Jejak Kerajaan Sunda Di Jawa Tengah (Studi kasus di Wilayah Kabupaten Brebes dan Tegal)


Sebagaimana diketahui, bahwa secara administrasi kepemerintahan, dua kabupaten, yakni Brebes dan Tegal, masuk wilayah Jawa Tengah. Dan khusus untuk Kabupaten yang disebut pertama, memiliki paling tidak, tiga wilayah kecamatan yang bahasa ibu masyarakatnya adalah Sunda, yakni Kecamatan Salem, Banjarharjo dan Bantarkawung. Sedang, masyarakat di wilayah selain ketiga kecamatan tersebut mayoritas berbahasa ibu,  Jawa. Adapun masyarakat wilayah Kabupaten Tegal, tentu saja tidak berbahasa ibu Sunda,  semuanya memiliki bahasa ibu sebagaimana umumnya bahasa masyarakat Jawa Tengah.

Yang menarik bagi penulis, bahwa banyak ditemui di wilayah kedua kabupaten tersebut  daerah yang namanya nampak berasal dari bahasa Sunda, padahal masyarakatnya dapat dipastikan tidak mengenal bahasa Sunda sama sekali. Di bawah ini penulis sebutkan nama-nama desa, hanya untuk beberapa saja:
  1. Cimohong, yang berkecamatan Tanjung Kab. Brebes.
  2. Cicabe, yang berkecamatan Wanasari Kab. Brebes.
  3. Cipelem, yang berkecamatan Bulakamba Kab. Brebes.
  4. Rancawuluh yang berkecamatan Bulakamba Kab. Brebes.
  5. Lebaksiu, yang berkecamatan Lebaksiu Kab. Tegal.
  6. Mokaha, yang berkecamatan Jatinegara Kab. Tegal.
Disamping nama-nama yang masih sangat jelas berasal dari bahasa Sunda seperti tersebut di atas, banyak juga nama-nama tempat yang nampaknya dulu berbahasa Sunda, namun seiring perjalanan waktu, nama-nama itu mengalami perubahan, seperti:
  1. Siwuluh, yang berkecamatan Bulakamba Kab. Brebes, bisa jadi asalnya Ciwuluh.
  2. Sisalam, yang berkecamatan Wanasari Kab. Brebes, bisa jadi asalnya Cisalam.
  3. Sigentong, yang berkecamatan Wanasari Kab. Brebes, bisa jadi asalnya Cigentong.
  4. Sirampog, yang berkecamatan Sirampog Kab. Brebes, bisa jadi asalnya Cirampog.
  5. Slawi, yang berkecamatan Slawi Kab. Tegal, bisa jadi asalnya Selaawi.
  6. Pemali, nama sungai besar yang membelah kota Brebes, bisa jadi asalnya Pamali.
Selain yang berkaitan dengan nama-nama tempat, terdapat pula beberapa kata yang  mengikuti pola pembentukan kata dalam bahasa Sunda namun kata-kata itu lazim digunakan oleh masyarakat Brebes maupun Tegal yang bahasa ibunya Jawa. Penulis ambil contoh:
  1. Kathok (Jawa, artinya: celana pendek).
  2. Klambi (Jawa, artinya: baju).
Meskipun kedua kata tersebut memang kata-kata Jawa tetapi dalam percakapan sehari-hari masyarakat Brebes dan Tegal, menggunakaannya dalam pola pembentukan kata  yang lazim dalam bahasa Sunda.

Perhatikan kalimat di bawah yang biasa mereka pakai berkomunikasi:

Bayine wis kathokan ning durung klambinan. Artinya: Bayinya sudah memakai celana pendek tapi belum memakai baju. 

Kata kathokan berasal dari kata kathok artinya celana pendek. Jika kata ini mau mengikuti pola pembentukan kata Jawa harusnya:dikathoki bukan kathokan yang berakhiran an. Demikian juga kataklambinan berasal dari kata klambi artinya baju. Jika kata ini mau mengikuti pola pembentukan kata Jawa harusnya: diklambeni bukanklambinan yang berakhiran an. Pola pembentukan kata dengan akhiran an yang bermakna kata kerja semacam ini menurut hemat penulis hanya lazim dikenal dalam bahasa Sunda, bukan dalam bahasa Jawa.

Jadi kalimat di atas jika mau mengikuti pola Jawa harusnya begini:

Bayine wis dikathoki ning durung diklambeni. Artinya: Bayinya sudah memakai celana pendek tapi belum memakai baju. 

Dari fakta-fakta ini, penulis berkesimpulan bahwa bisa jadi dahulu Kabupaten Brebes dan Tegal masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaaan Sunda. Namun karena kejayaan kerajaan ini yang kian lemah, sehingga tak mampu menahan ekspansi militer kerajaan yang berasal dari kawasan sebelah timur, maka terjadilah apa yang telah terjadi. Di sini rupanya berlaku mekanisme seleksi alam, siapa yang kuat dialah yang bertahan hidup. Wallahu a’lam (Iwan, internasional wartawan). Sumber.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar