Bertapa ala Islam

Sumber foto : hamblidesign
Bertapa ada persamaannya dengan ber-I’tikaf, walaupun ada juga perbedaan antara keduanya.Sampai sekarang masih. Banyak orang-orang lslam di negeri kita ini yang melakukan lelaku bertapa atau semedi. Berdiam diri di tempat-tempat yang dianggap keramat atau angker. Entah itu karena perintah guru spiritualnya, atau karena inisiatif sendiri. Bahkan ada juga yang bertapa atau bersemedi di tempat-tempat tertentu karena telah mendapatkan bisikan ghaib untuk melakukan lelaku tersebut.

Mereka meninggalkan kantor atau tempat kerja, serta mengsongkan waktu dari agenda dan aktifitas lainnya dalam beberapa hari untuk pergi ke suatu tempat dan berdiam diri di sana. Dan tidak hanya  itu, mereka juga rela meniinggalkan istri tercinta serta anak-anak tersayang atau keluarga lainnya untuk melakukan pertapaan.

[ISR] Asimilasi kata : Tapa - Pertapa - Bertapa - Tafakur - Bertafakur.
Tafakur : Berdiam diri untuk memusatkan fikiran mendekatkan diri kepadaNYA.1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir.2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah.3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat.4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Sumber : dakwatuna
Definisi kata Tafakur1 renungan; perenungan; 2 perihal merenung, memikirkan, atau menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh; 3 pengheningan cipta. [Bukan Otak atik Gathuk] Sumber : artikata
Ada yang bermaksud untuk menenangkan diri, mengistirahatkan dan pikiran dari jadwal kerja yang membebani. Sebagaimana ada juga yang bertujuan untuk mencari ketenangan batin, mencari benda keramat, memburu wangsit, menggembleng diri, atau untuk memperoleh kesaktian dan kadikdayaan, dan ada pula yang mengharapkan datangnya nomor buntut untuk pasang lotre atau togel.

Untuk mengikat pemahaman kita tentang bertapa, marilah kita simak definisi bertapa menurut Kamus Bahasa lndonesia. “Bertapa adalah pergi ke tempat yang sunyi dan lengang, menjauhkan diri dari keramaian untuk berkhalwat, menyucikan diri dari dosa, untuk memperoleh kesaktian, atau kekuatan batin.” (Kamus Umum Bahasa lndonesia: 1434). Dan dalam kamus lain, “Bertapa adalah mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin.” (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 1142).

Adapun Semadi yang sering dilafazhkan dengan kata semedi mempunyai makna yang sedikit berbeda dengan bertapa. Bersemadi adalah memusatkan segenap pikiran dan perasaan (dengan meniadakan segala hasrat jasmaniah). (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 1024). Makna semadi hampir sama dengan meditasi. Yaitu memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 727).

Lalu apa kaitannya bertapa dan bersemadi dengan beri’tikaf yang merupakan ibadah kita sebagai umat lslam. Ada persamaan dan perbedaan antara keduanya. Dan sebelum kita tarik benang persamaan dan perbedaannya, marilah kita simak terlebih dahulu definisi I’tikaf itu sendiri.

lbnu Hajar berkata: “I’tikaf menurut bahasa adalah menempati suatu tempat dan menahan diri di tempat tersebut”. Sedangkan pengertian l’tikaf menurut syari’at lslam adalah berdiam di masjid yang dilakukan seseorang dengan niat tertentu dan dengan aturan tertentu.” (Fathul Bari: 4/271). Adapun ar-Raghib al-Ashfahani mengatakan: “l’tikaf menurut istilah adalah menahan diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri (kepada Allah).” (Gharibul Qur’an: 343).
Dari definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa bertapa ada persamaannya dengan beri’tikaf, walaupun ada juga perbedaan antara keduanya. Sedangkan bersemadi atau bermeditasi, hampir sama pengertiannya dengan bertafakkur atau berkhalwat. Sehingga di halaman lain Kamus Bahasa lndonesia menyebutkan bahwa Bermeditasi adalah melakukan Samedi atau tafakur dan berkhalwat. (Komus Umum Bahasa lndonesia: 881 ).

Dan kajian kita pada edisi ini akan membahas kaitan antara bertapa dengan beri’tikaf. Bolehkah seorang muslim bertapa? Apakah yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di goa Hiro’ termasuk bertapa? Lalu bagaimana kaitannya dengan I’tikaf, betulkah ia merupakan bentuk pertapaan ala lslam? Sumber.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar