Diaspora Nenek Moyang Asia-Eropa dari Asia Tenggara

0 comments

Buku ini -dan lebih dari 30 makalah- yang ditulis Oppenheimer dengan beberapa rekannya selama 12 tahun menghasilkan hipotesa utama bahwa sebagian besar nenek moyang bangsa Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara.

Buku ini menjelaskan tentang nenek moyang bangsa Asia Tenggara yang berdiaspora karena diusir banjir. Asia Tenggara merupakan salah satu daerah dengan budaya yang paling beragam, paling tua, dan paling kaya di bumi. Namun, para ahli sejarah telah lalai dengan beranggapan bahwa budaya Asia Tenggara hanyalah cabang sekunder dari peradaban Asia daratan di India dan China. Pandangan menyepelekan ini tidak menghiraukan bukti masa lalu dan kerumitan yang unik. Bagi Stephen Oppenheimer, justru sebaliknya. Asia Tenggara merupakan pusat asal-usul budaya dan peradaban dunia.


Ketertarikan Oppenheimer terhadap Asia Tenggara berawal ketika pada tahun 1972 silam, dia menjadi dokter dan bekerja di beberapa rumah sakit yang tersebar di Asia Tenggara. Puncaknya saat menjadi dokter terbang di Borneo. Di saat senggang, dia bepergian ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Keanekaragaman budaya membuatnya takjub, melebihi hasil pelancongannya di Eropa, Maroko, dan Timur Tengah.Meski Oppenheimer menyadari bahwa AsiaTenggara telah meminjam banyak -dalam hal agama dan ide- dari tetangga mereka di India dan China daratan, juga dari Barat. 


Namun, dia mempertanyakan peradaban yang telah ada sebelum kedatangan budaya India, Cina dan Barat itu.Rasa penasaran Oppenheimer semakin memuncak setelah menyelesaikan kontrak dua tahun sebagai dokter anak. pemerintah Papua Nugini pada 1978. Setahun kemudian dia kembali ke Papua Nugini sebagai seorang akademisi untuk melakukan penelitian tentang anemia pada anak-anak di pantai utaraPapua Nugini.Oppenheimer berbicara kepada sesepuh desa tentang hasil awal penelitian, serta memberitahukannya tentang perbandingan genetis dalam darah anak-anak dari desa-desa tertentu di sepanjang garis pantai utara.

Sesepuh desa menatap Oppenheimer dengan penuh penasaran, dan dia mengatakan bahwa anak-anak itu adalah keturunan Kulabob. Belakangan, Oppenheimer tahu bahwa sesepuh itu sedang mengacu pada sebuah mitos migrasi kuno “Kulabob dan Manup” yang terkenal bagi orang-0rang pesisir.

Mitos ini belakangan juga dikenali oleh para antropolog sebagai sebuah mitos migrasi. Dan para penduduk desa keturunan Kulabob yang berpindah ini menuturkan bahasa-bahasa yang mirip dengan orang-orang di Asia Tenggara dan Polinesia. Mutasi genetis pada anak-anak Kulabob di sepanjang pantai utara Papua Nugini, tahan terhadap malaria dan ternyata merupakan penanda kunci yang menaungi jejak migrasi orang-orang Polinesia ke Pasifik. Para keturunan Manup dianggap sebagai orang Papua asli yang telah bermigrasi ke Papua Nugini jauh lebih awal sclama Zaman Es, dan sebagian besar melewati jaringan darat-kajian tentang jejak genetis ini masih berlanjut ketika buku ini ditulis.

Oppenheimer mulai bertanya-tanya: apa yang mendorong orang-orang kuno Asia Tenggara meninggalkan kampung halamannya yang rindang dan subur, mereka berlayar di luasnya perairan Pasifik, meninggalkan “sidik jari” genetis, budaya, dan bahasa di sepanjang utara Papua Nugini dalam perjalanan mereka ke timur ?

Dengan menggunakan pisau bedah penelitian geologi, arkeologi, linguistik, dan genetika, Oppenheimer menemukan bahwa orang-orang kuno Asia Tenggara bermigrasi karena diusir oleh banjir.

Sebelum banjir dahsyat, Asia Tenggara merupakan pulau besar yang membentuk sebuah benua berukuran dua kali India pada puncak Zaman Es sekitar 20.000 sampai 18.000 tahun lalu. Meliputi Indo-China, Malaysia, dan Indonesia, Laut Cina Selatan dan Teluk Thailand dan Laut Jawa yang dulunya kering, imembentuk bagian-bagian yang menghubungkan benua tersebut. Secara geologis, benua yang setengah tenggelam ini disebut paparan Sunda atau Sundaland

Banjir besar secara berturt-turut pada 14.000, 11.500, dan 8.000 tahun lalu,telah menaikkan air laut setinggi 120 meter. Daerah dataran rendah Asia Tenggara tenggelam seluas India. Yang tertinggal hanya pulau-pulau pegunungan yang terpencar-pencar. Daratan yang dulu membentang di antara Korea, Jepang, China, dan Taiwan, kini disebut Laut Kuning dan Laut China Timur. Pelabuhan-pelabuhan masa kini di sepanjang garis pantai selatan China, seperti Hong Kong, pada Zaman Es adalah daratan yang pan jangnya ratusan mil.

Ketika kenaikan air laut mencapai puncaknya pada 8.000 tahun lalu, rangkaian migrasi terakhir dari penduduk Asia Tenggara dimulai. Dengan rute-rute migrasi:

ke selalan meuju Australia. Ke timur menuju Pasifik. Ke barat masuk ke Samudra Hindia.Dan ke utara masuk ke Daratan Asia.

Keturunan masa kini dari para pengungsi timur di Pasifik, mendiami banyak pulau Melanesia, Polinesia, dan Micronesia, menuturkan bahasa dari rumpun Austronesia, yang juga digunakan oleh penduduk Asia Tenggara. Dalam perjalanan, mereka membawa binatang domestik dan tanaman-makanan dalam kano-kano laut yang besar. Beberapa di antara mereka yang lari ke barat membawa tumbuhan beras (padi) ke India. Mereka yang berasal dari Asia Tenggara utara lari ke Indo-China dan Asia, membangun budaya-budaya rumit di China Barat Daya,

Burma (Mynnmor), dan Tibet. Mereka menuturkan bahasa dari rumpun bahasa besar Asia Tenggara lainnya: Austro-Asiatik, Tibeto-Burman, dan Tai-Kadai.


Di atas itu semua, penyebaran awal akibat banjir besar itu telah membangun jalur-jalur komunikasi dan perdagangan ke seluruh Eurasia dan Pasifik Selatan yang kemudian memastikan arus yang cepat dan berkelanjutan berisi pemikiran, pengetahuan, dan keahlian.


Buku ini -dan lebih dari 30 makalah- yang ditulis Oppenheimer dengan beberapa rekannya selama 12 tahun menghasilkan hipotesa utama bahwa sebagian besar nenek moyang bangsa Polinesia lahir di Melanesia dan Asia Tenggara. Beberapa makalah juga menunjukkan bahwa garis gen ini berasal dari Indonesia dan Polinesia sebelum 5.000 tahun lalu, sebagian sebelum Zaman Es terakhir.

Dengan demikian, tak terelakkan lagi keberlangsungan genetik penting di Indonesia lebih dari ribuan tahun. Tingkat keberlangsungan genetik ini bertentangan dengan pendapat kaum ortodoks yang mengatakan bahwa para petani padi dari Taiwan yang berbahasa Austronesia telah menggantikan bekas penduduk Asia Tenggara 3.500 tahun lalu.

Bookmark and Share

Tragedi G30S/PKI Versi Soekarno

0 comments

Tragedi G30S/PKI Versi Ratnasari Dewi 

RATNASARI Dewi Soekarno memperlihatkan dokumen yang dikirim ke Amerika Serikat dalam jumpa persnya di Jakarta, kemarin. Dokumen tersebut menyebutkan tentang adanya percobaan kudeta terhadap Presiden pertama RI Soekarno.* (DUDI SUGANDI/”PR”)

MISTERI Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) kini mulai terungkap. Ini setidaknya menurut versi Ratna Sari Dewi, istri almarhum Presiden Soekarno, yang menyingkapkannya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/10). Dengan tutur bahasa Indonesia yang kurang lancar, Dewi memaparkan secara runtut kejadian sekitar tragedi berdarah yang membenamkan bangsa Indonesia dalam kepedihan berkepanjangan itu. 

“G30S/PKI bukanlah suatu kup atau kudeta. Kudeta terjadi justru tanggal 11 Maret dengan Surat Perintah 11 Maret yang menghebohkan itu,” kata Dewi dalam konferensi pers di kediamannya yang asri di Jl. Widya Chandra IX No. 10. 

Jumpa pers ini dihadiri ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri. Maka meluncurlah cerita dari bibir mungil wanita yang masih cantik di usianya yang mendekati kepala enam ini. Dengan sangat ekspresif, ia bahkan memperagakan saat-saat akhir Bung Karno (BK) ketika dibawa dari Wisma Yaso ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). 

“Sebelum 30 September, Bapak (Bung Karno-BK, red) memanggil Jenderal A. Yani untuk menanyakan tentang adanya Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta dan membunuhnya,” kata Dewi mengutip ucapan suaminya. Saat itu, Pak Yani menyatakan bahwa dirinya sudah tahu tentang hal itu, dan nama-nama para jenderal itu sudah ada di tangannya. “Jadi Bapak tidak usah khawatir,” kata A. Yani. 

Saat itu, sebetulnya tidak ada yang memberitahu anggota pasukan Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden, tentang rencana makar terhadap panglima revolusi ini. Entah mengapa, pentolan Tjakra seperti Letkol Untung, Kolonel Latief dan Supardjo mengetahuinya. “Mungkin ada yang memberi tahu mereka,” ucap Dewi mengutarakan prediksinya. Sebagai perwira muda yang sangat loyal kepada BK, didorong kekhawatiran akan keselamatan BK, pasukan Tjakra ini bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya. Sebab kalau lapor kepada atasannya, diperlukan bukti-bukti padahal mereka hanya punya waktu sekitar empat hari lagi, karena kudeta akan dilakukan tanggal 5 Oktober 1965 saat ulang tahun ABRI. 

“Lebih baik kami interogasi saja jenderal-jenderal itu,” kata Dewi tentang niat para perwira muda di kesatuan Tjakra ini. Hal ini sebenarnya tidak direncanakan dengan baik, karena para perwira muda ini didorong oleh suasana emosi dan darah mudanya yang memang panas. Guna menghindari kemungkinan yang lebih buruk, Kol. Latief menemui Pak Harto di RSPAD dan membicarakan tentang rencana dewan jenderal. 

Juga diungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan BK dan anggotanya serta rencana menginterogasi anggota dewan jenderal. “Kalau ada apa-apa, Pak Harto bisa mem-back up,” kata Dewi. Namun permintaan itu ditanggapi dingin oleh Pak Harto yang saat itu menjabat Pangkostrad. Sebetulnya, kalau mau Pak Harto bisa mencegah kejadian ini. Namun karena tidak hirau, Pak Harto membiarkan pasukan Tjakra bertindak. “Tjakra bermaksud menyelamatkan BK. Masudnya baik tapi caranya kasar. 

Saya bisa mengerti karena darah mudanya,” tutur Dewi. Untuk menginterogasi para jenderal itu, Letkol Untung tak mungkin menyuruh prajurit muda dengan pangkat rendah. Mereka ini hanya bertugas menjemput para jenderal untuk diinterogasi. “Para prajurit ini tak mungkin berani memanggil Pak Yani yang jenderal untuk menghadap. 

Karena itu, mereka meminta para jenderal untuk menghadap BK dan tidak ada sama sekali rencana untuk membunuh mereka,” jelas Dewi yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia lewat buku yang menampilkan seluruh tubuhnya, Madame D’syuga. Namun karena mereka masih muda, kerap kali keluar kata kasar yang tidak layak ditujukan kepada jenderal sehingga mereka marah. Contohnya Jenderal Yani yang menampar seorang prajurit dan akhirnya ditembak di tempat, sebagaimana terungkap dalam film G30S/PKI arahan Arifin C. Noer. “Jadi gerakan itu bukanlah orang PKI melainkan orang-orang militer. 

Ini merupakan insiden yang sangat bodoh, idiot, cruel dan harus dicela,” kata mantan geisha di Jepang ini. Menurut Dewi, usai gerakan ini Soeharto langsung menyatakan bahwa pelakunya adalah PKI. Itu diutarakan lewat RRI sehingga membentuk opini masyarakat tentang jahatnya PKI. Saat HUT TNI, Soeharto telah berhasil menguasai TNI. 

“Mengapa rencana kudeta itu tanggal 5 Oktober? Karena saat itu semua maklum bila tentara keluar barak menuju istana untuk memperlihatkan keterampilannya di hadapan presiden. Saat itu ada show of tank. Ini persis dilakuan CIA ketika menjatuhkan Presiden Mesir Anwar Sadat yang meninggal saat defile angkatan perangnya,” kata Dewi yang saat konferensi pers mengenakan batik tulis ‘lusuh’ warna cokelat muda ini.

TENTANG jatuhnya BK, Dewi sangat yakin bahwa BK Jatuh atas keterlibatan CIA. Untuk memperkuat pernyataannya itu, Dewi memperlihatkan 10 fotokopi dari tiga surat penting yang disebutnya sebagai bukti otentik keterlibatan CIA dan AS.


Bukti pertama adalah dokumen tentang pertemuan salah seorang jenderal dengan dubes AS waktu itu untuk membicarakan kudeta tanggal 5 Oktober 1965.

Dokumen kedua adalah dokumen Gillchrist, orang kedua di Kedubes AS yang menyebutkan tentang rencana Marshal Green menjadi Dubes AS di Indonesia. Orang terakhir ini adalah pakar kudeta CIA yang terlibat dalam kudeta di Korea dan Hongkong. Saat itu sebetulnya BK sudah diingatkan tentang kemungkinan adanya rencana CIA di Indonesia sehubungan dengan kedatangan Green ini. “Tapi kalau saya tolak, berarti saya takut pada AS,” kata BK, seperti dikutip Dewi, tentang alasannya menerima Green.

Dokumen terakhir adalah surat dari BK untuk Dewi yang menyatakan penderitaannya karena tidak boleh dijenguk anak dan istrinya. Juga tentang kondisi terakhir BK.“Saat saya datang, kondisi Bapak sangat mengenaskan. Keesokan harinya Bapak meninggal. Ketika saya konfirmasikan kepada dokter di AS dan Prancis, ternyata terungkap bahwa ada indikasi Bapak dibunuh dengan cara diberi obat over dosis,” katanya .

Bookmark and Share

Langkah Pengungkapan dan Skenario Politik Sejarah G30S

0 comments
Foto Ilustrasi
Untuk menghindari pengulangan sejarah pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965, peristiwa itu justru harus diinformasikan secara benar, jernih, dan obyektif.

Khusus untuk peristiwa G30S saya melihat ada peluang dengan masih cukup banyaknya tokoh-tokoh yang hidup, baik dari kalangan pemerintah Orde Lama, militer, partai politik, maupun ormas pada masa peristiwa itu terjadi.

Sebuah karya tulis sejarah yang baik adalah yang berusaha seobyektif mungkin, meski untuk obyektif 100% tidak mungkin karena sejarah itu adalah ilmu non eksakta. Caranya ialah dengan mengambil sumber dari berbagai sisi dan sudut pandang. Bila mengambil sumber lisan tentu dengan cara mewawancarai para tokoh dari berbagai golongan, termasuk yang PKI atau dituduh PKI.

Kalau kita bisa mengungkapkan sejarah secara obyektif, kita justru akan memetik keuntungan dengan mengambil salah satu guna sejarah yaitu guna edukatif atau fungsi didaktis agar kita tidak jatuh dua kali dalam lubang yang sama.

Dalam Al Qur-an Surat Yusuf ayat 111 dikatakan guna sejarah adalah sebagai ibroh atau pelajaran. Sekarang bagaimana bisa sejarah itu menjadi ibroh, bila kita tidak obyektif dalam mengungkapkannya?

Untuk dapat menuliskan sejarah peristiwa G30S, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah penulisan memoar dari para tapol kasus G30S, karena memoar yang ditulis sendiri oleh pelaku sejarah termasuk sumber primer bagi penulisan sejarah.

Masalahnya, seringkali penulisan memoar ini cenderung kurang obyektif dan banyak yang kurang mempercayai kebenarannya. Ini dapat dimaklumi, karena penulisan memoar memang bersifat sangat subyektif, yang menyangkut pula penggambaran suatu peristiwa dari sudut pandang penulisnya sendiri, yang bisa jadi berbeda dengan pandangan orang lain atau bahkan pandangan pemerintah.

Alternatif pertama untuk mengatasi unsur subyektivitas ini adalah dengan penulisan karya ilmiah baik itu tesis atau disertasi seperti yang pernah dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung dengan disertasinya yang diterbitkan berjudul Renville. Disertasi ini tadinya berasal dari buku memoar Anak Agung Gde Agung. Atau yang dilakukan oleh George Mc Turnan Kahin dengan disertaisnya berjudul Nationalism and Revolution in Indonesia yang juga telah diterbitkan.

Proses ini bermanfaat untuk mengurangi subyektivitas isi sebuah memoar. Subyektivitas memoar yang dijadikan disertasi menjadi lebih rendah dibandingkan memoar yang bukan disertasi, meski tetap lebih tinggi subyektivitasnya dibandingkan disertasi yang ditulis bukan oleh pelaku sejarahnya sendiri.

Dengan penulisan ilmiah, obyektivitas dapat lebih mendekati kebenaran karena proses penulisannya dilakukan dengan bimbingan promotor yang sejarawan. Namun harus diingat, ada satu kelemahan bila kita mengambil proses ini. Yaitu, sulitnya pembaca disertasi tersebut untuk memilah-milah data yang ada, apakah kejadian tertentu dialami sendiri oleh penulis ataukah informasi dari orang lain.

Alternatif kedua dalam penulisan memoar ini adalah para pelaku sejarah dalam hal ini para eks tapol menulis memoar saat ini namun baru diterbitkan setelah mereka meninggal. Hal ini mirip dengan perlakuan terhadap arsip-arsip rahasia yang baru boleh dibuka setelah 30 tahun peristiwanya sendiri berlangsung.

Hal ini semata-mata agar dapat memperoleh fakta yang sejelas mungkin karena kalau dterbitkan sekarang mungkin saja para eks tapol kurang merasa bebas dalam menuangkan pengalamannya.

Sebagai contoh penulis merasa kurang puas membaca buku memoarnya Oei Tjoe Tat terutama yang berkenaan dengan peristiwa G30S. Di sana ia mengatakan tidak mengetahui peristiwa itu. Namun informasi ini meragukan sekali. Maka untuk mencegah tidak maksimalnya pengungkapan fakta-fakta sejarah sekitar G30S sebaiknya memoar tersebut diterbitkan apabila pelaku sejarah tadi sudah meninggal dunia.

Kelemahan proses ini adalah unsur subyektivitasnya yang sangat tinggi. Juga adanya kemungkinan-kemungkinan penulisan yang tidak sesuai dengan zeitgeist (jiwa zaman) dan sering terjadi anakronisme yaitu memandang dan menilai peristiwa masa lalu dengan kaca mata atau semangat masa kini.

Satu contoh dari anakronisme ini adalah pandangan banyak orang yang melihat Mohammad Natsir sebagai tokoh disintegratif dan anti Pancasila karena memimpin golongan nasionalis Islami vis a vis golongan nasionalis sekuler dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar negara berhadapan dengan Pancasila dalam sidang Majelis Konstituante pada periode 1955-1959.

Masyarakat sekarang memandang hal itu dengan keadaan zaman sekarang di mana Pancasila sudah menjadi ideologi yang mapan dengan UUD yang berlaku sekarang UUD 1945 yang jelas menyatakan dasar negara kita adalah Pancasila. Padahal pada periode 1955-1959 UUD yang berlaku adalah UUD 1950 yang melegalisasi adanya Konstituante selaku badan pembuat Undang-Undang Dasar.

Dan dalam sidang Konstituante para anggotanya dapat dengan bebas memperdebatkan ideologi mereka secara terbuka bahkan komunis sekalipun.

Kelemahan penulisan memoar selain anakronisme adalah daya ingat si pelaku sejarah. Apalagi kalau umur pelaku sejarah sudah lanjut. Sebagai contoh, Mpu Tantular dalam menulis kitab Sutasoma memakai nara sumber seorang yang sudah berumur di atas 80 tahun.

Mpu Tantular sendiri mengatakan ia meragukan daya ingat sang sumber tersebut. Hal di atas adalah hal yang wajar dan menusiawi sekali.

Penulisan Catatan Harian

Contoh lain yang menarik adalah pada acara peringatan detik-detik proklamasi tanggal 17 Agustus 1995 sebuah stasiun TV swasta menayangkan wawancara dengan beberapa orang pelaku sejarah. Di antaranya terdapat seorang ibu yang dahulu adalah mahasiswi Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di Salemba (sekarang FKUI).

Ketika ditanya oleh reporter televisi mengenai sejarah suatu peristiwa ibu itu kesulitan menjawab karena lupa. Ibu itu lantas membuka tasnya dan mengambil catatan hariannya pada saat ia masih berusia 19 tahun. Kemudian ia membaca catatan itu dengan lancar dan indah, mengungkapkan suasana saat itu yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Inilah satu bukti bahwa faktor ingatan bukanlah suatu hal yang dapat dianggap remeh.

Karena itu menilik pengalaman ibu tadi, ada langkah kedua untuk penulisan sejarah selain memoar. Yaitu dengan menerbitkan catatan harian yang dimiliki para pelaku sejarah seperti yang dimiliki oleh ibu yang mantan mahasiswi sekolah kedokteran tadi.

Kelebihan catatan harian adalah dapat menggambarkan peristiwa dengan semangat zaman itu sebagaimana sang ibu tadi yang sanggup membuat merinding yang membacanya atau yang mendengar itu dibacakan. Dan catatan harian ini umumnya disimpan baik-baik di tempat yang aman dan terhindar dari resiko perusakan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah para pelaku sejarah itu mempunyai kebiasaan menulis catatan harian? Selain itu untuk mencegah reaksi-reaksi yang berlebihan dari massa terhadap penerbitan catatan harian ini, sebaiknya penerbitannya dilakukan setelah para penulisnya meninggal dunia. Seperti halnya pernah dilakukan pada catatan harian Soe Hok Gie atau catatan harian Ahmad Wahib.

Seperti yang terjadi terhadap catatan harian Ahmad Wahib, timbul reaksi pro-kontra. Namun begitu, toh, penulisnya sudah meninggal, jadi catatan tinggal catatan.

Demikianlah langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam upaya pengungkapan sejarah peristiwa G30S supaya kita dapat mengambil pelajaran darinya. Tentunya yang terutama adalah agar kita tidak terantuk batu yang sama pada kali yang kedua (fungsi didaktis), untuk membentuk identitas bangsa (fungsi pragmatis), dan untuk memecahkan persoalan yang sama (fungsi genesis).

Inilah Skenario Politik Dibalik Penumpasan G 30 S PKI

Gerakan 30 September atau lebih dikenal dengan G 30 S PKI, sebuah isu yang diciptakan dengan memanfaatkan momentum Gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memang cukup dominan saat itu, begitu seram kedengarannya karena secara politis gerakan ini diciptakan memang untuk menakuti masyarakat agar menganggap PKI itu berbahaya dan musuh ma

syarakat, juga doktrinnya Partai Komunis Indonesia (PKI) itu Partai terlarang, sehingga pada saat itu banyak masyarakat yang tidak berdosapun terfitnah sebagai penganut Partai terlarang tersebut.

Doktrin ini dihembuskan sampai Rezim Orde Baru berkuasa, siapapun yang tidak termasuk dalam Gerbong Orde Baru maka kalau salah faham akan di Cap sebagai anggota organisasi terlarang, ini bagian dari trik politik untuk memperkuat kekuasaan, kalaulah dikatakan Fitnah itu Dosa maka betapa banyak dosa orang-orang Rezim Orde Baru tersebut, karena begitu banyak rakyat yang tidak berdosa menjadi korban fitnah sebagai PKI. Untuk kepentingan Politik hal seperti itu dianggap sesuatu yang biasa, yang penting tujuan yang diinginkan tercapai.

