Menelanjangi Freemasonry - Zionisme dan Definisi Yahudi


Melalui artikel ini saya coba menelanjangi Freemasonry dan Zionisme meskipun kemungkinannya saja masih kurang data-datanya yang memang sangat banyak diantaranya masih terselimuti suatu misteri. Namun dengan data-data referensi yang ada, kemungkinan saja bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang Freemasonry dan Zionisme tersebut.

Menurut Prof. Dozy, seorang orientalis terkemuka,mengatakan : ”Freemasonry adalah sekumpulan besar dari mazhab-mazhab yang berbeda, tetapi semuanya bekerja untuk satu tujuan,yaitu membangun kuil kembali,karena kuil adalah lambang negara Israel”.

Sesuai dengan kemisteriusannya,sehingga bilamana Freemasonry itu berdiripun lebih misteri lagi sehingga terdapat berbagai pendapat mengenai keberadaan organisasi tersebut. Ada yang menyebutkan, bahwa organisasi Freemasonry itu sudah eksis sejak zaman Musa ,dan juga ada yang menyebutkan Freemasonry itu sudah ada sejak masa Herods II. 

Terlepas dari kapan berdirinya organisasi Freemasonry itu, namun yang jelas nama itu mulai disebutkan secara terbuka sejak tahun 1717 dalam Majles Raya Freemasonry di Inggris. Membuka dokumen lama Freemasonry, maka akan menjumpai sesuatu yang amat mengejutkan. Berawal dari kisah Adam Weishpaut, seorang teolog Kristen yang belakangan menjadi Atheis, dan seorang pemuka Freemasonry tahun 1770-an.

Sebagai pemuka Freemasonry, Adam Weishpaut bertugas mengumpulkan orang-orang jenius dari seluruh dunia. Sebenarnya apa yang ia lakukan merupakan suatu langkah-langkah yang kelihatannya sangat baik itu ,namun tujuannya justeru sangat mengagetkan kita,karena Freemasonsory bertujuan untuk membentuk sebuah rejime pemerintahanh dunia dibawah kaum cendekia. 

Untuk mewujudkan proyek raksasa itu,Freemasonry melakukan persiapan-persiapan dengan skenario yang sangat rapi dan sistematis, sehingga berbagai pihak tidak menyadarinya bahwa ia sedang berperan untuk memuluskan tujuan Freemasonry tersebut.

Dua perang dunia yang telah lewatpun merupakan seknario Freemasonry yang dipersiapkan dengan rapi oleh tokoh intelektualnya, Albert Pike antara tahun 1859 hingga tahun 1871 (suratnya tertanggal 10 Agustus 1871 masih tersimpan di Meseum London). Tujuan perang dunia I adalah untuk menghancurkan kekaisaran Rusia yang selanjutnya dijadikan kubu Komunisme . 

Persiapan dilakukan dengan memanasi perselisihan antara Jerman dan Inggris,sementara perang dunia ke II bertujuan untuk mempersiapkan Judenstaat(negara Yahudi)di Palestina. Untuk itu Freemasonry menugaskan Karl Marx dan Frederick Engels lewat “Das Capital” dan” Communist Manifest”yang dibenturkan dengan konsep-konsep yang berlawanan dengan teori komunisme itu.

Dalam hal ini Freemasonry menugaskan Prof. Karel Ryter untuk menyusun teori keunggulan ras Arya yang selanjutnya dijadikan konsep utama dalam MeinKam-nya Adolf Hitelr embrio bagi Nazisme.

Karya-karya yang saling bertentangan tersdebut lalu dibenturkan menjelang perang dunia ke II dengan teori mitos Yahudia sebagai bangsa plihan,yang menyebabkan terjadinya konflik sosial antara Yahudi -Nazisme yang melahirkan Holocaust sebagai dalih bagi Yahudi untuk mendirikan Ghettonya di Palestina. 

Seiring dedngan rekayasa tersebut, di Palestina juga sudah dipersiapkan dengan sanagat baik melalui hasil kongkow antara Inggris, Yahudi, Arab (Deklarasi Balfour ,Chaem Weizman-Faisal Agreement)untuk membantu Inggris melawan Turki .yang imbalannya bagi Yahudi Judenstaat di Palestina dan bagi Faisal pengakuan Inggris-Yahudi terhadap kemerdekaan jazirah Arab dari Turki. 

Meskipu negara yahudi sudah berdiri,namun tujuan Freemasonry belum tercapai seluruhnya.Karena menurut surat Albert Pike itu,bahwa Freemasonry sudah menyiapkan skenario bagi perang dunia selanjutnya dalam kontek menghancurkan semua orang-orang non Yahudi (ghayim) karena Ghayim tercipata hanya untuk menjadi pelayan bangsa Yahudi sebagai bangsa terpilih sebagai wakil Tuhan, sehingga Ghayim diperlakukan layaknya sebagai binatang, dan semua harta bendanya menjadi milik Yahudi (Syalabi 1990).

Tujuan Freemasonry selanjutnya adalah untuk membuat ketakberdayaan total di seluruh dunia, baik dalam kehidupan pemikiran rohani, ekonomi maupun dalam proses penghancuran manusia. Maka mengamati konsep-konsep Freemasonry semacam itu, maka apa yang terjadi terhadap WTC 11 September 2001 yang menewaskan 3000 orang hingga menyulut konflik-konflik dan perang besar di berbagai negara mayoritas populasinya muslim yang dilancarkan Paman Sam sebagai dalih melawan teroris memang sejalan dengan skenario tersebut. 

Memang pada zaman sekarang Freemasonry muncul dalam berbagai bentuknya,dengan beragam pula namanya yang kelihatannya sangat digemari oleh masyarakat internasional.Diantaranya adalah Rotary Club, Lions Club, Bnay B’rth, Freedom Association dan lain-lain sebagainya. Karena kecurigaan Soekarno terhadap Rotary Club sebagai salah satu tangan gurita Freemasonry itulah, maka orang kuat rejim orde lama itu melarang Rotary Club beroperasi di Indonesia.


MEMBEDAKAN ZIONISME DARI YAHUDI

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sikap toleransi yang wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras.Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme, mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan sinagog para Pendeta Yahudi”. (Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19)

Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka. Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek (Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan, meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan, amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika, ketiadaan wewenang dan hukum.” 

Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan fasisme tumbuh danberakar pada keingkaran terhadap agama, dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme, sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali dengan agama.

Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi pada bentuk-bentuk fasisme yang lain, Zionisme juga berupaya untuk menggunakan agama sebagai alat untuk meraih tujuannya.

Penafsiran Taurat yang Keliru oleh Kaum Zionis

Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa. Allah mengatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah menurunkanKitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),...” (QS. Al-Maa-idah, 5:44). Sebagaimana pula dinyatakan dalam Alquran, isi Taurat di kemudian hari telah dirubah dengan penambahan perkataan manusia. Itulah mengapa di zaman sekarang telah dijumpai “Taurat yang telah dirubah”.

Namun, pengkajian terhadap Taurat mengungkap keberadaan inti ajaran-ajaran Agama yang benar di dalam Kitab yang pernah diturunkan ini. Banyak ajaran-ajaran yang dikemukakan oleh Agama yang benar seperti keimanan kepada Allah, penyerahan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, mencintai Allah, keadilan, cinta, kasih sayang, menentang kebiadaban dan kedzaliman tertulis dalam Taurat dan bagian-bagian lain dari Kitab Perjanjian Lama.

Selain itu, peperangan yang terjadi sepanjang sejarah dan pembantaian yang terjadi ini dikisahkan dalam Taurat. Jika seseorang berniat untuk mendapatkan dalil – meskipun dengan cara membelokkan fakta-fakta yang ada – untuk membenarkan tindakan keji, pembantaian dan pembunuhan, ia dapat dengan mudah mengambil bagian-bagian ini dalam Taurat sebagai rujukan untuk kepentingan pribadinya. 

Zionisme menempuh cara ini untuk membenarkan tindakan terorismenya, yang sebenarnya adalah terorisme fasis, dan ia sangat berhasil. Sebagai contoh, Zionisme telah menggunakan bagian-bagian yang berhubungan dengan peperangan dan pembantaian dalam Taurat untuk melegitimasi pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina tak berdosa. Ini adalah penafsiran yang tidak benar. Zionisme menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan ideologi fasis dan rasisnya.

Sungguh, banyak orang-orang Yahudi taat yang menentang penggunaan bagian-bagian Taurat ini sebagai dalil yang membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warga Palestina sebagai tindakan yang benar. The Neturie Karta, sebuah organisasi Yahudi Ortodoks anti Zionis, menyatakan bahwa, nyatanya, “menurut Taurat, umat Yahudi tidak diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina atau menjajah bangsa lain”. Mereka menekankan lebih jauh bahwa, “para politikus Zionis dan rekan-rekan mereka tidak berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel telah dicuri oleh mereka”. (Rabbi E. Schwartz, Advertisement by Neturei Karta in New York Times, 18 Mei 1993)

Dengan menjalankan kebijakan biadab pendudukan atas Palestina di Timur Tengah dengan berkedok “agama Yahudi”, Zionisme sebenarnya malah membahayakan agama Yahudi dan masyarakat Yahudi di seluruh dunia, dan menjadikan warga Israel atau Yahudi diaspora sebagai sasaran orang-orang yang ingin membalas terhadap Zionisme.

Orang Pintar tahu bedanya Israel, Yahudi & Zionis, sedang orang bodoh TIDAK

+ Yahudi
+ Bani Israel
+ Zionis
+ Negara Israel
+ Israel

Israel, adalah sesungguhnya nama lain dari Yakub putra Ishaq putra Ibrahim. Bagi seorang muslim, beliau adalah salah satu Nabi yang harus kita yakini dan hormati. Didalam Al-quran, Nabi Yakub memiliki tempat yang tinggi disisi beliau. Israel (Israil dalam bahasa Arab) terdiri dari 2 kata, Israa dan iil, yang artinya "Kekasih Allah" atau "Hamba Allah"..

Bani Israel, adalah istilah untuk menyebut "Anak-anak Nabi Yakub". Seperti halnya kita yang disebut sebagai Bani Adam (Keturunan Adam). Nabi Yakub memiliki 12 anak yang kelak membentuk 12 suku (Yusuf adalah salah satu dari 12 anak tersebut). Banyak dari keturunan Nabi Yakub yang kemudian menjadi Nabi dan Rasul, seperti: Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Daud, Sulaiman, Yunus, Zakaria, Yahya dan Isa..

Zionis, adalah perkumpulan beberapa kaum Yahudi yang merancang Deklarasi Balfour yang didirikan di Perancis.

Negara Israel, adalah negara yang dibentuk di Tanah Palestina berdasarkan Deklarasi Balfour dengan bantuan Inggris. Nama dari Negara Israel sendiri diambil dari nama Nabi Yakub, yang sesungguhnya cukup kontradiktif dengan tujuan pendirian Negara itu sendiri. Karena bagaimanapun, hanya orang Yahudi yang menjadi warga "Negara Israel" sedangkan keturunan Nabi Yakub, tidak semua-nya menganut Yahudi.

Yahudi, adalah keyakinan yang dimiliki oleh sebagian besar Bani Israel. Keyakinan Yahudi pun memiliki begitu banyak aliran. Namun demikian, tidak semua Bani Israel berkeyakinan Yahudi. Hingga kini banyak dari Bani Israel yang berkeyakinan Nasrani bahkan juga menjadi Muslim. Dan menurut Islam, tentu para Nabi bukanlah penganut Yahudi.

Demikian, semoga bisa menjadi penegas bagi kita tentang perbedaan-perbedaan Istilah di atas.

Catatan: Mohon berhati-hati ketika ingin menghujat kata "Israel", karena nama Israel sendiri diambil dari nama orang yang kita (umat Islam) mulia-kan, Nabi Yakub AS.

Intisari Satu

Sejak lama saya membaca-baca berbagai buku dan artikel yang ditulis oleh seorang Kreasionis Muslim asal Turki, Harun Yahya atau nama aslinya Adnan Oktar. Perhatian saya tertumpu pada sebuah artikel yang ada disitus harunyahya.com, yang menjelaskan perbedaan antara zionisme dengan agama Yahudi itu sendiri.

Seringkali kita menyamaratakan semua orang Yahudi sebagai pendukung zionis Israel dan menyemai kebencian kepada mereka, terutama jika dikaitkan dengan pendudukan, penjajahan, diskriminasi serta penindasan kaum zionis terhadap warga Palestina (bahkan dengan sesama Yahudinya sekalipun). Intisari yang saya dapat dari membaca artikel tersebut dan ingin saya bagikan kepada pembaca semua adalah sebagai berikut:

Pembantaian massal tentara zionis Israel dibantu oleh milisi Kristen Libanon Selatan di kamp pengungsi Shabra dan Shatila pada musim panas tahun 1982, mengundang protes dan kecaman dari berbagai penjuru dunia. Bahkan dari dalam negeri Israel sendiripun, protes itu berkumandang. 

Malahan seorang professor dari Universitas Tel Aviv, Profesor Benjamin Cohen menyatakan kekecewaan serta amarahnya dalam kasus ini dan salah satu kalimatnya dia mengatakan bahwa keberhasilan terbesar zionisme adalah mencerabut Yahudi dari akar aslinya. Bukan hanya Benjamin Cohen saja, namun para cendekiawan Yahudi dalam Israel sendiripun mengecam habis-habisan. Hmm…bahkan gerakan-gerakan anti zionis kini kian subur di Israel meskipun tidak terekspos media.

Politik apartheid diterapkan di Israel, dan kritik bukan hanya ditujukan pada kebijakan-kebijakan Israel, namun juga zionisme atheis sebagai ideologi resmi negara juga dikecam. Oleh karenanya bagi Umat Islam, yang patut dikritisi dan dikecam bukanlah orang atau agama Yahudi, melainkan zionisme atheis tersebut, dalam artian tidak semua orang Yahudi itu zionis.

Intisari Kedua

Pada dasarnya setelah tahun 70 Masehi, orang Yahudi tersebar ke berbagai penjuru dunia dan lambat laun mengadaptasi bahasa bahkan sebagian menganut agama negara yang ditempatinya. Mayoritas orang Yahudi sendiri memandang diri mereka sebagai komunitas keagamaan, bukan sebagai satu ras atau kebangsaan.

Namun pada abad ke-19, gagasan rasisme muncul dengan salah satunya dilandasi oleh Darwinisme. Gagasan ini didukung oleh banyak masyarakat barat pada saat itu dan zionisme muncul sebagai bentuk rasisme dikalangan Yahudi. Zionisme ini muncul dikalangan Yahudi yang tidak mempelajari agamanya, bahkan kebanyakan berasal dari kalangan Yahudi sekuler atau atheis yang memandang Yahudi sebagai satu ras, bukan satu kelompok keagamaan, dan dalam pandangan zionisme jenis ini, orang Yahudi tidak dapat hidup berdampingan dengan kelompok atau ras lain sehingga harus pindah ke satu wilayah. Semula Uganda, namun kemudian beralih ke Palestina. Gagasan bahwa semua Yahudi harus berkumpul ini tak selamanya mendapat tanggapan positif, namun justru banyak penolakan dan pengabaian bahkan oleh orang Yahudi sendiri.

Harun Yahya dalam artikel tersebut menggarisbawahi adanya dua bentuk zionisme yang hidup saat ini, yaitu :

a. Zionisme agamis Maksudnya, zionisme yang dianut oleh orang-orang Yahudi yang agamis dan berpegang pada Kitab sucinya. Kelompok ini kembali ke tanah suci untuk hidup berdampingan dengan Muslim dan Kristen, beribadah ditanah leluhurnya serta berniaga disana berlandaskan toleransi dan perdamaian. Sebagaimana yang terungkap dalam Surat Al-Maidah ayat 20-21. Zionisme yang jenis ini bukanlah ancaman.

b. Zionisme atheis atau Godless Zionism, Zionisme semacam ini yang membahayakan. Karena tidak berlandaskan ketuhanan dan agama, namun berangkat dari Darwinisme, sudut pandang materialistis dan tentu menjadi ancaman bagi siapapun termasuk bagi orang Yahudi agamis sendiri. Zionisme jenis ini yang sekarang diterapkan sehingga pertumpahan darah dan penindasan terus menerus terjadi, yang kini makin dikecam seluruh dunia.

Jadi menurut kesimpulan yang diambil dari artikel tersebut, haruslah dibedakan antara Yahudi dengan zionis atheis. Tidak semua orang Yahudi berpegangan pada zionisme ini, karena orang-orang zionis hanyalah minoritas ditengah komunitas Yahudi dunia. Banyak sekali orang Yahudi yang menuntut pemerintah zionis Israel untuk menarik diri dari wilayah pendudukan dan menghentikan pemukiman Yahudi disana. Dari sini yang perlu diperangi bukanlah orang Yahudi yang berpegang pada agamanya, namun zionisme atheis itu sendiri.

Yahudi Murni Menentang Kejahatan Perang Israel [Zionism Atheis]


Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar