KEBHINEKAAN DALAM BUKU SUTASOMA


Sutasoma — Document Transcript

1. Nama : Widyanata Yudha P.Kelas : VII A - KEBHINEKAAN DALAM BUKU SUTASOMA

2. Saat mendengar Sutasoma, segera berkelebat ingatan kepada Muhammad Yamin -- pemuda yang mengusulkan seloka "Bhinneka Tunggal Ika" untuk dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Muhammad Yamin mengambil kata itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi : Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal ,Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. (Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.) Kutipan tadi merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno versi"Kapustakan Jawi" karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah ini disadur Pu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India. Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransiantar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha.

Dalam konteks usulan Muhammad Yamin, ia hendak menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di Indonesia. Kakawin Sutasoma dalam Sejarah Dalam konteks sejarah, Kakawin Sutasoma tidak berdiri sendiri. Ada pendahulunya, misalnya Kakawin Arjunawiwaha dan Mahabharata yang ditulis Pu Kanwa, yang juga gubahan dari karya Valmiki.

Kakawin memiliki pengaruh yang kuat dalam pola pikir dan perilaku masyarakat Jawa. Filsafat hidup yang terkandung dalam Kakawin Mahabarata misalnya, bahwa kebenaran yang dibawakan Keluarga Pandawa akan selalu menang terhadap kejahatan yang direpresentrasikan oleh Kurawa seringkali dijadikan acuan hidup bermasyarakat. Kurang lebih sama seperti munculnya kakawin Mahabharata yang "dipesan" oleh Raja Erlangga, kehadiran kakawin Sutasoma juga atas "pesanan" Raja Hayamwuruk.

Apa yang membuat Raja Hayamwuruk memesan Pu Tantular untuk menuliskan kisah Sutasoma dengan bumbu sastra setempat? Pada saat itu, Hayamwuruk sebagai raja Majapahit mengalami kekuatan saling bertemu antara agama Siwa dan Buddha. Agar dua kekuatan itu tidak saling merusak yang akibatnya akan menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bagi negara besar seperti Majapahit, kakawin ini disusun dan disebarluaskan. Produksi teks Kakawin Sutasoma yang disponsori oleh kerajaan Majapahit ini besar kemungkinan dimaksudkan agar tercipta toleransi antar agama Siwa dan Buddha.

3. Tetapi apakah dalam kenyataannya terjadi yang demikian itu? Menurut pandangan Prof. Kern, dalam sejarahnya kedua agama ini memang tumbuh dan berkembang bersama, yang kemudian diistilahkan "vermenging" (percampuran). Namun kemudian menjadi pembicaraan antara Prof. Krom, Rasser, dan Zoetmulderhingga memunculkan istilah "sinkretisme" atau "blendeing" (perpaduan, peleburan) antara Siwaisme dan Buddhisme. Namun istilah ini oleh beberapa sarjana lain dianggap menyesatkan karena dengan munculnya data lebih banyak mengenai kebudayaan kuno Jawa Timur ternyata bahwa kedua agama, Siwa dan Buddha, tidak berbaur dalam keseluruhan sistemnya. Siwaisme dan Buddhisme pada prakteknya masih selalu merupakan agama yang terpisah, juga ditunjukkannya bahwa Buddha terutama dalam Kakawin Sutasoma dianggap lebih unggul dari pada Siwa. Dalam teks Kakawin Sutasoma, memang demikianlah pada akhirnya.

Siwayang menitis pada Porusadha "dikalahkan" oleh sifat pengorbanan Sutasoma yangtak lain adalah Sang Jina, Buddha itu sendiri. Soewito Santoso dalam buku "Sutasoma" tahun 1975 melakukan penelitian cukup mendalam atas teks Kakawin Sutasoma dengan menyatakan bahwa Pu Tantular secara jelas menggambarkan satu seri pertempuran antar dewa-dewa, yang puncaknya adalah perang tanding antara Sutasoma dan Purosadha. Tanpa keraguan, Pu Tantular bermaksud menunjukkan kepada pembaca siapakah pemenang yang sebenarnya.

Dalam teks itu, terdapat 4 dewata yang penting, yaitu : Brahmà, Wisnu, Siwa, dan Buddha. Dewa-dewa tersebut bereinkarnasi ke dunia dalam wujud: Dasabahu, Jayawikrama, Porusadha dan Sutasoma. Pertempuran antara Porusadha dengan Jayawikrama dan dalam pertempuran antara Porusadha dengan Dasabahu, keduanya mati terbunuh. Porusadha mencapai puncak kemenangan, namun saat berhadapan langsung dengan Sutasoma, akhirnya ia kalah.

Semua yang gugur di medan pertempuran dihidupkan kembali, segala kehancuran dan kerusakan direhabilitasi kembali, dan kekuatan Porusadha tidak berdaya untuk membunuh Sutasoma. Inilah yang secara agung ditulis oleh Pu Tantular bahwa Buddha unggul terhadap Siwa dalam hal keunggulan kasih sayangdan cinta (ciri utama dari Buddhisme) mengatasi kekerasan.

Sutasoma di tangan Cok Sawitri Dalam novel Sutasoma ini, Cok Sawitri menggubah cerita Sutasoma dari apa yang ia dengar sewaktu kecil dan pembacaan atas teks Kakawin Sutasoma yang ada di Bali. Maka dengan demikian, sekali lagi cerita yang sama ditafsir kembali. Dalam tafsir Cok Sawitri, tentulah tidak dapat dihindari tafsir-tafsir personal yang mewarnai penceritaannya dan tentu saja menyesuaikan dengan maksud proses kreatif yang digagas Cok Sawitri pada kali pertama ia berniat menggubah karya ini. Dalam versi Cok Sawitri, muncul sosok Jayantaka putra Raja Sudasa yang demikian mempesona pembaca.

Ia hadir hingga 14 bab pertama dan segera membius para pembaca untuk jatuh cinta pada karakter yang gagah, sakti, dan cerdas. Jayantaka meneruskan niatan Raja Sudasa untuk menegakkan dharma agama dan dharma negara. Malahan, Jayantaka akhirnya meluaskan niatan ini bukan saja di negerinya sendiri, tetapi juga meluas ke negeri-negeri lain. Jalannya adalah penaklukkan 100 negeri dan oleh karenanya ia dikenal sebagai Porusadha, raksasa pelahap kepala raja.

4. Sedang Sutasoma barulah diperkenalkan pada bab 15 dalam narasi yang kurang begitu menawan dibanding Jayantaka. Cerita makin menarik saat diceritakan perang-perang yang dilakukan oleh Jayantaka lewat jalur lorong bawah tanah negeri Mleca dan dibantu oleh seorang pemburu bernama Belawa. Puncaknya adalah pertarungan antara Jayantaka dan Jayawikrama, dengan kekalahan Jayawikrama karena kepongahannya. Begitu pula saat kehadiran Dasabahu bisa ditebak bahwa peperangan itu pun akhirnya dimenangkan oleh Jayantaka.

Akhir kisah adalah penangkapan Sutasoma oleh Jayantaka, yang berakhir dengan petuah Sutasoma bahwa tidak ada yang dikalahkan atau dimenangkan dan baik Sutasoma dan Jayantaka berjalan ke arah yang berbeda. Gubahan Cok Sawitri dalam bentuk narasi fiksi sastra memanglah suatu yang niscaya untuk menarik para pembaca, baik yang telah kenal dengan teks terdahulu atau belum.

Ditambahkannya tokoh-tokoh baru seperti Belawa, Nini, ketiga istri Sudasa, anak-anak tiri Sudasa dan sekaligus saudara Jayantaka sekaligus penokohan baru atas tokoh-tokoh yang ada dalam teks terdahulu membuat novel ini"kaya amunisi". Bahkan boleh dibilang bukan hanya kaya amunisi, tetapi juga"gemuk" oleh pandangan-pandangan personal Cok Sawitri yang dititipkan ke dalam tiap tokoh yang ada sehingga membuat Sutasoma karya Cok Sawitri ini boleh dibilang cukup berbeda. Persoalan kebhinnekaan dalam teks terdahulu juga hadir di sini, namun tentu saja keempat dimensi toleransi antar agama yang ada di teks terdahulu kini tergantikan.

Gantinya, adalah toleransi antara agama minoritas dan agama mayoritas. Jayantaka dalam teks Cok Sawitri mewakili agama minoritas, yang dalam pernyataan Cok Sawitri mewakili apa yang tengah diperjuangkannya adalah mewakili agama Tantrayana, sedang Sutasoma mewakili agama mayoritas, baik itu Hindu dalam konteks Bali atau agama mayoritas di Indonesia yakni Islam.

Petuah dalam gubahan Cok Sawitri cukup jelas melansir keinginannya agar agama-agama mayoritas/besar tidak menghancurkan agama kecil, melainkan belajar untuk mentoleransi dalam semangat kebhinnekaan yang dihembuskan oleh Sutasoma. Kritik pada masyarakat kelas atas yang berada pada lingkaran istana juga mencuat dalam karya Cok Sawitri ini, yang dengan mudah bisa ditarik garis paralel antara negeri di bawah pimpinan Sudasa dan Jayantaka dengan negeri Indonesia ini.

Sebuah paralelisme yang kurang lebih sama dilakukan Pu Tantular sewaktu menggubah Sutasoma kali pertama dari teks aslinya. Penutup Sutasoma karya Cok Sawitri perlu mendapat perhatian semua orang, karena tali sejarah yang membawa benang merah toleransi antar agama. Sesuatu yang secara luar biasa mampu dihadirkan kembali dan dibumikan oleh Cok Sawitri dalam konteks Indonesia masa kini. Kelemahan pada porsi pengkarakteran tokoh-tokoh di dalam novel ini memang perlu mendapat sentuhan lagi dari penulis. Tetapi tidak mengurangi bahwa karya ini bisa dinikmati sebagai bacaan yang membuka cakrawala pikiran kita. Sumber.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar