Prabu Siliwangi Mendunia


BOGOR - Legenda tentang kedigdayaan Prabu Siliwangi dalam membawa tanah Sunda meraih kejayaannya, bakal mendunia. Itu setelah wartawan dari kantor berita Rusia mengaku tertarik untuk mengulasnya dalam sebuah cerita epik. 

Dua wartawan Rusia yang bertugas mereportasi masa evakuasi jatuhnya Sukhoi Superjet 100 di Pasirpogor, Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, kini sedang sibuk merangkai kisah Raja Sunda ini.

“Mereka sangat tertarik sekali dengan kisahnya. Belakangan saya antarkan mereka ke sejumlah warga sekitar untuk mendapatkan ceritanya,” jelas seorang pemandu tim SAR Rusia, Syahrudin, 

Ada hal yang menarik, seusai dua wartawan Rusia tersebut mendengar secuplik kisah keterkaitan Prabu Siliwangi dan Gunung Salak. Kedua jurnalis itu mendadak bertindak lebih santun dan tidak sembrono apalagi sombong. 

Mereka pun lantas menceritakan ulang ke rekan senegaranya yang berada di base camp, helipad, SMPN 1 Cijeruk. “Mereka mau ikut aturan itu,” tutur Syahrudin.

Profil Gunung Salak memang tak lepas dari unsur mistis dan cerita kuno yang menyelimutinya. Terlebih di gunung tua ini terdapat banyak sekali tempat petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya.

Salah satunya petilasan milik Raja Pajajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi di kaki Gunung Salak di daerah Bogor, dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi.

Di gunung yang memiliki empat puncak tinggi ini pun terdapat makam kuno yang berusia ratusan tahun dengan jumlah mencapai lebih dari 40 makam. 

Makam itu milik pemuka agama Hindu yang wafat dan dikuburkan di Gunung Salak. Sehingga, banyak yang menganggap jika ingin memasuki wilayah Gunung Salak, harus menjaga perilaku dan sopan santun.

Misteri lain yang menyelimuti Gunung Salak adalah pernah terdengar cerita ada goa yang di dalamnya berisi belasan patung emas dalam berbagai ukuran. Tapi, hingga kini belum pernah ada bukti empiris yang ditemukan peneliti.

Juru kunci Gunung Salak, Marsya Abdullah mengungkapkan, sejak dulu di lingkungannya beredar ramalan yang isinya menyatakan bahwa Gunung Salak suatu hari nanti bakal dikenal dunia dan dikunjungi banyak orang.

Ramalan itu menjabarkan, kawasan pengapungan Gunung Salak nantinya akan dijadikan landasan pesawat terbang. “Memang ramalan itu tidak merinci secara detail. Namun kejadian jatuhnya pesawat ini membuat Gunung Salak diketahui banyak orang. Beritanya malah sampai ke luar negeri,” kata Marsya.

Belum lagi, lanjutnya, sejumlah landasan helikopter kini benar-benar dibangun di Gunung Salak sebagai bagian dari proses evakuasi. Ramalan soal Gunung Salak yang bakal mendunia ini, menurut Marsya, ia dengar salah satunya dari sang ayah, almarhum Mbah Haji Entong Madrowi.  

“Ramalan ini sudah  terbukti sekarang,” tukasnya. Sementara itu, spekulasi mistis yang bermunculan ternyata membuat Wakil Bupati Bogor, Karyawan Faturachman (KF) berang. “Kecelakaan SSJ 100 tak ada kaitannya dengan mistik,” tegas KF saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

“Yang jelas, ada tiga faktor penyebab jatuhnya pesawat itu, yang pertama, masalah teknis, human error dan faktor alam, seperti cuaca,” sambungnya. Dia menambahkan, pemberitaan media harus sesuai fakta di lapangan.

Mengenai spekulasi adanya sabotase ataupun yang berkaitan dengan jatuhnya pesawat Shukoi Super Jet 100 buatan Rusia itu, akan dibuktikan setelah pemeriksaan kotak hitam. “Jadi semua rahasia mengenai tragedi jatuhnya pesawat itu, akan dibuktikan dengan kotak hitam,” pungkasnya.

Senada dengannya, Ketua Yayasan Gentra Pajajaran, Ahmad Rahiman menyayangkan spekulasi yang mengaitkan jatuhnya pesawat dengan hal mistis. Apalagi, ada budayawan atau paranormal yang mengaitkan kecelakaan tersebut dengan keangkeran dan hal-hal yang berbau mistis. Malah, musibah itu dikaitkan dengan keganasan arwah-arwah karuhun atau leluhur yang mendiami Gunung Salak.

“Sebagai orang Sunda, khususnya warga Bogor, saya merasa prihatin dan perlu meluruskan pernyataan tersebut. Karena, jika kita bicara tentang karuhun Sunda maka yang kita bicarakan adalah para raja yang pernah memerintah di tatar Sunda. 

Mereka adalah raja-raja, terutama Eyang Prabu Siliwangi, yang menganut paham “silih asih silih asah silih asuh” (saling menyayangi, saling mendidik, saling menjaga),” katanya.

Ia menambahkan bahwa sangat tak bijaksana jika mencari kambing hitam dalam musibah tersebut. Karena, dikhawatirkan muncul opini di masyarakat bahwa Gunung Salak adalah sebuah gunung yang angker, menakutkan dan harus dijauhi agar terhindar dari bencana.

Gunung Salak itu, lanjut Rahiman, adalah tempat yang aman, indah untuk berwisata bersama keluarga.

Saat ini, Gunung Salak berfungsi sebagai tampungan cadangan air tanah bagi seluruh masyarakat yang berdiam di sekitar gunung hingga ke ibukota Jakarta. “Saya mengajak masyarakat untuk tetap berpikir jernih dan logis dalam menyikapi musibah ini,” terang pemerhati budaya ini. Sumber.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar