Bung Karno: Aku Ingin Berbaur Dengan Rakyat !!!


Sekitar 1 minggu yang lalu kita bangsa Indonesia memperingati hari wafatnya tokoh besar Bung Karno. Kamis 21 Juni 1970. 42 tahun silam, Bung Karno wafat diusianya yang ke 69 Tahun. Bung Karno yang sepanjang hidupnya berjuang dan mengabdikan dirinya untuk rakyat dan bangsa Indonesia.

Bung Karno wafat di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Beliau wafat di rumah pengasingan yang ditempatinya sejak tahun 1969. Semula, beliau diasingkan di Istana Batutulis, Bogor.


Bung Karno diasingkan oleh rezim Orba sesaat setelah MPRS buatan Orba mencabut mandat beliau sebagai Presiden. Selama diasingkan, Bung Karno dilarang untuk bertemu dan ditemui oleh siapa pun. Bung Karno benar-benar kesepian, dijauhkan dari rakyat yang dicintainya.

Saat menjabat sebagai presiden, Bung Karno mempunyai kebiasaan melihat kehidupan rakyat, berdialogdengan rakyat. Pada malam hari beliau melepaskan peci dan seragam agar tidak dikenal rakyatmendatangi beberapa tempat di Jakarta untuk mendengarkan suara rakyat.

Namun, suara khas Bung Karno saat berdialog seringkali dikenali rakyat sehingga mengundang massa berdatangan. Menurut Bung Karno, mendengarkan dialog rakyat seperti merasakan kekuatan hidup mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Aku ingin berbaur dengan rakyat. Itulah yang menjadi sifatku. Tetapi, sekarang aku tidak dapat lagi berbuat demikian. Sering aku merasa tercekik, nafasku mau berhenti, apabila aku tidak bisa pergi keluar dan bersatudengan rakyat jelata yang melahirkanku. Demikian ujar Bung Karno kepada Cindy Adams di tahun 1965.

Dalam sebuah artikel mengungkap, Megawati, anak sulung Bung Karno dari istrinya Fatmawati diizinkan tentara untuk berkunjung. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata.

Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini. "Pak, Pak, ini Ega.". Senyap. Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka.

Namun, kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah inginmengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya.
Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

Diceritakan, Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.


Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini.

Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya. Dan semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Konon, ia juga dijuluki "Manusia separuh wali". Manusia yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada. 

Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar