Peta Lokasi Gempa Paling Berbahaya 1889

Peta gempa bumi yang diciptakan John Nelson ditunjukkan dengan titik berwarna hijau
Belakangan, sebagian masyarakat dibuat khawatir dengan semakin banyaknya peristiwa gempa bumi yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Tentu masih ingat dalam ingatan bagaimana dahsyatnya bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi di Jepang. Bahkan jauh sebelum itu, bencana besar serupa juga pernah menimpa Aceh, Indonesia.

Hal ini sedikit banyak membuat kita bertanya, dimanakah tempat yang paling aman dari ancaman gempa bumi? Well, jika Anda memang penasaran dengan hal itu, mungkin peta yang satu ini bisa berguna.

Peta khusus ini menunjukkan berbagai insiden bencana gempa bumi yang telah terjadi sejak tahun 1898. John Nelson, manajer pemetaan untuk IDV Solution, menjadi orang yang berada dibalik rancangan peta ini. Ia merangkum kejadian bencana gempa bumi terdahulu hingga sekarang ke dalam skala peta, dari kekuatan yang paling kecil (yakni 4,0 Skala Richter( hingga yang terbesar yang ditandai dengan warna hijau yang bersinar cerah.

Dan seperti yang terlihat di dalam peta, wilayah yang paling beresiko dan berbahaya ada di kawasan Laut Pasifik. Total sudah ada 203.186 gempa bumi yang terjadi.

Diantara gempa bumi yang berhasil dipetakan oleh John, salah satunya adalah gempa bumi terbesar yang pernah terjadi di San Francisco. Gempa ini menelan sekitar 3.000 jiwa.
Bencana gempat bumi di San Franciso 1906 membelah jalan dan menghancurkan gedung
3.000 orang diklaim meninggal dalam insiden mematikan tersebut
"Pertama saya terkejut oleh jumlah gempa yang terjadi," ungkap John dalam blognya seperti yang dilansir Daily Mail.

Saya telah meneliti sumber umum dari risiko eksistensial dan memvisualisasikan mereka melalui dapur pemetaan tematik. Jadi peta gempa bumi hanya masalah waktu," lanjutnya.

Selain gempa, John juga berhasil membuat pemetaan yang menunjukkan jalur tornado yang terjadi di AS selama enam dekade terakhir menggunakan skala Fujita (F-scale).

Peta jalur tornado yang terjadi di AS selama 6 dekade terakhir   
Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar