DYAH SUHITA

(Sang Prabhustri)
Prabu Stri Suhita adalah Penguasa wanita kedua dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit setelah Tribhuwana Tunggadewi. Prabu Stri Suhita memerintah bersama suaminya yang bernama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja. Masa pemerintahannya ditandai Kebangkitan kembali ciri lokalitas Nusantara, antara lain didirikannya berbagai tempat pemujaan dengan bangunan-bangunan yang disusun sebagai punden berundak-undak di lereng-lereng gunung salahsatunya Candi Ceta di lereng gunung Lawu.

Prabu Stri Suhita adalah ratu Majapahit yang memerintah tahun 1427-1447, bersama suaminya yang bernama Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja. Menurut Pararaton , nama asli Parameswara adalah Aji Ratnapangkaja. Ibunya bernama Surawardhani alias Bhre Kahuripan, adik Wikramawardana. Ayahnya bernama Raden Sumirat yang menjadi Bhre Pandansalas, bergelar Ranamanggala.

Tentang Suhita dikemukakan oleh Hasan Djafar (1978:47) dengan mendasarkan pendapatnya kepada asumsi Krom (1931:446) dan Soekmono (1961:71). Menurut Hasan Djafar, kemungkinan besar Suhita adalah putri Bhre Wirabhumi, ia ditahtakan sebagai raja Majapahit tahun 1351 Saka/1429 AD adalah untuk meredam persengketaan antara pihak keluarga Wikramawardhana dan pihak keluarga Bhre Wirabhumi.

Selanjutnya Hasan Djafar (1978:72-73) menyebutkan bahwa dari Pararaton (Par.: 37; 38) diketahui Bhre Wirabhumi memiliki empat orang anak, dan salah satunya adalah Bhra Hyang Wisesa dan Bhra Hyang Wisesa mempunyai anak tiga orang, Bhre Tumapel, Bhre Pabhustri yang disebut Suhita, dan Dyah Krtawijaya (adik bungsu Suhita). Maka Bhre Tumapel adalah sebenarnya putra mahkota yang berhak atas tahta, namun ia mangkat muda pada tahun kesepuluh ayahnya memerintah (1321 Saka/1399 AD). Itu sebabnya tatkala Bhra Hyang Wisesa mangkat, tahta Majapahit digantiakan oleh Suhita hingga tahun 1369 Saka/1447 AD. Ia menikah dengan Hyang Parameswara (Bhre Koripan) tetapi ia tidak di-karuniai seorang anak pun.

Masa Pemerintahan Suhita

Suhita memerintah berdampingan dengan Ratnapangkaja bergelar Bhatara Parameswara. Pada tahun 1433 Suhita membalas kematian Bhre Wirabumi dengan cara menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati. Dari berita ini terasa masuk akal kalau hubungan Bhre Wirabumi dan Suhita adalah kakek dan cucu, meskipun tidak disebut secara tegas dalam Pararaton .

Nama Suhita juga muncul dalam Kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong sebagai Su-king-ta, yaitu raja Majapahit yang mengangkat Gan Eng Cu sebagai pemimpin masyarakat Cina di Tuban dengan pangkat A-lu-ya. Tokoh Gan Eng Cu ini identik dengan Arya Teja, kakek Sunan Kalijaga.

Akhir Pemerintahan Suhita

Pada tahun 1437 Bhatara Parameswara Ratnapangkaja meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 1447 Suhita meninggalpula. Pasangan suami istri itu dicandikan bersama di Singhajaya. Karena tidak memiliki putra Mahkota, Suhita digantikan adik bungsunya bernama Dyah Krtawijaya menjadi raja Majapahit.
Pejabat Bhre Matahun yang identik dengan Rajasawardhana dalam Pararaton adalah Raden Larang. Istrinya adalah adik kandung Hayam Wuruk. Perkawinan tersebut tidak menghasilkan keturunan, karena istri Bhre Wirabhumi versi Pararaton adalah putri Raden Sumana alias Bhre Paguhan, bukan putri Raden Larang. Dalam hal ini, berita dalam Nagarakretagama lebih dapat dipercaya, karena ditulis tahun 1365, saat Rajasawardhana masih hidup.

Bookmark and Share

1 comments:

RUDIKADIR mengatakan...

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=684265584951904&set=a.684265544951908.1073741836.100001054062990&type=1&relevant_count=3 nich patung siapa

Poskan Komentar