Kisah Raden Saleh dan Masjid Biru di Jerman


Pertama kalinya karya-karya Raden Saleh dipertontonkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta mulai kemarin, 3 Juni hingga 17 Juni 2012. Kesempatan bagi para penikmat seni untuk menyaksikan adikarya Raden Saleh, termasuk "Penangkapan Diponegoro."

Raden Saleh adalah pelopor seni lukis modern Indonesia. Dia mengawali masa perintisan seni lukis Indonesia. Bimbingan didapatkan dari pelukis Belgia Antonio Payen dan pelukis Belanda A Schelfhouf dan C Kruseman. Dia adalah generasi pertama orang Jawa yang menimba ilmu di Eropa.

Pameran kali ini salah satunya berkat andil Goethe Institut. Rupanya, salah satu latar belakang minat Jerman terhadap Raden Saleh adalah adanya catatan periode ketika Raden Saleh tinggal di Jerman.

Raden Saleh tinggal di Jerman, tepatnya di Maxen, Dresden pada kurun 1839-1845. Sebelumnya, dia 10 tahun di Den Haag. Ada masalah dengan pemerintah Belanda, dia akan dikirim pulang ke Jawa. Raden Saleh menolak dan memilih pergi ke Dusseldorf dan Berlin, sebelum hinggap di Maxen, sebuah desa, sejam perjalanan dari Dresden.

Di Maxen, Raden Saleh tinggal di kastil milik Friedrich Anton Serre, pensiunan walikota, tuan tanah dan juga penampung seniman.

Raden Saleh mengakui pengaruh Serre dalam hidupnya. Serre dianggapnya sebagai guru dan orangtua kedua. Kesan Raden Saleh terhadap Serre ditulisnya dalam kitab Injil sebelum meninggalkan Dresden. "Kenang-kenangan untuk Mayor Serre dan istri, yang saya cintai dan hargai sebagaimana orangtua kedua saya."

Serre pun rupanya terkesan pada Raden Saleh. Untuk menghormati Raden Saleh, pada tahun 1848 dia membangun masjid kecil yang kemudian diberi nama Masjid Biru. Di Masjid Biru itu, tertera tulisan aksara Jawa, "Muliakan Allah dan cintailah sesama manusia."

Dikutip dari buku A Magic Gecko oleh Horst Geerken, sekarang Masjid Biru itu sudah direnovasi. Masjid itupun bisa dikunjungi oleh mereka yang ingin mengenang sang maestro Raden Saleh. Sumber.
Bookmark and Share

0 comments:

Poskan Komentar