Momentum Gerakan 30 September ini pula merupakan sebuah gerakan penumpasan PKI, jika ada yang ditumpas habis maka tentunya ada yang menjadi Pahlawan Penumpasnya, gerakan ini merupakan gerkan politik yang sangat terencana secara sistematis, namun sejarah tidak bisa mencatat sebagaimana mestinya, bagi penguasa sejarah bisa diciptakan sesuai dengan kehendaknya, banyak sejarah yang diajarkan tidak mengikuti kebenarannya, karena semua yang ada dikuasai penguasa, bertentangan dengan penguasa maka akan di cap anggota PKI, hal inilah yang membuat rakyat tak lagi berani buka suara.

Namun uraian diatas hanyalah sebagian cukilan kecil dari penelitian, riset dan kajian yang telah banyak dilakukan untuk mengurai skenario peristiwa 30 September1965. Beberapa hasil dan teori bahkan telah diuraikan dalam buku-buku dapat dibagi dalam 6 teori yaitu :

1. Skenario yang disetujui oleh pemerintah orde baru bahwa pelaku utama G 30 S adalah PKI dan Biro Khusus, dengan memperalat unsur ABRI untuk merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia.

2. Skenario kedua yakni G 30 S merupakan persoalan internal AD, yang merupakan kudeta yang dirancang mantan presiden, Soeharto

3. Sedangkan untuk skenario ketiga bahwa CIA-lah yang bertanggungjawab dengan menggunakan koneksi di kalangan AD bertujuan menggulingkan Soekarno dan mencegah Indonesia menjadi basis komunisme

4. Keempat, merupakan skenario yang dibuat oleh Inggris dan Amerika bertujuan menggulingkan Soekarno

5. Merupakan skenario yang paling kontroversial dengan menempatkan Soekarno sebagai dalang dari G 30 S untuk melenyapkan pemimpin oposisi dari kalangan AD

6. Teori chaos, gabungan dari nekolim, pemimpin PKI yang keblinger dan oknum ABRI yang tidak benar

Teori atau skenario apapun yang dijalankan saat itu oleh pihak-pihak yang masih dianggap misterius, dikarenakan belum adanya kesepakatan untuk menunjuk satu pihak yang bertanggungjawab dalam peristiwa 1965, peristiwa tersebut telah menorehkan luka yang sangat dalam bagi sebagian besar warga Indonesia. Sekitar 500.000 jiwa telah menjadi korban, tewas dibunuh hanya karena diduga menjadi kader, simpatisan atau anggota PKI. Tragedi ini juga telah mengakibatkan penderitaan bagi 700.000 orang rakyat Indonesia termasuk keluarganya.

Pada catatan sejarah yang ada, banyak para Jenderal yang mati karena kekejaman PKI, seperti itulah sejarah yang tertulis, tapi seperti apakah kebenaran sejarah sesungguhnya ? Hal inilah yang sangat susah untuk diungkap tapi sejarah tetaplah sesuatu realita yang cepat atau lambat akan tetap terungkap.

Sumber tulisan dikutif dari berbagai sumber buku maupun media online yang berupa catatan sejarah G 30 S PKI.

Bookmark and Share

Mengenang Tragedi dan Konspirasi PKI

0 comments

Pertanyaannya sederhana, sebenarnya setiap kali bangsa ini menemui pertemuan waktu antara 30 september dan 1 Oktober, apa yang kemudian kita kenang? Sebagian orang bersikap mirip seperti buku sejarah sekolahan, hanya mengulang-ulang tentang nama jendral yang dijebloskan ke dalam sumur.

Sedangkan 30 tahun lebih bangsa ini terus dicekoki oleh film-film yang juga diskenario-kan mirip buku sekolahan. Bahwa PKI berkonspirasi melakukan kudeta atau meng-komuniskan negeri ini terus dianggap satu-satunya sejarah paling benar. Sementara dengungan jangan sekali-kali melupakan sejarah juga dikooptasi menjadi hanya satu sejarah yakni sejarah milik pemerintah.

Adakah alternatif lain dari sejarah? Banyak. Namun terus diredam kemunculannya agar masyarakat lagi-lagi hanya berada pada satu dimensi. Akhirnya yang terjadi mirip seperti di Amerika ketika tragedi 9/11 atau Holocaust pada masa Nazi. Begitu ada orang-orang yang berusaha menyajikan pembacaan berbeda maka akan dituduh subversif, hal ini karena kejadian semisal tragedi 30 september atau 1 oktober PKI sudah dianggap sebagai tautologi yang tak terbantahkan. Dan sejarah selalu menjadi milik pemenang yang kemudian menjadi penguasa, kemudian semakin dipertahankan secara sadar atau tidak sadar.

Apparatus pemerintah melalui institusi pendidikan, sosial kemasyarakatan, sampai agama, berlomba-lomba memapankan sejarah itu agar terus menerus dikonsumsi oleh rakyat. Melalui institusi pendidikan yang bersistem pedagogis, para siswa disuapi oleh guru mereka menu yang sama. Menurut para guru, menu alternatif itu belum cocok buat mereka.

Tapi lama kelamaan menu itulah yang paling cocok bagi mereka sehingga sampai jenjang sekolah tinggi, setiap siswa terus menyantap menu yang sama. Tidak ingin dan malas mencari menu alternatif karena dianggap tidak pasti dan tidak menyehatkan jiwa, pikiran, dan tubuh mereka. Dalam institusi agama menu alternatif dibahasakan sebagai kesesatan, penyimpangan, dan perusak persaudaraan. Sama tingkatannya dengan perusak persatuan nasional. Itulah yang selalu didongengkan di negeri ini.

Sekarang kita terus mengenang tragedi dan konspirasi PKI sebagaimana apa yang dicecoki oleh semua apparatus negara dari sejak berada di dalam rumah sampai ke luar, dengan berbagai dalil dan pembuktian yang sesungguhnya hanya untuk pembenaran demi pembenaran tautologi. Meski sejarah katanya terus berulang, tetapi sejarah yang berulang selalu milik pemenang. Padahal sejarah para pemenang ini juga dikonstruk dengan cara-cara konspiratif. Maka apabila sejarah pemenang yang terus berulang, percuma saja kita terus belajar.

PKI juga manusia, hanya sejarah milik pemenang yang terus menerus mengubah mereka jadi binatang.

Mengenang G 30-S PKI/Gestapu, Sejarah Kelam Bangsa Indonesia

Sudah Mahfum,ditelinga kita tentang peristiwa G 30-S PKI,atau dalam kalangan masyarakat juga dinamakan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).Sebuah peristiwa kelam Negeri ini,dalam menegakkan sebuah kedaulatan dan ideologi Bangsa Indonesia.
Peristiwa yang terjadi pada malam 30 September sampai di awal 1 oktober 1965,yang menewaskan 6 pejabat tinggi militer indonesia dan banyak rakyat yang dibunuh,yang dilakukan oleh usaha kudeta Partai Komunis Indonesia.

Sejarah Partai Komunis Indonesia

PKI adalah partai komunis yang terbesar di seluruh dunia,dengan jumlah anggota dan pendukung yang mencapai 20 juta orang dari berbagai lapisan.Ada yang terdiri dari petani,buruh,pemuda,wanita,penulis,artis dan sarjana.

Dengan Sistem Konstitusi Negara “Demokrasi Terpimpin”,yang lahir juga karena hasutan PKI,Presiden Sukarno mendapat tanggapan yang hangat oleh PKI,presiden Sukarno ingin menyatukan konsepsi antara Nasionalis,Agama,dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.

Namun “Demokrasi Terpimpin” gagal dalam memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi,gagal menekan pergerakan kaum buruh dan petani,pendapatan ekspor menurun,inflasi terus menaik dan korupsi ditingkat birokrat dan militer pun mewabah.

Dengan tawaran Perdana Menteri RRC Zhou Enlai,yang menjanjikan 100.000 pucuk senjata kepada Bung Karno,masih dengan hasutan PKI,yang ingin membentuk “Angkatan Kelima”,yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI.Tapi para petinggi angkatan darat tidak setuju,karena akan menimbulkan kecurigaan antara PKI dan Militer.

Kemarahan PKI, disebabkan karena banyak hal :

1.Sakitnya Presiden Sukarno

Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakitnya Bung Karno,hal ini mengakibatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuatan setelah Bung Karno meninggal.

2.Masalah Tanah dan Bagi Hasil

Pada tahun 1960 keluarlah UU Pokok Agraria UU Bagi Hasil,Walaupun undang-undangnya sudah ada namun pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UU Pokok Agraria.

Keributan antara PKI dan islam (tidak hanya NU, tapi juga dengan Persis dan Muhammadiyah) itu pada dasarnya terjadi di hampir semua tempat di Indonesia, di Jawa Barat, Jawa Timur, dan di propinsi-propinsi lain juga terjadi hal demikian, PKI di beberapa tempat bahkan sudah mengancam kyai-kyai bahwa mereka akan disembelih setelah tanggal 30 September 1965 (hal ini membuktikan bahwa seluruh elemen PKI mengetahui rencana kudeta 30 September tersebut.

3.Konfrontasi Indonesia-Malaysia

Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk 16 september 1963,adalah salah satu faktor penting dalam insiden ini.Adanya Konfrontasi Indonesia-Malaysia,merupakan salah satu kedekatan Presiden Sukarno dengan PKI,menjelaskan motivasi para tentara yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober)dan juga pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Sukarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tengku Abdul Rahman(Perdana Menteri Malaysia) saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

Presiden Sukarno sangat murka dengan tindakan Tengku Abdul Rahman,yang menginjak-injak lambang Negara Indonesia,maka Presiden Sukarno ingin melakukan Balas Dendam,dan membentuk gerakan yang terkenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia”.Letnan Jend.Ahmad Yani,tidak ingin melawan Malaysia yang dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai untuk peperangan.Di lain pihak Kepala Staff TNI Angkatan Darat A.H. Nasution tidak setuju dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia ini akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia.

Mengetahui bahwa tentara Indonesia tidak mendukungnya, Soekarno merasa kecewa dan berbalik mencari dukungan PKI untuk melampiaskan amarahnya kepada Malaysia.PKI adalah pendukung terbesar gerakan “ganyang Malaysia” yang mereka anggap sebagai antek Inggris, antek nekolim. PKI juga memanfaatkan kesempatan itu untuk keuntungan mereka sendiri, jadi motif PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno tidak sepenuhnya idealis.

Dari sebuah dokumen rahasia badan intelejen Amerika Serikat (CIA) yang baru dibuka yang bertanggalkan 13 Januari 1965 menyebutkan sebuah percakapan santai Soekarno dengan para pemimpin sayap kanan bahwa ia masih membutuhkan dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia dan oleh karena itu ia tidak bisa menindak tegas mereka. Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu “giliran PKI akan tiba. “Soekarno berkata, “Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu. … Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang.”[2]

Dari pihak Angkatan Darat, perpecahan internal yang terjadi mulai mencuat ketika banyak tentara yang kebanyakan dari Divisi Diponegoro yang kesal serta kecewa kepada sikap petinggi Angkatan Darat yang takut kepada Malaysia, berperang hanya dengan setengah hati, dan berkhianat terhadap misi yang diberikan Soekarno. Mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI untuk membersihkan tubuh Angkatan Darat dari para jenderal ini.

4.Faktor Kekacauan Ekonomi Indonesia

Ekonomi masyarakat Indonesia pada waktu itu yang sangat rendah mengakibatkan dukungan rakyat kepada Soekarno (dan PKI) meluntur. Mereka tidak sepenuhnya menyetujui kebijakan “ganyang Malaysia” yang dianggap akan semakin memperparah keadaan Indonesia.
Inflasi yang mencapai 650% membuat harga makanan melambung tinggi, rakyat kelaparan dan terpaksa harus antri beras, minyak, gula, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Beberapa faktor yang berperan kenaikan harga ini adalah keputusan Suharto-Nasution untuk menaikkan gaji para tentara 500% dan penganiayaan terhadap kaum pedagang Tionghoa yang menyebabkan mereka kabur. Sebagai akibat dari inflasi tersebut, banyak rakyat Indonesia yang sehari-hari hanya makan bonggol pisang, umbi-umbian, gaplek, serta bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi lainnya; pun mereka menggunakan kain dari karung sebagai pakaian mereka.

Faktor ekonomi ini menjadi salah satu sebab kemarahan rakyat atas pembunuhan keenam jenderal tersebut, yang berakibat adanya backlash terhadap PKI dan pembantaian orang-orang yang dituduh anggota PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta tempat-tempat lainnya.

Puncak Serangan PKI

Pada 1 Oktober 1965,dini hari enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol Untung.

Lalu di bawah pimpinan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat Mayjend Suharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan PKI.

Korban-korban yang berguguran adalah

Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:

Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)

Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)

Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)

Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)

Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)

Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)

Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.

Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:

Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)

Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagaiLubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.

Semenjak saat itulah,di bawah kepemimpinan Panglima Angkatan Darat yang dilantik oleh Presiden Soekarno,yakni Jendral Soeharto,berjanji ingin menyatukan ABRI sebagai Panji Amanat Revolusi.Mengadakan Penangkapan dan Pembantaian yang menewaskan Ratusan Ribu Pekerja dan Petani yang menjadi anggota dan simpatisan PKI,dan ada yang dimasukkan ke Penjara untuk disiksa dan di introgasi.

Jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis - perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu.


————————————————

Itulah ringkasan singkat tentang sejarah lahirnya gerakan 30 S PKI,yang sangat terkenal itu.Dahulu waktu saya masih kecil saya masih bisa menyaksikan pemutaran Film G 30 S PKI,tapi entah kenapa sekarang pemutaran Film itu dihentikan.Tapi paling tidak sekarang kita bisa tahu sejarah,dan jika sudah demikian mari kita pergunakan nikmat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.

Semoga Bemanfaat

Wikipedia.org

Alex Dinuth “Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI” Intermasa, Jakarta 1997

Setiyono, Budi; “REVOLUSI BELUM SELESAI: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965″; Nawaksara, Jakarta; 2003.

Bookmark and Share

Lagu Genjer-Genjer - Sisi Lain Dari G 30 S PKI

0 comments

Tulisan ini sebenarnya sebagai bentuk untuk mengingat sejarah dengan baik. Seperti yang diungkapakan oleh Bung Karno dengan jargon “Jas Merah ; jangan melupakan sejarah”. Bertepatan dengan tanggal 30 september, maka kita akan mengingat satu peristiwa sejarah bangsa ini yaitu Gerakan 30 September, yang lebih familiar dengan sebutan G30 S/PKI. Betapa pentingnya peristiwa tersebut, maka pada masa pemerintahan soeharto, film G30 S/PKI adalah film wajib yang diputar di stasiun TV pemerintah (TVRI).

Aku pun salah satu warga Indonesia yang taat kepada pemerintah pada masa itu. Maka, pada saat aku kelas 3 SD pada tahun 1994 menyempatkan diri untuk menonton film wajib tersebut. Dengan pergi ke rumah tetangga seberang jalan raya, aku pun menonton dengan khidmat film G30 S/PKI. Aku tahu aka nada film tersebut dari himbauan guruku di sekolah. Tanpa menghiraukan gelapnya suasana kampong dan seramnya suasana malam jum’at, aku dengan berbangga diri telah menunaikan himbauan “Negara” lewat guru sekolahku.

TENTANG GENJER-GENJER


Film G30 S/PKI untuk masyarakat umum saat ini adalah dianggap sebagai sebuah “film politik” sebagai salah satu upaya mempertahankan kekuasaan dan “pembenaran” sikap pemerintah (baca:soeharto) pada masa itu. Bagi sebagian masyarakat pun, narasi film tersebut mencoba “membelokkan” dan “menghilangkan” fakta kebenaran sejarah sesungguhnya. Terlepas dari semua itu, ada satu sisi lain yang tidak banyak diketahui masyarakat umum yakni lagu genjer-genjer.

Genjer-genjer adalah sebuah nama tanaman yang terkenal dengan sebutan eceng gondok. Aku pun mengetahui bahwa tanaman ini bias menjadi lauk pauk dari lirik lagu genjer-genjer. Sebelumnya di daerahku, genjer atau eceng ini dianggap sebagai tanaman yang mengganggu perairan.

Namun setelah mencari tahu via internet, ternyata daun dan bunga genjer pun sangat enak diolah menjadi lauk. Untuk daunnya biasanya dipilih daun yang muda, sedangkan untuk bunganya dengan kuncup bulat sedikit panjang di ujungnya juga diambil yang belum mekar. Batang tanaman ini berpori-pori halus mirip batang pisang karena merupakan tanaman air.

Di Jawa Tengah dan Jawa Barat dikenal tumis genjer dengan tauco atau dengan oncom merah. Selain enak, sayuran ini pun sarat nutrisi dan kaya akan serat sehingga baik untuk menjaga saluran pencernaan jika rajin mengkonsumsinya. Tak hanya itu, daun dan bunganya juga berkhasiat untuk menambah nafsu makan

SEJARAH LAGU GENJER-GENJER

Lagu genjer-genjer diciptakan oleh Muhammad Arif, seorang seniman pemukul alat instrument angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arif, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syiar baru seperti dalam lagu genjer-genjer. Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas pendudukan jepang di indonesia. 

Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu “Genjer-genjer” menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet. Sangking terkenalnya bahkan kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.

Namun kepopuleran lagu ini cukup tercederai dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Yakni Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai “lagu PKI”.

Menurut versi TNI, para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa. Peristiwa inilah yang digambarkan juga pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI besutan Arifin C. Noer. Sehingga pada masa orde baru pun terdapat larangan penyebarluasan lagu genjer-genjer tersebut. Sedangkan pencipta laguMuhammad Arief, meninggal dibunuh akibat dianggap terlibat dalam organisasi massaonderbouw PKI.

Dengan berakhirnya rezim orde baru tahun 1998, larangan penyebarluasan lagu “Genjer-genjer” secara formal pun telah berakhir. Lagu “Genjer-genjer” mulai beredar secara bebas melalui media internet. Walaupun stigmatisasi lagu ini kepada PKI sulit dihapuskan dari pandangan masyarakat Indonesia. Semoga dengan tulisan sederhana ini, hal tersebut akan berhenti nantinya.

LIRIK LAGU GENJER-GENJER

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

Emake thulik teko-teko muputi genjer

Emake thulik teko-teko muputi genjer

Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar

Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar

Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar

Emake jebeng podho tuku nggowo welasah

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak

Setengah mateng dientas yong dienggo iwak

Setengah mateng dientas yong dienggo iwak


Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco

Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan

Ibu si bocah datang memunguti genjer

Ibu si bocah datang memunguti genjer

Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang

Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar

Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah

Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah

Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu

Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Nasi sepiring sambal jeruk di dipan


Genjer-genjer dimakan bersama nasi Demikian sekilas tentang sisi lain dari pemberontakan G30 S/PKI yang pernah terjadi di Republik Indonesia. Semoga generasi bangsa belajar dengan baik dari apa yang pernah terjadi.

Bookmark and Share

Keterlibatan CIA dan M16 Dalam Gerakan 30 September

0 comments

Siapa yang tidak tahu istilah G 30 S/PKI. Istilah ini sangat umum ditelinga orang Indonesia, karena peristiwa ini merupakan kejadian sekaligus kontroversi terbesar sepanjang sejarah Indonesaia sejauh ini. Dalam tulisan ini saya (penulis) hanya ingin berbagi dengan para pembaca yang budiman terkait Gerakan 30 September dan keterlibatan CIA (Central Intelligence Agency) dan M16 (agen rahasia Inggris) di dalamnya.

Sebenarnya banyak versi terkait peristiwa Gerakan 30 September, bukan hanya CIA – M16 dan PKI. Angkatan Darat, Sukarno dan Soeharto dan yang terbaru adalah MPRS dalam beberapa sumber dan penelitian dikaitkan dalam peristiwa ini. 

Tapi yang pasti adalah bukan hanya PKI yang terlibat. Jadi saya disini kurang setuju dengan istilah G 30 S/PKI yang seolah-olah mendeskritkan PKI sebagai pelaku tunggal. Saya tidak menentang kurikulum 2006, kemudian membela kurikulum 2004, tapi saya mencoba terbuka dan lebih objektif menanggapi kontroversi yang ada. 

Apa gunanya? Tentu kembali ke tujuan mempelajari sejarah yaitu untuk lebih bijak lagi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah tentunya.

Lantas mengapa penulis mengambil keterlibatan versi CIA – M16? Jawabanya adalah karena keterlibatan CIA – M16 lebih terang daripada versi – versi G 30 S yang lain. Menurut Asvi Warman Adam dalam buku Membongkar Manipulasi Sejarah terbitan Kompas tahun 2009 disebutkan bahwa sebagai konsekuensi dari perang dingin antara blok kapitalis dan blok komunis, Amerika saat itu sangat berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan kelompok kiri (komunis). CIA disini berperan membantu KAP (Komite Aksi Pengganyangan) gestapu melalui perantara Adam Malik dalam berbagai cara dan tentunya dalam hal pendanaan.

Amerika tidak ingin Indonesia dikuasai Komunis, karena dampaknya Malaysia dan Singapura juga akan dikuasai komunis. Kalau hal itu terjadi, maka posisi Amerika yang saat itu bertempur melawan Vietnam akan semakin terjepit. Terang Asvi sebagaimana dilansir oleh www.inilah.com. Maka skenarionya adalah memprofokasi PKI yang ditumpas oleh TNI AD dan mengakibatkan Soekarno akhirnya jatuh. Nampaknya menjadi kenyataan tahun 1965. Berhasil mencapai tujuan memang, namun gagal karena para Jendral TNI meninggal. (www.hidayatullah.com)


Dalam dokumen yang terungkap (karena Amerika dan Inggris selalu membuka arsip dan dokumen – dokumen rahasianya untuk umum setiap periode 25-30 tahun sekali) dinyatakan bahwa ada bantuan yang mengucur ke Indonesia dari Amerika sebanyak 50 Juta rupiah/dollar?? Kepada KAP (Komite Aksi Pengganyangan).

Menurut David T. Johnson (1976) dalam buku yang sama mengatakan bahwa ada enam skenario yang dapat dijalankan Amerika Seriikat dalam menghadapi situasi yang memanas di Indonesia menjelang tahun 1965 yaitu : 

(1) Membiarkan saja, 
(2) Membujuk Soekarno mengubah kebijakan, 
(3) Menyingkirkan Soekarno, 
(4) Mendorong Angkatan darat mengambil alih kekuasaan, 
(5) Merusak kekuatan PKI, 
(6) Merekayasa kehancuran PKI sekaligus kejatuhan Sukarno. Dan ternyata skenario yang terakhir yang dilakukan.

Indikasi keterlibatan M16 lebih terlihat pasca peristiwa G30S. Pihak Inggris disini berperan membantu propaganda untuk menghancurkan PKI. Dalam buku Roland Challis (2001) – Koresponden BBC yang berkedudukan di Singapura dan sering ke Jakarta menjelang peristiwa G30S – terungkap bahwa pada tahun 1962 sudah ada komitmen antara presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy dengan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan untuk melikuidasi Soekarno. 

Tentara AL Inggris yang berbasis di Singapura siap membantu Pemerintah Indonesia untuk menghadapi ancaman jatuhnya Indonesia ke tangan komunis.Bahkan dalam buku 151 Konspirasi Dunia karangan Alfred Suci dikatakan bahwa CIA merupakan biang keladi tumbangnya orde lama (Soekarno). Alfred Suci mengatakan bahwa ada dugaan bahwa gerakan 30 September 1965 merupakan desain besar (grand design) Soeharto dan CIA untuk menciptakan instabilitas negara. 

Kenapa kemudian muncul nama Soeharto?? Karena dalam rangka menghancurkan komunis di Indonesia, CIA lalu mencari partner untuk menjalankan rencananya. Dipihlah Letjen Soeharto. CIA memilih Soeharto sebagai rekanan karena posisi Soeharto yang strategis dalam Angkatan Darat dan menguasai beberapa batalion. 

Karakter opportunis (paham yang semata – mata hendak mengambil keuntungan sendiri) juga menjadi pertimbangan CIA untuk memilih Soeharto.Dalam sumber yang sama juga disebutkan bahwa terbitnya buku Foreign Relation of the United States setebal 800 halaman khusus mengenai Indonesia, memuat dokumen – dokumen tentang keterlibatan AS dalam menggulingkan Komunis dengan skenario kudeta yang seolah-olah dilakukan oleh PKI.

Adam, Asvi Warman. 2009. Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta : PT Kompas Gramedia.
Suci, Alfred. 2011. 151 Konspirasi Dunia Paling Gila dan Mencengangkan. Jakarta : PT wahyu Media.

Bookmark and Share