Candi Ijo


Penamaan sebuah candi dapat didasarkan pada 3 hal. Pertama, berdasar legenda yang dikenal masyarakat. Kedua, berdasar penyebutan yang ada di dalam prasasti. Dan ketiga adalah berdasar lokasi candi itu berada.

Demikian halnya penamaan Candi Ijo. Kompleks percandian bercorak Hindu ini dinamakan sesuai dengan lokasinya yakni berada di lereng bukit padas yang bernama Gunung Ijo yang memiliki ketinggian ± 427 dpl.

Secara administratif situs ini berada di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman yang terletak pada posisi 110⁰ 00' 32.86" BT, 07⁰ 46' 55" LS. Situs Candi Ijo berada di ketinggian 375 dpl.

Penyebutan nama desa “Ijo” yang berarti ‘hijau’ untuk pertama kalinya disebut di dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi. Di dalam prasasti tersebut ditulis tentang seorang hadirin upacara yang berasal dari desa Wuang Hijo ”… anak wanua i wuang hijo …”. Jika benar demikian maka nama “Ijo” setidaknya telah berumur 1100 tahun hingga tahun 2006 lalu.

Situs Candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang yakni di sisi timur dengan bagian belakang sebagai pusat percandian. Pola semacam ini berbeda dengan pola-pola percandian yang berada di dataran Prambanan. Kebanyakan di antaranya adalah memusat ke tengah, misalnya Candi Prambanan atau juga Candi Sewu. Hal ini didasari oleh konsep penataan ruang yang bersifat kosmis.

Dengan pusat berupa puncak gunung Meru, tempat tinggal para Dewa. Adapun pola yang semakin meninggi ke belakang seperti halnya  pada Candi Ijo adalah suatu keunikan, karena pola semacam ini lebih banyak dijumpai pada candi-candi dari masa Jawa Timur. Candi sebagai tempat pemujaan dewa merupakan hasil karya arsitektur yang khas dari abad 9 hingga 10 Masehi. Di dalam candi-candi tersebut sering ditempatkan arca-arca dewa yang bernilai seni tinggi.

Kitab-kitab India kuno menyebutkan bahwa pemilihan lokasi untuk didirikan suatu bangunan kuil dewa dinilai amat berharga, bahkan lebih utama disbanding dengan bangunan kuil itu sendiri. Di dalam kitab kuno tersebut juga dinyatakan bahwa lahan atau tanah merupakan vastu atau tempat tinggal yang paling utama bagi dewa dan manusia. Lahan seperti ini biasanya adalah tanah yang subur dan tidak jauh dari mata air.

Di kawasan Prambanan, candi-candi yang dibangun dari abad 9 – 10 Masehi menempati 2 tipe lahan yang berbeda yakni di dataran Prambanan dan dataran Sorogedug yang subur. Sedang tipe lahan yang kedua berada pada perbukitan sisi selatan atau Batur Agung yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Selatan.

Di dataran Prambanan yang dialiri Kali Opak banyak ditemukan candi-candi di sisi barat maupun timurnya. Di antaranya Candi Prambanan, Sewu, Bubrah, Sojiwan, Kalasan dan masih banyak candi-candi kecil lainnya. Sedangkan di Bukit Batur Agung juga banyak dijumpai candi-candi yang megah, antara lain Kraton Ratu Boko, Candi Barong, Dawangsari, Candi Miri dan masih banyak yang lain termasuk Candi Ijo.

Untuk Candi Ijo sendiri berada pada sebuah bukit kapur yang tidak subur dan merupakan situs dengan ketinggian dari permukaan laut paling tinggi disbanding situs-situs candi lain di kawasan Prambanan. Terlihat bahwa Candi Ijo menempati suatu lahan yang tidak subur dan jauh dari mata air. Jadi untuk pemilihan lahan yang disarankan di dalam kitab kuno tidak sesuai kenyataan untuk Candi Ijo. Belum diperoleh kepastian interpretasi mengenai hal ini. Justru inilah yang membuat Candi Ijo menjadi menarik dan unik.

Candi Ijo pertama kali ditemukan tanpa sengaja oleh seorang administrator pabrik gula Sorogedug yang bernama H.E Doorepaal pada tahun 1886. Waktu itu ia sedang mencari lahan bagi penanaman tebu. Selang tiada lama C.A Rosemeier juga mengunjungi Candi Ijo dan menemukan tiga buah arca batu. Tahun 1887, Dr. J. Groneman melakukan penggalian arkeologis di sumuran candi induk. Dari penggalian tersebut diperoleh lembaran emas bertulis, cincin emas serta beberapa jenis biji-bijian. Hingga tahun1886 baru tercatat 11 gugusan bangunan candi.

Situs Candi Ijo yang terletak di bukit kapur ini menempati 11 teras dengan ketinggian berbeda-beda yang membujur dari barat ke timur. Pada teras-teras tersebut ditempatkan 17 gugusan bangunan candi. Keseluruhan gugusan candi tersebut dapat dibedakan menjadi 2, yakni bangunan beratap dan bangunan tidak beratap. Untuk bangunan yang tidak beratap ini diperkirakan sebagai sebuah bangunan dengan struktur kayu. Karena di sana ditemukan sisa-sisa umpak batu.

Dari ketujuhbelas gugus bangunan tersebut masih dibedakan menjadi 6 kelompok berdasar keletakannya pada masing-masing teras. Gugusan candi-candi tersebut untuk memudahkan penyebutannya dinamai dengan Candi A, B, C dan D (teras 11), Candi E (teras 9), Candi F, G, H, I, J, K dan L (teras 8), Candi M, N dan O (teras 5), Candi P (teras 4), dan terakhir adalah Candi Q (teras 1).

Bangunan inti dari kompleks Candi Ijo ini berada di teras paling atas yakni teras 11 yang dijumpai 1 buah candi induk (Candi A) dengan 3 buah candi perwara (Candi B, C, D) yang terdapat di depan candi induk (sisi barat). Di halaman percandian teras 11 ini ditemukan 4 buah (seharusnya 8 buah) lingga semu yang terletak pada arah mata angin. Lingga merupakan titik-titik perpotongan diagram Asana, yakni sebuah diagram kosmis mengenai penataan gugusan candi dalam satu halaman.

Bangunan-bangunan candi di teras 11 ini belum dapat diketahui masa pendiriannya. Secara relative berdasarkan gaya bangunannya diperkirakan dari abad 9 hingga 10 Masehi. Ciri tersebut tampak pada profil kaki candi yang menggunakan bingkai setengah lingkaran dan bingkai sisi genta serta bentuk Kala Makara yang banyak memiliki kemiripan dengan Kala Makara dari candi-candi di kawasan Prambanan.

Semenjak pertama kali ditemukan di tahun 1886, di Candi Ijo telah banyak ditemukan sejumlah artefak-artefak yang berkaitan dengan candi. C.A Rosemeier menemukan 3 buah arca di teras 5 berupa arca Ganesa, arca Siwa dan sebuah arca tanpa kepala bertangan empat. Selain itu Rosemeier juga menemukan batu bertulis di teras 9 berdekatan dengan Candi E. Batu bertulis itu dibaca “guywan”.

Pada tahun berikutnya Leydie Melville melakukan penggalian di sumuran candi induk yang menemukan lembaran emas bertulis, cincin emas, batu mulia, besi dan biji-bijian. Tahun 1956 – 1962, M.M Soekarto yang melakukan penelitian di Candi Ijo juga menemukan sejumlah fragmen arca, di antaranya adalah arca Siwa Mahaguru. Di teras 9, Soekarto juga menemukan batu bulat bertulis yang berisi mantra. Kemudian di tahun 1985 yakni bersamaan dengan pembersihan reruntuhan candi induk ditemukan fragmen arca Durga, Agastya dan empat arca pariwara. Tahun 1998 ketika dilakukan pembongkaran candi perwara tengah (Candi C) ditemukan sebuah arca Nandi dan padmasana.

Selain itu, juga ditemukan beberapa artefak yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Seperti tangkai cermin (darpana), gerabah serta keramik Cina.

Di sekitar Candi Ijo banyak dijumpai situs-situs dari masa Hindu – Budha. Berikut adalah peta keletakan situs-situs tersebut dari Candi Ijo.



Situs-situs di sekitar Candi Ijo


Di sekitar Candi Ijo banyak ditemukan peninggalan-peninggalan dari abad 9 hingga 10 Masehi yang diperkirakan dari masa yang tidak jauh dari masa pembangunan Candi Ijo. Kebanyakan peninggalan-peninggalan tersebut berupa bangunan candi yang sebagian besar telah runtuh. Meski demikian dari sisa-sisa bangunan tersebut masih menunjukkan tingginya peradaban Jawa beberapa abad silam. Temuan lepas berupa arca atau bagian-bagian relief menunjukkan hal tersebut.

Adapun peninggalan-peninggalan berupa bangunan candi dijumpai di sekitar Candi Ijo, antara lain:

1.       Situs Sumur Bandung
Merupakan sisa-sisa sebuah bangunan candi bercorak Hinduistis. Dari situs ini pada tahun 1980-an pernah ditemukan dua buah arca langka yang diperkirakan hanya satu-satunya di Indonesia. Arca tersebut adalah dua buah arca perwujudan dewa Wisnu, yakni arca Narasimha dan arca Wisnutriwikrama. 

Narasimha merupakan awatara dewa Wisnu yang menggambarkan manusia berkepala singa. Adegan ini digambarkan sebagai sebuah upaya dewa Wisnu membebaskan dunia dari kekejaman Raja Hiranyakasipu. Sedangkan arca Wisnutriwikrama merupakan penggalan cerita Wamana awatara tentang penjelmaan dewa Wisnu sebagai Brahmana kerdil (wamana) yang menyelamatkan dunia dari Raksasa Bali.

2.      Situs Candi Tinjon
Situs Candi Tinjon merupakan sebuah sisa-sisa struktur kaki candi, namun tidak diketahui corak keagamaan Candi Tinjon ini.

3.      Situs Arca Gupolo
Situs ini oleh para ahli arkeologi diduga sebagai sebuah situs pembuatan arca. Di situs Arca Gupolo ini dijumpai arca-arca bercorak Hindu maupun Budha yang keseluruhan memiliki ukuran yang sangat besar, di antaranya Arca Siwa Mahadewa.

Upaya pelestarian Candi Ijo


Pelestarian sebuah benda cagar budaya pada dasarnya telah diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Secara lebih spesifik Candi Ijo telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya berdasar pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 157/M/1998.

Upaya pelestarian semacam ini pada dasarnya adalah untuk melindungi keberadaan suatu benda atau bangunan cagar budaya dari kerusakan serta menjadikannya sebagai sebuah sumber kajian ilmiah sekaligus bukti fisik kebudayaan yang tak ternilai harganya.

Upaya pelestarian terhadap Candi Ijo diwujudkan melalui berbagai kegiatan pemugaran. Pemugaran itu sendiri meliputi berbagai kegiatan seperti restorasi, rekonstruksi, rehabilitasi, konsolidasi serta konservasi-preservasi. Secara umum berbagai definisi tersebut bertujuan untuk mengembalikan bentuk suatu benda atau bangunan cagar budaya agar bisa kembali dimanfaatkan kembali secara keilmuan sekaligus memelihara nilai historis yang terkandung.


Pemugaran Candi Ijo telah dimulai pada tahun 1980-an yakni diawali dengan pemugaran terhadap candi induk. Kemudian pada tahun 2000 hingga 2003 juga dilakukan pemugaran terhadap 3 buah candi perwara.

Salah satu kegiatan dari pemugaran adalah kegiatan susun coba (anastylosis). Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana batu-batu penyusun candi dapat disusun kembali sekaligus mengetahui volume batu yang hilang untuk kemudian diganti dengan batu pengganti yang baru.

Setelah dilakukan pemugaran, bangunan secara rutin juga dilakukan perawatan terhadap fisik bangunan melalui konservasi material. Kegiatan konservasi material semacam ini berupa pembersihan secara mekanis, fisis dan khemis. Hal ini dilakukan karena bangunan candi berada di udara bebas sehingga pada tubuh bangunan sangat mudah ditumbuhi oleh berbagai organisma-organisma yang dapat merusak keawetan material bangunan candi. Kegiatan pengawetan juga dilakukan melalui pengolesan bahan-bahan kimia yang telah teruji tidak merusak material bangunan candi.

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar