Ilmu Kasekten Dalam Budaya Jawa

Ilmu Kasekten Dalam Budaya Jawa

Pertama-tama perlu dikemukakan bahwa penulis bukan pelaku ilmu kasekten, sehingga kesimpulan awal dapat diambil bawa penulis bukan orang sakti. Kedua, tulisan tersebut mengandalkan pada sejumlah informasi dari nara sumber terbatas dan sedikit kepustakaan yang berkaitan dengan tema ilmu kasekten tersebut.

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendakNYA.

Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.

Puncak gunung dalam kebudayaan Jawa dianggap suatu tempat yang tinggi dan paling dekat dengan dunia diatas, karena pada awalnya dipercayai bahwa roh nenek moyang tinggal di gunung-gunung. Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati ( dunia ini ) dan alam adikodrati ( alam gaib atau supranatural ).

Niels Mulder mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup. Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius. Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos ( alam ) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.

Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta, yang mengandung kekuatan-kekuatan supranatural ( adikodrati ). Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.

Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki kirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna ( dunia atas – dunia manusia - dunia bawah ).

Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

Sikap dan pandangan terhadap dunia nyata ( mikrokosmos ) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusai sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam menghadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia inii tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya.

Bagi orang Jawa dahulu, pusat dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia ,sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua alam. Jadi raja dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari wakil Tuhan dengan keraton sebagi tempat kediaman raja. Keraton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena rajapun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan wilayah.

Hal hal diatas merupakan gambaran umum tentang alam pikiran serta sikap dan pandangan hidup yang dimiliki oleh orang Jawa pada jaman kerajaan. Alam pikiran ini telah berakar kuat dan menjadi landasan falsafah dari segala perwujudan yang ada dalam tata kehidupan orang Jawa.

Ilmu kasekten dan ngelmu kasekten

Sejalan denganpenalaran manusia, ketika setiap kegiatan akal budi membuahkan wujud yan mulia, sedang tindakan dan pelakunya memperoleh predikat nama, maka perbendaharaan katapun diperkaya kosa katanya. Ilmu kasekten dan ngelmu kasekten, yang mungkin sudah di aktualisasikan manusia jawa sebelum masehi, namun wilayah pengetahuan ini belum pernah diteliti dan diangkat sebagai cabang ilmu pengetahuan khas dan tersendiri.usaha mengetahui dan mengerti masalah tersebut , sampai kini masih berada sebagai alat bantu,dan dianggap sebagai pseudo –ilmu pengetahuan.

Terlebih itu orang mengolah ilmu kasekten/ ngelmu kasekten, sehingga ia dikenal berilmu sakti, diakui dalam mitos dan legenda,bahkan juga dalam babad.

Untuk itu ada baiknya dalam kesempatan ini dibedakan antara ilmu kasekten dan ngelmu kasekten.

Ilmu kasekten

Ilmu kasekten mengandaikan bahwa pada dasarnya sudah di pelajari secara sistematis, dari fakta-fakta yang banyak di gali dari berbagai narasumber dilapangan, mempunyai kebenaran yang boleh diuji oleh siapapun, dan di absahkan oleh lembaga ilmu pengetahuan disitu apa yang di sebut kebenaran nmencapai obyektivitasi, oleh karena itu tidak lepas dari kritik dan telaah ulang, sehingga yang disebut ilmu kasekten bukan lagi rahasia esotrik. jika metode untuk mempelajarinya sudah jelas, saran yang ditempuh sudah tercapai, nkiranya kebenaran dalam ilmu kasekten akan diakui umum.

Setahu saya hal tersebut belum pernah dilakuan oleh ahli ilmu kasekten.

Ngelmu kasekten

Ngelmu kasekten mengandaikan bahwa pada dasarnya dia masih merupakan kegiatan pribadi, personal-subjektif,tidak perlu mengindahkan tahao kebenaran yang dapat di identifikasikan oleh siapapun juga, tetapi cukup diyakini secara perseorangan. Disitu apa yang disebut kebenaran tidak perlu dimaklumi dan dibuktikan dengan berbagai variabel.supaya orang lain ikut menguji kebenaranya,dengan fakta,telaah dan kritik.

Sakti dan kasekten

Kata kasekten merupakan bentukan dari kata dasar saktiyang umumnya sudah sangat tua.kata sakti berasal dari bahasa sansekerta, India hindu sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Kata sakti yang sudah berumur 5000 tahun di tanah Jawa mengalami dinamisasi pemakaian, yang tidak jauh dari arti dasar semula.

Menurut s.Prawiroatmodjo,kata sakti berati bertuah atau keramat (Bausastra jawa-indonesia:1989)sedangkan menurut Drs.YB.Suparlan,kata sakti berarti kuasa atau sentausa,(kamus kawi_indonesia: 1989) tak tau artina kata sakti menurut P.J. Zoet mulder yang telah menyusun the old Javanese dictionaryi. Selain arti dasar dalam buku sebuah kamus sangat penting, dari periode zaman yang akan mengalami distorsi ataunpolarisasi artiseperti dalam kamus kawi-indonesia yang mengandalkan pada susunanC.F.Winter Sr.dan R. Ng. Ranggawarsito-studi perbandingan mengenai arti kata dasar, dari buku kamus untuk kata-kata,yang sama akan menandai aktualisasi yang berlangsung dari komunitas penduduknya.

Aktualiasai dalam suatu kata, dalam hal ini kata sakti, di baliknya sudah menerapkan kegiatan aktif dari pemakainya, yang didahului daengan proses transformasi subyektif. Seiring dangan perubahan peradaban zaman, suatu kata dapat beralih arti atau bahkan bertolak belakang. Dengan singkat tradisi penyusunan buku kamus yang baik pun ikut mrmberi katersangan pada siding pemakainya, ketika suatu alat bahasa dijadikan andalan bagi pengetahuan dan piunya sejarah panjang.

Sedangkan menurut suatu nara sumber yang mengandalkan pada ungkapan lisan, kata sakti sebenarny symbol kewanitaan. Itu sebabnya dalam dunia pewayangan yang beridukan epik Ramayana dan mahabarata, dikenal istilah warna sembadra adalah saktinya arjuna, atau sinta saktinya wijaya. Wanita itu sakti pria. Hal itu berate kekuatan pria ada pada wanita, bersumber pada wanita. Sedangkan yoni adalah perwujudan sakti, yaitu kekuatan yang ada pada dewa. Karena itu pemujaan pada yoni identik pemujaan paa wanita.

Entah kenapa pada masa kini, symbol kepriaan, lingga, tdak pernah tersua dalam litereatur kuno.pemujaan kepada lingga identik dengan pemujaan kepada pria. Hal itu langka tersua. Polarisai istilah tersebut kurang banyak diintrodusir, mungkin peninjauan pada masalah kehidupan lebih banyak di tangani oleh kaum pria.

Jika yoni merupakan perwujudan sakti, yang berupa perwujudan para dewa, sebagai penjelasan filsafat budaya hindia-hindu, jelas dapat di pahami bahwa yoni sebagai perwujudan kekuatan sakti itu merupakan kekuatan yang ada di alam metafisik, adikodrati, supranatural.

Pujangga kraton majapahit yang bernama empu Prapanca, yang mengubah kitab kakawein Negara kertagama (1293-1525) sudah membedakan adanya sakala dan niskala. hal serupapun pernah di ungkapkan empu Tantular dalam kitab kakawin sutasoma, antara (1365-1389) ketika hayam wuruk memerintah majapahit-dan juga 45 tahun sudah dikemukakan oleh empu kanwa dari kerajaan kahuripan pada masa raja erlangga (abad11) dalam kitab kakawin arjuna wiwaha.

Bahkam prof. Muh. Yamin merupakan kosa kata dari bahasa Jawa kuna yang berarti raja secara panjang lebar menguraikan susunan Negara majapahit, bahwa tiap-tiap kesatuan hukum yang paling rendah kearah yang paling tinggi ialah wilayah hukum yang di persatukan oleh tenaga kesaktian dan masing-masing dilindungi oleh dang hiyangna (tatanegara majapahit:1962:69)


Dari pengarang yang sama di jelaskan bahwa, zat kesaktian ada tiga jenis:
  • Zat kasektian lepas,tidak terikat, terdapat di gua, mata air, gunung, kuburan, pohon beringin, kawah-kepunden, bukit, singgasana,dan sebagainya. Zat kesaktian ini yang konon dianggap berbadan dan hidup di udara yang di daerah austronesia memakai berbagai nama:sang-hiang desa, sang bromo, ratu lara kidul (jawa dan bali) kraeng lowe( sulaewsi selatan), saineng sari, panugu nagari (minang kabau).
  • Zat kesaktian terikat, terdadapat pada benda dan bagian tubuh manusia, an taralain: rambut, kuku, kepala, air ludah, liquor vaginae uteri: ungkin juga di kulit, aliran drah, tulang-belulang. Pada benda zat kesaktian terikat, unpamanya pada keris pusaka,tombak pusaka, patrem pusaka wanita jawa, pakaian upacara kebesaran, mahkota raja dan ratu, tongkat komando dan lain-lain. Pada sejumlah binatang umpamanya: macan, gajah, beruang, celeng. Sedangkan pada pepohonan, sebagai rasa istimewa misalnya maja, ketapang, sitawar. Adapun batuan: batu akik, batu mulia umpamanya:krisopas, zamrud, giok, intan, berlian, blue safire, opal , pirus, topas, merah delima, ruby dan lain-lain.
  • Zat kesaktian terpadu, yang sering disebut sebagai sari kesaktian, terdapat dalam batang tubuh manusia, yang lazim dinamakan semagat, nyawa, jiwa. Rupanya zat-zat kesaktian yang bebas, dan yang terikat,keduanya dapat di fungsikan oleh manusia, yang salah satunya di pakai sebagai kekuatan keberadaanya.
Rincian kesaktian diatas, yang dalam komunitas jawa lisan disebut kekuatan magis, mempunyai karakteristik netral. Sebagai kekuatan niskala/ tidak nyata, tentu saja magi tidak kelihatan oleh pandangan mata lumrah. Namun bahwa kekuatan netral itu ada di alam metafisik, pada hakikatnya merupakan anugrah TUHAN bagi manusia yang menpunyai kemempuan mengaktualisaikanya. Sedangkan ada istilah black magic dan white magic tergantung dari tujuan di gunakan.

Trisakti dan lokal genius

Trisakti terdiri dari tiga golongan yaitu: otak, rasa, rasa dan kehendak, yang didalam perumusan Ki Hadjar Dewantara terkenal sebagai cipta rasa karsa,(kebudayaan:1967:70)perlu di tegaskan disini bahwa dalam situasi kondisi manusia yang ideal, ketiga komponentersebut saling berintegrasi, sehingga tidak pincang.itulah budaya jawa yang dikenal konvensitopo broto, tapangrame, mesu budi, atau ngulir budi sebagai kebajikan hidup yang utama dan mulia, demi meningkatkan harkat kemanusiaan.

Apa yang dikenal para local genius, yaitu para tokoh cendikiawan di tengah komunitas pedesaan tradisional lisan, pada hakekatnya adflah para pengembang dan pengemban trisakti.karena perananya yang menonjol ditengah komunitas lisan demikian, serta mereka pun menjadi tokoh panutan, dalam perilaku,ucapan dan tidakan dijadikan suri tauladan. Tanpa terkecuali kabar burung yang beredar, bahkan sudah lama meninggal dunia, meliputi prestasi dan keistimewaan pada waktu dia masih hidup.

Sejauh pengamatan saya dari riset informal, para pengemban dan pengembang trisakti manusia tradisional jawa dari jaman kerajaan terangkum ke dalam 8 predikat dan nama, yang didasarkan pada kegiatanya. Dari 8 predikat nama tersebut masih di bagi ke dalam kelompok wisdom, yaitu wisdom tulis dan wisdom tulisan. Adapun wisdom tulis didukung oleh para empu sastra alias pujangga keraton, yang secara cermat dan luar biasa baiknya sudah di rekonstruksikan dan telaah Prof. Dr. Zoetmulder(kalang wan:1985)

Sedang kelompok wisdom lisan didukung oleh 7 pengelola potensi trisakti manusia, antara lain empu keris pusaka, ahli nujum keraton, jaksa dan hakim kraton, pemahat, pematung, pelukis, penari, dalang, pradangga,termasuk empu karawitan, pemahat penatah penyunting wayang dan terakir, yang relevan dengan konteks seminar adalah pendet, wiku, bengawan, maharesi, mahaguru, guru(linus:1991)

Para pengolah trisakti dalam wisdom lisan ini, menurut narasumber lisan yang di peroleh di lapangan, dapat di bedakan menjadi 3 kelompok. Konvensi yang membedakan ketiganya adalah terletak pada kesanggupanya selaku local genius(ayatrohaedi:1989) tetapi lebih dititik beratkan pada intensitas dan praktek dan arah yang di tuju dari predikat dan namanya.
  • Guru-Mahaguru
Pengertian guru-mahaguru disini adalah bukan yang dikenal seperti pada zaman sekarang, seperti guru SD, SMA, dan dosen.akan tetapi, sesuai dengan asal kata tersebut yang berasl dari bahasa sansekerta, India, maka guru dan maha guru mengajarkan ilmu dan ngelmu mhidup kepada siswanya. Guru, mahaguru mengajarkan ilmu olah kanurgan, atosing balung uleting kulit, bagaimana bertempur menghadapi lawa supaya menang. Pendek kata guru, mahaguru belum menuntaskan ambisinya dan emosinya.
  • Resi-maharesi
Resi-maharesi berasal dari bahasa sansekerta, India yang keberadaanya pun diikuti banyak siswa, kedudukan guru-mahaguru kedudukanya tidak sama.tak tau lah criteria yang membedakan kedua predikat tersebut. Mungkin jika seseorang mencapai tataran ilmu tertentu, di pun akan di sah kan dari predikat guru menjadi mahaguru. Demikianpun dengan antara resi dan maharesi tidak beda.

Mungkin yang membedakan keduanya adalah jika seorang resi bergerak selaku pribadi dan punya sejumlah murid, sedangkan maha resi memimpin banyak resi. Atas dasr system dan komnvensi ilmunya yang terdiri dari beberapa. Satu yon sama dengan 1000 orang resi, namun pada konteks ini, resi dan maharesi berkarya dengan mengutamakan kepentingan pribadi, sedang yang untuk sosial kurang porsinya. Dengan singkat merekapun masih menyimpan ambisi dan emosi, dan belum bebas dari kecenderungan egosentrisnya.
  • Pendeta-wiku-Begawan
Sesuai derngan kata dan agama dalam bahasa sansekerta yang berati pengetahuan adat, ajaran (Prof. Dr. Slametmulyana:perundang-ndangan majapahit:1967:8) rupanya kedudukan wiku Begawan ini tidak hanya menguasai agama formal dan retorika melainkan dalam liku-liku hidupnya, mereka pun membebaskan diri dari ambisi dan emosi pribadinya.dalam pameo lisan yang terkenal dikatakan bahwa pendeta-wiku-begawan sudah nyingkur barang kadonyandan hidupnya semta menyembah sang maha hidup.

Mereka sudah meper bahwa nafsu, dalam kakawin empu Tantular tercipta pada tokoh Sutasoma,diapa-apakan mau tidak berontak, apalagi balas dendam. Atau dalam wayang purwa tercipta lewat tokoh Yudistira. Yang diolah ilmu ghoib yang diwejangkan ilmu ghoib, dan kasekten adalah nomor belakang, yang sudah dilepaskan dari jangkauan hidupnya. Tidak butuh lagi aji kwijayan, guna kasantikan, tinah mendat jinoro menter. Tidak juga kehendak yang melawan realitas, dengan budi daya yang dapat mencala putra,mencala putri,untuk mengecoh lawan.

Tempat werit dan tempat wingit

Sudah umum dikenal orang jawa suka sesirih,mati raga, tapabrata, dengan berbagai maksud dan tujuan. Diantara sekian banyak laku yang di tempuh, jika kepleset jadi laki, ternyata ada laku untuk mengunjungi berbagai tempat yang bertuah atau keramat. Dalam konvensi sejumlah jenius jawa, yang dikenal dengan istilah papan wingit dan papan werit, alias tempat berperbawa dan tempat sangar/angker.

Papan wingit ialah tempat yang berdaya kekuatan baik,ketempat-tempat wingit itulah orang berziarah, prihatin=perih ati,lara-lapa.banyak tempat ditanah jawa yang menurut para local genius merupakan tempat terbaik tempat kesaktian bersemayam. Papan werit ialah tempat berdaya kekuatan buruk, ketempat werit itulah nanyak orang ziarah kesasar. Banyak pula tempat werit di tanah jawa.

Dalam melakukan ziarah ketempat-tempat weritpun berlaku konvensi waktu. Ada yang memperhitungkan hari dan pasaran belaka, tapi ada juga yang bersifat kritis, sampai perhitungan jam. Karena itu konvensi tempat dan waktu dalam jagad skala,niskala,fisik, metafisik, natural,supranatural, dalam hubunganya dengan kasekten, sudah waktunya di nuat dalam berbagai versi.

Sarana bunga dan cahaya api

Dikenal sarana dalam dunia ritual, dalam upaya melengkapi pelaku oleh kasekten, sering juga di pakai bunga-bungaan,kemenyan, dupa. Terdapat agapan bahwa kembang talon atau kkembang liman, ralus dpa kemenyan, dan lampu minyak, pada hakekatnya merupakan perangkat lambang untuk melakuan kontak, dari alam skala kealam niskala. penemuan jenis-jenis bunga tertentu untuk sarana ritual tersebut jelas melalui evolusi peran local genius, yang prosesnya sangat panjang.

Lampu minyak dianggap sebagai lambang penerangan, yang dalam tradisi hindu, budha, khatolik, jawa masih sangat diaktualisasikan. Dari lampu minyak kelapa ke lampu minyak petroleum, berkembang lagi kelampu lilin, Ratus dupa kemenyan hio dianggap sebagai upaya untuk mencapai ketujuan, dari asap yang di baker mungepul diatas, ketempat hiayang maha tinggi besrta bauan yang khas yang menyegarkan aroma.

Bunga kenang, melati, kantil, telasih, mawar sebagai lambang bauan harum, yang dianggap trisaktinya yang suci untuk melakukan kontak dengan Hyang Maha Dimuliakan.

Ada suatu hipotesa bahwa bunga kenanga, kantil, mempunyai karakter yang menetralisasikan, atau mengembalikan keseimbangan cipta dan rasa, sehingga cipta rasa dan karsa kembali normal. Sedang bunga mawar dan telasih, mempunyai karakter mengundang suatu kekuatan, tidak harus zat kesaktian , supaya mendekat.

Sejak filsafat bunga di tanah jawa belum diteliti dan diformulasikan dengan baik, lewat berbagai pengujian dari para local genius, maka piranti-piranti bahasa lambang tradisional seperti itu hanya tinggal tradisi rutin.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam.sholawat serta salam semoga terlimpah atas diri Rosululloh Muhamad SAW. Beserta keluarga,sahabat dan orang-orang beriman.

Kebudayaan merupakan warisan nenek moyang yang harus di lestarikan, karena dapat dijadikan identitas suatu bangsa, namun kenyataanya tidak demikian di lapangan. Banyak tradisi-tradisi basngsa kita khususnya budaya Jawa mulai tersisih oleh budaya barat, padahal sebenarnya kurang tepat dengan budaya kita sebagai orang timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai.

Melalui makalah ini penulis menyampaikan tentang kebudayaan yang hampir dilupakan oleh generasi muda, yaitu tentang ilmu kasekten dalam budaya Jawa. Semoga Allah SWT memberkahi amal usaha kita dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.


Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar