Daftar Situs Pra Sejarah di Indonesia


Indonesia pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, bagian tubuh hewan, logam (besi dan perunggu), serta gerabah.
Secara geologi, wilayah Indonesia modern merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, hanya 10.000 tahun yang lalu.
Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni pertama adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa “manusia Flores” (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang berciri rasial berkulit gelap dan berambut ikal rapat (Negroid), menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktek-praktek megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.

Daftar Situs Pra Sejarah di Indonesia :

1. Situs Gua Putri, Baturaja, Sumatera Selatan


Wisata Alam sekaligus Wisata Sejarah

Pelesir ke Gua Putri bisa mendapatkan dua pengalaman sekaligus. Berwisata alam sekaligus berwisata sejarah. Hasil penelitian arkeologis menunjukkan, gua yang masih alami itu pernah menjadi hunian manusia prasejarah.

LOKASINYA memang agak tersembunyi. Namun, pendatang baru sekalipun dengan mudah bisa menemukannya. Sebab, warga sekitar gua akan de­ngan senang hati mengantar.
Apalagi, pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu sudah membangun jalan beton yang mengarah ke mulut gua. Jalan selebar 1-2 meter itu cukup lapang untuk dilalui.

Memasuki gua tersebut tidak perlu memiliki keahlian khusus layaknya penelusur gua. Pintu gua cukup lebar dan tinggi sehingga pengunjung tidak perlu menunduk, apalagi merangkak untuk memasukinya.

Begitu juga ruangan di dalam gua tersebut. Lebar gua yang bervariasi, 8-20 meter, cukup lapang untuk berjalan-jalan. Jarak antara lantai gua dan langit-langitnya pun lebar, berkisar 2,7-4 meter.

Hanya, meski kondisinya lapang, pengunjung harus berhati-hati saat menapaki lantai gua dan menyusuri rute dari pintu masuk sampai ke pintu keluar. Meski sudah ada lampu penerangan di rute sepanjang 500 meter tersebut, dinding gua yang kelam tidak cukup membantu untuk menerangi isi gua. Selain pencahayaan yang tidak terlalu terang, pengunjung harus berhati-hati. Sebab, di beberapa bagian, jalanan menanjak dengan lantai yang licin.

Begitu memasuki gua tersebut, bau khas kotoran kelelawar langsung menyambut. Tidak perlu kaget jika tiba-tiba beberapa ekor binatang malam itu melintas. Pada langit-langit, ratusan kelelawar bergelantungan dengan kepala di bawah.

Semua tantangan perjalanan dan sambutan itu terbayar ketika memasuki bagian tengah gua. Beragam bentuk batuan, termasuk stalagtit dan stalagmit, seakan menembus lantai dan langit-langit gua.

Belum hilang kekaguman menyaksikan benda-benda bentukan alam tersebut, telinga sudah terbuai dengan suara gemericik air dari bagian tengah gua. Suara itu berasal dari sungai bawah tanah di gua tersebut.

Sungai tersebut merupakan aliran anak Sungai Semuhun yang selanjutnya bertemu dengan Sungai Ogan. Meski berada di dalam gua, sungai itu cukup besar. Lebar badan sungai tersebut bervariasi, 8-12 meter.

Konon, warga sekitar meyakini bahwa sungai di dalam gua itu dulu adalah pemandian bagi para putri kerajaan. Ada juga yang memercayai bahwa air sungai tersebut mengandung khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Hanya dengan membasuh muka de­ngan air sungai tersebut, warga sekitar yakin bisa awet muda. Remaja yang belum mendapatkan jodoh juga bisa mencoba khasiat air sungai itu yang disebut-sebut bisa mengentengkan jodoh.

Dugaan bahwa Gua Puteri pernah menjadi hunian manusia prasejarah didasari penelitian pada 2005. Balai Arkeologi Palembang menemukan jejak-jejak budaya prasejarah pada kedalaman tertentu.

Beberapa di antaranya pecahan gerabah, tulang binatang, bahkan tulang manusia. Juga ditemukan beberapa perkakas kuno, seperti batu pukul, batu pahat, dan kapak batu. Temuan-temuan itulah yang mengarah pada dugaan bahwa gua tersebut pernah dihuni manusia.

Dugaan tersebut diperkuat hasil penelitian tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) yang dipimpin Prof Truman Simanjuntak pada awal 2009. Penelitian tersebut dilakukan di Gua Harimau yang lokasinya berdekatan dengan Gua Putri. Di Gua Harimau, tim itu menemukan empat kerangka manusia yang berdasar ciri-cirinya berasal dari zaman neolitikum.

Secara keseluruhan, pengelolaan Gua Putri sebagai objek wisata memang belum maksimal. Fasilitas yang tersedia barulah warung-warung kecil di dekat pintu keluar gua.

Pemkab Ogan Komering Ulu sedang menyusun konsep pengembangan kawasan tersebut dengan pihak konsultan. Yang mendesak adalah pemagaran keliling dan pembangunan jalan setapak di areal wisata itu.

Yang juga tengah digagas adalah pembangunan museum mini untuk menyimpan temuan-temuan arkeologis di dalam gua tersebut. Juga fasilitas-fasilitas penunjang lain, yang bisa memberi nilai tambah objek wisata itu. Yang tidak kalah penting adalah perluasan lahan parkir untuk kendaraan pengunjung yang saat ini memang kurang. Jawa Pos.


2. Lembah Sangiran, sekarang menjadi Taman Purbakala Sangiran


Lembah Sangiran Sragen Jawa Tengah

Situs Prasejarah : Lembah Sangiran Sragen Jawa Tengah

Sangiran merupakan situs terpenting untuk ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoanthropologi, geologi dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan. Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat dalam mempelajari kehidupan manusia prasejarah karena situs ini dilengkapi dengan koleksi fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusia prasejarah, fosil-fosil flora fauna prasejarah beserta gambaran stratigrafinya.

Museum Sangiran

Salah satu obyek wisata yang menarik di Kabupaten Sragen adalah Museum Sangiran yang berada di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kubah tersebut terletak di Depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (kurang lebih 17 km dari Kota Solo). Kehadiran Sangiran merupakan contoh gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di dunia. Luasnya mencapai 56 kilometer persegi yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Gemolong, Kalijambe dan Plupuh serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, yaitu Gondangrejo.

Museum Fosil Sangiran Indonesia atau Sangiran Museum adalah sebuah museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Sragen, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil prasejarah Sangiran . Situs Sangiran memiliki luas 56 km ² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe dan Plupuh) dan Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Sangiran terletak di sekitar 15 km utara kota Solo.

Museum Sangiran dan situs arkeologinya, selain menjadi daya tarik wisata yang menarik juga merupakan arena riset kehidupan prasejarah paling penting dan paling komprehensif di Asia, bahkan di dunia. Di museum dan di situs ini dapat diperoleh informasi rinci tentang manusia purba Sangiran di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan, seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, dan Paleoanthropologi.

Museum ini dibangun pada tahun 1980 yang menempati areal seluas 16.675 meter persegi. Bangunan tersebut bergaya Joglo yang terdiri atas : Ruang Pameran yaitu ruang utama tempat koleksi terdisplay; Ruang Laboraturium yaitu tempat dilakukannya proses konservasi terhadap fosil-fosil yang ditemukan; Ruang Pertemuan yaitu ruang yang digunakan segala kegiatan yang diadakan di museum;Ruang display bawah tanah; Ruang audio visual; Ruang Penyimpanan koleksi fosil-fosil, Mushola dan Toilet.

Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai warisan budaya. Dan dalam Sidang Komisi Warisan Dunia di Kota Marida, Mexico pada tanggal 5 Desember 1996, Sangiran ditetapkan sebagai salah satu Warisan Dunia.

Pada tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di daerah tersebut. Dalam tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian mendapatkan sisa-sisa nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus (Java Man atau Manusia Jawa). sampai sekarang ada sekitar 60 lebih fosil, termasuk palaeojavanicus dan Meganthropus telah ditemukan di situs tersebut.

Didalam museum ada penjelaskan sejarah Homo erectus Sangiran mulai sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, dari masa geologi Pliosen akhir sampai usia akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.000-an koleksi terdiri dari keping-keping fosil manusia purba, fosil hewan vertebrata, fosil binatang air, fosil tanaman, fosil biota laut dan juga artefak peralatan batu. Dari seluruh temuan fosil di dunia, setengahnya diperoleh dari Sangiran.

Museum ini memiliki fasilitas seperti ruang pameran (fosil manusia, hewan purba, dan lainnya), laboratorium, gudang fosil, ruang slide, dan menara pandang, serta toko souvenir wisma. Di kawasan Museum Purbakala Sangiran telah dilengkapi sarana dan prasarana kepariwisataan seperti Menara Pandang, Homestay, Audio Visual, Guide, Taman Bermain, Souvenir Shop dan Fasilitas Mini Car yang dapat digunakan pada wisatawan untuk berkeliling di Situs Sangiran. Museum Purbakala Sangiran dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, bus pariwisata maupun angkutan umum.

Fosil manusia

Sampai saat ini, Situs Manusia Purbakala Sangiran masih menyimpan banyak misteri yang perlu untuk diungkap. Sebanyak 50 individu fosil manusia Homo Erectus yang ditemukan. Jumlah ini mewakili 65% dari fosil Homo Erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50% dari populasi Homo Erectus di dunia (Widianto : 1995, 1). Keseluruhan fosil yang ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809 buah. 

Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Beberapa fosil manusia purba disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboraturium Paleoanthropologi Yogyakarta. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs prasejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hasil tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat Peringatan ke-20 tahun di Marida, Meksiko.

Termasuk dalam koleksi Museum Sangiran, adalah: fosil manusia, antara lain: Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus), Meganthropus palaeojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, Homo Neanderthal dari Eropa, Asia, Homo Neanderthal, dan Homo sapiens.

Fosil Vertebrata , antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), mastodon sp (gajah), palaeokarabau Bubalus (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae ( daging sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi hiu, Hippopotamus sp (Hippo atau Kuda Nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.

Artefak Batuan, antara lain / Meteorit alat batu Taktit, Kalesdon, diatom, Agate, Ametis,, serpih dan bilah, antara lain. Tali dan auger, persegi kapak, batu dan kapak perimbas penetak ball.

Pra Sejarah Indonesia

Indonesia pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, bagian tubuh hewan, logam (besi dan perunggu), serta gerabah.

Secara geologi, wilayah Indonesia modern  merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, hanya 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni pertama adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa “manusia Flores” (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang berciri rasial berkulit gelap dan berambut ikal rapat (Negroid), menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). 

Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. 

Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktek-praktek megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.


3. Situs Purbakala Wajak, Tulungagung


Setelah selama ini tak pernah lagi diketahui persis keberadaannya, akhirnya goa tempat dokter Belanda, Eugene Dubois, menemukan tengkorak manusia purba di Kecamatan Wajak, Tulungagung, Jawa Timur, ditemukan.

Goa ditemukan Trijono (41), guru Sejarah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tulungagung, yang juga pemimpin lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B). Trijono terbawa nalurinya sebagai ilmuwan alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana mencari-cari lokasi kerja Dubois hingga akhirnya menemukannya.

Trijono yang ditemui pada Kamis (12/4/2012) mengungkapkan, dia telah menguji temuannya berdasarkan dokumen dan catatan sejarah Dubois. Dia yakin, lokasi itulah yang merupakan lokasi kerja Dubois yang menemukan tengkorak manusia purba Homo wajakensis tahun 1889Dengan demikian, situs-situs manusia Jawa yang ditemukan Dubois kian lengkap bersama lokasi temuan Dubois lainnya di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, dan di Sangiran, Solo, Jawa Tengah.

"Tentu saja lokasi ini memerlukan sebuah pengujian lengkap dan menyeluruh dari para pakar prasejarah untuk memastikan kebenarannya. Saat ini, tim dari Universitas Gadjah Mada sudah berencana melakukan ekspedisi ke goa ini, selain ekspedisi ke lokasi purbakala lainnya di Tulungagung, pada awal Mei 2012 untuk memastikannya," tutur Trijono.

Sumber informasi mengenai karya Dubois ditulis oleh sejarawan Paul Strom dalam buku yang terbit tahun 1995, Scriptura Geologica, the Evolutionary Significance of the Wajak Skull National Natuurhistorisch Museum, Geboren te's Gravenhage. Setelah membaca buku itu, Trijono menelusuri lokasi tersebut bersama tim K2SB yang dipimpinnya.

Menurut dia, selama ini entah mengapa lokasi kerja Dubois ini tak dikenal lagi oleh masyarakat ilmiah dan masyarakat Tulungagung. Hanya dua lokasi kerja Dubois yang dikenal, yakni di Trinil dan Sangiran, yang kini sudah didirikan museum. "Mengapa bisa dilupakan dan malah tidak diketahui keberadaaannya, saya tidak paham. Saya datang ke Tulungagung tahun 2004 karena diterima bekerja sebagai guru Sejarah di MAN 1. Sejak itu saya mencari-cari, bukan hanya goa Homo wajakensis saja, melainkan juga semua situs sejarah yang lain, termasuk sembilan situs sejarah Majapahit," ungkapnya.

Ada sejumlah tanda tanya, kata Trijono, karena pada masa yang cukup dekat dengan masa sekarang itu Dubois tercatat bekerja di Wajak, bukan Tulungagung. Kini, Wajak adalah nama kecamatan. Itu sebabnya, spesies manusia prasejarah itu dinamai wajakensis. "Lalu, pertanyaan saya, di mana Tulungagung masa 1889? Wajak hanya berjarak 15 kilometer dari Tulungagung. Mengapa tidak dinamai tulungagungensis? Kami belum selesai menjawab soal itu," katanya.

Buku itu kemudian menuntun Trijono hingga ke goa tempat Dubois menemukan tengkorak manusia purba. Salah satu yang paling meyakinkan, Trijono menemukan tugu pabrik marmer zaman Belanda. Dalam laporannya, Dubois menyebutkan, goa manusia purba itu berada di depan tugu marmer tersebut. "Tugu itu saya temukan, persis seperti penjelasan Dubois. Kalau masa sekarang, tugu marmer itu penanda lokasi, seperti kira-kira koordinat GPS," ujar Trijono.

Dubois adalah seorang dokter militer Belanda pada era tanam paksa (cultur stelsel). Seperti ilmuwan Barat umumnya, Dubois gemar melakukan penelitian. Di lokasi-lokasi kerjanya, Dubois mengisi waktu senggang setelah selesai bekerja dengan mencari temuan-temuan purbakala, termasuk saat bekerja di Wajak, Tulungagung.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Tulungagung Hendri Sugiarti menjelaskan, pihaknya menyambut sangat baik temuan ini dan kini malah sudah menyiapkan pembuatan monumen di lokasi tersebut. "Saat ini, kami menyambut kedatangan tim besar prasejarah dari Universitas Gadjah Mada yang hendak melakukan eksplorasi dan penelitian di bekas goa Dubois. Kami berharap akan bisa membuat museum serta menyiapkan sarana dan prasarana untuk menjadikannya lokasi wisata ilmiah. Namun, itu masih akan dibahas oleh pemkab," katanya. Sumber.


4. Liang Bua, Pulau Flores


Temuan Homo floresiensis di Liang Bua menunjukkan peradaban Pulau Flores sudah sangat tua. Fosil itu diperkirakan setara denganPithecanthropus erectus yang ditemukan di Bengawan Solo.

Kedua fosil termasuk manusia purba yang memiliki ciri-ciri berbeda dengan manusia modern (Homo sapiens). Fosil Homo floresiensis yang dijuluki hobbit (manusia kerdil) telah mengguncang dunia arkeologi dan menjadi perdebatan sampai kini.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti sejak tahun 1970-an. Sempat terhenti karena kesulitan dana, penelitian dimulai lagi tahun 2001 bekerja sama dengan peneliti dari Australia. Tahun 2003, mereka menemukan kerangka manusia kerdil yang menghebohkan itu, yaitu kerangka perempuan setinggi 100 sentimeter (cm) yang diperkirakan terpendam lebih dari 10.000 tahun lalu. Hingga kini tim masih menggali Liang Bua. Lubang menganga dengan mudah ditemui di lantai gua.

Hujan mengguyur deras ketika Tim Ekspedisi Jejak Peradaban NTT tiba di Liang Bua pada pertengahan Oktober lalu. Liang Bua (gua dingin) menjadi hunian ideal untuk berteduh dari derasnya hujan maupun teriknya matahari. Penjaga Liang Bua, Cornelis, menghampiri kami dan menawarkan jasa bertemu manusia kerdil dari Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waeriri.

Kehadiran lelaki kerdil Victor Dau (80) di Liang Bua menghidupkan gambaran tentang manusia kerdilHomo floresiensis. Dengan tinggi 135 cm, Victor yang tidak bisa berbahasa Indonesia ini mengaku sebagai keturunan dari manusia kerdil yang fosilnya ditemukan terkubur di Liang Bua.

Keberadaan manusia kerdil berukuran kurang dari 150 cm di Dusun Rampasasa memperuncing perdebatan di kalangan ilmuwan. Peneliti Puslit Arkenas meyakini Homo floresiensis adalah spesies purba yang telah punah dan tidak memiliki kaitan dengan manusia kerdil dari dusun itu.

Sebaliknya, tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin almarhum Prof Dr Teuku Jacob dan Kepala Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi UGM Etty Indriati yang meneliti warga Rampasasa berpendapat, ada hubungan erat antara Homo floresiensis dan manusia kerdil Rampasasa. Menurut mereka, temuan kerangka di Liang Bua adalah manusia modern yang terkena penyakit sehingga tubuhnya kerdil. Mereka menduga, manusia Flores itu adalah salah satu subspesiesHomo sapiens ras Austrolomelanesid.

Saat ini, menurut Etty, tim UGM belum melanjutkan penelitian karena kekurangan ahli antropologi forensik.

Sebelum tim Puslit Arkenas, seorang pastor yang mendirikan sekolah di Liang Bua, Pastor Verhoeven, menggali dan menemukan beragam bekal kubur serta kerangka manusia modern pada tahun 1965.

Miskin 
Kendati Liang Bua telah tersohor ke seluruh dunia, warga masih dibekap kemiskinan.
Namun, warga Rampasasa sangat ramah. Tamu akan disambut dengan tetabuhan gendang, secangkir kopi, dan sebotol bir. Anak-anak dengan pandangan ingin tahu segera mengerumuni tamu yang berkunjung ke dusun yang belum tersentuh jaringan listrik maupun air bersih itu.

Empat orang kepala suku—Darius Skak, Petrus Ontas, Rovinus Dangkut, dan Victor Jurubu—menyambut kedatangan kami di rumah adat. Jagung kering tergantung di atap rumah berlantai tanah dengan kalender bergambar artis Ibu Kota menempel di dinding bambunya.

Mayoritas warga Rampasasa bekerja sebagai petani atau buruh proyek dengan upah Rp 30.000 per hari. Anak-anak harus berjalan kaki 3 kilometer (km) ke sekolah dasar dan 15 km ke sekolah menengah pertama terdekat. Sumber air mereka berasal dari sungai.
Ada 70 dari 250 warga dusun itu yang memiliki tinggi kurang dari 150 cm. Menurut Victor, warga mendengar kisah nenek moyang manusia kerdil yang tinggal di gua secara turun-temurun.

Karena desakan kebutuhan ekonomi, warga Rampasasa mulai meninggalkan kepercayaan lama. Larangan mengukur tubuh, misalnya, dilanggar demi mendapat uang. Warga juga bersedia diambil darah untuk uji DNA dengan imbalan Rp 150.000 per orang.

Ketua Tim Penelitian Liang Bua dari Puslit Arkenas, Wahyu Saptomo, tetap yakin bahwa Homo floresiensis adalah spesies berbeda dalam garis evolusi manusia. Manusia kerdil ini memiliki pergelangan kaki dan tangan dengan ciri di antara manusia kera dan manusia modern.

Ciri lain, tulang kening sangat menonjol, tidak memiliki dagu, dan volume otak hanya 430 cc. Ini berbeda dengan manusia modern yang volume otaknya 1.400 cc. Homo floresiensis diperkirakan hidup di zaman pleistosen (2 juta-12.000 SM).

Menurut ahli alat batu dari Arkenas, Jatmiko, Liang Bua memiliki empat lapisan kebudayaan prasejarah dari masa paleolitik (batu tua), mesolitik, neolitik, dan paleometalik (logam awal), berupa alat batu seperti kapak perimbas mulai dari yang buatannya masih kasar sampai halus, serta mata anak panah dari logam.

Saat ini, tim Arkenas meneliti temuan lain berupa peninggalan artefak batu berusia sekitar 1 juta tahun di Cekungan Sowa, Flores tengah.

Seluruh temuan arkeologi di Pulau Flores menunjukkan hadirnya peradaban yang sangat tua. Peradaban tua itu setara dengan dunia lama di Pulau Jawa. Saat ini, pewaris peradaban itu harus dibangkitkan dari keterpurukan akibat kemiskinan. Sumber.



5. Gua Leang-leang, Sulawesi


Belajar dari Gambar 

Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.


Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.

Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu lho seperti apa kehidupan manusia prasejarah.

Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya.

Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun. Coba kalau manusia prasejarah itu menggambar dengan grafit (pinsil), mudah sekali dihapusnya.

Penemu Goa Leang-leang

Biasanya yang paling pertama menemukan goa adalah teman-teman Nesi para kelelawar. Tapi goa di Leang-Leang ditemukan oleh Mister Van Heekeren dan Miss Heeren Palm.
Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting ) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950.
Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Mungkin gambarnya tidak seperti komik-komik yang biasa kita baca, tapi gambar-gambarnya bagus dan menarik lho.

Goa Pettae dan Goa Petta Kere 

Pemandangan Taman Pra Sejarah Leang-leang
Goa Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya.
Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
Untuk mencapai goa ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. Wuih, tambah banyak ya anak tangganya. Nesi sih bisa terbang, tapi kamu harus persiapkan tenaga dulu ya kalau mau ke Goa Petta Kere.

Pemandangan yang mengelilingi kawasan Leang-leang sangat indah. Jadi tempat ini cocok untuk wisata budaya juga wisata alam.

Di lokasi ini terdapat empat gazebo yang bisa digunakan wisatawan untuk beristirahat. Tempat yang tepat setelah mendaki lebih dari 50 anak tangga. Sumber.


6. Situs Gua Perbukitan Sangkulirang, Kutai Timur


Karst Sangkulirang merupakan bentangan perbukitan karst yang mempunyai bentang alam yang eksotis dan menantang. Perbukitan dengan dinding-dinding tebing yang terjal, menambah pesona yang mengagumkan.

Perbukitan karst yang terletak di Propinsi Kalimantan timur ini mempunyai kekayakan dan keunikan yang belum banyak terungkap.

Salah satu pesona yang yang sampai saat ini belum banyak disentuh adalah keindahan dan kekayaan alam gua bawah tanah yang masih banyak tersimpan di dalam rentetan bukit karst yang serasa tidak ramah untuk dijamah.

Tampak dari udara, bukit terjal dan jurang-jurang yang dalam seakan siap menelan apa saja yang terjatuh kedalamnya. Meskipun terkadang nampak dari kejauhan, tenda-tenda yang berwarna mencolok tersebar di beberapa puncak bukit. Tenda yang digunakan oleh para penunggu sarang walet ini biasanya terletak di dekat mulut-mulut gua yang menyimpan kekayaan berupa sarang walet.


Gua, dunia bawah tanah yang belum terjamah

Gua-gua di daerah Karst Sangkulirang banyak tersebar di beberapa lokasi. Sebut saja perbukitan Marang dan sekitar Gua keluar Sungai Baai di daerah Ambulabung. Kemudian danau karst yang eksotis dengan nama Danau Tebo yang dikelilingi bukit-bukit karst semakin menambah daya tarik tersendiri.

Di daerah perbukitan Marang, ada beberapa gua yang setiap hari ditunggui oleh orang untuk menjaga keberadaan walet yang ada di dalamnya. Sebut saja Gua Kebobo, gua ini mempunyai mulut gua yang cukup lebar dengan beberapa mulut gua kecil yang sudah ditutup dengan pagar bambu dan ditutup dengan rapat agar orang tidak dapat masuk ke dalam gua.

Di mulut gua utama, ditutup dengan pagar bambu yang cukup tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk masuk ke dalamnya. Di dekat mulut gua ini, terdapat pondok tempat penunggu gua tinggal.

Hanya para penunggu gua inilah yang pernah memasuki gua tersebut untuk memanen sarang burung walet.


Beberapa kegiatan ekspedisi juga pernah dilakukan di daerah Marang yaitu Kalimanthrope yang merupakan ekspedisi yang dilakukan oleh para caver dari Perancis dan sekaligus para peneliti arkeologi khususnya yang mempelajari gambar cadas yang banyak ditemukan di Sangkulirang.

Gua-gua lain yang ada di daerah Marang antara lain Gua Tengkorak yang terletak di kaki bukit di dekat sungai. Kemudian, Gua Tewet yang mulut guanya ada di bibir tebing dengan gambar-gambar cadas yang unik.


Kemudian Gua Sungai yang di dalamnya mempunyai lorong panjang dengan bentukan ornamen-ornamen yang unik seperti gourdam dan beberapa stalagtit dan stalagmit serta flowstone yang memancarkan kristal kalsit.

Selain daerah Marang, di daerah Ambulabung di sekitar Gua Sungai Keluar Baai, terdapat beberapa gua salah satunya adalah Gua Baai dengan sungai bawah tanah yang sangat besar.

Selain mulut gua utama dengan sungai keluar terdapat di daerah hulu sungai masuk dengan panjang lorong gua yang cukup panjang. Selain itu terdapat mulut gua yang terdapat di puncak bukit yang akan bergabung dengan lorong utama yang berakhir pada collapse doline yang cukup besar. Dari mulut gua ini, lorong gua relatif kering dengan substrat tanah yang lembab dengan lorong yang relatif kecil.

Jauh dari daerah Ambulabung, di dekat desa Pengadan terdapat dua gua yang juga cukup bagus yaitu Gua Ampanas dan Gua Mardua. Gua Ampanas merupakan gua dengan sungai bawah tanah dengan lorong gua yang berkelok-kelok dan terdapat banyak jendela gua. Sampah sisa-sisa banjir banyak ditemukan di beberapa tempat yang dapat mengindikasikan besarnya banjir di saat musim hujan.

Gua Mardua adalah gua fosil yang tidak berair terletak di kaki bukit yang cukup terjal untuk di capai. Mulut Gua Mardua relatif kecil dengan mulut yang rendah namun setelah memasuki gua terdapat ruangan yang cukup besar.


Selain di dua lokasi tersebut, ada beberapa gua yang bisa dikunjungi yang letaknya ada di Desa Tabalar Kecamatan Tabalar Ulu, Kabupaten Berau. Di daerah ini terdapa gua dengan sungai bawah tanah yang dinamakan Gua Louwading dan beberap gua kecil dengan mulut gua yang digunakan untuk aktifitas mandi dan cuci.


Gua-gua di daerah ini relatif kotor karena banyak digunakan untuk aktifitas mandi dan cuci serta membuang sampah yang terkadang ditemukan barang-barang “pribadi” bertebaran di sekitar mulut gua.


7. Situs Pasemah di Lampung


Megalit Pasemah adalah sejumlah megalit yang terdapat di dataran tinggi Pasemah (Sumatera Selatan).

Budaya megalitik Pasemah mulai diteliti pertama kali dan ditulis oleh L. Ullmann dalam artikelnya Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang yang dimuat oleh Indich Archief (1850). Dalam tulisan Ullmann tersebut H. Loffs menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut merupakan peninggalan dari masa Hindu. 

Kepala Arca Tegurwangi
Namun pendapat ini ditentang oleh Van der Hoop pada tahun 1932, ia menyatakan bahwa peninggalan tersebut dari masa yang lebih tua. Setelah penelitian Van der Hoop, penelitian tentang megalitik Pasemah dilanjutkan oleh peneliti-peneliti arkeologi, seperti R.P. Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan peneliti dari Balai Arkeologi Palembang secara intensif melakukan penelitian di wilayah Pasemah sampai saat ini.

Penampilan peninggalan budaya megalitik Pasemah sangat "sophiscated" dengan tampilnya pahatan-pahatan yang begitu maju, dan digambarkan alat-alat yang dibuat dari perunggu memberikan tanda bahwa megalitik Pasemah telah berkembang dalam arus globalisasi (pertukaran) budaya yang pesat. 

Megalith Tanjung Ara - Lahat
Alat-alat perunggu yang dipahat adalah nekara yang merupakankebudayaan Dongson, Vietnam. Temuan peninggalan megalitik di pasemah begitu banyak variasinya, berdasarkan survei yang dilakukan peneliti Balai Arkeologi Palembang, Budi Wiyana telah menemukan 19 situs megalitik baik yang tersebar secara mengelompok maupun sendiri (1996). Wikipedia.


8. Situs Cipari, Kuningan, Jawa Barat


Asal Mula Penemuan

Situs Cipari ditemukan pada tahun 1972 dengan identifikasi sebuah peti kubur batu yang merupakan satu ciri dari perjalanan hidup masa pra sejarah. Penelitian /ekskavasi arkeologi secara sistematis, dibawah pimpinan Teguh Asmar MA yang dilakukan mulai tahun 1975 menghasilkan temuan-temuan perkakas dapur, gerabah perunggu dan bekas-bekas pondasi bangunan masa prasejarah.


Bertolak dengan analisa lipologie dan stragtegrafie beserta kelompok benda temuan, situs Cipari pernah mengalami dua kali masa pemukiman, yaitu masa akhir Neolitik dan awal pengenalan bahan perunggu yang berkisar tahun 1000 SM sampai dengan 500 SM dimana masyarakat tersebut telah mengenal organisasi yang baik beserta kepercayaan yang erat bertalian dengan pemujaan nenek moyang dengan adat mendirikan bangunan dari batu-batu besar dan disebut dalam ilmu purbakala megalit.

Dasar dari keseluruhan tradisi megalitik ini adalah kepercayaan akan adanya hubungan erat antara yang masih hidup dengan yang telah mati atas kesejahteraan manusia, ternak dan pertanian. juga ada keyakinan bahwa semua kebaikan atau tuah dari seorang kerabat yang telah mati dapat dipusatkan pada monumen-monumen yang diberikan guna menjadi medium penghormatan, menjadi tahta kedatangan, sekaligus menjadi lambang bagi si mati.

Jasa amal atau kebaikan dapat diperoleh dengan mengadakan pesta-pesta atau upacara-upacara tertentu yang mencapai titik puncaknya dengan mendirikan monumen-monumen batu atau tugu-tugu kayu bagi yang telah mati. 


Kebaikan tidak hanya akan memberikan prestasi dam kehidupan tapi juga menjamin nasib yang lebih baik lagi dalam hidup sesudah mati nanti. Data-data demikian jadi pelindung tingkah laku baik seseorang dan pemusatannya kepada monumen akan menambah kekayaan, serta mempertinggi kesejahteraan beserta derajat dan hasil cocok tanamnya.

Situs ini terhitung cukup lengkap menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu. Lokasi situs ini sekarang menjadi tujuan wisata pedagogi (Taman Purbakala Cipari) dan dilengkapi dengan museum. Wikipedia.


9. Situs Goa Pawon, Bandung, Jawa Barat


Situs Manusia Purba Gua Pawon

Dengan karakteristik geologi yang unik, langka dan khas sebagai proses geologi dari mulai zaman prasejarah Situs Manusia Purba Gua Pawon merupakan asset nasional bahkan asset dunia karena kelangkaannya dan mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi yang harus dilestarikan.


Berdasarkan penelitian arkeolog di dunia terdapat 5 (lima) Situs Manusia Purba yang salah satunya terdapat di Indonesia yaitu Situs Manusia Purba Gua Pawon tepatnya berada di Gunung Masigit kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. 


Gua Pawon termasuk Karst Kelas I yang merupakan arsip sejarah yang bernilai sangat tinggi yang tersimpan di perpustakaan alam. Kawasan karst ini terpilih sebagai sagar alam geologi karena nilai-nilai ilmaih yang dimilikinya, yaitu:

Aspek Geomorfologi : bentang alam merupakan bukit-bukit kerucut yang sangat berbeda dengan fenomena bukit-bukit lainnya.




Aspek Geologi : aneka proses eksokars yang tercemin pada puncak bukit berupa stone garden dan sebaran gua-gua,singkapan batu gamping dengan fasies platy coral branching, coral boundstone yang khas, pemunculan batuan tua sebagai akibat tektonik yang berkembang.

Aspek Hidrolgeologi : Pasir Gua pawon merupakan tendon raksasa, munculnya mata air yang mengalir sepanjang tahun, aneka hasil proses karstifikasi berupa rekahan sampai gua-gua.

Aspek Geologi Lingkungan : Memiliki nilai ekonomis bahan tambang, sebagai resapan untuk air tanah, tempat aneka ekosistem flora dan fauna
Aspek Arkeologi : adanya temuan kerangka manusia zaman prasejarah mengungkap kehidupan manusia purba di sekitar cekungan bandung.


10. Situs Gunungpadang, Cianjur, Jawa Barat


Misteri Ruang Pasir di Perut Gunung Padang - Ditemukan celah yang diperkirakan gerbang masuk setinggi 19 meter.

Para geolog, arkeolog, dan ahli lainnya saat ini berkumpul di situs Gunung Padang, Jawa Barat. Fokus mereka bukan pada peninggalan Megalitikum yang berserak, namun pada apa yang ada di dalam perut bukit. 

Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang yang diketuai Dr. Danny Hilman (geologi) dan Dr. Ali Akbar (arkeologi) telah melakukan serangkaian penelitian di sana, melakukan survei pencitraan menggunakan GPR (Ground Penetration radar), Geolistrik, dan Geomagnet. Hasilnya, peneliti menyimpulkan ada indikasi kuat keberadaan struktur bangunan purba bangunan manusia. Sumber.



Kisah Warga Temukan Lorong Gunung Padang - Dadi menemukan celah sekitar 40 tahun lalu. Lorong batu mirip gua.

Adalah Dadi (52), juru kunci Gunung Padang yang menemukan pintu masuk itu, 40 tahun lalu. Kala itu, Dadi yang masih berusia 12 tahun kerap menemani ayahnya mencari sarang madu lebah liar yang ada di daerah tersebut. 

"Saya pernah masuk ke lorong batu, hampir seperti gua. Saya yang saat itu berusia 12 tahun, bisa masuk," kata Dadi Sabtu 23 Juni 2012. Ia lupa berapa lebar dan tinggi lorong tersebut. 

Yang jelas, posisinya sejajar dengan teras pertama, sebelah timur. "Saat saya mau masuk lebih jauh, saya keburu dikejar bapak dan ditarik ke luar," kata dia. Oleh warga sekitar, lorong itu dianggap sebagai kawah Gunung Padang.  Sumber.



Gunung Padang Berpeluang Peradaban Tertua - Usia maksimal artefak di gunung itu sekitar 10.000 sebelum masehi.

Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang hari ini mengeskavasi bagian timur situs tersebut. Ketua tim, Dr Dani Hilman Nata Wijaya, mengatakan bahwa situs megalitik ini kemungkinan adalah bukti peradaban tertua di dunia.

“Semua literatur dan artefak yang terpublikasikan di seluruh dunia mengenai peradaban maksimal berumur 3000 tahun sebelum masehi. Uji karbon Gunung Padang sudah mematahkan itu. Usia maksimal Gunung Padang tercatat 10.000 tahun sebelum masehi,” ujarnya kepada VIVAnews, Sabtu 23 Juni 2012.

Ia menambahkan ini bukan sebuah pekerjaan dan tanpa literasi. Dani mengatakan ini salah satu pembuktian dari pemikiran dan penelitian Profesor Stephen Oppenheimer yang terkenal dengan karyanya "Eden in the East.” Sumber.



11. Situs Gilimanuk, Jembrana, Bali


Situs Purbakala Gilimanuk adalah sebuah situs purbakala masa perundagian Gilimanuk yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Negara, Bali. Situs ini pertama kali ditemukan tahun 1960-an. Pada situs seluas ±4km persegi ini ditemukan kerangka dalam tempayan serta berbagai manik-manik, gerabah, serta barang-barang perunggu yang merupakan sisa kegiatan masyarakat pada masa prasejarah Indonesia sekitar 2000 tahun yang lalu (menjelang masa Hindu-Buddha).


Situs ini menunjukkan budaya penguburan yang sama dengan banyak situs purbakala lain di Indonesia, yaitu jenazah yang dimasukkan dalam tempayan. Situs lain yang menunjukkan budaya ini misalnya Situs Purbakala Plawangan. Wikipedia.


12. Situs Gua-gua Biak, Papua (40.000-30.000 SM)


Wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki potensi besar berbagai situs arkeologi sebagai kekayaan sejarah bagi perjalanan perkembangan peradaban bangsa Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud di Jayapura.

"Situs arkeologi yang ditemukan di Papua, termasuk Papua Barat adalah situs yang berkaitan dengan perkembangan antropologi, budaya, etnik dan peninggalan kolonial," ujarnya.


Irfan mengatakan situs purbakala tertua yang ditemukan di Pulau Papua berusia pra sejarah, yaitu 40.000 - 30.000 tahun sebelum masehi. Situs yang berlokasi di Kabupaten Biak ini berupa gua-gua yang pada dindingnya dijumpai lukisan-lukisan gua dan fosil-fosil moluska atau cangkang kerang.

Kedua hal tersebut menandakan adanya kehidupan manusia pada masa lampau. Sementara itu, ditemukannya fosil moluska menjadi indikator penting adanya aktivitas manusia purbakala karena pada periode waktu tersebut menjadi makanan pokok bagi manusia pra sejarah.

Moluska adalah makanan yang mudah didapat dan diolah dibandingkan dengan harus berburu binatang darat yang butuh mengeluarkan banyak energi.

Lebih lanjut dia mengatakan, penemuan arkeologi di Biak ini merupakan jalan untuk merunut sejarah migrasi manusia ke Papua.

"Hal ini membuktikan adanya kontak-kontak awal manusia sebelum kolonial masuk ke Papua," tandasnya.

Selain di Biak, penemuan dari zaman megalitikum terdapat di Situs Tutari, Kabupaten Jayapura. Di tempat ini ditemukan bongkahan batu berlukis berbentuk binatang-binatang melata.

Sementara itu, arkeologi dari zaman kolonial juga banyak ditemukan di beberapa daerah di Papua karena wilayah ini pernah diduduki bangsa Belanda sejak tahun 1900-an hingga pecah Perang Pasifik di tahun 1940-an.

Situs zaman kolonial ini misalnya Situs Ifar Gunung, Situs Asei Pulau dan Situs Hirekombe di Kabupaten Jayapura.

Situs lainnya adalah yang berkaitan dengan sejarah masuknya agama Islam ke Papua. Dibuktikan dengan ditemukannya Situs Makam Islam di Lapintal, Kabupaten Raja Ampat, Situs Islam di Pulau Nusmawan, Kabupaten Teluk Bintuni dan lain sebagainya.


Dengan potensi arkeologi yang demikian besar, Balai Arkeologi Jayapura membagi wilayah kerjanya menjadi enam, yaitu daerah Kepala Burung, Teluk Cenderawasih, Teluk Bintuni, Pantai Selatan dan sekitarnya, Pantai Utara dan sekitarnya serta Pegunungan Tengah.

Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kegiatan penelitian dan pengembangan Balai Arkeologi Jayapura telah menemukan 89 situs yang sangat berharga, baik dari segi pendidikan dan budaya maupun wisata sejarah.


13. Situs Lukisan tepi pantai di Raja Ampat, Papua Barat


Situs Purbakala Tapurarang
Wisata Sejarah – Situs Purbakala Tapurarang – Papua Barat 

Berkunjung ke Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Situs Purbakala Tapurarang tak hanya menarik keelokannya
Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Lukisan ini merupakan peninggalan jaman prasejarah.

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.


Lantas, apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat dengan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia. Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.


Bagi masyarakat setempat, lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.


Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satu pun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini Anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.Tulang tengkorak terdapat di tebing di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Tulang tengkorak manusia ini adalah sisa kebiasaan masyarakat setempat yang tidak menguburkan jazad leluhur melainkan meletakkannya di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang khusus atau dianggap sakral.

Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak Anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000 per orang, sekali jalan. Tiba di Kokas, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, Anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun, jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.

MENGUNJUNGI Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Tak hanya menarik, namun ini juga mengundang orang untuk datang menjumput keelokannya.

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak jaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.

Lantas apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat mengunakan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat dengan jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia.Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat.

Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satupun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.
Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp. 25.000 perorang, one way.

Tiba di Kokas perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.


14. Situs Tutari, Kabupaten Jayapura, (periode Megalitikum)


Batu "Dootomo" di Bukit Megalitik Tutari

Sebuah batu di situs megalitik Tutari, Doyo Lama Kabupaten Jayapura mempunyai goresan berupa sepasang perisai serta motof ukiran khas Doyo Lama yang mereka sebut yoniki.Kabar dari angin itu datang. Lewat serupa alunan dengung bunyi panjang, suara alami tersebut segera tertangkap oleh pendengaran dan memberi pesan bagi ibu-ibu di Lembah Doyo Lama bahwa kaum laki-lakinya telah mendapatkan hewan buruan.

Kalau mama-mama di rumah mendengar tanda dari empat batu itu, berarti mereka harus bersiap menyambut para pemburu, tutur Hans Pangkatana, salah satu warga Doyo Lama, yang kini tinggal di Sentani Barat, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, kepada tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007.

Itu sudah! Kisah suci yang dituturkan turun-temurun itu sepertinya ikut mengatur sikap dan tindakan warganya hingga ada perlakuan khusus terhadap empat "sosok" batu alam, di antara serakan rapi batu alam kecil-besar lainnya.

Empat batu yang dimaksud Hans dipercaya sebagai "wakil rakyat". Empat batu besar utama itu sepertinya mewakili empat ondoafi, alias suku, di Doyo Lama, yakni Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo.

Yang pasti, keempat batu yang disebut-sebut berasal dari Mae itu diberi pondok beratap seng. Ukurannya sekitar 2-3 kali badan orang dewasa. Letak keempat batu itu juga berdekatan. Sekilas, keempat batu gamping atau karst "terpilih" itu tidak berbeda dibandingkan dengan batu-batu lain yang berserak di Bukit Tutari, tempat situs Megalitik Tutari, Doyo Lama.

"Ah, lihat! Batu-batu ini berbentuk seperti orang yang tengah mengamati ke arah yang sama, yaitu arah kampung tempat orang-orang Doyo Lama tinggal. Batu-batu lain biasa saja," kata Hans, yang juga menjadi juru kunci di situs itu serta ketua RT di Doyo Lama.

Di sejumlah batu lain di kompleks situs tersebut terlihat guratan putih berbentuk ikan dan kura-kura. "Keduanya adalah hewan yang paling mudah ditemukan di Danau Sentani. Dari 562 keluarga di Doyo Lama, hampir semua penduduk masih berprofesi sebagai nelayan. Ikan dan kura-kuralah yang memberi nafkah bagi kami," tutur Hans.

Satu batu besar yang lain terdapat di sebuah sudut. Begitu besarnya, sampai-sampai batu ini bisa menyembunyikan orang di balik punggungnya. Keunikan batu tidak hanya ukuran, tetapi ia juga mempunyai bulatan-bulatan kecil yang berderetan. Sebuah garis memanjang tergambar di antara susunan itu.

"Ya, ini memang simbol gelang. Bagi kami, gelang adalah harta yang bisa dipakai untuk mas kawin. Orang yang punya masalah juga bisa pakai gelang untuk bayar denda penyelesaian masalah," tutur Hans lagi.

Ah, lihat juga batu yang di sudut sana. Sepasang perisai terjalin dengan Yoniki, sebuah ukiran khas dari Doyo Lama. Yoniki berbentuk oval dengan sudut-sudut yang tebal. Perisai adalah simbol perlindungan sewaktu berperang, sedangkan Yoniki menjadi simbol kekerabatan masyarakat.

Warna putih di batu memang hasil goresan, hingga warna dasar putih gamping itu tampak jelas. Akan tetapi, masyarakat memperkirakan tanda-tanda ini dibentuk dari gesekan batu oleh leluhur mereka. Kisah lisan menambahi pembentukan goresan itu dengan mantra-mantra sakti. "Hujan, panas, atau apa saja tidak mengubah goresan di batu-batu ini sejak dulu sampai sekarang," kata Hans lagi yang menyesalkan adanya sedikit coretan grafiti dari tangan-tangan jahil.

Ia bahkan tidak bisa memastikan kapan sebenarnya batu-batu lengkap dengan goresan tanda-tanda itu terbentuk. "Waktu saya tanya saya punya bapa, dia bilang tidak tahu kapan batu terbentuk. Ketika bapa saya bertanya pada dia punya bapa, maka jawabannya juga sama. Tete (kakek) saya juga tidak tahu jawabnya," ucap Hans menggambarkan tuanya usia batu tersebut.

"Dootomo" dan "mietomo"
Sebuah bagian dari lokasi situs ini difungsikan oleh leluhur sebagai pekuburan. Batu-batu setinggi lutut orang dewasa disusun vertikal dengan sejumlah batu kecil di sekitar batu yang vertikal itu. Ada puluhan susunan serupa ini.

"Nah, ini yang kami sebut dootomo, atau batu (pekuburan) laki-laki," kata Hans yang sudah sekitar 25 tahun bertugas selaku penjaga atau juru kunci situs megalitikum unik itu dengan honor Rp 350.000 per bulan. Dootomo terletak di atas Bukit Tutori. Pemandangan ke arah Danau Sentani dan permukiman masyarakat terlihat jelas dari tempat itu. Di bawah dootomo, ada mietomo (batu/pekuburan perempuan). Susunan batu di mietomo jauh berbeda dari dootomo. Batu-batuan bulat sebesar bola voli di mietomo tersusun berjajar membentuk satu garis lurus.

Di lereng perbukitan dekat tepian Danau Sentani itu saat ini setidaknya tersisa bukti adanya tradisi kebudayaan batu besar, megalitikum. Serakan batu besar-kecil yang tertata rapi semuanya diperkirakan berasal dari masa yang sama.

Begitu juga sisa tanda bekas goresan dan guratan berupa aneka gambar "mirip" ikan, kura-kura atau labi-labi, binatang melata ataupun motif hias dengan gaya distilasi diperkirakan buatan masa masa lampau, entah kapan. Serakan batu-batu tegak tersebut adalah menhir-menhir kecil yang berdiri tegak.

Dari pengamatan sekilas, deretan teratur batu-batu gamping tegak ukuran kecil di sana diduga keras sebagai menhir-menhir kecil khas situs "batu besar" alias megalitik. Kompleks megalitik Tutari kini memiliki aneka kisah suci atau mitologi yang berhubungan dengan kisah supernatural dan asal usul terjadinya "manusia". Karena itu, tidaklah aneh jika tercipta juga kisah asal-usul nenek moyang warga Doyo Lama itu serta tafsiran folklorik, termasuk "kabar angin pemburu".

"Ah, ini ada satu cerita juga. Menurut cerita, salah satu batu keramat dootomo itu sempat dibawa ke Jakarta untuk sebuah acara. Suatu pagi, orang membawa batu itu ke Jakarta dengan pesawat terbang. Eh, malam harinya batu itu sudah kembali ke tempat asal," kata Hans. Tentu ini tidak mesti dipercaya, tetapi kisah itu masih hidup di sana.


15. Gua Babi di Gunung Batu Buli, desa Randu, Muara Uya, Tabalong


8000 SM :Migrasi I, Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Ras ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.2500 SM : Migrasi II yaitu bangsa Melayu Proto dari pulau Formosa ke pulau Borneo yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).

Kawasan cagar budaya Gunung Batu Babi Gua Batu Buli yang sekitar 1999 silam sempat menjadi pusat perhatian nasional. Hal ini karena ditemukannya fosil manusia purba serta temuan pendukung lainnya di kawasan tersebut. Belakangan cagar budaya ini menjadi areal eksplorasi pertambangan batu marmer PT Sendang Artha Nusantara (SAN). Sumber.


Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar