“Sumpah Sabdo Palon”: Kisah Spiritual Mas Dikontole


Langit  bergetaran saat sumpah Sabdo Palon dikumandangkan, alam dalam kesunyian yang mati, hewan-hewan merunduk dalam ketakutan yang tersembunyi:
Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.”

“Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Islam dengan Kawruh Budi, saya sebar seluruh tanah Jawa”.

“Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.”

.“Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.”

Membaca bait syair ini, Mas Dikontole seperti membaca pori-pori tubuhnya. Seperti ada hawa yang menetap disana. Entah dia sendiri sudah lelah mencari jawabnya. Semua datang dengan tiba-tiba. Seperti udara yang menelusup saja disana, menetap lama dan menimbulkan hawa semisal angin yang bergerak.

Jauh sebelum Gunung Merapi meletus terakhir kali.  Dimana kulitnya serasa  seperti bergerak. Ada hawa panas di dalam dadanya yang menetap lama sekali. Seperti hawa yang mau muntah, panasnya mampu membuat dadanya senatiasa bergolak. Dia dalam keresahan tak terkira saat itu. Begitu keseharian entah berapa bulan lamanya dia tidak ingat lagi.

Kepada rekan-rekannya dia sms, ada sesuatu kekuatan daya yang memaksanya untuk mengirim sms sebuah pesan. Pesan singkat “Saatnya segera akan tiba !”. Entah saat itu dia sendiri tidak tahu apa makna dan buat apa mengirim pesan semacam itu kepada rekan-rekannya. Ada satu dua temannya yang merespon.  Dia hanya menceritakan akan datang saatnya Gunung Merapi akan meletus, memutahkan lahar dan debu vulkanis ke  arah barat daya. Kemudian setelahnya akan diikuti dengan meletusnya gunung-gunung lainnya. Diseluruh dunia akn muncul tanda-tanda semacam itu. Banjir akan menggenangi sebagian benua, mulai amerika, eropa, asia dan china, dan juga benua australia. Tak ketinggalan Indonesia palagi.  Itu ilapat yang dikatakannya jauh sebelum Merapi Meletus.

Siapakah yang percaya ramalan dan Sumpah Sang Sabdo Palon ?!. Bukankah itu hanya dongengan orang tua dahulu. Dongengan anak kecil supaya mau tidur. Mas Dikontole juga tidak mengerti. Mengapa kisah itu seperti sangat nyata di hadapannya. Satu demi satu kesadaran yang diceritakan  tersebut hadir menyapanya. Mulai dari Ken Arok,  menyapanya dalam sebuah dialog yang panjang. Kesadaran yang tidak mau menyebutkan nama, namun mata batin Mas Dikontole mampu menebak siapakah jati dirinya. Saat mana dia bercerita, dialah anak yang dibesarkan oleh Sang Sabdo Palon. Dibesarkan di Hutan Lali Jiwo, dilereng Gunung Arjuno.

Banyak sekali kesadaran yang hadir satu demi satu, kemudian datang Raden Wijaya,  dia bercerita, yang intinya dia dan banyak lagi lainnya, dipanggil dari pertapaannya untuk masuk kembali kedunia manusia. Nanti saatnya akan tiba. Begitulah yang ditangkap Mas Dikontole. Mereka semua kan mengasuh anak-anak asuhannya masing-masing. Akan mengajarkan agama Kawruh Budhi. Sungguh dimensi yang membingungkannya saat itu.

Islam jelas mengajarkan bahwasanya kita harus mempercayai hal ghaib. Namun banyak sekali dalam praktek keseharian mereka menafikkan Makhluk Ghaib. Mereka menganggap adalah musrik. Mereka kemudian menafikan keberadaan makhluk-mahluk ghaib di alam nyata ini. Mereka semua memperlakukan makhluk ghaib bak ‘momok’ yang menakutkan sekali. Semacam hantu pocong, kuntilanak dan lainnya. Makhluk-makhluk yang benar-benar wajib di takuti. Itulah kesadaran yang diturunkan ajaran Islam.

Alam semesta tidak akan harmoni tanpa kehadiran mereka para makhluk yang menghuni dimensi yang tak kasat mata ini. Merekalah sesungguhnya penghuni tertua di bumi ini. Semenjak jaman dinasurus bahkan jaman-jaman sebelum ada makluk yang melata merekalah yang pertama kali menghuni bumi. Mereka membangun perdaban, mereka bermuamalah layaknya manusia biasa. Mereka berdagang, bertani, pelukis, pejabat, arsitek, yang raja , pendek kata apa yang dicapai manusia saat ini telah mereka capai peradabannya dahulu kala. Inilah sebabnya mengapa ada mitos dunia Altantis. Perdaban tertinggi yang hilang.

Semua kisah tentang Atlantis bisa dibaca di SINI !

Apakah bedanya mereka dengan kita, yang membedakan hanyalah ‘kerapatan mega pixel saja’ . Sehingga mata manusia tidak mampu untuk melihat mereka. Mereka sama, seperti kita ada kaum cendikianya, ada kaum sholehnya, dan lain-lain. Lengkap sebagaimana peradaban manusia. Mereka juga memiliki nafsu yang sama seperti manusia. Sehingga pada suatu masa mereka semua membuat kerusakan di muka bumi. Keadaan yangmembuat kemurkaan Allah. Kemudian Allah menurunkan azab-Nya. Lapisan es mencair, dimana-mana daratan digenangi air. Makhluk-makhluk raksasa tenggelam. Bumi mencari titik keseimbangan baru.

Allah kemudian memerintah Iblis (pada saat itu masih belum menjadi Iblis) untuk memerangi mereka mengusir mereka semua agar mau menempati  gunung-gunung. Lembah dan lautan.  Dan tempat-tempat yang terpencil. Mereka tidak boleh memasuki daratan tanpa hak. Itulah misi Iblis saat itu Iblis diperintah untuk melakukan pengusiran kepada bangsa tertua yang menghuni bumi. Dan misi ini berhasil. Karena misi ini berhasil. Maka kemudian diceritakan Iblis menjadi sombong. Karena kesombongannya Iblis kemudian mendapatkan murka Allah dan dikutuk sampai akhir jaman. Pengusiran ini rupanya berkaitan dengan rencana Allah untuk menurunkan manusia ke bumi.


Mas Dikontole, hanya termangu mendengar kisah yang  amat mengharukan ini. Kisah peradaban suatu kaum. Suatu perdaban yang di hancurkan dan diusir dari permukaan daratan disebabkan tingkah polah mereka di muka bumi. Mas Dikontole menerawang bagaimana nanti dengan manusia ?. Dia hanya membatin dalam hati saja. Dia tidak mau mengganggu keseriusan mereka bercerita. Mas Dikontole masih terus mendengarkan kisah-kisah mereka. Kisah-kisah yang kadang diselingi tangis keharuan, tangis yang mampu menggetarkan seluruh sel-sel tubuh manusia. Sungguh keadaan saat itu penuh diliputi hawa magis luar biasa sekali. Hawa dingin menusuk tulang. Mas Dikontole menggigil tanpa mampu menggerakkan badannya.

Diceritakan lagi, Bagaimana mereka-mereka kemudian lebih memilih daerah di khatulistiwa. Daerah dimana banyak matahari dan air yang berlimpah.  Menempati gunung, lembah, lautan dan tempat-tempat terpencil lainnya. Akhirnya pada suatu masa datanglah sang Ajisaka menaklukan mereka semua. Sang Ajisaka kemudian membuat paku bumi. Paku yang menandai bahwa kaum mereka tunduk kepada perjanjian untuk salaing menghormati, saling menghargai, senantiasa menjaga bersama keharmonisan bumi Nusantara ini.

Perjanjian ini berlaku kepada seluruh makhluk baik yang didalam bumi ataupun di atasnya. Maka paku ini menancap hingga puluhan kilometer ke dasar bumi. Bagaimana kemudian Sang Sabdo Palon berjanji akan senantiasa membantu anak keturunan Sang Ajisaka ini. Untuk menjaga keharmonisan alam bumi Nusantara ini. Dia berjanji akan mengasuh anak-anak Ajisaka. Bergidik Mas Dikontole, membayangkan sumpah pati Sang Sabdo Palon yang diucapkannya kepada sang Ajisaka. Pengorbanan demi alam semsta, bersama manusia menjaga harmoni alam semesta.

Cerita mengalir terus, melewati peradaban-peradaban. Hingga akhirnya, Sang Sabdo Palon tidak mampu lagi  mengikuti anak keturunan sang Ajisaka. Sebab agama baru yang datang membawa perseteruan dirinya dengan alam ghaib lainnya. Itu dalam penglihatan sang Sabdo Palon. Agama itu nanti hanya akan bagus dikulitnya saja. Banyak orang yang hanya akan berbangga-bangga dengan agama baru mereka. Agama baru itu tidak mampu mengajarkan ‘budhi’ kepada umat-umatnya. Agama baru itu tidak mengajarkan bagaimana menjaga keharmonisan alam semesta. Agama yang hanya akan menyebabkan ‘kegamangan’ par pemeluknya.  Agama yang menyukai peperangan saja.

Mas Dikontole seperti tidak percaya atas yang diucapkannya. Dia masih berkeyakinan bahwa agama yang dianutnya adalah yang terbaik. Rupanya pemikiran tersebut dipahami oleh mereka. Kemudian mereka menjelaskan bahwasanya bukan agama tersebut yang jelek. Islam adalah penyempurna agama di muka bumi. Namun nasibnya tidaklah lebih baik dari agama-agama lainnya. Mayoritas mereka hanya mengikuti prasangka dan hawa nafsunya sendiri. Maka diantara mereka nanti akan terjadi saling mengkafirkan, akan terjadi banyak pertumpahan darah memperebutkan kebenaran. Banyak dari pemeluknya sudah berbangga diri bahwa agama mereka yang terbaik, tanpa memahami hakekat sebenarnya. Ruh dan akhlak mereka sama sekali tidak memiliki ‘budhi’.

Mas Dikontole hanya mampu tercenung memang begitulah keadaannya.  Pemahaman mengenai Islam yang didapatkannya selama ini, memang tidak diajarkan untuk hidup berdampingan dengan mereka-mereka, makhluk dari dimensi lain. Islam nyaris menafikan keberadaan mereka yang juga turut serta menjaga alam semesta ini. Manusia menganggap mereka-mereka adalah mahluk yang tidak memiliki kecerdasan. Mereka dianggap sebangsa Kuntilanak saja. Disuir dari tempat-tempat dan rumah-rumah mereka. Hanya disebabkan oleh ulah satu dua orang yang ‘kafir diantara mereka. Jika di dunia manusia ada kejahatan maka di dunia mereka juga sama saja. Jika di dunia ada manusia yang cerdik pandai di dunia mereka banyak sekali. Sebab umur mereka sudah ribuan tahun. Hanya mereka mengerti, mereka kaum kastria, brahmana, kaum arif diantara mereka tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah Tuhan mereka. Mereka dibatasi oleh ketetapan yang mendahului. Sehingga mereka akan tetap berada dalam dimensi mereka sendiri.

“Apakah manusia mau mengerti hal ini ?! .“ Mas Dikontole menggelang tak pasti.

Hanya dalam keyakinannya saat sekarang ini sumpah sang Sabdo Palon pasti akan terjadi, dan akan dibuktikannya. Sebab mereka semua berkepentingan akan keharmonisan alam bumi Nusantara ini. Mereka akan menjaga agar istana kerajaan mereka, rumah-rumah mereka, masyarakat mereka, perdaban mereka.  Jika bumi air, hutan dan segala isinya terjaga maka mereka akan  tetap dapat tinggal dan hidup di hutan-hutan, di lembah, dan di lautan.

Mereka berkepentingan menjaga itu agar rumah mereka tidak hilang. Dihancurkan oleh manusia-manusia yang tidak mengerti. Maka mereka berkepentingan siapakah selanjutnya yang akan berkuasa di Nusantra ini. Maka dia harus orang yang mengerti akan hal ini. Sang Sabdo Palon berkepentingan akan hal ini. Maka dia dan pasukannya akan menjelajahi setiap hati mansuia. Mencari dan memilih. SANG SATRIO PININGIT. Satria yang akan diasuhnya sendiri. Untuk menjadi wakil mereka nanti yang akan memerintah kerajaan ghaib dan kerajaan manusia di bumi Nusantara ini. Maka jika anak asuhannya ini sudah muncul, bumi Nusantara akan ber-jaya lagi. Menjadi mercusuar dunia. Semoga.

Maka saya hanya tunduk tak mengerti, beranjak pergi untuk menuliskan kisah Mas Dikontole yang lain lagi. salam. Wolohualam. Sumber.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar