RADEN WIJAYA

(Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana)
Setelah kekuasaan Jayakatwang ditaklukan,Raden Wijaya kemudian memimpin pasukannya ke arah Daha, menggempur balik pasukan Tartar (Mongol) yang tengah larut dalam uforia menundukan Jawa. Tak ayal, serangan itu membuat pasukan yang dipimpin oleh Ike Meise harus kehilangan banyak prajurit sehingga harus menariknya untuk mundur meninggalkan tanah Jawa.

Krtarajasa Jayawardhana (Nararyya Sanggramawijaya/Raden Wijaya), memerintah tahun 1215–1231 Saka/1293-1309 AD. Bergelar Sri Maharaja Mahawiratmeswaranindita Parakramottunggadewa Sri Krtarajasajayawardhana atau Sri Maharaja Sri Yawabhuwana Parakrameswara Rakryan Maha-mantri  Sanggramawijaya Sri Krtarajasa Jayawardhana Anantawikramottunggadewa. Raden Wijaya adalah pendiri sekaligus raja pertama yang memerintah Kerajaan Majapahit.

Berdasarkan uraian serat Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Kisah tersebut mirip dengan cerita Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Akan tetapi, Nagarakretagama menyebut Dyah Lembu Tal merupakan  putra Narasingamurti dan memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan ayah dari Raden Wijaya.

Sumber-sumber tertulis mencatat (Prasasti Balawi; Nagarakrtagama) bahwa Raden Wijaya menikahi putri-putri Krtanagara: Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Namun menurut Pararaton, Raden Wijaya menikahi dua putri Krtanagara, dan seorang putri lain yang berasal dari keturunan Kerajaan Malayu ‘Dara Petak’. Dari putri sulung Krtanagara yang bergelar Tribhuwaneswari, Raden Wijaya dikaruniai putra bernama kecil ‘Kalagemet’ dan gelar remi Jayanagara (menurut Pararaton, Jayanagara sebenarnya putra Dara Petak yang oleh Kakawin Nagarakrtagama disebut Indreswari); sedangkan dari Dyah Gayatri, Raden Wijaya dikarunia dua putri yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.

Pendiri dan Raja Majapahit

Atas kegemilangannya, Raden Wijaya kemudian  menjadi rajadi kerajaan yang ia dirikan (Majapahit),bergelar Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana.Tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka (10 November1293).

Pada tahun 1292 M terjadi pemberontakan Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang terhadap  Kerajaan Singasari. Raden Wijaya ditunjuk Kertanagara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singasari. Raden Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara.

Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Aria Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Raden Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, menganugerahkan Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan perburuan. Raden Wijaya beserta orang-orang Songeneb kemudian membuka hutan tersebut. Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan serat Pararaton, beberapa dari mereka menemukan buah maja yang rasanya pahit dan desa pemukiman yang baru didirikan tersebut diberi nama Majapahit.

Peristiwa seputar Pemerintahan

Raden Wijaya dalam Prasasti Balawi tahun 1305 Masehi menyatakan dirinya dan pemerintahannya memakainama Wangsa Rajasa (Ken Arok). Dalam memerintah kerajaan Majapahit, Raden Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. Nambi diangkat sebagai patih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, Arya Wiraraja dan Rangga Lawe diangkat sebagai pasangguhan (gelar Senapati dalam kesusastraan Jawa). Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin Desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.

Pada tahun 1295 terjadi Peristiwa pemberontakan Rangga Lawe. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Setelah Rangga Lawe tewas, pada tahun 1300 Masehi terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. disusul kemudian Nambi yang ikut tercoreng Namanya hingga ia juga harus tewas sebagai penghianat.


Menurut berita Pararton, di dalam mengelola tatanan politik pemerintahannya, selanjutnya Raden Wijaya membentuk kelompok khusus disebut Dharmaputra atau pengalasan wineh suka (pejabat istimewa yang diberi anugerah raja atau pegawai/pembesar yang disayangi/dimanjakan raja). Kelompok itu terdiri dari Ra Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak.

Peristiwa seputar Pemerintahan Raden Wijaya dalam Prasasti Balawi tahun 1305 Masehi menyatakan dirinya dan pemerintahannya memakai nama Wangsa Rajasa (Ken Arok). Dalam memerintah kerajaan Majapahit, Raden Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. Nambi diangkat sebagai patih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, Arya Wiraraja dan Rangga Lawe diangkat sebagai pasangguhan (gelar Senapati dalam kesusastraan Jawa). Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin Desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.

Pada tahun 1295 terjadi Peristiwa pemberontakan Rangga Lawe. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Setelah Rangga Lawe tewas, pada tahun 1300 Masehi terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. disusul kemudian Nambi yang ikut tercoreng Namanya hingga ia juga harus tewas sebagai penghianat.

Menurut berita Pararton, di dalam mengelola tatanan politik pemerintahannya, selanjutnya Raden Wijaya membentuk kelompok khusus disebut Dharmaputra atau pengalasan wineh suka (pejabat istimewa yang diberi anugerah raja atau pegawai/pembesar yang disayangi/dimanjakan raja). Kelompok itu terdiri dari Ra Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan Ra Banyak.

Akhir Hayat

Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 M. Ia dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping sebagai Harihara, atau perpaduan Wisnu dan Siwa. Raden Wijaya digantikan Jayanagara sebagai raja selanjutnya.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar