JAYANAGARA (KALAGAMET)

(Sri Maharaja Rajadhiraja Parameswara Sri Wirakandagopala Sri Sundarapandya Dewadhiswara)
Jayanagara naik tahta sebagai raja kedua Kerajaan Majapahit menggantikan ayahandanya (Raden Wijaya). Pengukuhannya sebagai raja disebut di dalam Prasasti Penanggungan (1218 Saka/1296 AD), ia bergelar Sri Maharaja Wirakandagopala Sri Sundarapandyadewadhiswara. Ia putra laki-laki satu-satunya Nararyya (Raden) Wijaya. Karena itu sebelum bertahta, Jayanagara ditahbis sebagai yuwaraja (raja muda) di istana (Kadiri) Daha (1217 Saka/1295 AD); ia memangku tahta kerajaan ketika berusia 15 tahun.

Jayanagara (Kalagamet) lahir pada tahun 1294 Masehi dan meninggal pada tahun 1328 Masehi. Ia merupakan raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1231-1250 Saka (1305-1328 AD) bergelar resmi Sri Maharaja Rajadhiraja Parameswara Sri Wirakandagopala Sri Sundarapandya Dewadhiswara atau Sri Maharaja Parameswara Sri Sakalayawamandalamaduradi Paradwaparapala Sri Sundarapandyadewa-namarajabhiseka. Pemerintahan Jayanagara terkenal sebagai masa pergolakan dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Ia sendiri meninggal akibat dibunuh oleh tabib istananya.

Silsilah Keluarga

Kakawin Nagarakrtagama dan Pararaton memberitakan bahwa Jayanagara bernama kecil (garbhottpasutinama) Raden Kalagemet, ia putra laki-laki satu-satunya dari perkawinan Nararyya (Raden) Wijaya dengan Dara Petak. Karena itu sebelum bertahta, Jayanagara ditahbis sebagai yuwaraja (raja muda) di istana (Kadiri) Daha (1217 Saka/1295 AD); ia memangku tahta kerajaan ketika berusia 15 tahun.

Nama Dara Petak tidak dijumpai dalam Nagarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara Petak.

Peristiwa-peristiwa pada masa Pemerintahan JayanagaraMenurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh para pengikut ayahnya. Hal ini disebabkan karena Jayanagara adalah raja berdarah campuran Jawa-Sumatra, bukan keturunan Kertanagara murni atau dalam kata lain Jayanagara merupakan anak Raden Wijaya dari selirnya.

Naik tahtanya Jayanagara menjadi seorang raja Majapahit diikuti oleh berbagai pemberontakan. Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton juga disebutkan dalam Nagarakretagama, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka. Menurut Nagarakretagama, pemberontakan Nambi tersebut dipadamkan langsung oleh Jayanagara sendiri.

Di antara pemberontakan-pemberontakan yang diberitakan Pararaton, yang paling berbahaya adalah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Ibu kota Majapahit bahkan berhasil direbut para pemberontak, sedangkan Jayanagara sekeluarga terpaksa mengungsi ke desa Badander dikawal para prajurit bhayangkari. Pemimpin prajurit bhayangkari yang bernama Gajah Mada kembali ke ibu kota menyusun kekuatan. Berkat kerja sama antara para pejabat dan rakyat ibu kota, Kelompok Ra Kuti dapat dihancurkan. Terjadinya pemberontakan Ra Kuri memunculkan nama Gajah Mada sebagai seorang yang dianggap berjasa menyelamatkan Jayanagara, karena dia berhasil membawa dan mengawalnya ke desa Badander sampai selamat dan memerintah lagi menjadi raja Majaphit.

Menjalin hubungan dengan Cina

Daratan Cina saat itu dikuasai oleh Dinasti Yuan atau bangsa Mongol. Pada tahun 1321 seorang pengembara misionaris bernama Odorico da Pordenone mengunjungi Pulau Jawa dan sempat menyaksikan pemerintahan Jayanagara. Ia mencatat pasukan Mongol kembali datang untuk menjajah Jawa, namun berhasil dipukul mundur oleh pihak Majapahit. Hal ini mengulangi kegagalan mereka pada tahun 1293.

Namun hubungan antara Majapahit dengan Mongol kemudian membaik. Catatan dinasti Yuan menyebutkan pada tahun 1325 pihak Jawa mengirim duta besar bernama Seng-kia-lie-yulan untuk misi diplomatik. Tokoh ini diterjemahkan sebagai Adityawarman putra Dara Jingga, atau sepupu Jayanagara sendiri. Pengiriman utusan ke negeri Cina ini menandakan itikat baik dari Jayanagara untuk menjalin hubungan dengan negeri Cina setelah dalam beberapa dekade terjadi ketegangan karena peristiwa tahun 1293 dan seperti catatan Odorico da Pordenone pada tahun 1321.

Turun tahta akibat pembunuhan

Pararaton mengisahkan Jayanagara dilanda rasa takut kehilangan takhtanya. Ia pun melarang kedua adiknya, yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat menikah karena khawatir iparnya bisa menjadi saingan. Bahkan muncul desas-desus kalau kedua putri yang lahir dari Gayatri itu hendak dinikahi oleh Jayanagara sendiri. Berita ini akhirnya yang membawa Jayanagara meninggal tanpa meninggalkan penerusnya atau putra mahkota bahkan dia diberitakan tidak memiliki seorang permaisuri.

Desas-desus itu disampaikan Ra Tanca kepada Gajah Mada yang saat itu sudah menjadi abdi kesayangan Jayanagara. Ra Tanca juga menceritakan tentang istrinya yang diganggu oleh Jayanagara. Namun Gajah Mada seolah tidak peduli pada laporan tersebut. Ra Tanca adalah tabib istana yang memiliki gelar seorang dharmaputra artinya pembersar yang dimanjakan. Entah bagimana, kenyataannya ialah bahwa justru dharmaputra Ra Tanca yang dipanggil ke istana oleh Gajah Mada untuk mengobati Sang Prabu Jayanagara. Selama menjalankan tugasnya, Gajah Mada mengawasi dari kamar tidur Jayanagara. Demikianlah ketika dharmaputra Ra Tanca menikam Jayanagara, Gajah Mada segera menghukum mati Tanca di tempat itu juga, tanpa proses pengadilan.

Peristiwa itu terjadi tahun 1328. Menurut Pararaton Jayanagara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nagarakretagama ia dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Jayanagara juga dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amogasidi. Jayanagara meninggal dunia tanpa memiliki keturunan. Oleh karena itu takhta Majapahit kemudian jatuh kepada adiknya, yaitu Dyah Gitarja yang bergelar Tribhuwana Tunggadewi.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar