping trisula pucukgegawe pati utawa utang nyawasing tengah sirik gawe kapitunaning liyansing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

oleh sebab itu carilah satria ituyatim piatu, tak bersanak saudarasudah lulus weda Jawahanya berpedoman trisulaujung trisulanya sangat tajammembawa maut atau utang nyawayang tengah pantang berbuat merugikan orang lainyang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan

169.
sirik den wenehiati malati bisa kesikusenenge anggodha anjejaluk cara nisthangertiyo yen iku cobaaja kainoana beja-bejane sing den pundhutiateges jantrane kaemong sira sebrayat

pantang bila diberihati mati dapat terkena kutukansenang menggoda dan minta secara nistaketahuilah bahwa itu hanya ujianjangan dihinaada keuntungan bagi yang dimintaiartinya dilindungi anda sekeluarga

170.
ing ngarsa Begawandudu pandhita sinebut pandhitadudu dewa sinebut dewakaya dene manungsadudu seje daya kajawaake kanti jlentrehgawang-gawang terang ndrandhang

di hadapan Begawanbukan pendeta disebut pendetabukan dewa disebut dewanamun manusia biasabukan kekuatan lain diterangkan jelasbayang-bayang menjadi terang benderang

171.
aja gumun, aja ngungunhiya iku putrane Bethara Indrakang pambayun tur isih kuwasa nundhung setantumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuhhiya siji iki kang bisa paring pituduhmarang jarwane jangka kalaningsuntan kena den apusimarga bisa manjing jroning atiana manungso kaiden ketemuuga ana jalma sing durung mangsaneaja sirik aja gelaiku dudu wektuniranganggo simbol ratu tanpa makuthamula sing menangi enggala den leluriaja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelubeja-bejane anak putu

jangan heran, jangan bingungitulah putranya Batara Indrayang sulung dan masih kuasa mengusir setanturunnya air brajamusti pecah memercikhanya satu ini yang dapat memberi petunjuktentang arti dan makna ramalan sayatidak bisa ditipukarena dapat masuk ke dalam hatiada manusia yang bisa bertemutapi ada manusia yang belum saatnyajangan iri dan kecewaitu bukan waktu andamemakai lambang ratu tanpa mahkotasebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuhkeberuntungan ada di anak cucu

172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspadaing zaman kalabendu Jawaaja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewacures ludhes saka braja jelma kumaraaja-aja kleru pandhita samusanalarinen pandhita asenjata trisula wedhaiku hiya pinaringaning dewa

inilah jalan bagi yang ingat dan waspadapada zaman kalabendu Jawajangan melarang dalam menghormati orang berupa dewayang menghalangi akan sirna seluruh keluargajangan keliru mencari dewacarilah dewa bersenjata trisula wedhaitulah pemberian dewa

173.
nglurug tanpa balayen menang tan ngasorake liyanpara kawula padha suka-sukamarga adiling pangeran wus tekaratune nyembah kawulaangagem trisula wedhapara pandhita hiya padha mujahiya iku momongane kaki Sabdopalonsing wis adu wirang nanging kondhanggenaha kacetha kanthi njingglangnora ana wong ngresula kuranghiya iku tandane kalabendu wis mingercenti wektu jejering kalamuktiandayani indering jagad rayapadha asung bhekti

menyerang tanpa pasukanbila menang tak menghina yang lainrakyat bersuka riakarena keadilan Yang Kuasa telah tibaraja menyembah rakyatbersenjatakan trisula wedhapara pendeta juga pada memujaitulah asuhannya Sabdopalonyang sudah menanggung malu tetapi termasyhursegalanya tampak terang benderangtak ada yang mengeluh kekuranganitulah tanda zaman kalabendu telah usaiberganti zaman penuh kemuliaanmemperkokoh tatanan jagad rayasemuanya menaruh rasa hormat yang tinggi.


Bookmark and Share

SERAT SABDA PALON

0 comments

Merenungi kembali visi dari Sabda Palon mengenai perubahan jaman di tanah Jawa (pada kenyataannya transisi/transformasi ini tak hanya terjadi di tanah Jawa, namun seluruh Bumi) karena visi itu mewujud SAAT INI. Semoga dengan membaca ini, bisa meningkatkan kewaspadaan, kesadaran & spiritualitas kita semua untuk menghadapi perubahan jaman tersebut. Berikut visi yang tersaji dalam syair tersebut:


PUPUH SINOM

1. Padha sira ngelinganaCarita ing nguni-nguniKang kocap ing sêrat BabadBabad nagri MojopahitNalika duk-ing nguniSang-a Brawijaya PrabuPan samya pêpanggihanKaliyan Njêng Sunan KaliSabda Palon Naya Genggong rencangira.

Ingatlah kalian semua,Akan cerita masa lalu,Yang tercantum didalam Babad ( Sejarah )Babad Negara Majapahit,Ketika saat itu,Sang Prabhu Brawijaya,Tengah bertemu,Dengan Kangjeng Sunan Kalijaga,Ditemani oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

2. Sang-a Prabu BrawijayaSabdanira arum manisNuntun dhatêng punakawanSabda Palon paran karsiJênêngsun sapunikiWus ngrasuk agama RasulHeh ta kakang maniraMeluwa agama suciLuwih bêcik iki agama kang mulya.

Sang Prabhu Brawijaya,Bersabda dengan lemah lembut,Mengharapkan kepada kedua punakawan( pengiring dekat )-nya,Tapi Sabdo Palon tetap menolak,Diriku ini sekarang,Sudah memeluk Agama Rasul (Islam),Wahai kalian kakang berdua,Ikutlah memeluk agama suci,Lebih baik karena ini agama yang mulia.

3. Sabda palon matur sugalYen kawula boten arsiNgrasuka agama IslamWit kula puniki yêktiRatuning Dang Hyang JawiMomong marang anak putuSagung kang para NataKang jumênêng ing tanah JawiWus pinasthi sayêkti kula pisahan.

Sabdo Palon menghaturkan kata-kata agak keras,Hamba tidak mau,Memeluk agama Islam,Sebab hamba ini sesungguhnya,Raja Dahnyang ( Penguasa Gaib ) tanah Jawa,Memelihara kelestarian anak cucu ( penghuni tanah Jawa ),(Serta) semua Para Raja,Yang memerintah di tanah Jawa,Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabhu), kita harus berpisah.

4. Klawan Paduka sang NataWangsul maring sunya ruriMung kula matur petungnaIng benjang sakpungkur mamiYen wus prapta kang wanciJangkêp gangsal atus taunWit ing dintên punikaKula gantos agamiGama Budi kula sêbar ing tanah Jawa.
Dengan Paduka Wahai Sang Raja,Kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-’isi’; Alam yang tidak ada tapi ada),Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung,Kelak sepeninggal hamba,Apabila sudah datang waktunya,Genap lima ratus tahun,Mulai hari ini,Akan saya ganti agama (di Jawa),Agama Budi akan saya sebarkan ditanah Jawa.

5. Sintên tan purun nganggeyaYêkti kula rusak samiSun sajakkên putu kulaBrêkasakan rupi-rupiDereng lêga kang atiYen durung lêbur atêmpurKula damêl pratandhaPratandha têmbayan mamiHardi Mrapi yen wus njêblug mili lahar.

Siapa saja yang tidak mau memakai,Akan saya hancurkan,Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal,Makhluk halus berwarna-warni,Belum puas hati hamba,Apabila belum hancur lebur,Saya akan membuat pertanda,Pertanda sebagai janji serius saya,Gunung Merapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.


6. Ngidul ngilen purugiraNggada bangêr ingkang warihNggih punika wêkdal kulaWus nyêbar agama BudiMêrapi janji mamiAnggêrêng jagad satuhuKarsanireng JawataSadaya gilir gumantiBotên kenging kalamunta kaowahan.

Kearah selatan barat mengalirnya,Berbau busuk air laharnya,Itulah waktunya,Sudah mulai menyebarkan agama Budi,Merapi janji saya,Menggelegar seluruh jagad,Kehendak Tuhan,(Karena) segalanya (pasti akan) berganti,Tidak mungkin untuk dirubah lagi.

7. Sangêt-sangêting sangsaraKang tuwuh ing tanah JawiSinêngkalan tahuniraLawon Sapta Ngêsthi AjiUpami nyabarang kaliPrapteng têngah-têngahipunKaline banjir bandhangJêrone ngelebna jalmiKathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Sangat sangat sengsara,Yang hidup ditanah Jawa,Perlambang tahun kedatangannya,LAWON SAPTA NGESTI AJI ( LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGESTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978),Seandainya menyeberangi sebuah sungai,Ketika masih berada ditengah-tengah,Banjir bandhang akan datang tiba-tiba,Tingginya air mampu menenggelamkan manusia,Banyak manusia sirna karena mati.

8. Bêbaya ingkang tumêkaWarata sa Tanah JawiGinawe Kang Paring GêsangTan kenging dipun singgahiWit ing donya punikiWontên ing sakwasanipunSadaya pra JawataKinarya amêrtandhaniJagad iki yêkti ana kang akarya.

Bahaya yang datang,Merata diseluruh tanah Jawa,Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup,Tidak bisa untuk ditolak,Sebab didunia ini,Dibawah kekuasaan,Tuhan dan Para Dewa,Sebagai bukti,Jagad ini ada yang menciptakan.

9. Warna-warna kang bêbayaAngrusakên Tanah JawiSagung tiyang nambut karyaPamêdal boten nyêkapiPriyayi keh bêrantiSudagar tuna sadarumWong glidhik ora mingsraWong tani ora nyukupiPamêtune akeh sirna aneng wana.

Bermacam-macam mara bahaya,Merusak tanah Jawa,Semua yang bekerja,Hasilnya tidak mencukupi,Pejabat banyak yang lupa daratan,Pedagang mengalami kerugian,Yang berkelakuan jahat semakin banyak,Yag bertani tidak mengahsilkan apa-apa,Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

10. Bumi ilang bêrkatiraAma kathah kang ndhatêngiKayu kathah ingkang ilangCinolong dening sujanmiPan risaknya nglangkungiKarana rêbut rinêbutRisak tataning janmaYen dalu grimis keh malingYen rina-wa kathah têtiyang ambegal.

Bumi hilang berkahnya,Banyak hama mendatangi,Pepohonan banyakyang hilang,Dicuri manusia,Kerusakannya sangat parah,Sebab saling berebut,Rusak tatanan moral,Apabila malam hujan banyak pencuri,pabila siang banyak perampok.

11. Heru hara sakeh janmaRêbutan ngupaya kasilPan rusak anggêring prajaTan tahan pêrihing atiKatungka praptanekiPagêblug ingkang linangkungLêlara ngambra-ambaraWaradin sak-tanah JawiEnjing sakit sorenya sampun pralaya.

Huru hara seluruh manusia,Berebut mencari hidupRusak tatanan negara,Tidak tahan perdihnya hati,Disusul datangnya,Wabah yang sangat mengerikan,Penyakit berjangkit kemana-mana,Merata seluruh tanah Jawa,Pagi sakit sorenya mati.

12. Kêsandhung wohing pralayaKaselak banjir ngêmasiUdan barat salah mangsaAngin gung anggêgirisiKayu gung brastha samiTinêmpuhing angin agungKathah rêbah amblasahLepen-lepen samya banjirLamun tinon pan kados samodra bena.

Belum selesai wabah kematian,Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi,Hujan besar salah waktu,Angin besar mengerikan,Pohon-poho besar bertumbangan,Disapu angin yang besar,Banyak yang roboh berserakan,Sungai-sungai banyak yang banjir,Apabila dilihat bagaikan lautan.

13. Alun minggah ing daratanKarya rusak têpis wiringKang dumunung kering kananKajêng akeh ingkang keliKang tumuwuh apinggirSamya kentir trusing lautSela gêng sami brasthaKabalêbêg katut keliGumalundhung gumludhug suwaranira.

Ombak naik kedaratan,Membuat rusak pesisir pantai,Yang berada dikiri kanannya,Pohon banyak yang hanyut,Yang tumbuh dipesisir,Hanyut ketengah lautan,Bebatuan besar hancur berantakan,Tersapu ikut hanyut,Bergemuruh nyaring suaranya.

14. Hardi agung-agung samyaHuru-hara nggêgirisiGumalêgêr swaraniraLahar wutah kanan keringAmbleber angêlêbiNrajang wana lan desagungManungsanya keh brasthaKêbo sapi samya gusisSirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Gunung berapi semua,Huru hara mengerikan, Menggelegar suaranya, Lahar tumpah kekanan dan kekirinya, Menenggelamkan, Menerejang hutan dan perkotaan, Manusia banyak yang tewas, Kerbau dan Sapi habis, Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

15. Lindhu ping pitu sadinaKarya sisahing sujanmiSitinipun samya nêlaBrêkasakan kang ngêlêsiAnyeret sagung janmiManungsa pating galuruhKathah kang nandhang rogaWarna-warna ingkang sakitAwis waras akeh kang prapteng pralaya.

Gempa bumi sehari tujuh kali, Membuat ketakutan manusia, Tanah banyak yang retak-retak, Makhluk halus yang ikut membantu amarah alam, menyeret semua manusia, Manusia menjerit-jerit, Banyak yang terkena penyakit, Bermacam-macam sakitnya, Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

16. Sabda Palon nulya mukswaSakêdhap botên kaeksiWangsul ing jaman limunanLangkung ngungun Sri BupatiNjêgrêg tan bisa anglingIng manah langkung gêgêtunKêdhuwung lêpatiraMupus karsaning DewadiKodrat iku sayêkti tan kêna owah.

Sabdo Palon kemudian menghilang,Sekejap mata tidak terlihat sudah,Kembali ke alam misteri,Sangat keheranan Sang Prabhu,Terpaku tidak bisa bergerak,Dalam hati merasa menyesal,Merasa telah berbuat salah,Akhirnya hanya bisa berserah kepada Tuhan,Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa dirubah lagi.


Bookmark and Share