Candi Cetho


Kompleks bangunan candi Cetho yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepat di Dukuh Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah ini memiliki ukuran panjang 190 m dan lebar 30 m dan berada di ketinggian 1.496 m dari permukaan air laut.

Candi Cetho berlatar belakang agama Hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras meninggi ke arah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti ini mirip dengan bentuk punden berundak masa prasejarah.

Tahun Pendirian dan Fungsi Candi


Prasasti dengan huruf Jawa Kuno pada dinding gapura teras ke-7 berbunyi “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397”, yang dapat ditafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 Saka (1475 M).

Fungsi Candi Cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat dilihat melalui simbol-simbol dan mitologi yang ditampilkan oleh arca-arcanya. Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramanthana dan Garudeya. Sedangkan simbol penggambaran phallus dan vagina dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan.

Riwayat Penelitian dan Pemugaran

  • §  Candi Cetho pertama kali dikenal dari laporan penelitian van der Villis pada tahun 1942 yang kemudian penelitian dan pendokumentasian dilanjutkan oleh W.F. Stuterheim, K.C. Crucq dan A.J. Bernet Kempers.
  • §  Riboet Darmosoetopo dkk pada tahun 1976 telah melengkapi hasil penelitian sebelumnya.
  • §  Tahun 1975/1976 Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap Kompleks Candi Cetho dengan dasar “perkiraan” bukan pada kondisi asli. Dengan kata lain, pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran cagar budaya yang benar.
  • §  1982 Dinas Purbakala (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) meneliti dalam rangka rekonstruksi.


Nuansa Lokasi Candi


Lokasi candi yang terletak di lereng Gunung Lawu membawa konsekuensi bahwa di daerah sekitar candi adalah sejuk di siang hari dan dingin pada malam hari. Suasana udara ini ternyata membawa berkah bagi masyarakat sekitar candi tersebut. Mereka bisa menanam berbagai tanaman sayuran di ladang maupun halaman rumahnya, dalam skala besar (baik lahan maupun modal) banyak terhampar perkebunan teh yang sudah melegenda sejak zaman Belanda.

Dalam perjalanan, pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan kebun teh bak beludru yang menghampar luas di punggung-punggung bukit. Yang suka minum teh, bisa singgah sebentar di Rumah Teh Ndoro Doker, daerah Kemuning, yang bangunannya menyerupai bangunan ala Belanda.

Sehingga, perlu dipastikan dulu kehandalan moda transportasi untuk menuju ke candi tersebut. Nuansa pegunungan yang memiliki tikungan tajam, naik-turun, tidak bisa ditempuh dengan kendaraan yang asal-asalan.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar