Prasasti Airlangga

Prasasti Airlangga terletak di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Prasasti ini memiliki ukuran tinggi 2,20 m, lebar 1,16 m dengan ketebalan 29 cm. Prasasti ini terbuat dari batu monolit pipih yang sudah sedikit aus permukaannya. Di samping prasasti ini terdapat sebuah batu kecil yang konon setiap tahun bertambah tinggi.

Dari isinya, prasasti ini menceritakan tentang adanya tambak yang diserahkan kepada masyarakat untuk dikerjakan. Selain itu, rakyat tidak diharuskan untuk menyetor pajak kepada kerajaan, karena sawah itu untuk menunjang kemakmuran rakyat sekitar yang menjaga kejernihan Sungai Kalagyan. Namun, kemakmuran rakyat sirna setelah diserang air bah dari Sungai Brantas, yang menenggelamkan tanah maupun sawah rakyat.
Bagian pertama prasasti ini berbunyi sebagai berikut:

Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kapwa kinalimban juang denira, sahana san hyan sarwwa dharma kabeh …

Yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

“Seorang bisa memutar roda dunia ini, apabila ia membuat dan menemukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Apabila di dunia ini ada tanda tidak makmur, hanyalah Cri Maharaja [yang bertanggung jawab]. Tujuannya ialah untuk membuat jasa oleh Cri Maharaja agar selalu diperhatikan semua tempat-tempat makam suci.”

Sumber:
Endang Prasanti dalam Buletin Museum Mpu Tantular Nawasari Warta edisi Desember 2011 hal. 7.

Prasasti Airlangga Mangkrak di Skotlandia
PEMERINTAH Indonesia sedang berupaya membawa pulang prasasti Jawa kuno dari Kota Hawick, Skotlandia. Kantor berita AFP melaporkan, pihak-pihak Indonesia dan sebuah lembaga swasta Skotlandia tengah berunding mengenai pemulangan prasasti tersebut. Artefak itu disebut-sebut berasal dari sebuah kerajaan Jawa yang berpusat di Malang. 

Diduga, prasasti itu peninggalan Kerajaan Kahuripan di masa Raja Airlangga. Usia benda bersejarah itu diperkirakan sekitar 1.000 tahun. Batu prasasti berbobot empat ton dan setinggi dua meter itu diduga dibawa ke luar wilayah Indonesia pada masa kolonialisme Inggris. (25). SUARAMERDEKA.


Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar