Toba Super Volcano

Toba Supervolcano - The Sleeping Giant


Danau Toba, yang dikenal sebagai salah satu danau air tawar terbesar di dunia, dengan pulau Samosir yang elok, dalam sejarah vulcanology adalah sisa dari letusan kaldera mahadashyat yang paling besar hingga detik ini (skala 8 VEI - Vulkanic Explotion Index). Letusan Toba dapat disamakan dengan 2000 kali letusan Gunung Helena atau 20000 kali letusan bom atom Hiroshima.

Mont St. Helens. 18 Mei 1980 Meletus
Mont St. Helens 19 Mei 1980
Letusan gunung berapi Pinatubo di Filipina ini termasuk letusan terbesar di abad 20 dengan skala 6 VEI. Material letusan yang dilepaskan mencapai volume 10 km kubik (bandingkan dengan letusan gunung Toba yang mencapai 2800 km kubik). Debu gunung api yang meletus tahun 1991 itu bergerak ke arah barat, mencapai Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Brunei dan Kamboja. Suhu atmosfir menurun hingga 0,5 derajat Celcius. Ketinggian gunung berkurang dari 1745 m menjadi 1485 m.
Supervolcano yang membuat maha karya yang sangat indah, Danau Toba.
Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.




Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.

Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.



Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Efek dari letusan itu adalah lubang besar dengan luas hampir 200 ribu hektar (panjang 100 km dan lebar 30 km) atau dua setengah kali negara Singapura dimana lubang itu kini terisi air dan disebut dengan Danau Toba. Letusan itu memuntahkan material vulkanis ke seluruh penjuru dunia dan batuan yang sama ditemukan di beberapa negara oleh geologist. Awan debu yang dimuntahkan menutupi permukaan bumi dari sinar matahari sehingga menurut para ahli suhu bumi turun hingga lebih dari 15 derajat Celcius hingga beberapa dekade, awal dari jaman es yang terakhir.

http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=7380
http://www.astronoo.com/articles/caldera-en.html
http://www.andaman.org/BOOK/originals/Weber-Toba/ch2_today/textr2.htm
Kejadian itu menyebabkan kematian dan kelaparan di seluruh permukaan bumi, dan diperkiraan manusia yang hidup tinggal 10000 hingga 40000 orang saja. Manusia yang tersisa bermigrasi dari Afrika, menyebar ke Arab, Eropa, Asia dan Indochina. Dan dengan kecepatan replikasi hamster, kini manusia menghuni seluruh daratan di dunia.

73.000 tahun yang lalu, letusan titanic Gunung Toba (The Great Toba) di Indonesia melakukan hal itu, menyapu bersih daerah itu hampir dalam semalam seperti menendang planet ke lemari es yang akan dingin bertahan selama hampir 2.000 tahun. Letusan Toba mungkin merupakan peristiwa vulkanik yang paling penting dalam sejarah manusia, derita leluhur penduduk manusia di Afrika turun secara drastis, hanya yang menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.

Terletak di ketinggian 906 m dpl, sebagian besar lanskap danau Toba didominasi oleh dataran tinggi dan pegunungan. Danau Toba terbentuk dari serangkaian proses tektonik dan vulkanik selama jutaan tahun. Danau yang terletak di Sumatera Utara ini memiliki luas 1.130 km, membentang dari arah utara ke selatan dengan panjang maksimum 100 km dan lebar maksimum 30 km. Kedalaman maksimum tercatat sekitar 505 m dengan volume air diperkirakan mencapai 240 km kubik. Menurut Wikipedia, danau Toba adalah danau terbesar di Asia Tenggara, danau ke-14 terdalam di dunia dan bahkan, memegang rekor sebagai danau tektonik-vulkanik terbesar di dunia.

Pulau Samosir di tengah-tengah Danau Toba
Letusan Toba Supervolcano

Meletusnya gunung Toba, tidak saja mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dalam skala global, tetapi juga menyebabkan perubahan ekosistem di bumi. Debu vulkanik yang dilepaskan saat gunung meletus, selain menghalangi cahaya matahari, juga mencemari sumber air tawar, menyebabkan hilangnya padang rumput, semak belukar dan hutan belantara. Rusaknya habitat menyebabkan hilangnya tempat bernaung dan mencari makan bagi sebagian besar spesies makhluk hidup. Akumulasi dari peristiwa tersebut menyebabkan kepunahan massal bagi sebagian besar spesies makhluk hidup, tidak terkecuali pada manusia.

Beberapa peneliti Arkeologi dan Antropologi meyakini bahwa letusan gunung Toba menyebabkan musnahnya sebagian besar spesies “manusia purba” di Afrika timur, Afrika Tengah dan India. Hal ini menyebabkan terjadinya fenomena “bottleneck population” dimana sebagian besar jenis “manusia” yang lebih beragam hidup pada masa itu menjadi musnah karena tidak mampu bertahan hidup dengan perubahan iklim yang terjadi. Teori kepunahan massal manusia akibat letusan gunung Toba ini dikenal dengan “Toba Catastropic Theory”. Teori tersebut didukung oleh sebagian ahli genetika populasi yang menyatakan bahwa rendahnya keragaman genetik dari manusia yang hidup di dunia saat ini adalah bukti dari adanya kepunahan massal spesies-spesies “manusia” di masa yang lalu. Para ahli genetika tersebut juga menambahkan, bahwa apapun jenis warna kulit dan rasnya, secara genetik, seluruh manusia yang ada di dunia saat ini umumnya memiliki komposisi genetik yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia yang ada saat ini, kemungkinan berasal dari satu populasi manusia yang selamat dari peristiwa meletusnya gunung Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu.

Peneliti Biologi Evolusi Richard Dawkins melakukan penelitian untuk melacak asal usul manusia berdasarkan DNA pada mitokondria yang hanya diturunkan melalui ibu dan DNA kromosom Y yang hanya diturunkan melalui ayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup di dunia saat ini, berasal dari seorang ibu (Eve) yang hidup sekitar 140.000 tahun yang lalu dan berasal seorang ayah (Adam) yang hidup sekitar 60.000 tahun yang lalu. Dari hasil riset tersebut, peneliti berkesimpulan bahwa peristiwa meletusnya gunung Toba membawa konsekuensi pada berkurangnya keragaman genetik pada manusia dan berubahnya jalur migrasi dan penyebaran populasi manusia. Menurunnya keragaman genetik akibat meletusnya gunung Toba juga ditemukan pada berbagai hewan seperti Cheetah, Panda, Harimau, Simpanse, Orangutan dan Gorilla.

Letusan gunung Toba tergolong sebagai letusan terbesar di dunia dalam kurun waktu 25 juta tahun terakhir. Letusan tersebut tergolong “mega-collosal” dengan skala mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Siklus letusan diperkirakan terjadi setiap 300-400 ribu tahun. Gunung yang meletus dengan skala ini umumnya tergolong gunung api raksasa yang memiliki dapur magma sangat besar. Jenis gunung api raksasa seperti ini termasuk jarang ditemukan di alam karena membutuhkan waktu yang lama bagi dapur magma untuk mengumpulkan materi vulkanik dalam jumlah yang sangat besar. Dari jejak yang ditinggalkan, saat ini hanya ditemukan 40 gunung api raksasa dalam kurun waktu ratusan juta tahun.
3 Gunung dengan letusan mematikan di Indonesia

Pemahaman tentang fenomena gunung raksasa tergolong cukup “baru” dikalangan para ahli Geologi dan Vulkanologi. Istilah “Supervolcano” sendiri baru ditetapkan sekitar tahun 2003 lalu. Defenisi dan kriteria Supervolcano belum begitu jelas, namun (menurut Wikipedia), supervolcano setidaknya mengeluarkan volume material letusan sebanyak 1000 km kubik saat meletus. Volume 1000 km kubik itu sama dengan suatu kotak atau kubus yang ukuran dimensinya (panjang x lebar x tinggi) = 1000 km x 1000 km x 1000 km. Panjang maksimum pulau Jawa dari ujung barat ke ujung timur sekitar 1024 km. Begitu besarnya volume material letusan yang dikeluarkan oleh supervolcano sehingga akibat yang ditimbulkan selalu bersifat katastrofik (sangat merusak dalam skala global). Sejauh ini, Supervolcano adalah bencana alam yang paling merusak dan paling menimbulkan banyak korban. Hanya ada satu bencana alam lain yang jauh lebih besar, namun ini sangat jarang terjadi, yaitu tubrukan asteroid dengan bumi. Salah satu kejadian yang paling dikenal adalah peristiwa tubrukan asteroid dengan bumi yang memusnahkan dinosaurus sekitar 65 juta tahun yang lalu.
VEI INDEX
http://iwantolet.wordpress.com/2009/09/30/3-letusan-gunungapi-terbesar-di-indonesia/

Adegan meletusnya Supervolcano seperti gunung Toba dapat anda saksikan dalam film sains-fiksi yang kontroversial: 2012, arahan Sutradara Roland Emmerich yang dirilis tahun 2009. Dalam film tersebut, sesuai dengan Ramalan suku Maya, kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Salah satu bencana alam yang digambarkan terjadi dalam film tersebut adalah meledaknya kawah Yellowstone di Amerika Serikat. Meledaknya kawah tersebut menyebabkan runtuhnya gunung dan tenggelamnya permukaan tanah di sekitar daerah letusan.


Sebagaimana bencana katastrofik lainnya, peristiwa meletusnya gunung Toba tidak saja meninggalkan jejak dalam bentuk kaldera yang indah, tetapi juga menciptakan sejarah yang mengubah wajah dunia untuk selamanya.

Mari Kita Nikmati Keindahan Sisa-Sisa Sang Supervolcano






by National Geography

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar